Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 80


__ADS_3

Nara kembali menjatuhkan airmata ketika telah sampai pada taman pemakaman khusus warga desanya, ia melangkah masuk berjalan menuju salah satu makam tempat raga ibu kandung nya tertanam di sana.


Nara meraba kalungnya, kalung berbentuk hati yang tidak pernah ia lepas dari leher nya kecuali di kerjai oleh Dannis ketika dulu di awal pernikahan.


"Apa ibu kecewa padaku? ketika akan menikah aku tidak menyempatkan diri berziarah, karena semuanya terlalu cepat. Begitupun sekarang, waktu berputar sangat cepat bahkan aku kemari dengan status menuju janda", Nara berkata lirih sambil menatap gundukan tanah yang telah ditumbuhi rumput yang rapi.


"Rumah kita dijual, aku tidak punya tempat pulang bu.... aku tidak tahu harus kemana sekarang, tapi ibu perlu tahu bahwa paman Harun masih hidup dia tidak meninggal, ayah dan istrinya telah membohongiku tapi setidaknya aku masih punya kesempatan untuk bertemu keluarga kita satu-satunya yang ku kenal, meski tidak tahu itu kapan karena aku sama sekali tidak tahu paman sedang berada di mana sekarang", gumam Nara seorang diri, menangis tersedu menumpahkan segala isi hatinya.


Lama ia berada di sana sebelum pikirannya kembali ke permukaan, ia berdiri tegap seraya menghapus airmatanya.


"Menangis di sini juga tidak akan membuatku lega, aku harus melanjutkan hidupku bukan, meratapi yang telah terjadi itu bukanlah diriku".


Nara seakan mempunyai energi baru setelah berziarah, melepas rindu pada pusara sang ibunda, Nara menarik napas dalam sebelum akhirnya meninggalkan makam tersebut.


Tidak lupa pula ia mampir ke makam ayahnya yang juga berada tidak jauh dari makam ibunya, setelah itu Nara benar-benar pergi meninggalkan area pemakaman berniat kembali menuju jalan raya.


Tangannya melambai pada sebuah bus yang tentu saja akan menuju ke kota, Nara menaikinya dengan langkah pasti, setelah mendudukkan diri ia mengambil ponsel yang masih di dalam tas selempang kecil yang ia kenakan sekarang, ia tampak menghubungi seseorang.


"Hallo Reno.... maaf mengganggu, apa bisa bertemu malam ini?".


Nara menyandarkan kepalanya, menatap hamparan kebun teh yang menghijau tidak ada airmata di sana, perlahan tapi pasti bus kembali keluar dari area pedesaan yang menuju ke kota membawa beberapa orang di dalamnya yang tentu berbeda nasib satu sama lain.


Nara melupakan sesuatu, ia menoleh pada jari manis yang masih terdapat sebuah cincin di sana, cincin yang menjadi mahar pernikahannya.


Nara tersenyum seraya memainkan cincin itu tanpa melepasnya.


"Kau akan menjadi kenangan, aku tidak akan melepasmu kau cantik di jari ini namun jika uangku habis tentu kau juga yang akan ku jual", gumam Nara terkekeh sendiri.


Karena sibuk dengan cincin, Nara tidak menyadari bahwa bus yang ia tumpangi itu melewati sebuah mobil yang melaju kencang dengan berlawanan arah.


Nara kembali menatap ke depan, ia mematikan ponselnya karena ingin beristirahat sebab sejak tadi Aira putrinya Alea terus mengirimnya pesan suara yang mengajak perempuan cantik ini pergi ke taman bermain namun tentu tidak ia jawab karena keadaan telah berbeda sekarang.

__ADS_1


Memejamkan mata, Nara tahu perjalanannya masih jauh begitupun nasibnya masih belum menemukan titik terang kehidupannya, namun ia tahu berdiam diri meratapi sesuatu bukanlah bagian dari dirinya, berniat akan melanjutkan hidup di kota menjadi pilihan satu-satunya karena di desa pun ia sudah tidak memiliki tujuan pulang.


