Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 56


__ADS_3

Arkan menghubungi Alea pagi ini ada sesuatu yang ingin pria itu tanyakan atas hal yang baru saja ia temukan dari lemari istri pertamanya Vina.


Alea yang sedang berada di rumah sakit karena jadwal paginya, harus bernapas panjang ia pikir apalagi yang terjadi pada iparnya itu hingga terus saja mengganggunya, mereka berjanji temu pada saat istirahat siang agar tidak mengganggu kegiatan Alea.


Alea sungguh pusing belum lagi ia memikirkan ingin segera membuat suaminya melunak dan mau menerima dan menemui papa Agung yang kesehatannya kian menurun pagi ini setelah Alea menjenguknya sebelum memulai tugas pagi ini, dimana pria paruh baya tersebut mengalami demam dan belum juga membaik, matanya terus terpejam hanya saja ia masih menyahut ketika dipanggil namun ia tampak gelisah.


Siang menjelang, Arkan yang sudah tidak sabar bertemu Alea ia pun sudah berada di rumah sakit sekarang meski harus menunggu jam istirahat iparnya yang baru dimulai 1 jam lagi.


Pria ini masih belum mengerti akan temuannya pagi tadi yaitu sebuah kertas resume riwayat kesehatan atas nama istrinya Vina dari sebuah rumah sakit swasta, kertas itu sudah terlihat pudar sehingga tulisannya ikut tersamar namun masih bisa dibaca namun tentu Arkan tidak mengerti maksudnya, Arkan merasa Vina tidak sengaja menyelip kertas itu dari tumpukan bajunya, karena jika dilihat tanggalnya sudah sangat lama hampir satu tahun yang lalu, Arkan memang mengetahui bahwa Vina pernah menjalani sebuah operasi hernia selama mereka pacaran dulu setidaknya itu yang di akui oleh Vina.


Namun kertas resume yang ia temukan terdapat paraf seorang dokter ahli kandungan, bukan ahli bedah jika memang itu resume pada saat Vina operasi hernia, hal itu lah yang membuat pria ini memutuskan ingin bertanya pada Alea yang tentu lebih tahu maksud dari kertas itu.


"Bang Arkan" kejut Alea pada iparnya yang masih termenung dengan pikirannya sendiri.


"Alea apa kau sudah beristirahat?" tanya Arkan tanpa basa basi.


"Iya tenanglah....kenapa kau terlihat tegang begitu?"


"Ayo kau baca ini untukku Alea" ucap Arkan cepat memberikan kertas tersebut dari sakunya.

__ADS_1


Alea mengernyit heran dan menerima kertas pudar itu.


"Apa ini punya istrimu? disini tertulis nama Vina?" jawab Alea ketika membaca bagian atasnya.


"Iya, ini ku temukan menempel pada kaosku tadi pagi, aku baru melihatnya dan tidak mengerti maksudnya, aku hanya tahu ada paraf dokter kandungan dibawahnya namun kertas ini sudah sangat lama lihat saja tanggalnya" jawab Arkan lagi.


Lama Alea menatap kertas itu membacanya dengan teliti dan betapa ia terkejut atas apa yang ia ketahui sekarang dari informasi didalamnya, Alea menatap Arkan seksama membuat pria itu kian penasaran.


"Bang Arkan tidak tahu ini resume apa?"


"Tidak....cepat katakan jangan membuatku penasaran, apa itu hanya resume tindakan operasi Vina ketika dia terkena hernia? kenapa ditangani dokter kandungan? setahuku Vina hanya operasi hernia ketika kami masih pacaran"


"Aku rasa istrimu berbohong bang Arkan"


"Jika ini benar atas nama Vina istrimu, ini bukan resume tentang hernia namun...."


"Alea.....cepatlah" Arkan tidak sabar.


"Tenanglah tarik napasmu dulu, kau akan sangat terkejut jika mendengar ini kau bahkan akan langsung naik darah atas apa yang telah Vina lakukan padamu, sungguh aku tidak menyangka ini menimpamu bang Arkan, sungguh kasihan pria ini telah dibohongi istrinya sendiri, bahkan ini jauh sebelum menikah itu artinya dia sengaja membohongimu mentah-mentah bang Arkan, seharusnya kita bisa curiga ini dari awal karena memang Vina tidak seperti orang hamil pada umumnya" jawab Alea penuh drama, ia geleng kepala mengingat wajah Vina yang menyebalkan.

