
Alea memberi kompres air hangat di dahi suaminya untuk membantu menurunkan suhu tubuh Abrar, ia melakukannya dengan telaten.
Abrar terbangun karena hal itu, ia tersenyum menatap Alea yang memberikan perhatian.
"Bagaimana perasaanmu? Apa masih pusing? Aku rasa obatnya mulai bekerja, suhu tubuhmu sudah turun, tidurlah kembali" ucap Alea menyadari tatapan Abrar terhadapnya, Abrar hanya diam dan memandang saja.
Alea menghentikan tindakan kompres itu, kemudian ia mengganti selimut tebal yang membalut tubuh Abrar dengan selimut tipis yang ia ambil dari lemari lelaki itu.
Abrar masih tersenyum kagum, Alea merawatnya dengan baik.
"Kenapa menatapku seperti itu, nanti abang bisa demam lagi jika terlalu lama mengagumiku" ucap Alea kembali sambil bercanda.
Abrar memegang tangan Alea yang baru saja memakaikan selimut tipis itu ke tubuh Abrar.
Mereka sejenak saling memandang.
"Alea.....terimakasih kau sudah mau merawatku, maaf soal Gina tadi" jawab Abrar.
"Lupakan tentang sekretaris menyebalkan itu, istirahatlah.....aku akan kembali ke kamarku"
Alea hendak berdiri namun Abrar menahannya.
"Alea abang mohon jangan berpenampilan seperti ini, kau membuatku menjadi salah paham, aku juga tidak ingin kita terlalu bersandiwara dihadapan semua orang, aku tidak suka kau menganggap semua ini seperti lelucon bagimu"
Alea kecewa mendengarnya, matanya sudah berkaca-kaca siap meneteskan cairan bening yang sejak tadi ia tahan.
"Tidak semua yang ku lakukan ini adalah sebuah lelucon bang Abrar, kau saja yang tidak mengerti....baiklah, aku akan kembali ke kamarku selamat beristirahat" jawab Alea sendu.
Sebelum ia berdiri, Alea medekatkan wajahnya pada lelaki yang masih bingung dan mencoba mencerna ucapan yang baru saja Alea katakan.
Cup.
Alea menempelkan bibirnya pada bibir tipis milik suaminya, iya Alea melakukannya hanya mengecup namun penuh perasaan seakan itu menjadi penegasan akan kata-katanya.
Abrar terkejut akan hal itu, ia menjadi bungkam seketika.
Alea kembali menaikkan selimut, kemudian ia berdiri berjalan menuju pintu berniat akan kembali ke kamarnya tanpa berkata-kata lagi.
Alea kembali ke kamarnya dengan airmata yang berlinang.
"Memang benar, dia tidak pernah menganggapku sebagai perempuan yang sesunguhnya, bahkan dia menganggap semua yang ku lakukan ini adalah sebuah lelucon"
"Jauh sebelum menikah, bang Abrar pernah mengatakan jika dia hanya mencintai dua wanita dalam hidupnya, mama Bella dan perempuan itu, apa karena ini bang Abrar tidak tertarik padaku, apa dia menjaga perasaannya hanya untuk wanita itu saja? Apa dia nona Yura? Huh.....kenapa aku begitu malang mencintai suami yang mencintai wanita lain" kembali Alea menunduk sedih ketika teringat akan hal itu.
Karena lelah menangis dan merasa kesal sendiri akhirnya Alea terlelap dengan sendirinya.
*****
Keesokan harinya Alea bangun, ia melirik jam sudah menunjukkan hampir pukul 7 pagi, itu artinya ia kesiangan, ia teringat akan ada ujian hari ini.
Dengan cepat Alea berlari ke kamar mandi dan bersiap untuk ke rumah sakit, ia keluar kamar dan melirik kamar Abrar namun kembali ia kecewa suaminya sudah lebih dulu pergi ke kantor.
Namun senyumnya mengembang ketika ia sampai di meja makan.
"Astaga dalam keadaan sakit pun suami ku tetap membuatkan sarapan, huh.....aku memang payah, selalu saja bangun kesiangan, apa ini?"
Tidak lama Alea mengernyit heran karena ada secarik kertas disamping sarapannya yang bertuliskan 'Maaf abang harus ke kantor pagi-pagi, karena banyak meeting penting hari ini, jangan lupa sarapan' di akhiri simbol love disana.
