
Nara berusaha keras untuk membuka pintu kamar mandi yang ia yakini Dannis telah mengurungnya di sana sebagai balasan drama lemon beberapa saat lalu.
"Huh..... dia benar-benar jahat, sampai kapan aku di kurung seperti ini?", gumam Nara pada dirinya sendiri seraya duduk di dinding lemari handuk tempat pakaiannya berada.
Karena terlalu lama menunggu akhirnya Nara kembali tertidur di sana dalam posisi duduknya.
*****
"Dia tidur lagi?", Dannis berdecak melihat istrinya yang kembali terpejam meski sedang di dalam kamar mandi.
"Bangunlah, kita akan berkemas", ucap Dannis pada Nara yang masih memejamkan matanya.
Belum mendapat tanggapan, membuat Dannis heran dan kembali menatap Nara dengan seksama.
Wajah cantik yang tertutupi sebagian rambut itu tampak tidak bergeming.
"Apa dia pingsan?", Dannis mulai panik, ia tidak mengira bahwa Nara akan pingsan hanya karena ia mengurung gadis itu di kamar mandi yang lumayan besar, lagi pula tidak sampai satu jam Nara ia kurung di sana.
"Hei....", tepuk Dannis pada pipi mulus istrinya itu.
Nara masih tidak terbangun, kemudian Dannis menggoyangkan badan Nara pelan dan diluar dugaan pria itu tubuh mungil milik Nara malah terhuyung dan tergeletak ke lantai tanpa ada pergerakan.
"Ya Tuhan.... dia benar-benar pingsan", gumam Dannis lagi seraya tangannya reflek menggendong tubuh istrinya menuju ke luar.
Disadari atau tidak pria itu membawa Nara menuju ranjangnya yang mana ia tidak pernah mengizinkan gadis itu di sana, namun tanpa ia ketahui gadis yang meringkuk menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dannis itu menampilkan senyum tipis seraya satu matanya mengintip ekspresi wajah suaminya.
Nara menjadi gugup sendiri ketika matanya menatap langsung wajah tampan itu dengan jarak yang sangat dekat dimana rahang suaminya ditumbuhi rambut-rambut halus, wajah yang tegas serta alis mata yang tebal menambah tajamnya sang mata elang milik Dannis membuat Nara menelan ludah kasar dibuatnya.
Ketika sampai ranjang kembali Nara memejamkan matanya agar Dannis tidak curiga.
"Aku tidak menyangka dia benar-benar lemah, dikurung sebentar saja sudah pingsan. Bagaimana jika ku kurung lama mungkin saja dia bisa mati", gumam Dannis seraya membuka nakas di samping ranjang yang terdapat minyak angin di sana.
Kata itu membuat Nara yang mendengarnya menjadi kesal.
Dannis ingin memberikan minyak angin di hidung gadis itu, pria ini menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah Nara dengan tangan besarnya.
Dannis memejamkan mata ketika dadanya merasa sesak, ingin sekali ia mengumpat tentang apa yang ia rasakan sekarang ketika netranya menatap jelas garis wajah cantik yang sudah resmi menjadi miliknya itu.
Cantik tanpa celah, namun tentu saja Dannis menyangkal akan hal itu, segera Dannis menetralisirkan perasaannya dengan mengingat wajah wanita yang ia cintai.
Nara berpura-pura mengerjapkan matanya setelah mencium aroma minyak kayu putih yang Dannis berikan.
__ADS_1
"Oh putri tidur sudah bangun rupanya, ayo sekarang bangkit dan jangan berpura-pura lemah di depanku, segera berkemas kita akan pindah setelah sarapan", perintah Dannis dengan suara lantang ketika ia berdiri dari duduknya setelah memastikan gadis itu benar-benar bangun.
Nara hanya diam menatap wajah Dannis tanpa berkata-kata, lalu ia segera menunduk dan mengangguk.
Nara menggigit bibir bawahnya menahan kesal, baru saja ia mendapat perlakuan baik dari pria itu sekarang Dannis sudah berkata dengan nada kasar lagi.
"Kenapa kau diam saja, ayo segera bangun dari ranjang ku".
