
"Alea....terimakasih banyak kau sudah mau datang" ucap Melati pelan pada Alea yang baru saja selesai mengukur tekanan darahnya.
Alea selalu membawa tensi meter di ranselnya, setelah mengukur tekanan darah Melati, perempuan ini menyimpan kembali ke dalam tasnya.
"Aku rasa kau memang hanya butuh istirahat berbaring saja, tekanan darahmu tidak ada masalah, kram perut biasa terjadi di awal kehamilan asal tidak terjadi tanda-tanda perdarahan saja, kau seharusnya memakai jasa pelayan untuk mengurusi rumah ini, kenapa kau keras kepala Melati? kau sakit aku juga yang direpotkan suamimu"
Melati mengembangkan senyum, meski raut Alea tampak kesal namun tidak menghilangkan bahwa perempuan itu tulus membantu nya.
"Kenapa kau tersenyum? kau pikir aku tidak berkorban hingga sampai disini sekarang, aku terpaksa berbohong pada suamiku karena suamimu yang menyebalkan itu"
"Apa kau membenciku Alea?"
"Huh....meski aku membencimu pun sudah tidak ada gunanya, biar bagaimanapun kau iparku juga sekarang jadi mau tidak mau aku harus membantumu, hanya saja aku menyesali jika saja kau bisa menghargai kehormatanmu dan tidak terjebak cinta buta pada suami orang aku rasa kau tidak akan mengalami ini"
Melati terdiam, ia membenarkan apa yang di ucapkan Alea, airmatanya menetes begitu saja.
"Maafkan aku Alea, kau ikut terlibat jadinya"
"Lagipula aku heran padamu kenapa bisa kau dengan berbesar hati menerima menjadi istri kedua pria gila itu, sudahlah ini telah terlanjur....aku harap kau akan selalu sabar seperti ini, karena ini pernikahan Melati bukan permainan"
"Kau benar Alea, aku harap kau tidak membenciku"
"Aku tidak membencimu, aku hanya membenci wanita yang berani menyukai apalagi menggoda suamiku saja, bagaimana sekarang apa lebih baik? kita bisa ke klinik untuk memeriksakan kendunganmu"
"Aku akan beristirahat saja, ini sudah lebih baik...bukankah kau sibuk, maaf aku menganggumu"
"Iya....aku sedang sibuk bercinta dengan suamiku, tapi priamu yang gila itu selalu menghantuiku" kesal Alea.
Berhasil mengembangkan kembali senyum Melati.
"Sudahlah jangan menangis lagi, nanti bayimu ikut sedih, aku sarankan kau meminum obat dan vitaminmu tepat waktu, jangan beraktivitas berat Melati, jika tetap seperti ini aku tidak akan memaafkanmu"
__ADS_1
"Baiklah....terimakasih banyak Alea, bang Arkan bilang nanti sore pelayan akan datang untuk membantuku di sini"
"Baguslah.....ingat kau harus lebih banyak berbaring, aku akan kembali ke rumah sakit" Alea mengemas ranselnya, namun tidak lama Arkan tiba disana.
"Sayang....." panggil Arkan pada istrinya, pria itu langsung saja masuk karena pintu tidak dikunci, Arkan langsung menghampiri Melati yang masih berbaring di sofa.
"Bang Arkan, aku sudah tidak apa-apa jadi tidak perlu ke klinik, aku ingin istirahat saja di sini, maaf aku merepotkanmu" ucap Melati menatap suaminya.
Alea melihat adegan itu ikut terhenyak, bagaimana Arkan maupun Melati sama-sama bersikap manis satu sama lain, menandakan bahwa memang mereka saling mencintai, namun tetap saja ia merasa ini konyol, ia membayangkan posisi Melati ada padanya saat ini, sungguh Alea tidak ingin menjadi istri simpanan seperti itu meski cinta mati sekalipun.
Alea ingin berbalik badan keluar meninggalkan mereka disana, namun siapa sangka sosok pria yang mengikutinya sejak tadi sekarang berada di tengah-tengah mereka. Abrar menatap istrinya tajam bergantian dengan Arkan yang terkejut bukan main jika kakaknya itu berdiri disana menatapnya penuh tanya dalam posisi sedang memeluk Melati.
"Bang Abrar?" ucap Alea dan Arkan bersamaan.
"Bang....aku bisa menjelaskan ini" tiba-tiba Arkan berdiri dan mendekati Abrar yang wajahnya merah padam.
"Tidak perlu kau jelaskan, aku mendengar semuanya, dasar kau pria brengsek....berani-beraninya kau" jawab Abrar yang tidak bisa menahan amarahnya.
"Sayang....hentikan, kita bisa bicara baik-baik" ucap Alea sambil menarik badan suaminya.
"Apa kau bilang? bicara baik-baik? bukankah kalian sendiri yang memulai kebohongan ini? kau membela pria brengsek ini? aku kecewa padamu Alea, kau menyembunyikan kebenaran dariku" jawab Abrar menatap tajam istrinya tanpa melepaskan Arkan yang sudah tampak berdarah pada wajahnya.
