
Dannis mengambil kunci mobilnya dan menuruni anak tangga dengan tergesa, entah apa yang ada dalam hati pria itu hingga terniat menyusul Nara ke rumah orangtua nya.
Sedang Dannis dalam perjalanan, Nara yang masih berada di kamar pria itu hanya duduk dengan punggung bersandar di kepala sofa, memejamkan mata seraya menarik napas dalam secara berulang kali agar menetralisir perasaannya yang hancur mengingat hanya satu langkah lagi ia akan resmi menjadi janda jika surat perceraian mereka masuk ke pengadilan yang diyakini Nara akan segera diproses oleh Dannis.
Belum lagi hatinya sedih melihat gaun pengantin yang terpajang di patung dan pihak WO yang akan menghubunginya atas perintah mama El untuk mendiskusikan tentang konsep pesta resepsi pernikahan mereka yang direncanakan dua minggu akan datang.
Nara memikirkan bagaimana cara ia bicara nanti pada mertuanya yang ternyata ia dan Dannis memutuskan berpisah sebelum pesta.
Lamunan perempuan itu buyar saat mendengar suara dari suaminya yang tengah bicara dengan mama El tidak jauh dari kamar itu berada.
Nara membuka pintu kamar, matanya langsung menangkap sosok Dannis yang tengah berpelukan dengan mama nya.
"Nara ada di kamarmu, mungkin mama dan papa akan seminggu di sana, doakan adikmu baik-baik saja", ucap mama El menangis.
"Tenanglah, aku juga sudah menghubungi Delila, dia baik-baik saja.... mama terlalu berlebihan", jawab Dannis tersenyum tipis.
"Dia lagi hamil Dannis, kau akan merasa sangat khawatir jika istrimu juga hamil nanti, itu yang mama rasakan terlebih adikmu terlalu jauh dari kita".
Dannis menarik napas dalam dan mengangguk.
"Baiklah, mama jangan menangis lagi oke.... Setelah mama dan papa pulang nanti kita bisa bicara lagi, ayo papa sudah menunggu di bawah", ajak Dannis merangkul pundak ibunya dengan sayang seraya menuruni anak tangga berniat mengantarkan orangtua nya ke halaman.
Nara melihat itu, ikut menyusul ke bawah namun ia hanya bisa menatap kedua mertuanya itu telah menaiki mobil yang akan membawa mereka ke bandara.
Dannis berbalik badan, mata mereka bertemu, Nara tersenyum namun Dannis tampak gugup, pria itu bahkan terlihat salah tingkah.
"Nara".
"Apa mama dan papa sudah pergi?", tanya Nara basa basi.
Dannis mengangguk.
"Maaf, aku belum bisa pamit dengan mereka karena tidak mungkin juga untuk ku bicara jujur di situasi mama yang sedang memikirkan Delila", ucap Nara.
"Aku bisa bicara setelah mereka pulang nanti, kau....?", Dannis bicara sangat canggung, entah apa yang terjadi padanya.
"Baiklah jika begitu, suratnya sudah ku tanda tangani, aku menulis alamat lengkap rumah mu saja agar pengadilan mudah dalam mengirimkan surat panggilan nanti, karena tentu terlalu jauh jika ku tulis alamat rumahku yang di desa, aku hanya ingin mempermudah saja", ucap Nara lagi.
Dannis lagi-lagi hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Aku sudah memesan tiket bus siang ini, aku tidak bisa berlama lagi, aku akan pergi sekarang jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan", jelas Nara lagi.
"Maafkan aku Nara", Dannis berkata dengan nada rendah.
Perempuan itu mengangguk seraya tersenyum.
"Aku mengerti tuan, cinta tidak harus memiliki bukan? setidaknya nasibku akan jelas setelah ini, aku hanya ingin pulang", jawab Nara tak kalah sendu.
Perempuan itu tampak sekuat tenaga menahan laju airmata yang sudah menggenang maka Nara hanya menunduk saja.
"Aku akan mengantarmu".
Nara mengangkat kepalanya menoleh Dannis.
"Aku hanya ingin berakhir dengan baik meski hubungan kita dimulai dengan buruk, aku akan mengantarmu pulang", ucap Dannis dengan perasaan lain di hatinya.
Nara mengangguk.
"Baiklah, aku akan ambil tas ku di pos satpam", ucap Nara yang telah menitipkan tas jinjing berisi beberapa pakaian dan barang pribadi miliknya di sana.
Dannis mengikuti langkah Nara dari belakang, ia masih belum mengerti apa yang tengah ia rasakan saat ini, sungguh pria ini mulai dilema.
Mengemudi dengan kecepatan sedang, Dannis yang telah terbiasa dengan jalan menuju desa mama El tersebut hanya diam sepanjang jalan, begitupun Nara.
