Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Pergilah Suamiku


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Rumah duka mulai dipadati oleh para kerabat, tetangga maupun semua orang yang ingin menghantarkan Dion ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Orang baik itu telah membuktikan bahwa banyak yang menyayanginya hingga banyak juga yang datang berduka untuknya.


Karin masih terduduk di depan jenazah yang sudah disempurnakan. Tubuh yang kini tak bernyawa itu siap diberangkatkan ke tanah abadi. Masih ada sisa sisa tangisan di wajah sembabnya. Tentu saja,,, ia sangat kehilangan.


Separuh jiwa telah pergi,, Imam terbaik telah meninggalkannya,,, Suami terbaik telah begitu percaya padanya untuk melanjutkan hidup tanpa dirinya.


"Bu,,,"


Karin menoleh ketika ada suara lirih yang dikenalinya memanggilnya. Tangan pemilik suara itu juga sudah menyentuh pundaknya dengan lembut namun erat. Terasa sekali bahwa pemilik tangan itu juga sangat merasa kehilangan.


"Apa kamu tau om papa sakit selama ini Gha?" tanya Karin pada pemilik tangan yang tidak lain adalah Megha, sekretaris Dion.


"Maaf bu. Saya sudah coba mengingatkan bapak tapi bapak menolak untuk memeriksakan diri ke dokter karena beliau takut membuat ibu cemas." ucap Megha berhati hati agar tak menimbulkan rasa bersalah di hati Karin.


Tapi memang ucapannya itu meski sudah sangat hati hati diucapkan tetap saja mengundang tangis Karin.


"Jadi dia menahan sakitnya sendiri selama ini? Hanya demi tidak membuat aku cemas maka dia menahannya." Karin menyalahkan diri.


"Bu,,, Setau saya bapak baru kemarin merasakan sakit. Sebelum sebelumnya beliau baik baik saja. Jadi ibu jangan berpikiran yang macam macam. Mungkin memang seperti inilah jalannya." Megha menasehati meski ia tau itu tidak akan mudah bagi Karin.


"Tetap saja aku merasa aku tidak becus jadi istri. Aku tidak peka pada kesehatannya. Seharusnya aku tau dia sakit sekali kemarin tapi aku malah menangisinya. Bukannya mengajaknya berobat." Karin tetap menyalahkan dirinya.

__ADS_1


"Bu,,, saya tau ini berat. Bukan ibu saja yang merasa kehilangan bapak. Beliau orang baik bu. Lihat semua datang untuk mengantar kepergian beliau. Tapi hanya ibu satu satunya yang harus menjadi yang paling kuat bu di antara kami semua. Saya yakin bapak akan sedih kalau melihat ibu terus begini. Ibu harus ingat,,, ada kakak Del dan adik Zoya yang masih kecil dan belum mengerti. Hanya ibu yang bisa memberi pengertian kepada keduanya. Jadi kuatlah bu."


Ucapan Megha itu bagai sengatan listrik yang membuat Karin tersengat. Ucapan itu memang benar adanya. Ia boleh dan memang sudah seharusnya bersedih karena dipisahkan selama lamanya dengan belahan hatinya. Namun di sisi lain ada dua mahkluk polos yang menantinya untuk bangkit kembali. Merentangkan tangan dan mengokohkan lengan demi bisa memberikan masa depan yang cerah bagi keduanya.


Tepat saat Zoya dan Delvara menghampirinya, Karin mengusap airmatanya. Ia berusaha tersenyum di depan kedua buah hatinya. Ia memang harus kuat demi mereka, seperti kata Megha.


"Ada apa nih anak mama yang cantik ini kok manyun?? Dikerjai kakak ya??" tanya Karin pada Zoya.


"Mama,,, Papa kenapa gak bangun bangun? Zoya kan mau ajak papa main. Apa papa marah sama Zoya?" tanya Zoya dengan polosnya dan bergelayut manja di lengan Karin.


"Papa itu meninggal Zo. Ya gak bisa bangun lagi." ucap Delvara yang sedikit mengerti apa itu meninggal namun belum paham kalau kata itu pasti tidak dipahami Zoya.


"Del,,, Zoya belum paham apa itu meninggal. Del mau bantu mama untuk beri Zoya pengertian??" tanya Karin lembut.


"Iya mama." Delvara sepertinya tau hati sang mama tengah pilu, seharian ini dia sama sekali tidak bandel.


