Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Haruskah Melepasmu?


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Maafkan mama Dion,,,, Maafkan mama,,,Mereka sudah pergi."


Mama Herna menangis tersedu sedu merasakan sakit jiwa dan raga Dion kali ini. Putranya itu sampai jatuh tersungkur begini pasti saking besarnya keinginannya untuk bisa bertemu kembali dengan anak istrinya.


"Lepaskan Dion ma,,, Lepaskan. Biarkan Dion kejar mereka ma." Dion terus menangis dan menyesali tubuh yang tak lagi mau merespon itu.


Betapa pun besar keinginannya tetap saja tubuh itu melemah.


"Dion,,,, Dion,," mama Herna hanya bisa menangisi ketidakberdayaan putranya melawan keinginan besarnya itu.


"Bawa mereka kembali ma." Dion tersedu sedu.


Tak dipedulikannya darah segar yang terus mengalir membasahi pelipisnya itu.Luka menganga itu masih tak seberapa sakit dan perihnya dibanding luka hati karena ketidakberdayaannya.


"Om papa,,,, Mama,,,,"


Seketika mama Herna menoleh ke arah pintu yang masih terbuka. Di sana sudah berdiri Karin dan Delvara. Karin yang rupanya sempat mendengar namanya dipanggil tadi memutuskan untuk kembali naik saat lift itu terbuka di lantai dibawahnya.


Karin penasaran dengan pendengarannya sendiri karenanya ia kembali untuk meyakinkan bahwa wanita yang selalu memanggilnya Rina itu adalah benar mama Herna.


Wajah cantik itu kini memucat dan dibasahi airmata melihat kondisi suami tercinta yang terkulai lemah bersimbah darah.


"Rinaaaa,,," pekik mama Herna.


Yakin dengan apa yang dilihatnya itu Karin segera masuk. Masih dengan Delvara di gendongannya Karin bersusah payah membantu mama Herna mengangkat tubuh lemah Dion.


"Om papa apa yang terjadi?? Kenapa om papa jadi begini?? Maafkan Karin karena Karin malah tidak ada bersama om papa,,,,"


Ratapan pilu istri yang merasa sangat bersalah itu makin terdengar pilu dan menyayat hati. Mama Herna memilih membantu mengambil alih Delvara agar Karin tak makin kesusahan.

__ADS_1


"Biar mama gendong cucu mama." pinta mama Herna.


Karin makin tersedu mendengarnya. Delvara yang bingung pun jadi ikut menangis panik. Terutama saat mama Herna yang menggendongnya. Anak itu tentu merasa asing dengan orang yang baru ditemuinya meski itu adalah neneknya sendiri.


"Papappapappaa,,," diantara tangisannya pun Delvara memanggil papa.


"Iya nak ini papa. Ini papanya Del." Karin yang sudah berhasil menyandarkan tubuh lemah Dion ke tubuhnya sendiri pun mengucapkannya dengan hati yang campur aduk antara haru, sedih dan senang.


"Del,,, Anak papa." lirih Dion disertai tangisan pilunya.


Melihat putra yang ditunggu kehadirannya kini sudah besar dan sangat tampan sepertinya membuat hati Dion menangis. Ia menyesali setiap detik yang terlewatkan bersama Delvara. Ia menangisi setiap perkembangan Delvara yang tak bisa diikutinya.


Mama Herna dengan tangisan harunya pun mendekatkan sang putra kepada papanya. Membantu agar sang putra bisa bersentuhan dengan papa yang tentu dirindukannya dalam setiap tangis kecilnya.


"Papappapapa,,," ucap Delvara yang masih menangis sesengukan saat ia didudukkan di pangkuan Dion.


"Iya nak. Ini papa. Maafkan papa ya nak."


Karin dengan segenap kekuatannya menyangga tubuh lemah itu masih mampu dengan satu tangannya meraih tubuh kecil Delvara dan mendekapnya. Keluarga kecil itu saling memeluk,,, bertemu dan bersatu dengan penuh haru.


Karin menciuminya dan tak peduli meski wajah cantiknya dan bajunya juga terlumuri darah. Ia meluapkan semua kerinduannya yang tertahan selama ini.


Mama Herna yang menyaksikan pemandangan haru itu pun masih ikut larut. Airmatanya juga tak berhenti mengalir. Berkurang rasanya beban berat yang mengganjal dalam dada.