"Hah? Ada love nya? Astaga....astaga....apa ini sebuah kode?" gumam Alea dengan berbinar.
Alea memakan sarapannya dengan semangat dan terus tersenyum, ia mengingat semalam ia sangat berani mengecup bibir Abrar, dan pria itu tidak menolak di cium, setidaknya itu petanda baik bagi Alea.
"Baiklah....aku tidak boleh menyerah, lelaki ini suamiku dia adalah milikku...tidak boleh ada cinta lain jika dalam berumah tangga bukan? Aku tidak akan membiarkan pria menyebalkan ini terus mencintai perempuan lain, enak saja...." Alea kembali semangat hanya karena sebuah simbol love dari pesan Abrar.
Alea memang tipe gadis yang pantang menyerah, ia tidak suka berlarut dalam kesedihan berbeda dengan sifat mamanya yang lemah lembut dan rela berkorban perasaan, namun tidak bagi gadis ini yang sedikit lebih berani dan tidak takut apapun, Alea lebih menuruni sifat bibinya Karin.
*****
Alea mempunyai teman yang bekerja di kantor Abrar, mereka adalah teman waktu SMA dulu dan ia juga yang merekomendasikan untuk bekerja di kantor yang masih di pimpin Ricko pada saat itu.
Alea teringat pada gadis itu, ia segera memberi pesan singkat bahwa ia minta awasi gerak gerik Gina sekretaris yang tidak ia sukai itu jika berdekatan dengan suaminya, temannya ini sudah pasti akan menuruti kemauan Alea, kebetulan gadis itu bekerja di lantai yang sama dengan Abrar.
"Baiklah nona Gina, tidak akan ku beri ampun kau jika mendekati suamiku, awas saja akan ku suruh papa Ricko memecatmu jika kau berani menggoda suamiku" geram Alea jika teringat wajah Gina yang cantik dan seksi namun sangat menyebalkan menurutnya.
****
Alea tengah makan siang bersama dua temannya yang tidak berhenti tertawa sejak tadi karena cerita Alea yang belum berhasil menaklukkan suaminya seminggu ini.
__ADS_1
Mereka telah menyelesaikan ujiannya, dan berencana akan pulang dengan cepat karena Nazli yang baru saja diketahui tengah hamil beberapa minggu, tentu ia membutuhkan lebih banyak waktu istirahat.
Namun Alea tiba-tiba mendapat pesan dari temannya yang bekerja di kantor Abrar.
Wajahnya memerah seketika melihat isi pesan yang berisi sebuah photo yang mampu membuat amarahnya meninggi.
Di dalam photo Abrar tampak sangat dekat dengan sekretarisnya itu, bagaimana posisi itu menguntungkan bagi Gina yang memang tampak menyukai Abrar.
"Alea ada apa?" tanya Keysa heran.
Alea memperlihatkan pesan itu pada dua temannya.
"Sabar sayang....mungkin itu terlihat dekat ketika diphoto saja, belum tentu aslinya karena photo itu bisa menipu dari arah mana photo itu diambil"
"Aku akan memakanmu nona Gina, awas saja....aku akan kesana"
Jawab Alea kesal dan segera berdiri sambil menyiapkan tasnya.
"Tunggu....aku ikut, nanti kau bisa berbuat yang konyol disana Alea, kau bisa membuat malu bang Abrar nantinya" jawab Keysa yang ikut berdiri.
"Aku juga, pasti ini seru" jawab Nazli tak ingin ketinggalan.
"Apa ini meeting penting yang dia bilang tadi pagi, benar-benar suami menyebalkan" Alea terus mengumpat kesal.
Mereka memutuskan pergi ke kantor Abrar, dua sahabatnya ikut serta mereka tidak ingin Alea berbuat konyol yang bisa mengacaukan satu kantor nantinya.
Baru saja sampai lobby kantor, mereka terkejut ketika Abrar dan Gina berjalan bersamaan dengan beberapa map yang dipegang wanita itu.
Alea sudah mau menghampiri mereka namun cepat Keysa menahannya dan mereka sedikit bersembunyi.
"Alea jangan konyol, mereka belum tentu seperti yang ada di pikiranmu saat ini, kita ikuti saja kemana mereka pergi mana tahu benar mereka akan meeting kau lihat sendiri map di tangan wanita itu" Keysa menenangkan Alea.