Mereka sama-sama terlarut dengan perasaan masing-masing, Nara sibuk memandang ke luar jendela mobil dimana pemandangan hiruk pikuk kota yang perlahan mereka tinggalkan.
"Perjalanan kita masih jauh, apa kau lapar? kita bisa makan terlebih dahulu", tawar Dannis.
Nara menggeleng.
"Aku belum lapar, jika tuan ingin berhenti makan juga tidak apa.... aku menurut saja", jawab Nara.
Dannis juga menggeleng.
"Aku bahkan tidak berselera makan", ucapnya tanpa sadar sambil terus fokus mengemudi.
Kemudian mereka kembali hening hingga beberapa jam perjalanan, karena mereka sibuk dengan hati dan pikiran masing-masing hingga tidak mereka sadari bahwa telah memasuki daerah tempat desa Nara berada
Pemandangan hamparan kebun teh yang sudah menampakkan diri dari jalan raya menyejukkan setiap mata memandang, pohon yang besar dan tinggi hingga pengendara yang lewat akan larut dalam lamunan.
__ADS_1
Nara tersenyum saat membuka kaca mobil, ia menarik napas dalam menghirup udara yang sudah sangat lama ia rindukan, rindu sekali itulah yang Nara rasakan saat ini.
Dannis mencuri pandang wajah Nara yang menikmati perjalanan yang akan segera sampai pada persimpangan jalan antara desa mama El dan desa tempat Nara tinggal yang hanya bersebelahan saja.
"Kau bisa menuruni ku di sini saja tuan", ucap Nara pada Dannis yang akan masuk gerbang perbatasan desa.
"Aku akan mengantar sampai di halaman rumahmu", jawab Dannis.
"Maaf, aku minta turun di sini saja.... aku berniat akan ke makam ibuku terlebih dahulu", jawab Nara menghindar, karena pada kenyataannya bahwa Dannis tidak mengetahui rumah orangtua Nara telah dijual.
"Akan ku temani", jawab Dannis lagi.
Nara menggeleng.
"Bisakah kita berpisah sampai di sini saja? aku ingin berziarah seorang diri, aku ingin menumpahkan semua masalahku di sana, aku akan malu jika kau mendengarnya nanti", ucap Nara bercanda, perempuan itu tersenyum palsu.
Dannis terdiam, mau tidak mau mereka pun berhenti hanya di persimpangan jalan saja.
Nara keluar mobil begitupun Dannis yang segera menyusulnya, mereka berhadapan.
"Terimakasih banyak tuan mau mengantarku pulang sampai di sini, lekaslah kembali ke kota agar bisa sampai sebelum malam", ucap Nara seraya membungkuk.
Lama Dannis diam.
"Nara, maafkan aku sungguh aku hanya tidak ingin terus menyakitimu.... kau perempuan yang baik, aku malu telah berbuat jahat padamu diawal pernikahan".
"Aku sudah mengikhlaskannya tuan Dannis, aku pun berharap yang terbaik untukmu, semoga kau bertemu perempuan yang tepat yang mampu mengisi kekosongan dalam hatimu dan juga sepadan tentunya, terimakasih banyak atas tiga bulan pernikahan kita".
"Aku rasa kita bisa berpisah di jalan ini, aku akan pergi, mengemudilah dengan pelan dan pulanglah dengan selamat", ucap Nara pelan dengan nada terdalam.
Nara ingin pergi namun urung saat Dannis berkata, "Kau bisa menghubungi ku jika kau butuh sesuatu".
Nara mengangguk seraya tersenyum yang mungkin akan menjadi senyum terakhir yang Dannis lihat dari istrinya itu, lalu perempuan ini berbalik badan meninggalkan Dannis yang masih berdiri tidak beranjak dari tempatnya, hanya matanya saja yang tidak terputus menatap punggung Nara yang perlahan menjauh.
Nara berjalan, satu tangan ia gunakan untuk menghapus airmatanya yang mengalir deras, ingin rasanya ia meraung sekarang.
Dannis berdiri dengan kedua tangan di pinggang, pria itu menengadah ke langit karena airmatanya sudah menggenang sejak tadi, setelah ia merasa Nara sudah cukup jauh pria itu pun segera masuk mobil dengan sudut matanya yang telah berair Dannis mengemudi pelan meninggalkan persimpangan jalan yang akan menjadi sebuah kenangan bagi mereka.
#####
__ADS_1
Selamat berpisah, selamat tinggal sayang.........(di bawa nyanyi aja dulu ya pemirsa, percayalah kisah cinta mereka baru akan dimulai, kita lihat apa yang terjadi dengan si Dannis? apa perpisahan bisa membuatnya lebih baik? atau gimana gimana? terus si nara? bukankah rumahnya sudah di jual, lalu kemanakah dia akan pulang? kalian akan bingung kasihan sama nara atau sama Dannis nantinya, so tetap ikutin yah, maaf lah author up nya kadang suka slowwww.