
...Selamat membaca 🌹...
...❤️❤️❤️...
Mengingat nama sahabatnya itu membuat Dion segera mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mencari kontak telepon sahabatnya itu dan call,,,
"Bro,,, lo harus bantu gue bro. I am in trouble. Pokoknya lo harus bantu gue mikir. Adik lo bikin masalah dalam rumah tangga gue bro." Dion langsung nyerocos begitu ada yang menjawab teleponnya di seberang sana.
"Assalamu'alaikum om Dion."
"Eh,,, Wa,, Waalaikumsalam Rayya." Dion menggigit bibir menyesal sudah main nyerocos saja tadi karena dipikirnya yang menjawab telepon tentu Darren, ternyata malah Rayya, putri Darren.
"Mmm di mana ayah kamu sayang? Om mau bicara."
"Ayah lagi gak bisa diajak bicara om. Makanya Rayya yang jawab telepon om. Ini juga karena om yang telpon makanya Rayya jawab." suara Rayya terdengar lemah.
"Oh ayah lagi sibuk ya?"
"Bukan om."
"Lalu??" Dion mulai berpikiran macam macam dan rasa takut kehilangan tiba tiba mengintainya mengingat kondisi sahabatnya itu.
"Ayah ngedrop lagi om. Pagi ini tiba tiba ayah jatuh pingsan. Maaf kalau kami belum sempat ngabarin om karena kami semua panik di sini." Rayya sedikit bergetar suaranya.
Dion tau Rayya pasti tengah berurai airmata. Anak gadis sahabatnya itu memang dari dulu paling tidak bisa melihat sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya itu. Meski bukan putri kandung Darren tapi sejak kecil Darren yang merawatnya hingga ikatan batin keduanya juga sangat erat.
"Drop?? Lalu ayah sekarang bagaimana keadaannya?? Apa sudah siuman? Apa ada perkembangan? Apa kata dokter? Apa kalian di sana bisa mengatasi hal ini? Levi abangmu sudah datang kan? Kalian bawa ayah ke rumah sakit mana? Sudah di bawa ke dokter yang selalu menangani ayah selama ini kan??"
__ADS_1
Dion memberondong dengan banyak pertanyaan karena selama ini memang dialah yang lebih tau urusan penyakit sahabatnya itu. Dia orang pertama yang tau Darren itu sakit. Bahkan tau jauh lebih dulu daripada anak anak Darren.
"Sudah om. Kami sudah bawa ke dokter Brawijaya, itu kan dokter yang menangani ayah?"
"Iya benar. Lalu apa kata dokter?" Dion malah fokus dengan keadaan sahabatnya dan lupa dengan masalahnya sendiri.
"Ayah masih perlu dirawat dan diperiksa secara intensif om. Om,,,Ayah akan baik baik saja kan? Rayya takut om,,, Rayya belum siap kehilangan ayah. Rayya masih butuh ayah." kini Dion bisa mendengar jelas isak tangis Rayya.
"Ayah akan baik baik saja Rayya. Om tau ayahmu akan bertahan,,, Apalagi ayahmu belum kesampaian buat gendong cucunya lagi satu kan? Percayalah,,, Ayah hanya sedang lelah dan butuh istirahat sayang. Ayah akan segera bangun."
Suara Dion bergetar karena sebenarnya ia sendiri juga takut kehilangan sahabat baiknya itu. Ia sendiri juga belum siap kehilangan dia. Ia sendiri juga tidak yakin atau tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya karena sungguh,,, hidup mati seseorang bukan berada di tangannya melainkan itu adalah rahasia besar yang Maha Kuasa.
"Aamiin,,, Rayya juga berharap bayi dalam kandungan kak Tiara bisa tumbuh dalam dekapan ayah. Rayya juga ingin anak kami nantinya mengenal baik siapa kakeknya." ucap Rayya yang sudah terlebih dulu melahirkan.