"Kau tidak bisa menuduh tanpa bukti Alea, kau akan membuat bang Abrar malu nantinya" Nazli menimpali.
Alea terdiam, kedua sahabatnya bicara benar.
"Baiklah....ayo kita ikuti mereka" jawab Alea lesu.
Mereka mengikuti mobil Abrar yang memang hanya bersama Gina didalamnya. Alea mengernyit heran ketika mereka sampai pada sebuah hotel berbintang.
"Astaga Alea, aku bisa gila melihatmu seperti ini, papa ku juga sering meeting di hotel, itu sudah biasa bodoh....ayo kita ikuti saja dan buktikan apa mereka benar meeting atau tidak" Keysa kesal sendiri.
"Lagi pula tidak mungkin berselingkuh disiang hari bukan?" Nazli menjadi ciut mendapat tatapan tajam Alea karena mengatakan hal tersebut.
Mereka memakai masker dan topi yang menutupi penampilan wajah ketiganya agar tidak terlalu dicurigai ketika mengikuti Abrar dan Gina yang memasuki hotel tersebut.
Alea begitu geram, ia sudah sangat ingin menghampiri Abrar jika tidak ditahan dua temannya.
"Astaga.....ayo Nazli, kenapa kau lambat sekali, bagaimana jika kita kehilangan merek?" kesal Alea pada Nazli yang berjalan lambat.
"Kau gila, aku sedang hamil muda Alea, jika terjadi apa-apa pada kandunganku kau akan ku bunuh" jawab Nazli tidak kalah kesal.
"Salah siapa, kenapa kau hamil duluan bukankah kita sudah pernah berjanji akan hamil jika kita sudah hampir selesai koas, ini saja baru dimulai belum dua bulan"
"Ha ha ha kita?" jawab Keysa tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" kesal Alea.
"Bukankah aku dan Nazli saja yang bakalan hamil, kau mau hamil dari siapa? bang Abrar saja tidak melirikmu sedikitpun, bagaimana kau bisa hamil?" mereka tertawa lagi.
"Kalian jahat....aku juga mau hamil, tentu saja dari suamiku, kalian mengejekku"
"Aku rasa kau akan jadi perawan tua Alea, bang Abrar saja tidak menginginkanmu" celetuk Nazli.
"Aaaaah..." Alea memekik kesal pada dua sahabat yang masih terkikik geli.
"Sudah....nanti kita kehilangan jejak mereka, ayo kembali fokus" ajak Keysa.
Mereka kembali fokus akan kemana Abrar dan Gina pergi, di luar dugaan mereka bukan mengarah ke restoran hotel atau ruangan lain yang biasa tempat meeting, tetapi mereka mengarah ke satu kamar hotel yang mewah dan paling berkelas di hotel tersebut.
Abrar dan Gina masuk kesana setelah diantar satu pelayan hotel, namun karena Alea sudah sangat kecewa akan hal itu mereka tidak menanyakan lagi pada pelayan hotel yang baru saja melewati mereka, hingga mereka tetap pada spekulasi yang bermunculan di pikiran gadis itu.
"Benar mereka berselingkuh" ucap Alea sendu, ia terduduk tidak jauh dari kamar tersebut, terlebih mengingat Abrar dan Gina tampak bicara santai dan tersenyum-senyum diantara keduanya.
"Alea....." usap Keysa pada punggung gadis itu.
__ADS_1
"Kita pulang? tidak mungkin kita menunggu mereka selesai bercinta disini bukan?" tanya Nazli yang segera menutup mulut akan ucapannya tersebut.
Alea kian menangis.
"Bang Abrar benar-benar jahat padaku"
"Tenanglah Alea, kita harus menunggu mereka hingga keluar baru bisa menyimpulkan, belum tentu juga mereka melakukan hal seburuk ini"
Keysa menenangkan Alea.
"Kau lihat sendiri mereka masuk ke kamar hotel bukankah kamar hotel tempat bercinta bukan tempat meeting" sahut Nazli yang membuat Alea tambah menangis.
"Nazli diamlah, kau membuat Alea tambah bersedih" kesal Keysa pada ibu hamil muda tersebut.
Mereka menunggu dalam keheningan, sudah hampir malam namun belum juga ada tanda-tanda Abrar dan Gina keluar dari sana.