******


Dannis yang semula mengemudi pelan berniat kembali ke kota, baru saja meninggalkan daerah pedesaan, ia tiba-tiba berhenti mengemudi.


Lama ia mengepalkan tangan dengan kesal, iya Dannis kesal pada dirinya kesal pada hatinya yang berkata lain. Hati dan pikirannya tidak sejalan sekarang.


Dadanya sesak, otaknya merasa buntu seketika setelah lama memikirkan Nara yang telah pergi, sungguh ia merasa berat untuk kembali pulang ke kota hingga pada akhirnya ia pun mendadak berhenti.


Dannis memukul setir dengan perasaan kesal.


"Bukankah ini yang ku inginkan? berpisah dan gadis bodoh itu, berpisah dengan wanita yang ku tiduri semalam? berpisah dari istriku? hanya karena kenangan Naya masih melekat dalam pikiran ku", gumam Dannis pelan, ia berkata dengan perasaan terdalamnya.


"Belum juga satu jam, apa ini.... ayolah jangan jadi pria cengeng", gumamnya lagi seraya menghapus air di sudut matanya.


Lama Dannis terpejam, ia membuka mata menarik napas dalam kemudian mantap berputar arah kembali ke desa dimana Nara ia turunkan tadi.


Pria itu berhenti di persimpangan, Dannis keluar mobil dan terlihat bingung.


"Ah sial.... aku bahkan tidak tahu rumahnya dimana", Dannis mengusap wajahnya kasar sambil menendang ban mobilnya sendiri.


Pria itu masuk mobil, melaju masuk ke gerbang desa Nara berada, ia tidak tahu harus kemana namun ia teringat bahwa mungkin saja Nara masih berada di pemakaman maka darinya Dannis bertanya pada seseorang yang kebetulan lewat.


Setelah mendapat petunjuk, Dannis segera menuju jalan kecil arah pemakaman yang tidak bisa dilewati mobil, ia terpaksa jalan kaki, bahkan Dannis berjalan setengah berlari takut akan istrinya telah pulang dari makam.


Pria itu tampak tidak fokus, bahkan Dannis melupakan ponselnya yang masih terdapat nama dan nomor ponsel Nara di sana.


"Tidak ada, kemana dia? kata paman tadi tidak ada pemakaman lain selain ini", gumam Dannis mencari ke sana kemari.


Karena tidak ada, Dannis segera kembali ke tengah rumah warga, bertanya ke sana kemari yang beberapa orang tidak mengenali Nara, namun ketika Dannis menyebutkan nama ayah dari istrinya itu barulah ia mendapat petunjuk dimana rumah mertuanya berada.

__ADS_1


Dannis tidak menyadari bahwa ia memarkirkan mobil tidak jauh dari rumah besar tempat dulu Nara tinggal.


"Sial, aku bahkan tidak tahu aku telah parkir di depan pagar rumah mertua ku", Dannis kembali merutuki kebodohannya.


Dannis berjalan cepat menuju pagar rumah mertuanya, ia berteriak memanggil nama Nara tanpa peduli beberapa orang melihatnya aneh.


Seorang pria separuh baya keluar dari sana.


"Ada apa nak kau berteriak di rumahku?".


"Paman siapa? mana istriku?".


"Istri siapa?", jawab paman itu bingung.


"Istriku, Khinara.... mana dia, aku mohon biarkan aku masuk", desak Dannis tidak sabar.


"Paman rasa kau salah alamat nak, di sini tidak ada namanya Khinara".


"Apa?".


Dannis bertanya dengan menyebutkan nama almarhum ayah Nara.


"Oh maafkan paman nak, apa kau tidak tahu rumah ini sudah lama ku beli dari istri mendiang ayah dari istrimu".


Dannis tercengang, dadanya bergemuruh, tanpa berpikir panjang ia meraih kerah kemeja paman itu dengan kasar dengan tatapan tajam.


"Lalu kemana istriku?".


####


oke jangan bilang Dannis terlalu cepat menyadari, yang jelas Penderitaan Dannis dimulai dari sekarang.

__ADS_1


mari tertawa jahat ha ha ha ha.


__ADS_2