
Gadis cantik berambut panjang, bermata indah dengan bibir mungil yang sedang dihiasi senyum tipis, rambut indah nya yang tergerai menari-nari menutupi sebagian wajahnya ketika jendela bus ia buka sehingga angin menerpa wajah cantik itu, memejamkan mata sejenak ia menarik napas dalam dan menikmati pemandangan yang menampilkan hamparan kebun teh nan menghijau sebelum memasuki sebuah desa.
"Aku pulang", gumam Nara pelan.
Entah apa yang akan gadis ini hadapi nanti jika bertemu ibu dan saudara tiri nya, sebab sekarang Nara telah mengetahui niat mereka membuangnya ke kota.
Setelah turun dari bus, Nara harus berjalan kaki kurang lebih empat kilometer sebelum desanya berada, karena bus tidak sampai masuk desa melainkan hanya di pinggir jalan raya saja.
Hanya membawa sebuah tas kecil yang berisi sebuah jas dan beberapa lembar pakaian yang ia beli ketika di kota.
Berjalan pelan ditengah sejuknya perkebunan teh menyusuri jalan setapak seorang diri, hari kian sore hingga matahari mulai bergerak meninggalkan ufuknya.
Sesekali Nara merasa ingin menangis jika mengingat bahwa ia telah menjadi yatim piatu, ibu dan saudara tiri yang tidak menginginkannya lagi, airmatanya jatuh ketika mengingat bahwa ia hampir dilecehkan paman Heru dan lebih parah lagi ia dijual untuk melayani pria hidung belang.
Segera ia menghapus airmatanya, ia menegakkan badan memandang ke depan tatkala sudah memasuki gerbang sebuah desa yang ia yakini bahwa ia telah sampai di kampung halamannya kembali.
"Baiklah Nara, tidak seharusnya larut dalam kesedihan akan masa yang sudah berlalu, aku bersyukur bisa lepas dari mereka yang berniat jahat padaku".
"Saatnya menatap masa depan, bukankah sebentar lagi aku akan menjadi pengantin? tentu harus menyambut bahagia hari itu, Reno mencintaiku dia akan membawaku keluar dari rumah ibu dan tentu saja aku tidak akan membebani ibu lagi, ku harap Ranti akan mengerti".
Nara terus bergumam dalam hati, tanpa ia sadari bahwa telah sampai di halaman rumahnya, namun dahinya berkerut ketika mendapati ada yang berbeda dari rumah tersebut.
"Ibu.... Ranti.... aku pulang", panggil Nara dengan senyum.
Namun ketika memasuki rumah betapa ia terkejut mendapati Reno beserta keluarganya juga berada di sana.
"Reno? paman? bibi?", sapa Nara pada mereka yang duduk berhadapan dengan ibu dan Ranti.
__ADS_1
"Khinara? kau pulang?" jawab Reno langsung berdiri menghampiri gadis itu.
Namun Ranti tentu tidak tinggal diam, ia ikut berdiri dan memegang tangan Reno membuat Nara heran sekaligus curiga.
"Maaf Nara, Reno dan keluarganya lebih memilih ku daripada kau yang sudah menghianati Reno, kami akan segera menikah", Ranti bicara dengan lantang menatap tajam wajah Nara.
"Nara jangan dengarkan dia, aku yakin kau tidak serendah itu", bela Reno.
Nara masih mematung menatap keduanya secara bergantian.
"Nara, apa kau tidak tahu malu pulang dari menjual diri? dan sekarang seenaknya kau datang lagi ke rumah ini untuk mempermalukan mendiang ayahmu pada keluarga tuan Wahyu", sergah ibu ikut berdiri.
Nara kebingungan, wajahnya merah dan matanya berkaca-kaca oleh kenyataan bahwa keluarga calon suaminya mengetahui apa yang terjadi selama berada di kota.
"Paman, bibi, Reno, aku bisa menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi padaku di kota, aku sama sekali tidak menjual diri....", ucapan Nara menggantung ketika mendapat tamparan dari ibu tiri nya.
Belum juga ibu menjawab, orangtua Reno yang sejak tadi diam dan menyimak saja kini pun ikut berdiri di hadapan Nara.
"Sudah ku duga bahwa keluarga kalian tidak sebaik yang ku kira, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kalian tapi ku harap ini yang terakhir kita bertemu dalam urusan perjodohan, baik Nara maupun Ranti keduanya tidak pantas menjadi menantuku".
Ucapan itu keluar dari bibir ibunda dari Reno, ayahnya hanya bisa geleng kepala dan menepuk pundak Reno pelan.
"Maaf, kami akan pulang silahkan selesaikan urusan keluarga kalian, ayo Reno", ajak sang ayah.
"Tidak ayah, bunda, aku yakin dan percaya pada apa yang dikatakan oleh Nara, ayolah beri kesempatan Nara untuk bicara", bujuk Reno.
"Lagipula tidak ada hal yang penting lagi u ntuk dibicarakan, pertunangan mu dengan Nara sudah dibatalkan oleh mereka bulan lalu, sekarang bunda yang membatalkan rencana menjadikan Ranti sebagai pengganti Nara hari ini, ayo pulang", ucap bunda Reno.
__ADS_1
Reno ingin menyela namun ayahnya menggelengkan kepala, pria berumur 27 tahun ini pun tidak berani membantah lagi.
Nara dan Ranti beserta ibu hanya bisa diam dan menyaksikan keluarga pria yang mereka sukai itu meninggalkan rumah, Nara tersenyum sungging.
"Ck.... apa ini yang ibu inginkan?", tanya Nara berdecak kesal.
"Ibu ingin kau pergi dari ibu selamanya Nara, ayahmu telah tiada sudah saatnya kau menentukan nasibmu sendiri, sudah cukup kau menjadi penghalang kebahagiaan Ranti", ucap ibu terduduk lesu.
Seketika airmata Nara kembali jatuh membasahi pipinya.
"Sudah ku duga.... Aku kira ibu menyayangiku", ucap Nara dengan nada lemah.
Ranti hanya diam, ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa orang tua Reno membatalkan rencana mereka.
Nara segera masuk ke kamarnya, ia menangis untuk waktu yang lama, Nara sama sekali tidak menyangka kepulangannya akan membuat semuanya menjadi tidak lebih baik.
Perlahan ia membuka lemari dan mengemasi pakaiannya dalam sebuah tas jinjing yang tidak terlalu besar.
"Aku akan merantau dalam waktu yang lama, tidak ada yang menginginkan ku lagi di sini, aku rasa tuan Dannis bisa membantu lagi kali ini, aku akan ke alamat ini dan meminta pekerjaan sebagai imbalan telah mengembalikan dompet nya", gumam Nara setelah melihat kembali kartu nama yang berada dalam dompet itu.
"Aku harap kau tidak akan muncul lagi di desa ini Nara, kau menghancurkan cinta dan masa depanku", ucap Ranti yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Nara.
Nara tersenyum tipis.
"Bukan aku, melainkan kau dan ibu lah yang menghancurkan semuanya, kau tenang saja Ranti aku tidak akan pulang sebelum mengubah nasibku sendiri, kau lihat sekarang aku baik-baik saja bukan? begitupun nanti, aku akan baik-baik saja tanpa kalian".
Jawab Nara tegas.
__ADS_1