"Terima kasih anak gantengnya mama." Karin mengusap pipi Del lembut.


"Meninggal itu artinya pergi karena kembali kepada sang pencipta sayang. Kalau sudah meninggal itu maka akan tinggal di surga kalau selama hidupnya jadi orang baik."


"Papa berarti sekarang ke rumah Allah ya ma??" tanya Zoya yang memang sedari kecil sudah diperkenalkan kepada penciptaNYA.


"Iya sayang." jawab Karin pilu namun ia tetap berusaha tegar.


"Kalau begitu pasti rumah papa di sana baguuuuuussss sekali ya. Karena papa kan baik sama Zoya, baik sama mama dan sama kakak Del juga. Papa juga baik sama bu Mela dan pak Darwin." Zoya begitu polos mengatakannya namun ucapan itu mampu membuat Karin terhibur dan yakin bahwa jiwa sang suami memang layak mendapat tempat terindah.


"Aamiin. Inshaallah rumah papa di sana adalah yang paling indah ya sayang." Karin memeluk Zoya erat.

__ADS_1


"Kalau papa sudah di rumah Allah, berarti sekarang Del dong yang harus jadi imam sholat ma??" kali ini ganti Delvara yang bertanya.


Karin tersenyum dan memintanya mendekat agar bisa mendekapnya juga. Ia sangat merasa beruntung memiliki buah hati seperti mereka.


"Iya. Makanya Del gak boleh bandel lagi. Dengar kata mama. Bantu mama. Karena bagaimana bisa Del jadi imam kalau Del sendiri masih banyak kekurangan?? Iya tidak??" tanya Karin.


"Iya ma. Del janji akan jadi anak yang lebih baik lagi. Biar papa bisa tidur tenang di rumah barunya ya ma. Biar mama dan Zoya juga ada imam sholatnya." Delvara semangat membara.


"Terima kasih anak mama. Kita saling bekerjasama untuk bisa buat papa tenang di rumahnya sana ya sayang. Tapi sebelumnya, ayo Kita sama sama antar papa ke makamnya yuk." ucap Karin yang sudah mendapat kode dari pengurus jenazah bahwa sebentar lagi jenazah akan diberangkatkan.


"Iya ma. Del mau ikut."


"Zoya juga ikut."


Karin sekali lagi tersenyum sebelum benar benar bangkit dari duduknya. Semangat dari kedua buah hatinya benar benar menjadi energi untuknya. Kekuatan untuknya melangkahkan kaki di belakang iringan jenazah suaminya yang dihantarkan oleh ratusan pelayat.


Karin menguatkan diri menggandeng tangan Delvara sepanjang perjalanan menuju ke makam. Zoya sendiri masih terlalu kecil untuk berjalan karenanya ia menaiki kereta dorongnya yang didorong oleh Mela yang tak hentinya menangis.


Iring iringan jenazah pun akhirnya tiba di tempat tujuan setelah berjalan tak cukup jauh dari rumah duka. Perumahan elite itu memang menyediakan lahan khusus sebagai areal pemakaman juga. Tapi diharuskan merogoh kocek agak dalam untuk itu.


Jenazah pun mulai diturunkan ke liang lahat yang sudah menganga menyambut tubuh tak bernyawa itu. Sebelum tubuh itu benar benar hilang ditelan bumi, Karin menguatkan diri untuk melihatnya sekali lagi.


"Istirahatlah dengan tenang om papa. Karin janji akan jadi ibu sekaligus ayah yang baik untuk anak anak kita. Mereka akan tumbuh jadi anak kebanggaan kita berdua. Om papa akan tersenyum melihat dari sana. Terima kasih sudah meninggalkan dua makhluk lucu ini sebagai teman hidup Karin. Pergilah,,, temui penciptaMU. Cintaku pergi bersamamu dan akan tetap menemanimu. Semoga mampu menjadi pelita untukmu."


Tanah pun mulai menelan mentah mentah tubuh yang lambat laun akan kembali pada zat asalnya. Gundukan tanah itu menjulang dan dengan ketegarannya Karin menghiasinya dengan warna warni bunga yang semoga wanginya akan menyertai kepergian Dion.


"Surga tempatmu sayangku, cintaku, suamiku. Ku lepas engkau dengan ikhlas."

__ADS_1


Rangkaian bunga terakhir tersemat di tanah makam yang masih merah itu. Menutup kedukaan panjang hari itu.


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2