Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Malu Tak Terbendung


__ADS_3

...Selamat membaca ...


...❤️❤️❤️❤️...


Hana memutar mutar tubuhnya berkali kali di depan kaca. Ia merasa sangat puas dengan sentuhan tangan designer busana pengantinnya dan juga make up artistnya.


Ia merasa dirinya tampil memukau hari itu dengan kebaya abu abu bertabur payet hampir di keseluruhan bagiannya. Hair do simple nan elegan juga menunjang penampilannya. Entah kenapa tangan hair stylish itu sangat profesional sekali meski hanya menggunakan rambut aslinya yang hanya sebahu itu.


Aksesoris tambahan berupa anting kecil dan hiasan rambut beraksen senada dengan payet kebaya serta sebuah kalung kecil yang lebih menonjolkan liontinnya membuat penampilan Hana makin istimewa.


"Sayang,,, aku cantik kan?" tanya Hana pada Dion yang hanya duduk diam di atas kursi rodanya yang sudah didesain sedemikian rupa untuk menunjang kenyamanan posisinya dan itu pun diam dengan pandangan kosong.


Bagaimana tak kosong dan lesu dirinya hari itu karena hari itu adalah hari pernikahan yang tak diinginkannya sama sekali.


"Jangan diam saja dong. Beri komentar kurang apa?" ucap Hana sekali lagi karena Dion tak bergeming sama sekali.


"Sudah cantik kok sayang. Sangat pas untukmu. Kamu makin mempesona." mama Herna menjawab mewakili Dion.


"Terima kasih atas pujian mama tapi sayangnya aku butuhnya pujian Dion." jawab Hana.


"Dion,,, jawab dong sayang. Satu kata saja,,,Please,,," Hana mendekati telinga Dion dan membisikkannya.


"Terserah."


Akhirnya satu kata yang didapat Hana keluar. Hal itu tentu membuat Hana kesal bukan main.


"Kamu itu ya,,, gak tau diri banget sih!! Sudah lumpuh,,, masih saja belagu. Kamu pikir selain aku siapa lagi yang mau menerima pria cacat sepertimu?? Jangankan untuk memberi nafkah lahir,,,nafkah batin pun kamu tidak mampu. Aku sudah menyadari semua itu dan mau mengorbankan masa depanku itu demi kamu. Dan sekarang aku cuma minta satu kata darimu yang bisa menyenangkanku,,, kamu pun gak bisa beri. Keterlaluan kamu Dion!!!"


Hana sangat emosi hingga membuat para stylish yang masih berada di kamar itu merasa tak enak hati dan keluar satu persatu. Tentu saja mereka tak ingin tau terlalu banyak urusan pribadi mereka.

__ADS_1


"Han,,, Hana,,, Maafkan Dion ya sayang. Mungkin Dion hanya lelah. Dia tidak bermaksud begitu pastinya." Mama Herna berusaha menenangkan Hana.


"Mama juga sama saja!! Belain Dion terus! Padahal sudah jelas putra mama itu bersikap tidak baik sama Hana!" kecam Hana.


"Hana cukup!!! Kamu boleh mengataiku semaumu tapi jangan bersikap begitu pada mama!!! Bagaimana pun beliau sudah kelewat menyayangimu melebihi aku. Jadi bersikaplah yang pantas." bentak Dion.


"Heh,,, sudah gak bisa apa apa masih galak juga!!" Hana makin kesal dibentak Dion.


"Sudah dong sudah berantemnya kalian berdua. Gak enak sama para undangan yang sudah menunggu. Ayo Han,,, berbenahlah kembali ya,,,Dion juga ya. Penghulu juga pasti sudah menunggu. Jangan buat mereka makin lama menunggu. Ayo Dion mama bantu kamu,,,"


Mama Herna menengahi pertengahan calon pengantin itu. Hana tak menjawab apa apa kali ini karena meski masih tak terima dengan bentakan Dion tadi, kali ini ia membenarkan ucapan mama Herna. Ia memang harus segera turun menemui para tamu dan melangsungkan akad nikahnya juga.


Mama Herna sudah hampir keluar kamar dengan mendorong kursi roda Dion. Hana menghentikan langkahnya.


"Ada apa Han?" tanya mama Herna.


