
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Om papa Kok malah naik kasur lagi? Bukannya hari ini katanya mau ke kantor lebih pagi? Ada meeting kan dengan klien baru?" tanya Karin saat melihat Dion dengan enaknya merebahkan diri lagi ke ranjang mereka usai mereka menunaikan kewajibannya saat subuh.
"Om papa masih ngantuk sayang. Meetingnya nanti biar dihandle Megha sajalah ya. Dia sudah biasa kok begitu. Oh ta kamu turun duluan deh ya Om papa Nanti saja turunnya." ucap Dion sembari menarik kembali selimut tebal mereka.
Dengan gemas dan wajah lucunya ia pun lantas mengendus endus bau selimut dan bantalnya sendiri. Senyumnya langsung mengembang seiring dengan dua bola mata yang terpejam kembali menikmati indahnya rebahan.
"Hhhmmm."Karin geleng geleng kepala saja melihat ulah suaminya itu.
Kadang ia merasa melihat suaminya seperti itu jadi lucu tapi juga kasihan. Lucu ketika suaminya itu malah yang ngidam tapi kasihan juga karena ngidamnya malah ngidam bantal alias suka tidur.
Itu tentu saja berimbas pada pekerjaannya. Yah walau ada Megha yang bisa diandalkan tapi tetap saja ada beberapa hal yang Megha tidak bisa mewakilinya.
Mau tidak mau Karin tetap membetulkan selimut Dion agar pria itu makin nyaman tidurnya. Karin juga tak ingin suaminya masuk angin karena suaminya itu berubah suka pakai kipas. Dulu paling benci sama kipas angin, sekarang malah suka sekali dan auto mabuk kalau Karin menyalakan AC.
Dulu Ac adalah hal wajib yang harus dinyalakan kalau Dion ada di sebuah ruangan. Sekarang bak musuh bebeyutan saja sampai sampai remote controlnya pun disembunyikan oleh Dion agar Karin tidak bisa menyalakannya.
Karin kembali geleng geleng kepala mengingatnya. Tapi tetap saja ia sangat mencintai suaminya itu meski dengan ulah ulah anehnya sekarang. Dikecupnya kening Dion dengan lembut sebelum ia keluar kamar.
"Kok turun sendiri Rina? Mana Dion?? Jangan bilang dia molor lagi." tebak mama Herna.
"Iya ma. Om papa tidur lagi. Katanya masih mengantuk."
"Dasar kebo,,, Bisa bisanya tuh anak ngidam bantal ya hihihi,,," mama Herna tertawa geli.
"Tapi ma,, Kalau dipikir pikir kasihan juga ya ma. Seandainya saja Karin saja yang ngidam. Tentu pekerjaan om papa tidak terganggu." keluh Karin.
__ADS_1
"Tidak apa apa Rina. Yang beginian ini mana bisa pilih pilih mau siapa yang ngidam. Itu kan bawaan hormon. Lagipula,,, ini namanya kalian saling bahu membahu berbagi rasa." ujar mama Herna sambil tersenyum geli mengingat kondisi Dion yang lusuh akhir akhir ini.
"Mama ini malah om papa diketawain. Kasihan tau ma." protes Karin.
"Hehehe maaf sayang. Tapi mama jadi ingat sama mendiang papa. Dulu saat mama hamil Dion, papa juga seperti Dion sekarang. Mama suka ketawa geli kalau sudah lihat papa yang merengek minta dibelikan makanan yang aneh aneh. Ini sudah bagus Dion gak ngidam pentol kayak papa dulu. Mama sampai harus jauh jauh belikan bakso yang harus bakso beranak. Waktu itu masih sedikit yang jualan bakso seperti itu." kenang mama Herna sambil senyum senyum.
Tapi sesaat kemudian senyum itu berubah jadi tangis.
"Ma,,," Karin yang paham arti tangisan itu pun memeluk dan mengusap punggung mama Herna.