"Pasti sayang. Kamu yang sabar ya. Jangan habiskan waktumu untuk menangis tapi perbanyaklah berdoa untuk ayah. Doa anak sholeha pasti didengar tuhan sayang." Dion pandai menasehati padahal dirinya sendiri tengah menangisi sahabatnya itu.
Dion mengiyakan dan meminta maaf juga karena saat ini dirinya pun tidak bisa berada di sana mendampingi sahabatnya yang tengah berjuang antara hidup dan mati. Dion tau dia pasti akan sangat menyalahkan dirinya jika saja sampai tak ada di samping sahabatnya itu di saat saat terakhirnya.
Tapi untuk saat ini Dion yakin ini bukan akhir dari sahabatnya itu. Darren akan tetap berjuang hidup karena Dion tau seberapa besar keinginannya melihat cucunya. Ada dua cucu yang begitu dinantikannya meski yang satu sudah terlahir ke dunia. Tapi yang satu lagi,,, bayi Tiara, menantu pertamanya belumlah lahir.
Belum lagi bayi Karin,,, Dion tau betul Darren juga pasti ingin melihat anaknya. Selama ini Darren yang selalu memberi support padanya.
"Tidak apa apa om. Rayya mengerti. Kondisi Karin juga tidak memungkinkan untuk ditinggal. Dia juga hamil besar. Belum lagi malah ada tante Hana sekarang. Om pasti sangat kewalahan. Tapi kalau boleh Rayya minta sesuatu,,, Rayya minta om Dion bisa mengambil tindakan bijak."
Dion mengiyakan meski saat ini ia sendiri belum tau tindakan bijak apa yang bisa diambilnya untuk keluar dari masalah rumah tangganya. Dion menjawab salam Rayya lalu mengakhiri obrolan mereka.
Dion gagal meminta bantuan sahabatnya. Ia harus menyelesaikannya sendiri. Sahabatnya itu sudah terlalu berat menanggung masalah hidup matinya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah,, Aku akan menemani Hana malam ini saja. Maafkan om papa bidadariku. Kamu bersabarlah malam ini saja karena malam malam selanjutnya tidak akan ada cerita kamu sendirian. Om papa ini milik kamu sayang. Dan tidak akan pernah jadi milik wanita lain lagi."
Dion berbicara sendiri karena usahanya menghubungi Karin tidak membuahkan hasil. Bidadari kecilnya itu mengabaikan teleponnya dan Dion memakluminya.
Dion masuk kembali ke ruang inap Hana. Hana menyambutnya dengan senyum.
"Kamu masih di sini rupanya. Terima kasih Dion sudah lebih memilihku."
"Tidurlah. Malam masih panjang. Aku juga akan istirahat begitu kamu terlelap. Besok aku ada meeting penting di kantor." ucap Dion datar.
"Beneran meeting kan? Bukan alasan buat menghindar dariku?" tanya Hana tak percaya.
"Aku gak pernah berusaha atau sedikit pun punya niat untuk menghindar darimu setelah apa yang terjadi Han. Dari awal juga aku berusaha menemuimu untuk bertanggung jawab." ucapan Dion makin terdengar datar.
Hana diam. Berpikir.
"Besok biar mama yang menjagamu sementara aku tidak ada. Aku gak akan biarin kamu sendirian. Bila perlu biar papa juga ikut menemanimu di sini."
"Apa tidak merepotkan mereka?" tanya Hana.
"Ini juga bagian dari bentuk pertanggungjawaban keluarga kami atas apa yang sudah terjadi. Terlepas kamu adalah mantan istriku atau bukan,,, kami akan tetap bertanggung jawab."
Dion sedikit menekankan kata kata "Mantan Istri" dan itu membuat wajah Hana berubah. Tapi Dion tidak peduli meski ia tau wanita itu sedang tidak senang.
...❤️❤️❤️...
Jangan lupa beri hadiah, vote, like dan komen buat author ya biar makin semangat up nya 🌹❤️🌸
__ADS_1