
...Selamat membaca πΈ...
...Maaf banyak typo π...
...Terima kasih untuk yang masih tetap setia menunggu update dari author. Mohon maaf authornya masih berkabung. Belum bisa fokus maksimal....
...πΈπΈπΈ...
"Ada apa sih ini ribut ribut? Masih pagi sudah,,, Aaaawwww,,,, Kenapa Hana Dion?? Apa yang terjadi??"
Mama Herna yang tadinya masuk ke kamar keluar lagi dan langsung panik bukan main melihat Hana sudah pucat serta berdarah di bagian bawahnya. Hana dibopong Dion keluar menuju mobilnya.
"Dion jawab mama!!! Ada apa? Apa yang terjadi??" mama Herna kesal dan menarik lengan Dion yang sama sekali tak menjawab.
"Mama mau tau? Tanya sendiri sama dia. Suka sekali nyusahin aku. Gak bisa lihat aku tenang sebentar." ketus Dion langsung memutari mobilnya menuju ke pintu depan kanan.
Mama Herna yang ditinggal begitu saja juga segera meminta sopirnya mengikuti mobil Dion. Beliau ingin memastikan kondisi Hana selanjutnya. Sebagai seorang wanita yang juga pernah mengalami kehamilan, mama Herna patut untuk cemas
Darah tadi bisa saja tanda keguguran atau gangguan kehamilan lainnya.
"Jangan sampai Hana keguguran. Kalau sampai itu terjadi kasihan banget anak itu. Sudah tidak punya siapa siapa masih harus kehilangan bayinya. Ah sebaiknya aku telpon saja Darren. Siapa tau dia bisa bantu aku bujuk Dion biar mau segera menikahi Hana. Kalau ada yang tanggung jawab kan juga aku tidak secemas ini." gumam mama Herna sambil mulai menekan angka angka di ponselnya.
Di dalam mobil Dion hanya ada suara rintihan kesakitan Hana sesekali.
"Dion lebih cepat. Sakit sekali." pinta Hana.
"Setir sendiri nih kalau gitu. Biar kamu bisa tentukan seberapa lajunya." ketus Dion.
"Dion kamu kok jahat banget sih sama aku? Kamu lupa aku ini siapa? Kamu lupa kamu pernah begitu memohon padaku untuk aku mau kembali padamu? Kamu lupa kamu pernah begitu cinta dan mati matian berusaha mendapatkanku??" protes Hana.
Dion minggir dan menghentikan laju mobilnya.
__ADS_1
"Kamu protes aku jahat?? Kamu tanya apa aku lupa semua itu? Tidak!! Aku sama sekali tidak jahat dan tidak lupa semua itu. Dan justru karena aku ingat semua itu dengan jelas makanya aku bersikap seperti ini. Kamu bukan wanita yang sama dengan wanita dalam ingatanku itu. Wanitaku itu bermartabat,, tidak culas dan curang atau bahkan licik demi mendapatkan keinginannya sendiri. Wanitaku itu baik hati dan punya perasaan. Sedangkan kamu,,, Siapa kamu??" bentak Dion.
"Awww,,," rintih Hana kemudian tanpa jawaban apa apa karena perutnya kembali terasa sakit.
"Hah,,,!!!" Dion sebal dan kembali menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan ia memaki maki wanita di sampingnya itu dalam hati. Dion kesal karena wanita itu telah merampas waktunya bersama anak istrinya.
"Seharusnya aku bersama Karin dan Delvara saat ini. Tapi kamu malah merusak kebahagiaanku." sungutnya.
"Dion,,, aku begini juga karena kamu kasar sama aku tadi. Di mana sih perasaanmu? Gak kasihan dan gak merasa bersalah banget sih?" protes Hana kembali.
"Kamu yang memaksa. Aku sudah menolak bantuanmu dan kamu memaksa. Kamu!!! Kamu yang memaksa!!!" Dion menunjuk nunjuk wajah Hana.
Yang ditunjuk kesal dan melakukan perlawanan dengan menampik tangan Dion itu hingga Dion yang terkejut dengan perlawanan itu tidak bisa menguasai kendaraannya. Mobil itu pun oleng lalu keluar jalur. Dari arah berlawanan mobil di jalur sebelah tak kuasa menghindar hingga tabrakan keras pun tak bisa terelakkan lagi.
