
...Hai,,, Selamat membaca ya π€...
...Maafkan typo yang bertebaran π€π...
... πΈπΈπΈπΈ...
Satu persatu sudah menerima penghargaannya masing masing. Sandra memandang cemas saat amplop terakhir sudah diserahkan pada karyawan yang namanya disebut tepat sebelum namanya.
"Lah kok udah habis aja amplopnya?? Apa abis ini diambilin lagi ya?? Iya kali ya,,," Sandra bingung tapi masih berusaha berpikir positif.
Lagipula bukan dirinya saja yang belum kebagian. Masoh ada Dinda dan Dewi juga.
"Baiklah,,,To all my best staff,,, Saya ucapkan terima kasih banyak atas dedikasi yang sudah kalian berikan untuk perusahaan ini. Semoga hadiah kecil yang kalian terima ini bisa lebih membangkitkan semangat kalian dan semoga apa yang ada dalam amplop itu berguna bagi kalian."
"Terima kasih pak Dion." seru semua senang.
Tentu senang karena meski Dion mengatakan itu hadiah kecil tapi mereka tau jumlahnya tidak pernah kecil. Dion tidak pernah main main memberikan hadiah bagi orang orang yang menurutnya sangat banyak membantunya di perusahaan.
"Baiklah,,, Kalian boleh kembali ke tempat kalian."
Dion yang langsung menutup acara pembagian penghargaan itu sontak membuat ketiga wanita yang belum kebagian itu bertanya tanya.
"Kita kan belum dapat??" Dewi menyenggol lengan Sandra.
"Iya nih,,, Gimana nih?? Masak udah main turun aja sebelum kebagian??" Dinda ikut bingung.
"Ya jangan tanya gue dong. Mana gue tau orang gue juga belum dapat." sungut Sandra.
Sebenarnya bukan mereka bertiga saja yang bingung. Banyak pasang mata yang tidak naik ke pentas juga merasa aneh kenapa ketiga orang itu seperti dilupakan begitu saja oleh bosnya.
"Eh loh,,, loh,,," Dinda makin bingung saat Dion langsung beranjak turun dari pentas.
"Mmm Pak Dion,,,, Kita belum kebagian." Sandra memberanikan diri menegur bosnya yang ia yakin lupa kepadanya.
Dion menoleh ke pentas.
__ADS_1
"Apa yang kalian tunggu di sana?? Apa aku memanggil nama kalian tadi??" tanya Dion.
"Iya pak. Bapak jelas jelas memanggil kami. Kami tidak salah dengar kok. Lagian kan mana mungkin salah dengar sampai tiga orang begini." jawab Dewi meyakinkan.
"Oh ya??" Dion masih tak percaya begitu saja.
"Mmmm Megha,,, Kamu pasti punya daftar nama nama yang dipanggil tadi bukan?? Tolong bacakan lagi." pinta Sandra.
"Berikan padaku daftarnya." titah Dion sebelum Megha membacakan.
Tak banyak protes, Megha yang juga heran kenapa bosnya melupakan ketiganya,, hanya menyerahkan daftar nama best staff. Megha yakin Dion memang menyebutkan nama mereka tadi. Tapi Megha juga bingung karena dia yakin nama ketiganya tidak tertera di daftar itu.
"Nama kalian tidak tertera di sini. Yang artinya kalian tidak punya prestasi sama sekali. Lalu kenapa yakin sekali naik??" ucap Dion.
"Karena bapak menyebut nama kami tadi." jawab Dewi mulai kesal dan setengah malu karena semua kini memperhatikan mereka.
"Benar pak. Bapak memang memanggil nama mereka." Bisik Megha.
"Iya om papa. Karin juga dengar kok." Karin ikut meyakinkan.
Sandra dan dua rekannya saling berpandangan. Begitu juga para tamu lainnya. Tidak biasanya bosnya seperti ini bicara apalagi sampai bawa bawa kata telinga.
"Di depan semua jajaran dan divisi,,, serta beberapa kolega bisnisku yang hadir malam ini,,, dengan ini kutegaskan pada kalian bertiga bahwa kalian mendapat penghargaan paling berbeda untuk apa yang sudah kalian lakukan untukku. Kalian ku bebastugaskan dan kupastikan tidak akan mendapat pekerjaan di mana pun selama perusahaan itu masih kolega bisnisku."
