Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 19


__ADS_3

Mama El dan Alea sibuk membuat kue ulang tahun untuk mereka berikan kejutan pada Dannis sesuai rencana.


Mama El juga telah menghubungi Nesya agar ikut terlibat dalam rencana itu, hati seorang ibu mana yang tidak khawatir jika anak lelakinya akan terus membujang dalam waktu yang lama, terlebih umur Dannis sudah waktunya untuk berumah tangga.


Sheira, adik Dannis pun harus ikut bersabar akan rencana pernikahannya sebab mama El tidak mengizinkan ia menikah sebelum Dannis menikah.


Hal ini pula yang membuat Sheira begitu semangat untuk menjodohkan teman barunya Nara pada kakak lelaki yang belum bisa move on dari tunangannya yang meninggal beberapa waktu lalu.


Entah kenapa Sheira sangat yakin kakaknya bisa menyukai Nara jika mereka dipertemukan, bagaimana tidak gadis ini saja menyukai Nara dari kacamata seorang perempuan, apalagi Dannis yang seorang lelaki tentu juga akan menyukai Nara yang cantik dan baik begitu pikir Sheira.


"Kakak..... ayolah aku mohon sekali ini saja beri temanku pekerjaan di kantor mu, kasihan dia seorang gadis yang merantau ke kota", rengek Sheira membujuk Dannis yang sedang menyetir.


"Baiklah, apapun untukmu....", jawab Dannis tersenyum mengusap kepala adiknya.


"Aku yakin kakak akan menyukainya, dia gadis yang sangat cantik dan baik".


"Kau ini mau kakak memberinya pekerjaan atau sedang menjodohkan kami?".


"Dua-duanya jika bisa....", jawab Sheira menyengir kuda.


"Tidak mau", ucap Dannis tertawa.


"Kakak....".


"Kau bisa menikah tanpa harus menungguku Sheira, aku akan bicara pada mama. Jadi kau tidak perlu repot mencarikan ku jodoh itu akan sia-sia saja karena sekarang aku sama sekali tidak memikirkan tentang menikah", ucap Dannis serius dengan tatapan dalam yang masih terfokus ke jalan.


Membuat Sheira menelan ludah.


"Hal inilah yang tidak ku inginkan, kakak membuat kami semua sedih. Ayolah segera move on, tidak apa-apa jika kakak tidak menyukai temanku tapi kakak masih punya kak Nesya bukan? apa bedanya kak Naya dan kak Nesya? mereka dua beradik, kenapa tidak bisa menerima kak Nesya saja? aku tidak mau kakak membujang terus, aku juga tidak tega ingin menikah jika kakak belum menikah cukup kak Delila saja yang melangkahi mu, aku tidak akan melakukan itu juga", jawab Sheira mulai menangis.


"Hei.... kenapa kau menangis?".


"Aku sedih membayangkan jika aku menikah dan punya anak, tapi mereka akan punya paman yang membujang sampai tua, itu menggelikan", ucap Sheira tertawa disela tangisnya.


Membuat Dannis geleng kepala ikut terkekeh.


"Kenapa jadi mendoakanku bujang sampai tua?".

__ADS_1


"Tentu kakak akan membujang seumur hidup jika terus begini bukan? tidak ada sejarah keluarga kita yang tidak laku sampai tua, jadi jangan membuat sejarah baru, itu akan diingat oleh keturunan kami kelak bahwa ada salah satu pamannya yang mati tanpa menikah", jawab Sheira kesal.


"Iya juga.... aku sedih mendengarnya, aku akan mati tanpa keturunan", jawab Dannis tertawa.


"Kakak.... aku serius".


"Baiklah kita sudah sampai", ucap Dannis ketika mereka sudah berada di depan sebuah mall besar yang Sheira minta diantarkan kesana untuk bertemu teman lamanya.


"Ingat kakak harus menerima temanku untuk bekerja di perusahaan, awas saja jika tidak....".


"Iya, suruh saja dia datang ke kantor nanti siang", jawab Dannis mencubit pipi adiknya gemas.


Setelah Dannis pergi, segera gadis ini menghubungi Nara untuk kabar baik itu namun sayang ponsel Nara sedang tidak aktif.


"Oh baiklah akan ku hubungi lagi nanti, jika dia tidak cocok bekerja di perusahaan kak Dannis, aku rasa Nara juga bisa bekerja di restoran kak Reno bukan? ah kenapa aku baru memikirkannya, bekerja di restoran akan lebih baik daripada perusahaan besar, itu memusingkan, oke aku hubungi kak Reno saja", gumam Sheira yang segera menghubungi kakak sepupunya itu.