"Ayo,,, Karin obati dulu lukanya ya." ucap Karin begitu dirasa rindu yang tak pernah ada habisnya itu sedikit berkurang saat menyadari ada luka menganga yang terus berdarah.


Dibantu mama Herna yang memegang kembali Delvara,,,dengan sisa tenaganya Karin berhasil membantu Dion duduk di kursi rodanya.


"Maafkan om papa yang hanya bisa menyusahkanmu sayang." ucap Dion melihat bidadari tak bersayapnya itu terengah engah.


"Jangan bilang begitu. Sudah seharusnya Karin melakukannya. Tunggu sebentar ya. Karin ambil obat dan baju ganti dulu." ucap Karin.


Banyak yang ia tanyakan,,, banyak yang ia bahas,,,tapi luka itu perlu dapat perawatan terlebih dahulu. Begitu pula dengan mama Herna yang menahan diri untuk meminta ampunan dari sang menantu yang kini bisa disaksikan oleh mata kepalanya sendiri keunggulannya.

__ADS_1


Hana?? Kalah jauh. Selama bersama Hana,, mana pernah mama Herna melihatnya merawat Dion? Selama ini tugas itu dilimpahkan kepada mama Herna sendiri dengan dalih kesibukan mengurus perusahaan.


"Aku sudah salah besar memisahkan bidadari ini dari putraku."


Tak butuh waktu lama bagi Karin menemukan semua yang dibutuhkan di rumah ini karena memang ia sudah paham tata letak rumah yang dulu juga pernah ditempatinya itu. Segera dibawanya Dion ke kamar untuk dibersihkan luka di kepalanya.


Setelah luka tertutup dengan perban,,,baju penuh darah pun juga diganti. Bidadari itu terlihat sangat telaten merawat suami tercinta. Dion merasa kehidupannya kembali. Sentuhan sentuhan halus tangan sang istri mampu membangkitkan sesuatu miliknya yang selama ini dikiranya tak akan pernah bisa dibanggakan.


Hasrat yang telah mati itu tergugah kembali.


Namun hanya sekian detik kehidupan itu pun layu kembali seiring dengan rasa percaya diri yang juga menghilang. Seiring dengan kelebatan wajah Yusuf yang tiba tiba muncul. Seiring dengan ingatan akan nama calon istri Yusuf dan anaknya.


"Nana dan Dellon,,, Karina dan Delvara."


Wajah Dion kembali layu bagai dedaunan kering yang tinggal menunggu angin menerpanya untuk jatuh ke tanah. Ia mulai bisa menebak nebak hubungan antara Yusuf dan Karin. Terbayang semua hutang budi dan janji untuk merestui siapa pun wanita yang akan dinikahi Yusuf.


Harus apa ia sekarang? Kalau dugaannya benar bahwa Karinlah calon istri Yusuf,,, masih bisakah ia berharap Karin lebih memilihnya? Bisakah ia melepasnya demi menepati janjinya pada Yusuf?


""Bagaimana bisa kamu tiba tiba di sini sayang? Apa kita masih,,,"


"Tentu saja masih. Dan akan selamanya begitu." potong Karin cepat karena ia tau kemana arah pertanyaan Dion.


"Jangan berpikir yang macam macam. Apa pun kondisi om papa saat ini,,, dan bagaimana pun nanti ke depannya,,, om papa tetap suami Karin." tegas Karin.


Tetap saja jawaban itu tak lantas membuat Dion lega. Ada hati yang pasti akan tersakiti namun jika melepasnya tentu hati sendiri yang akan makin mati.


"Apa om papa orang yang disebut Yusuf bang D?" tanya Karin.


"Iya sayang. Dan apa kamulah wanita yang akan dinikahi Yusuf?" tanya Dion balik.


Karin meraih jemari lemah tak berdaya itu lalu menciumnya berkali kali dengan penuh rasa bersalah. Ia menyalahkan dirinya karena mengabaikan kata hatinya bahwa ia hanya harus bersabar lebih lama sampai tuhan mempertemukan mereka.


"Bahagiakah kamu dengannya sayang? Haruskah om papa melepasmu sayang?" tanya Dion lirih.

__ADS_1


"Tidak!! Meski om papa melepas pun Karin tak akan mau lepaskan ikatan pernikahan kita." tegas Karin.


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2