__ADS_1


"Apa maksudmu Alea, cepatlah apa kau mau aku mati berdiri sekarang?" Arkan memegang kedua bahu Alea dengan gemas.


"Jika benar Vina istrimu yang dimaksud kertas ini maka kau harus tahu bahwa tulisan disini mengatakan Vina pernah hamil sebelumnya dan dia mengalami kondisi yang biarpun aku jelaskan padamu kau tidak akan mengerti, yang jelas di akhir kehamilannya diharuskan diangkat rahimnya agar menyelamatkan nyawanya oleh suatu kondisi yang mengharuskan tindakan itu diambil"


"Alea aku belum mengerti bisa kau perjelas dengan bahasa sederhana?"


"Baiklah....intinya sekarang kau pulang temui istrimu yang pura-pura hamil itu, minta penjelasan padanya, yang jelas ini ditulis Vina sudah melakukan operasi pengangkatan rahim itu artinya dia sudah tidak mungkin hamil dan menstruasi lagi sampai kapanpun, kau mengerti? Vina sama sekali tidak hamil sekarang, ini bukan operasi hernia dia telah membohongimu selama ini bahkan dia pernah hamil sebelumnya apa itu anakmu atau bukan aku tidak tahu hanya kau dan Vina yang mengetahui hubungan kalian ketika pacaran"


Arkan terduduk mendengar kata-kata Alea, sungguh ia seperti berpijak diatas air sekarang terasa lemah pada kakinya, Alea ikut duduk dan mengusap punggung Arkan yang menutup kedua wajahnya dengan kedua tangan.


"Aku tidak pernah menyentuhnya ketika pacaran Alea, memang ketika menikah dia sudah tidak suci lagi tapi aku menerimanya dengan tulus, tapi kenapa dia melakukan ini padaku....kenapa harus berbohong, dia mengatakan itu bekas luka operasi hernia, karena aku sibuk bekerja aku tidak menemaninya ketika operasi, namun akulah yang membiayainya ketika itu kami baru berpacaran dua bulan, apa dia sedang hamil pada saat itu seperti yang kau jelaskan, ini artinya dia masih memiliki lelaki lain ketika pacaran denganku bahkan dalam keadaan hamil, aku benar-benar bodoh" ucap Arkan yang bahkan telah mengeluarkan airmata, ia terus menunduk menutup wajahnya.


Alea merasakan apa yang dirasakan oleh Arkan, ia tidak tahu harus bersikap apa namun sungguh rasanya Alea ingin membenamkan wajah Vina dalam lumpur hidup karena terlalu kejam berbohong seperti ini. Sungguh memang menyebalkan perempuan itu.


"Aku mengerti perasaanmu, sekarang tenangkan dirimu bang Arkan pulanglah temui Vina bicarakan ini baik-baik, semua keputusan ada ditanganmu, aku juga tidak tahu harus seperti apa sekarang namun aku juga merasa kesal atas apa yang sudah Vina perbuat ini sudah keterlaluan, ini kebohongan besar dan serius ini sama sekali bukan lelucon yang ia mainkan"


Arkan bungkam.


"Aku sebenarnya juga ingin bilang sesuatu tentang kondisi papa sekarang pada kalian yang sekarang kian menurun, tapi aku mengerti ini bukan waktu yang tepat, selesaikan lah masalah ini dulu....aku berharap semua akan membaik, ingat bang Arkan ini bukan akhir segalanya kau masih memiliki Melati, setidaknya itu yang perlu kita syukuri hikmah dari kisah cinta segitiga mu ini bahwa kau bisa melihat mana perempuan yang pantas mendampingimu, aku rasa Melati jauh lebih baik dari Vina, ini hanya pendapatku saja...." ucap Alea menenangkan namun tetap saja di ujung kalimat ia seakan memberi saran agar memilih Melati daripada Vina yang terus saja membuatnya kesal karena mereka kerap bertengkar jika berdekatan.

__ADS_1


****


lanjut yaaa


__ADS_2