"Baik", jawab Nara datar seraya berdiri dari ranjang Dannis.
Nara melirik beberapa koper yang sudah siap di samping lemari yang ia yakini itu adalah barang dan pakain milik Dannis.
*****
"Mama ayolah, kami akan sering kemari.... jengan menangis seolah aku pergi jauh saja", ucap Dannis mengusap punggung tangan ibunya.
"Berjanjilah pada mama jika kalian akan sering pulang dan menginap di sini, jika tidak mama yang akan sering mengunjungi kalian".
Dannis menghela napas kasar.
"Iya..... aku akan sering pulang, ayolah ini sudah mau siang kami akan berberes di kamar baruku", ucap Dannis lagi.
Nara hanya menyimak saja perpisahan antara anak dan ibu itu.
*****
Tidak ada percakapan selama dalam perjalanan, Dannis dan Nara sibuk dengan pikiran masing-masing.
Rumah yang berjarak tiga puluh menit dari rumah orangtuanya sudah di depan mata, masuk ke komplek perumahan elit Nara yang berusaha menyembunyikan kekagumannya akan rumah-rumah mewah yang mereka lewati, taman yang dipenuhi anak-anak bermain dikala akhir pekan seperti ini begitu ramai.
Sungguh Nara merasa senang bahwa ia akan tinggal di tempat ramai seperti itu, ia teringat akan rumahnya di desa mereka memiliki banyak tetangga yang baik dan suka tolong menolong, ia berharap rumah yang akan mereka tempati ini akan membawa suasana baru dan tetangga yang ramai dan baik pula.
"Kenapa kau tersenyum sendiri?", ucap Dannis heran ketika matanya melirik Nara di sampingnya.
"Apa lingkungan rumah kita juga ramai seperti di taman tadi?", tanya Nara polos.
"Rumah kita? itu adalah rumah ku", jawab Dannis tajam.
"Iya maksudku rumah mu", jawab Nara malas ingin berdebat.
"Memangnya kau pikir kita akan tinggal di pasar hingga kau kira akan ramai seperti di taman".
__ADS_1
Nara menghela napas, ia memilih untuk diam saja, kemudian ia merasa heran ketika Dannis menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti? apa kita sudah sampai?", tanya Nara heran sambil
"Turun".
"Apa?".
"Turun, aku menyuruhmu keluar dari mobilku".
"Tuan Dannis, apa kau akan menuruniku di tengah jalan seperti waktu itu?", tanya Nara kesal, ia melihat raut menyebalkan suaminya itu.
"Iya".
"Apa?".
Dannis keluar mobil dan membuka pintu bagian Nara dan menarik tangan gadis itu dengan paksa namun pelan.
Nara menggeleng kepala.
"Kau benar-benar pria jahat tuan Dannis".
"Anggap saja seperti itu", jawab Dannis terkekeh.
"Aku tidak tahu ini di mana, ayolah tuan jangan membuatku takut", sela Nara ingin menangis.
"Kau hanya perlu berjalan kaki sekitar 500 meter dari tempat ini, kau hanya berjalan lurus ke depan sampai kau menemukan mobilku nanti, itu artinya kau telah sampai", ucap Dannis santai sambil menunjuk arah ke depan.
"Apa?".
"Selamat mengukur jalan ya istriku", ucap Dannis terkekeh seraya mengejek tepat di depan wajah Nara yang matanya masih berkaca-kaca.
Dannis melambai tangan sambil memakai kacamata hitam dengan tangan yang lain, ia masuk mobil dan berlalu mengemudi meninggalkan Nara yang berdiri mematung.
Nara menghentakkan kakinya, ia mulai menangis sekarang.
"Dia benar-benar jahat, 500 meter itu bukan jarak yang dekat", gumam Nara sambil menghapus airmatanya dengan kesal.
Dannis menunggu Nara muncul di mobil yang ia parkirkan di halaman rumah mereka, yang mana para pelayan menyambut tuannya dengan heran, sebab mereka sudah diberitahu mama El jika akan pindah, para pelayan itu bingung dengan Dannis yang datang sendiri.
__ADS_1