******


Nara berniat mengundurkan diri, ia sudah memantapkan hati untuk tidak bekerja di sana lagi karena sebuah rasa nyaman yang sudah tidak ia rasakan lagi sejak kejadian di kantin, ia merasa malu jika harus melibatkan Dannis yang ikut terseret gosip itu.


Maka darinya gadis ini sudah memasukkan surat pengunduran diri, hanya saja ia sejak tadi menunggu Dannis kembali agar ia bisa berterimakasih dan pamit pergi.


Nara mengikuti langkah Dannis dengan pelan.


"Akan ku hubungi lagi nanti", ucap Dannis sebelum menutup pembicaraannya di telepon.


Pria ini menatap Nara tajam.


"Kenapa mengikutiku?", ketika Dannis sudah berada di ruangannya.


Nara menelan ludah.


"Maaf tuan Dannis, aku hanya.... hanya ingin....", ucap Nara terbata ketika mendapat tatapan seperti itu.


"Apa? ingin apa? ingin meminta sesuatu lagi? atau kau ingin menjelaskan sesuatu tentang kejadian di kantin tempo hari?".


Membuat Nara memejamkan matanya ketika mendengar ucapan Dannis, ia sungguh cemas sekarang.

__ADS_1


"Tuan maafkan aku..... aku sungguh tidak berniat membuatmu malu dengan gosip yang beredar, maka dari itu aku cukup tahu diri sekarang aku datang menemui mu untuk berterimakasih", ucap Nara takut.


"Gosip? gosip apa? berterimakasih untuk apa?", tanya Dannis heran, pria itu mendekati Nara yang menunduk sejak tadi.


"Gosip.... gosip tentang kita", jawab Nara polos.


"Maaf tuan, maafkan aku.... maka dari itu aku ke sini ingin mengundurkan diri saja agar kau tidak ikut malu karena ku, aku sudah banyak merepotkanmu tapi juga tidak bisa menutup mulut semua orang tentang gosip itu".


"Gosip apa yang kau bicarakan? hei lihat aku....", ucap Dannis kesal.


Nara memberanikan diri menatap mata elang pria itu.


"Maaf tuan, maksudku gosip tentang hotel, hmmm iya maksudku ketika kita bermalam di hotel waktu itu", ucap Nara terbata.


"Oh bagus, kau mengatakan pada semua orang bahwa kau pernah tidur denganku? kau sengaja menyebar gosip untuk memerasku?".


"Tidak tuan tidak seperti itu, aku aku....aku sama sekali tidak menyebarkannya, maaf tuan aku mohon maafkan aku, maka dari itu aku ingin keluar saja, aku tidak mau merepotkan tuan Dannis lagi, terimakasih sudah banyak membantuku, aku akan pergi tuan percayalah aku tidak akan mengganggu mu lagi".


Dannis melangkah mendekat, ia menatap kesal wajah cantik di hadapan nya ini.


"Kau benar-benar membuatku kesal, pergi.... pergilah jangan pernah kemari lagi, aku tidak takut pada gosip apapun terlebih gosip dengan gadis rendahan seperti mu", ucap Dannis marah.


Membuat Nara menangis.


"Kenapa kau malah menangis? ingin mendapat simpati ku lagi? aku sudah mengira bahwa kau bukan gadis baik setelah aku menyaksikan sendiri kejadian di kantin tempo hari, kau membuat ulah di perusahaan ku, dilabrak wanita yang pacarnya kau rebut begitukah? aku mendengarnya seperti itu atau kau ingin membela diri lagi? baiklah segera angkat kaki dari kantor ku", ucap Dannis tajam sambil terus melangkah maju membuat Nara mundur perlahan.


"Tuan... kau salah paham, aku tidak merebut siapapun, itu hanya....".


"Hanya salah paham? baiklah aku juga tidak peduli, bukankah kau akan pergi dari sini, ayo tunggu apalagi?", ucap Dannis memegang tangan Nara ingin menariknya keluar.


"Tuan... tuan, gelangku", ucap Nara melepaskan tangan Dannis dengan paksa, ia menangis sambil memungut gelangnya yang berserak di lantai tepat di bawah kaki Dannis.


Namun ketika ia ingin berdiri lagi, kakinya lemas dan dan ingin terjatuh akan tetapi tanpa sadar gadis ini menarik dasi yang melingkar di leher tuan tampan itu untuk ia bertahan.


Karena tidak siap dan kurang fokus tubuh Dannis pun ikut terjatuh akibat tarikan dari Nara, mereka terjatuh pada sofa yang berada di sana.


Dan disaat bersamaan terdengar beberapa orang masuk.

__ADS_1


"Happy birth.........", nyanyian itu menggantung ketika semua mata tertuju pada dua orang berbeda jenis kelamin itu tengah berada di sofa dengan tubuh Dannis seperti sedang menindih seorang gadis di bawahnya.


Hening.


__ADS_2