Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 23


__ADS_3

Semua anggota keluarga menerima kehadiran Nara kecuali satu pria yaitu Dannis sang mempelai pria, ia begitu dingin dan tidak segan berkata kasar pada Nara.


Nara sudah mencoba bicara pada Sheira, namun tentu saja Sheira tidak mengindahkan permintaan Nara yang ingin masalah ini diluruskan betapa tidak gadis ini bersyukur bahwa Tuhan mengirimkan bidadari cantik seperti Nara dalam kehidupan kakaknya yang kian terpuruk.


Ia meyakini bahwa semua yang terjadi adalah takdir, hingga gadis yang juga akan menikah jika Dannis juga menikah tahun ini, meski ia sedikit merasa bersalah pada Nara karena menyimpan kebenaran tentang Nara dan Dannis dari orangtua yang masih terus salah paham tentang hubungan mereka bermula.


Namun di tengah kemelut persiapan pernikahan, hadir pula seorang lelaki bungsu dari keluarga besar itu yaitu Ibrahim atau dipanggil Baim yang masih duduk di bangku perkuliahan.


Tanpa semua orang ketahui, Baim menyukai Nara yang seumuran dengannya, lelaki ini bahkan jatuh cinta pada pandangan pertama setelah melihat wajah cantik yang asing bagi keluarganya sejak pertama mama El membawa Nara ke rumah besar mereka.


Hari ini jadwal dua keluarga bertemu, dimana Nara akan membawa orangtua Dannis menemui ibu dan Ranti di desa.


"Apa kau gugup Nara?", tanya mama El pada Nara yang tampak tegang ketika mobil yang membawa mereka telah sampai pada jalan yang akan tiba beberapa saat lagi.


Nara hanya tersenyum tipis, iya sungguh gadis ini gugup dan tidak punya persiapan apapun untuk bicara pada ibunya dan Ranti nanti untuk menjelaskan bahwa ia membawa keluarga Dannis untuk bertandang sekaligus melamarnya.


Dannis memilih tidak ikut serta dalam perjalanan itu karena alasan pekerjaan, hanya papa dan mamanya sajalah yang pergi menemui orang tua Nara.


Nara lebih banyak diam saat di perjalanan, sesekali ia tersenyum sendiri ketika mama El dan papa Kemal bernostalgia melewati jalan menuju desa itu, orang tua dari calon suaminya ini mengisi waktu perjalanan dengan saling bercanda agar tidak bosan, sungguh pasangan idaman pikir Nara, betapa tidak mereka tampak bahagia meski tak muda lagi.


Sampai pada lamunan Nara buyar ketika mama El bertanya.


"Nara, kita hampir sampai boleh kau tunjukkan rumah yang mana yang akan kita tuju?".


Nara mengangguk dan menunjuk sebuah rumah besar bertingkat dua lantai dengan halaman yang luas, gadis ini gugup sekaligus senang sebab ia merindukan rumah orangtuanya.


Papa Kemal menepikan mobilnya, mama El dan Nara ikut keluar dari mobil.


Namun senyum Nara pudar ketika ia mendapati pria paruh baya yang tampak asing membukakan pagar, kebetulan pria itu sedang berada di halaman hingga melihat ada tamu yang datang.

__ADS_1


"Maaf, kalian siapa?", tanya bapak tua itu.


"Ini rumahku.... kenapa bapak bertanya?", tanya Nara kembali.


"Oh... Maaf nona, seperti nya kau tidak tahu bahwa rumah ini sudah dijual satu bulan lalu", jawab pria tua itu mengernyitkan dahi.


"Apa?", Nara tercengang.


"Maaf.... bisa anda jelaskan lagi?", ucap papa Kemal pada pria itu lagi.


Mama El menatap Nara penuh arti, ia belum mengerti apa yang terjadi pada keluarga itu hingga Nara tidak mengetahui tentang rumah tersebut yang dijual sebulan lalu.


Pria tua itu menjelaskan tentang jual beli rumah tersebut dari ibu tiri Nara, dan pria itu juga mengatakan bahwa ibu dan Ranti telah pindah ke kota.


Nara hanya bisa menangis, sungguh ia tidak menyangka rumah peninggalan orang tuanya kini sudah menjadi milik orang lain.


Karena hanya berbeda desa saja, mama El memutuskan untuk mampir ke villa mereka sekaligus mengunjungi rumah sepupu Kemal yakni Karin dan Wahyu yang memilih menetap di desa dan mengurus peternakan dan perkebunan keluarganya.


Mama El merasa kasihan pada Nara, bagaimana gadis itu menghadapi masalah yang cukup rumit, belum juga ia akan menikah ia harus menerima pula kenyataan bahwa rumah orangtuanya telah dijual.


"Nara, bersabarlah.... bibi tidak ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan keluarga mu, namun bibi ingin kau tahu bahwa kau tidak sendiri sekarang, kau akan menjadi menantuku. Tentu kami keluarga mu juga....", ucap mama El mengusap lembut lengan Nara.


Nara tidak tahu apa yang harus ia katakan, gadis ini diam dan terus menangis sungguh ia tidak menyangka ibu yang ia anggap sebagai ibu sendiri sejak sekolah dasar itu berbuat sejauh ini hanya karena pertengkaran mereka beberapa waktu lalu.


Tidak memakan waktu lama mobil mereka pun sampai pada rumah besar kediaman Karin dan suaminya.


"El..... kau kemari? kenapa tidak menghubungi ku?", ucap Karin senang bertemu Eliana, mereka berpelukan.


Kemal yang menatap mereka pun hanya geleng kepala, pria ini memilih untuk menghampiri dan menyapa beberapa pelayan lelaki yang bekerja di sana.

__ADS_1


Nara tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan rumah dan siapa yang sedang ia berhadapan sekarang.


Gadis ini masih diam mematung.


"Aku merindukanmu..... seharusnya kau yang mengunjungiku", jawab El tertawa.


Karin melepas pelukan dan matanya beralih pada seorang perempuan muda yang berdiri di samping Eliana.


Nara menunduk hormat.


"Bibi......", sapa Nara.


"Kau?", Karin terkejut.


"Apa kau mengenal Nara?", tanya El heran ketika menatap keduanya.


"Tentu saja aku mengenalnya, namun pertanyaan itu yang akan ku lemparkan padamu lagi, bagaimana bisa kau bersama Nara dan datang bersama kemari?", tanya Karin seraya melirik Nara yang menunduk.


"Hei.... ayolah jangan tegang begitu, tidakkah kau mengajak kami masuk dulu, kita bisa bicara di dalam bukan?", El mencairkan suasana yang tampak lain diantara Karin dan Nara.


Karin mengangguk dan mempersilahkan mereka masuk.


"Ayo jawab El, kenapa kau bisa bersama Nara datang kemari? bagaimana bisa kau mengenalnya", tanya Karin penasaran.


"Dia calon menantuku, itu juga alasan kami datang berniat untuk bertemu keluarga nya namun ada sesuatu hal lain, jadi kami memutuskan untuk mampir kemari saja".


Nara tampak meremas tangannya sendiri.


"Apa?", Karin sangat terkejut akan jawaban Eliana.

__ADS_1


__ADS_2