
Papa Kemal membuka pintu kamar Alea, dan betapa ia terkejut melihat anak dan menantunya masih terlelap dalam mimpi saling berpelukan mesra.
Pria paruh baya ini menghembus napas kasar, ingin rasanya marah namun tidak bisa, mama El menarik tangan suaminya pelan.
"Sayang kau lihat? bagaimana mereka bisa senekat ini, itu artinya mereka memang tidak bisa berpisah lebih lama lagi, ayolah mengalah saja percuma kau marah sekalipun buktinya ada saja cara mereka ingin bertemu, mereka suami istri Kemal terlebih Alea sedang mengandung tentu saja dia membutuhkan suaminya" ucap mama El memberi pengertian pada suaminya.
Papa Kemal hanya diam saja.
"Memang kau tidak ingat bagaimana rasanya ketika kita berpisah waktu aku sedang mengandung Alea dan Dannis? apa kau lupa kau juga pernah melakukan kesalahan...ayolah sayang tidak ada suami yang sempurna di dunia ini, maafkan Abrar dan biarkan Alea pulang ke rumah mereka sendiri. Sudah cukup mereka terpisah hampir dua minggu ini"
Papa Kemal menarik napas dalam menatap wajah istrinya "Baiklah.....terserah kau saja, aku tidak bisa menolak jika kau sudah menginginkannya, aku pernah di posisi Abrar bagaimana rasanya terpisah dari istriku ini sungguh mau gila rasanya" jawab papa Kemal tersenyum mengingat kisah mereka dulu.
"Kenapa kau baru menyadarinya sekarang?" kesal mama El menepuk pelan dada suaminya.
"Aku hanya menggertak saja, Abrar pria yang baik....aku bersyukur Alea berada ditangan yang tepat, hanya saja aku pikir pria itu terlalu takut padaku hingga jadi seperti ini"
"Tentu saja Abrar takut, kau seperti ingin memakannya saja ketika kau memukulnya"
Papa Kemal hanya terkekeh.
"Papa mama.....apa tidak malu pagi-pagi sudah mesra" tiba-tiba suara salah satu anak gadis mereka menyapa orangtuanya yang tengah saling merangkul mesra berdiri di depan kamar kakaknya Alea.
Mama El hanya tersenyum.
__ADS_1
"Sudah.....turunlah jika kau sudah bangun, kita akan sarapan sebentar lagi sayang, ajak kakak dan adikmu juga" jawab mama El pada Syasya yang memergoki kemesraannya dengan sang suami.
Papa Kemal masuk ke kamar Alea dengan suara membangunkan putri dan menantunya itu yang masih saja tidak terbangun sejak tadi.
"Alea...." panggil papa Kemal.
Abrar mengerjapkan mata, ia merasa mimpi melihat wajah papa mertuanya namun ia merasa seperti nyata, sejenak menatap dan ia membesarkan mata seraya melepas pelukan istrinya dan segera bangkit dari ranjang, beruntung ia dan Alea telah memakai pakaian lengkap setelah bercinta semalam.
Abrar menunduk takut.
"Papa....maafkan aku pa" ucap Abrar terbata dan bingung ingin memulainya darimana karena nyawa saja belum menyatu dengan benar pada tubuhnya.
Alea ikut terbangun dan terkejut dipergoki papanya pagi ini, perempuan itu langsung ikut bangkit dari ranjang dan berdiri di depan suaminya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu, cepatlah bangun dan mandi....kita sarapan di bawah" jawab papa Kemal datar.
Membuat Alea dan Abrar saling menatap heran.
"Papa tidak marah?" tanya Alea polos.
"Papa akan marah jika kalian tidak segera turun dalam dua puluh menit, mamamu sudah membuat sarapan dan menunggu" jawab papa Kemal lagi seraya meninggalkan mereka yang masih bingung dengan sikapnya.
Alea dan Abrar saling menatap ketika pintu kembali tertutup.
__ADS_1
"Sayang apa itu artinya aku disuruh makan dahulu sebelum dibunuh?" tanya Abrar bingung.
Alea tertawa, ia meraih tubuh suaminya gemas.
"Kita akan mati dalam dua puluh menit jika masih bertanya-tanya seperti ini, ayo mandi.....aku rasa papa sudah tidak marah kau lihat saja wajahnya sama sekali berbeda pagi ini, tidak ada tanda-tanda urat wajahnya yang menegang" jawab Alea seraya mendorong tubuh suaminya ke kamar mandi.
"Benarkah? jangan memberi harapan palsu padaku, bagaimana jika benar aku akan dipukul dan kita tidak boleh bertemu lagi?" tanya Abrar cemas.
"Suamiku yang bodoh, bukankah kau sendiri yang bilang semalam jika kau sudah tidak peduli jika papa membunuhmu sekalipun? kenapa sekarang jadi takut? kau sungguh menggemaskan sayang" jawab Alea mencium dan menggigit bibir Abrar sambil menyalakan shower.
Abrar menarik pinggang istrinya hingga tubuh mereka menempel, berciuman dibawah guyuran shower ada perasaan lega di dadanya mengingat raut papa mertuanya yang sudah tampak melunak.
Hingga mereka terlena sampai tiga puluh menit lebih berada di kamar mandi, setelah ritual mandi, Abrar dan Alea turun tangga menuju meja makan yang semua anggota keluarganya telah kumpul, Alea menggenggam tangan suaminya erat seraya memberi ketenangan dan dukungan saat Abrar merasa gugup terlebih mendapat tatapan dari papa mertuanya.
"Bang Abrar disini?" tanya Syasya dan Sheira heran.
Baim dan Delila hanya melempar senyum dan memberi kode satu sama lain.
#####
jangan lupa mampir ke "ku lepas kau dengan ikhlas" ya........
gas terus......
__ADS_1