"Baiklah.....aku menyerah saja, aku ingin pulang, aku sudah tidak tahan bagaimana jika memang benar mereka tengah bercinta di dalam sana" ucap Alea kembali meneteskan airmata.
Alea berdiri berjalan pergi meninggalkan dua sahabat yang mematung disana.
"Astaga.....kau susul gadis gila itu, bagaimana jika dia bunuh diri karena hal ini? aku akan menghubungi suamiku agar menjemputku disini, aku tidak bisa berjalan cepat seperti kalian, pergilah kasihan Alea aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kehamilanku" ucap Nazli pada Keysa.
"Baiklah...." Keysa mengangguk dan segera menyusul Alea.
*****
Tidak lama berselang Alea dan Keysa berlalu, Nazli melihat Abrar dan Gina keluar dari kamar hotel dengan penampilan masih sama seperti sebelum masuk tadi, ada seorang pria yang bermata sipit mengiringi mereka.
Nazli mengernyit heran ketika pria tersebut menunduk hormat dan berbicara pada Abrar dalam bahasa jepang sebelum Abrar dan Gina pamit dari sana.
Mereka bertatap muka dengan Nazli yang masih setia berdiri disana.
"Nazli? kenapa kau disini?" tanya Abrar heran.
"Bang Abrar tidak berselingkuh?" tiba-tiba saja Nazli bicara frontal.
Membuat Abrar dan Gina saling memandang.
"Apa yang kau bicarakan Nazli?" tanya Abrar kembali.
Gina tampak tidak menyukai percakapan itu.
"Astaga....aku rasa Alea salah paham, kami sejak tadi mengikutimu bang Abrar, Alea mengira kau berselingkuh dengan wanita ini" jawab Nazli seraya melirik tajam Gina.
"Apa? berselingkuh? lelucon apa lagi ini" Abrar berdecak kesal.
"Dasar suami tidak peka, istrimu cemburu.....kau masuk kamar hotel bersama wanita ini apalagi jika bukan untuk berselingkuh" kesal Nazli, ia berkata tanpa takut.
"Apa? kami meeting dengan klien dari jepang Nazli, berselingkuh darimana kalian benar-benar kekanakkan, apa katamu tadi Alea cemburu?" Abrar mengusap wajahnya kasar.
"Tentu saja cemburu dasar suami bodoh, Alea mencintaimu bang Abrar, kau memang suami menyebalkan.... jika Alea tidak mencintaimu tidak mungkin kami rela mengikutimu sampai disini, sungguh menyebalkan...." kesal Nazli kembali menatap tajam Abrar.
Gina hanya terdiam sejak tadi.
"Kemana istriku?" tanya Abrar berbinar.
"Kemana lagi, ya sudah pulang ke rumah orangtuanya mungkin, dia benar-benar kecewa padamu" jawab Nazli singkat.
Abrar akan melangkah meninggalkan Nazli dan Gina, namun tangannya ditahan oleh sekretaris itu.
"Tuan Abrar, kita belum selesai"
"Maaf Gina, aku akan menyusul istriku, kau bisa pulang dengan taksi"
Abrar melepas tangan Gina dengan kasar.
"Beraninya kau menahan suami orang" kesal Nazli menatap tajam Gina.
Abrar tidak menghiraukan mereka lagi, ia terus melangkah setengah berlari meninggalkan hotel untuk menyusul Alea dengan raut bahagianya setelah mendengar keterangan singkat dari Nazli.
"Apa? kau pikir aku takut padamu? awas kau jika mendekati suami temanku lagi, apa kau pernah nonton sinetron azab di indosiar? kau akan mendapat azab akibat menggoda suami orang berkedok sebagai sekretaris tapi sambil memainkan mata pada bosnya, dasar wanita menyebalkan aku sarankan kau mengundurkan diri jadi sekretaris bang Abrar, jika kau tidak mau di bunuh oleh istrinya" ancam Nazli pada Gina.
Gina terdiam, ia tidak bisa berkata-kata lagi bagaimana bisa ia diancam oleh seorang mahasiswa yang jauh dibawah umurnya.
Nazli memang lebih cerewet dan berani, mungkin karena efek hormon kehamilan.
*****
__ADS_1
panjang ya part ini....next part ada apa ya...duh author aja deg deg serrr
lanjuttt yaaaa