Melati hanya bisa menangis melihat perkelahian itu, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Sayang.....tidak maafkan aku, percayalah kita bisa bicara baik-baik jangan seperti ini, dia saudaramu" kembali Alea ingin melerai namun terasa sia-sia, Abrar masih dengan amarahnya.
"Kau....beraninya kau mengkhianati istrimu yang sedang hamil, kau mau mengikuti jejak lelaki brengsek itu? kau tahu bagaimana mama berjuang demi kita ketika dia meninggalkan kita dulu? sekarang kau mengikutinya Arkan, aku tidak menyangka kau melakukan ini pada Vina, kenapa kau ikuti perangainya Arkan...kenapa?" sergah Abrar pada adiknya yang sudah tidak berdaya.
Arkan hanya pasrah, bahkan ia tidak memiliki kesempatan untuk bicara karena Abrar masih saja memukulnya dengan geram, melihat itu Melati ikut melerai ia tidak bisa melihat suaminya terus di pukul, Alea melarangnya karena melihat Melati memegang perutnya yang tampak kesakitan lagi.
Alea kembali mencoba melerai, ia menarik tangan Abrar untuk berhenti memukul namun di luar dugaan karena sudah terlalu dikuasai amarah, Abrar mengibaskan tangannya dengan kasar hingga tubuh istrinya terpental jatuh terduduk dengan keningnya terantuk menyentuh sudut meja kaca yang ada disana, kening Alea berdarah, karena terlalu kuat tampak luka robek disana.
__ADS_1
Melati melihat itu membantu Alea berdiri.
"Ayo.....kau harus bertanggung jawab jelaskan ini pada mama dan Vina" tarik Abrar pada Arkan menuju keluar, ia bahkan tidak menghiraukan istrinya yang masih berdiri disana.
Setelah mereka berlalu, Alea mengernyitkan wajahnya karena mulai terasa nyeri, darah luka itu bahkan mengalir sampai pipi mulusnya.
"Alea....kau terluka, astaga.....luka mu Alea" ucap Melati cemas melihat darah yang mengalir.
"Huh....iya aku rasa ini butuh beberapa jahitan Melati, kau istirahatlah....jangan pikirkan yang baru saja terjadi, berdoa saja agar mereka tidak saling membunuh, aku akan ke klinik terdekat ini sungguh nyeri" Ucap Alea sambil menekan lukanya dengan sebuah kain kassa yang tersedia dalam tasnya.
"Alea maafkan aku....ini semua salahku, kau terluka seperti ini" ucap Melati menangis.
"Sudahlah Melati tangismu tidak akan menyelesaikan masalah, semua sudah terjadi.....belajarlah dari sini jika kebohongan tidak selalu berjalan mulus, akan ada saatnya semua terbongkar dan kita bisa lihat akibat yang telah kalian perbuat hari ini bukan? luka ini tidak seberapa Melati dibanding luka yang dirasakan suamiku mengetahui bahwa adiknya mengikuti jejak papa kandung mereka, kau harus tahu Melati papa kandung Abrar dan Arkan juga seperti ini dulunya, meninggalkan mama Bella dan dua bocah lelaki itu demi wanita lain"
Ucap Alea yang tidak bisa menahan laju airmatanya, iya Alea mengetahui masa lalu mertuanya dari cerita mamanya Eliana, itulah kenapa Abrar sangat menghormati ibunya dan selalu ingin membanggakan papa Ricko sebagai rasa terimakasihnya atas kehidupan mereka setelah ditinggal papa kandungnya saat itu.
Melati terdiam, ia baru mengetahui hal ini dari Alea, tangisnya kembali pecah seakan menandakan penyesalan yang mendalam bahwa kehadirannya telah menyakiti banyak hati, bukan hanya Vina selaku istri pertama namun juga kakak dan ibu dari Arkan.
"Sudahlah....sampai kapan kita akan menangis, ayo kau beristirahatlah jangan sampai terjadi apa-apa pada kehamilanmu, tunggu saja kelanjutan cerita ini nanti, aku akan mengurus luka ku dulu, ini sungguh nyeri"
Dengan sesegukkan Melati mengangguk pelan, ia mengikuti anjuran Alea karena memang tidak ada yang bisa ia lakukan juga saat ini.
"Berhati-hatilah Alea, maafkan aku sekali lagi"
"Iya.....aku memaafkanmu, tenanglah kasihan janinmu jika menangis terus"
Kumudian Alea pamit dan berlalu dari rumah Melati untuk mendapat pertolongan pada lukanya itu dengan mobil Arkan.
****
nah tercidukkk juga kan kamu bang Arkan ga bisa ngelak juga sekarang, kasihan Alea yg niat menolong malah apes dpt luka, aduhhhhhh....lanjut tidak yaaaa
__ADS_1