"Mama hanya kangen sama papa Rina. Tanpa terasa sudah hampir empat tahun papa meninggalkan kita semua. Kadang Mama masih suka membayangkan seandainya saja papa masih hidup, beliau pasti juga akan tertawakan Dion. Papa akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti kita." mama Herna mengatakannya dengan nafas yang sangat berat.
Karin hanya terus mengusap usap punggung mama Herna. Mengalirkan kehangatan agar mertuanya itu tidak tenggelam dalam dukanya. Bagaimana pun, juga tidak baik terpuruk dalam duka apalagi urusan kematian. Kasihan yang sudah tenang di sana kalau melihat yang ditinggal masih bersedih karena kepergiannya.
"Semua salah mama. Seandainya dulu mama tidak mengusirmu, tentu papa tidak akan begitu sedih. Mungkin juga masih ada bersama kita saat ini." tangis mama Herna makin menjadi diiringi dengan rasa bersalah yang teramat besar.
Mama Herna mengangguk setuju dan menghapus sisa lelehan airmatanya.
"Yang terpenting sekarang adalah kita doakan saja papa. Semoga papa senantiasa dapat tempat terindah di sisiNYA. Semoga dari sana papa juga bisa merasakan betapa bahagianya kita saat ini." tambah Karin.
"Iya sayang. Maafkan mama ya. Terima kasih bidadarinya Dion. Kamu benar benar pelita dalam hidup kami." mama Herna menggenggam erat jemari Karin.
Acara sayang sayangan antara mertua dan menantu itu tak berlangsung lama karena Del mulai merajuk minta dibelikan mainan baru.
"Ayo omaaa,,, beli mainan baluuuu,,," ajaknya dengan wajah menggemaskannya.
"Kan mainan Del sudah banyak. Kok masih mau beli lagi?" tegur Karin.
Karin memang berusaha mengajari Del bagaimana hidup secukupnya saja meski ia dilimpahi segala kemewahan. Semua itu ia lakukan sedini mungkin.
__ADS_1
"Kan Del katanya mau punya adik bayi. Jadi Del mau beli mainan bial bica dipakai mainan cama adik bayi nanti mama." kilah Del.
"Waahhh uwu uwu banget sih kakak Del. Makasih ya sayang udah mau sayang sama calon adik bayi." ucap Karin sambil memeluk putranya itu dengan hangat.
"Tapi nanti kalau adik cudah kelual dali pelut mama,, Mama janji tetap cayang cama Del yaaa,,,"
Karin menatap sang putra dengan pandangan bertanya tanya. Ia heran dari mana Del yang belum bisa punya pikiran seperti itu.
"Kayaknya efek ikutan mama nonton sinetron deh ini Rina."Mama Herna meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mama kok diam?? Mama udah gak cayang Del yaaa?"
"Pasti sayang dong sayang. Del itu tetap anak mama sama papa. Meski ada adik juga akan tetap sama. Mama sama papa akan tetap sayang kalian berdua. Tidak ada yang berbeda."
Sang papa muncul dan mulai menuruni satu persatu anak tangga sembari berucap demikian.
"Papaaaaa,,," Delvara berlarian menyambut sosok pria idolanya itu.
Dion membuka lebar lebar dua tangannya menyambut putranya. Keduanya lantas berpelukan dan saling menempelkan pipi. Kalau sudah begitu maka hanya ada cinta di mata Karin untuk dua mahkluk terindah pemberian Tuhan itu.
Keduanya begitu mirip kalau sudah saling menempel begitu.
"Benar benar pantulannya Dion semasa kecilnya." gumam mama Herna.
"Iya ma. Semoga yang kedua ini mirip Karin. Masak mau mirip papanya lagi." sungut Karin.
"Melihat ngidamnya dan ikatan emosionalnya sih bakalan mirip Dion lagi tuh." kekeh mama Herna saat melihat Dion tak lagi memeluk Delvara melainkan berlari menuju toilet diakibatkan kembali mual mual.
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1