"Apa salah saya pak??" Meski terkejut mendengarnya tapi Sandra masih bisa berpikir dengan cepat dibanding Dinda dan Dewi yang langsung pucat paci.
"San,,," Dinda menyenggol kembali lengan Sandra seakan mengingatkan untuk tidak menantang bosnya.
"Kalian bertiga itu sama sekali Tidak ada prestasi kerja. Jadi apa yang membuat kalian begitu percaya diri naik ke pentas???" Cibir Dion.
Wajah ketiganya memerah bak kepiting rebus.
"Kamu sih San,,, Isi tanya segala apa salah kita." sungut Dewi yang sudah sangat malu berdiri di pentas dan menjadi bahan gunjingan mereka yang di bawah.
"Oh tapi sebenarnya kalian punya sih prestasi." ucap Dion lagi dan itu sontak membuat ketiganya mendongakkan kembali wajah merahnya.
__ADS_1
"Bisa kukatakan prestasi kalian ini malah sangat diluar jangkauan. Mau tau apa??" tanya Dion dan mereka tak ada yang berani menjawab.
"Mau tau tidak???!!!" bentak Dion.
Ketiganya auto manggut manggut takut.
"Kalian terlalu rajin memperhatikan aku dan Megha sampai kalian bisa mengarang cerita tentang kami dan salahnya adalah kalian berani beraninya mengatakan kebohongan dan berita tidak benar itu pada istriku!!!!"
Tiga wanita itu kelabakan dan merasa wajahnya seperti dikelupas.
"Om papa,,,, Jangan begini. Karin sudah anggap mereka teman meski mereka menyalahgunakan arti pertemanan kami." Karin merasa tidak enak pada ketiganya karena ternyata aduannya tadi berbuntut seperti ini.
"Tidak sayang. Aku masih bisa mentolerir karyawan yang tidak berprestasi tapi aku tidak bisa beri ampun pada yang suka bergosip apalagi sampai nekad menyebarkan berita miring yang meresahkan." Dion tidak bersedia.
"Karenanya,,, memberhentikan kalian secara sepihak dan dengan sangat tidak hormat seperti ini,,, Meski bagiku belum cukup tapi malam ini aku masih berbaik hati pada kalian karena ini adalah malam dimana kalian ku perkenalkan dengan istriku. Masih bagus aku tak berbuat hal buruk lainnya pada kalian karena kalian telah berani beraninya menjalin persahabatan palsu dengan istriku!!!"
Sandra,Dewi dan Dinda merasa sudah cukup sangat dipermalukan. Ketiga beringsut turun dari pentas disambut dengan suara gemuruh mencibir mereka.
"Huuuuuuuuuuuu,,,,,, Dasar lambe turahhhhh,,,," ruangan itu bergema meneriaki ketiganya.
...Lambe turah adalah bahasa jawa yang artinya kelebihan bibir alias terlalu sering atau banyak berbicara mengenai seseorang dengan informasi yang dilebih-lebihkan, atau banyak bicara/gosip....
"Ini pelajaran bagi kalian semua. Dengan ini juga aku ingin kalian semua dengar baik baik bahwa meski aku zan Megha sering terlihat bersama sama,,, Itu murni karrna pekerjaan. Tidak ada hubungan lebih dari itu. Jangan lagi menyebar gosip tentang kami berdua." Dion berpesan pada semuanya setelah ketiga wanita lambe turah itu keluar.
"Baik pak." suara kembali bergema.
"Om papa,,,Apa ini semua tidak berlebihan?? Hanya untuk menjelaskan padaku,,, apa perlu om papa melakukannya?? Memecat mereka,,,sampai memberikan peringatan pada yang lain juga." tanya Karin di perjalanan pulang mereka.
"Akan kusingkirkan semua yang mengganggu hubungan kita sayang. Siapa pun itu,,,,karena om papa tidak ingin kehilanganmu bidadariku,,," ucap Dion tegas.
...πΈπΈπΈπΈ...
...Jangan berani berani ganggu Karin ya readers,,, ...
...Nanti kena lahap om papanya Karin lho,,,π...
__ADS_1
Beri author vote, like dan komen yaa πΈβ€οΈπΉ