"Ya tuhaaan,,,, Pak cepat pak." mama Herna yang menyaksikan kecelakaan itu panik bukan main.
Mama Herna ingin ikut turun tapi kedua kakinya terasa lemas tak bertulang. Pikirannya sudah terlanjur jauh memikirkan kondisi Hana dan Dion. Lutut mama Herna makin lemas ketika melihat beberapa orang menggotong keluar putra semata wayangnya itu dalam kondisi berdarah darah di bagian kepalanya.
Belum lagi melihat Hana juga digotong orang dal kondisi tak sadarkan diri. Hana yang memang sudah dalam kondisi pendarahan terlihat makin memprihatinkan. Melihat semua itu membuat mama Herna lemas dan jatuh pingsan di tempat duduknya.
"Nyonya,, Waduuuhh,,," sopir yang menyadari majikannya itu sudah tak sadarkan diri makin panik.
Untungnya pertolongan begitu cepat datang. Ambulan dan tenaga medis dengan cekatan dan sigap memberikan pertolongan pertama bagi para korban. Termasuk pada mama Herna agar segera sadar.
"Karin,,, Delvara,,," lirih Dion sambil tangannya seperti menggapai gapai sesuatu.
Petugas medis yang mengetahuinya segera mengabarkan kepada rekannya bahwa pasien yang ini mulai sadar. Rekannya itu mencoba mengajak Dion berkomunikasi namun di tengah perjalanan Dion kehilangan kesadaran kembali.
Sementara itu di ruang inapnya, Karin menunggu dengan was was. Ditambah dengan kejadian gelas pecah yang tadinya dipegangnya kemudian terjatuh. Perasaannya tak menentu. Berkali kali ia melirik jam dinding dan pintu.
__ADS_1
"Papa kemana ya sayang,,, kok lama ya. Apa papa kena macet ya,,,?" diajaknya Delvara berbicara untuk sedikit mengalihkan perhatiannya.
Delvara hanya berkedip kedip lucu tanpa bisa memberi jawaban apa apa namun itu cukup membuat hati Karin sedikit bahagia hingga akhirnya ada yang menyentuh gagang pintu.
"Nah itu papa datang." seru Karin gembira.
"Loh papa,,," detik selanjutnya kegembiraan itu berubah karena ternyata yang datang bukanlah Dion melainkan papa Hengki dengan wajah sedihnya.
"Ada apa pa? Kenapa papa terlihat begitu sedih?" tanya Karin.
Papa Hengki tidak menjawab sepatah kata pun. Hanya airmatanya yang meleleh membasahi wajah rentanya. Kemudian mata sayunya itu seakan memberi kabar buruk.
"Rin,,,Dion,,," papa Hengki tak sanggup melanjutkan bicaranya.
"Om papa mana pa? Om papa kenapa belum datang datang juga?"
Karin sepertinya mulai menyadari firasatnya tadi. Ia mulai bisa menebak telah terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya itu. Dan benar saja,,,
"Yang sabar ya nak. Yang kuat."
Kalimat itu cukup menegaskan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Karin hanya bisa mengusap airmatanya yang sudah bercucuran. Ditenangkannya juga Delvara yang ikut menangis merasakan kepedihan hatinya.
"Iya sayang,,, Iya,,, Kita temui papa sekarang ya. Delvara harus berhenti menangis biar papa gak sedih lihatnya ya sayang." bujuknya pada Delvara.
Karin berusaha memberikan asinya agar Delvara tenang namun saat itu kontak batin keduanya membuat Delvara juga tak mau minum asinya. Malah makin kencang menangis dan mau tak mau membuat hati Karin makin pedih. Ia pun mendekap Delvara dan ikut menangis bersamanya.
Karin rapuh. Begitu juga papa Hengki yang menyaksikannya. Baru saja kebahagiaan menyapa namun kini badai telah menerpa.
"Om papa jangan tinggalin Karin,," lirih Karin di sela sedu sedannya.
...πΈπΈπΈπΈ...
__ADS_1