"Jangan bertingkah macam macam nanti di bawah ya Dion. Tolong kerjasamanya." Hana memperingatkan.


"Biar aku yang mendorong kursi roda Dion ma. Aku tak mau para tamu mengira aku ini bukan calon istri yang baik untuknya." ujar Hana saat mereka berada dalam lift.


Mama Herna langsung menyingkir saja membiarkan Hana mengambil alih posisinya. Rumah tempat tinggal mereka di Turki memang sudah dilengkapi dengan lift pribadi untuk memudahkan pergerakan Dion yang memilih tinggal di kamar atas.


Ting,,,


Pintu lift terbuka seiring dengan melebarnya senyum Hana menyapa semua mata yang sudah memandang ke arah mereka. Seketika bisik bisik pun merebak membahas kecantikan sang calon mempelai wanita.


Belum lagi secara kasat mata mereka melihat kesetiaan Hana mendorong kursi roda calon mempelai pria yang kabarnya lumpuh itu. Berbagai pujian pun dilayangkan untuk kemurahan hati Hana itu.Maklum mereka tidak tau yang sebenarnya.


"Beruntung sekali tuan muda Dion ya. Meski sudah cacat dan ditinggalkan oleh anak istrinya tapi masih ada nona Hana yang kembali hadir untuk menemaninya menghabiskan masa tua."

__ADS_1


"Baguslah,,, teruslah berkomenta seperti itu." batin Hana yang bisa mendengar selentingan seperti itu dan itu membuatnya makin tersenyum menang.


"Calon mempelai berdua,,, Apa akad nikah sudah bisa dimulai?" tanya penghulu yang sudah disiapkan oleh Hana.


"Iya. Sudah bisa bapak penghulu." sahut Hana sumringah.


Penghulu yang sudah berkali kali menikahkan calon pengantin itu tentunya bisa melihat wajah Dion yang sama sekali tak bersemangat. Terlepas dari kondisinya yang memang lemah namun wajahnya menyiratkan rasa tidak bahagia. Hal itu membuat sang penghulu pun akhirnya bertanya.


"Tuan Dion,,, selaku pihak pria dan yang akan mengucapkan akad, apa anda sudah siap?"


"Tidak. Saya tidak siap dan tidak akan pernah siap. Saya punya istri yang juga tidak memberikan ijin baik secara lisan maupun tertulis untuk saya menikah lagi. Jadi saya tidak siap dan tidak bisa menikahi Hana."


"Dion!!!!" bentak Hana kesal.


Hana sangat merasa dipermalukan oleh Dion di depan semua tamu yang semua langsung berubah wajahnya begitu mendengar ucapan Dion itu.


"Itu hal yang sebenarnya bapak penghulu. Saya tidak siap dan tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Apa bapak selaku penghulu juga akan memaksakan saya untuk tetap menikahi wanita ini? Apa bapak siap mendapat tuntutan karena telah menikahkan kami dengan paksa??" Dion sama sekali tak mengindahkan Hana dan terus mengajak bicara penghulu itu saja.


"Dion,,,Dion,,, nak,,, apa yang kamu lakukan??" bisik mama Herna berusaha menghentikan Dion.


"Dion hanya melakukan apa yang seharusnya Dion lakukan ma. Dion ini pria beristri yang harus dapat ijin istri pertama jika memang Dion ingin menikah lagi. Saya benar kan bapak penghulu??"


"Benar sekali." jawab penghulu tegas membuat Hana makin merasa wajah cantiknya dicoreng arang berkali kali.


Ia sangat malu apalagi mendengar beberapa tamu yang mulai menggunjingkannya.


"Kalau begitu batalkan saja pernikahan itu tuan dan nona. Saya tidak berani melangkah lebih jauh kalau salah satu pihak tidak siap. Saya permisi saja kalau begitu. Anda boleh kembali memanggil saya kalau urusan ini sudah terselesaikan." penghulu pamit undur diri.


Seiring dengan berdirinya penghulu,,,para tamu undangan pun ikut berdiri dan meninggalkan rumah megah yang sudah dihias sedemikian rupa yang sedianya menjadi saksi bisu pernikahan mereka.

__ADS_1


Hana menangis. Pernikahannya gagal dan menyisakan rasa malu tak terbendung.


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2