
...Selamat membaca...
...πΈπΈπΈ...
"Ada masalah apa om papa? Kenapa diam terus? Karin ada salah?"
Karin terlihat sangat penasaran karena Dion masih saja tak menjawab pertanyaannya. Karin merasa Dion menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mmmm,,,,"
"Ada apa? Jujur saja sama Karin." pinta Karin.
Dion menatap wajah Karin dengan pandangan sendu. Sungguh ia merasa sangat berdosa jika sampai pemilik wajah manis itu merasa bersedih akan kenyataan sebenarnya. Tapi istrinya itu benar. Dion harus jujur meski istrinya harus mendapati kenyataan bahwa mama mertuanya meragukannya.
"Mama punya syarat sebelum kita bawa Delvara pulang ke rumah." Dion buka suara.
"Syarat? Syarat apa maksudnya om papa? Bukannya mama sangat ingin segera memiliki cucu dan sekarang sudah kita berikan. Lalu kenapa tiba tiba ada syarat?" Karin tidak mengerti.
"Mama ingin kita melakukan tes DNA pada Del."
"Tes DNa???? Maksudnya???" mata Karin membulat dan suaranya meninggi sampai membuat baby Del tersentak lalu menangis karena terkejut.
"Cup cup sayang,, Maafkan mama ya sayang. Bobo lagi yuk,,,Cup cup cup,,," Karin menenangkan bayinya lagi.
Dion hanya mematung dan sibuk merangkai kata kata yang tepat untuk menjelaskan pada Karin kemauan mamanya itu.
"Assalamualaikum,,,"
Suara itu memecah konsentrasi Dion. Baik Dion dan Karin melihat siapa yang datang dan hampir bersamaan menjawab salam.
"Papa." seru Karin senang melihat papa Hengki datang.
__ADS_1
"Wah,,, Selamat ya nak kamu sudah jadi mama sekarang." papa Hengki mengusap kepala Karin dengan penuh kelembutan.
Wajahnya sedikit sendu. Mungkin karena merasa bersalah dan iba pada Karin mengingat permintaan mama Herna. Papa Hengki bisa membayangkan betapa kecewa dan sedih nantinya Karin.
"Selamat juga untuk papa ya. Papa sudah jadi kakek sekarang. Papa mau gendong Delvara?"tanya Karin sambil tersenyum namun sesaat kemudian ia mengerutkan keningnya.
"Tunggu,,, Apa papa juga menginginkan Del di tes DNa?" tanyanya kemudian.
Papa Hengki yang awalnya sudah mengulurkan kedua tangannya untuk menerima baby Del langsung berubah wajahnya lalu memandang Dion yang juga tampak sedang kacau.
"Maafkan mama ya nak. Beri papa waktu untuk bicara dulu sama mama. Untuk sekarang,,, papa harap kamu jangan ambil hati dulu sikap dan perkataan mama ya nak." ucap papa Hengki.
"Karin hanya gak ngerti kenapa harus di tes DNa? Ini kan sudah pasti anak kami pa." Karin menuntut penjelasan.
Papa Hengki merasa lehernya seperti tercekik dengan pertanyaan Karin itu. Begitu pula Dion yang juga belum bisa menjelaskan. Dion sendiri juga masih heran kenapa mamanya bisa memintanya melakukan tes DNA.
"Siapa bilang sudah pasti? Harus di tes dulu dong. Iya kalau benar anak Dion sih gak apa apa ya. Dengan senang hati kami terima kehadirannya. Tapi kalau terbukti bukan anak Dion kan ya ngapain juga kita terima dalam anak haram dalam keluarga kami?"
"Mama!!!!" ketus Dion bersamaan dengan Karin yang beristighfar.
"Apa? Begini saja kamu musti melibatkan mama ya? kamu pasti gak bisa kan beri alasan pada Karina? Apa susahnya sih bilang begitu saja? Karina juga pasti bisa mengerti. Mana ada keluarga yang mau menerima anak haram?" mata mama Herna langsung melihat ke arah baby Del yang terus menangis.
Mungkin karena ruangan yang tadinya hening dan tenang berubah memanas dan banyak suara suara baru yang harus didengarnya. Karin masih tetap berusaha menenangkannya.
"Bisa gak bicaranya diperhalus? Hormati Dion. Hormati istri Dion." ketus Dion saking kesalnya pada mama Herna.
"Gak sopan sekali kamu sama mama. Semenjak kamu menikah sama bocil itu kamu selalu melawan mama. Bukannya makin dewasa dan ngerti mana yang baik dan mana yang nggak,,, Malah makin keterlaluan!!!" teriak mama Herna tak terima diketusi Dion.
"Mama yang keterlaluan!!" papa Hengki angkat bicara juga.
"Oh papa nyalahin mama juga? Kalian para laki laki dikasih pelet apa sih sama Karina sampai kalian berdua ini sama sama sekongkol melawan mama?" sengit mama Herna.
__ADS_1
"Mama!!!!" tangan papa Hengki terangkat di depan wajah mama Herna.
"Mau pukul mama? Setelah bertahun tahun hidup bersama mama,,, suka duka bersama,,, sampai rambut sudah memutih semua,,, sekarang demi belain Karina papa mau pukul mama??? Mana papa yang selalu lembut sama mama? Sebegitu berharganya Karina dibanding mama ya??!!!"
Meski masih tersulut emosi tapi Papa Hengki menurunkan tangannya dan menyalahkan diri sendiri atas tindakannya itu. Papa Hengki masih bisa menahan diri dan berpikir bahwa Memukul mama Herna di depan Karin memang akan makin membuat mama Herna emosi dan bisa jadi makin anti sama menantunya itu.
"Kenapa gak jadi pukul??? Pukul mama,,,Pukul!!! Biar papa puas."
"Sudah ma sudah!!! Please,,, jangan ribut di sini.Ini rumah sakit ma. Lihat itu Delvara nangis terus. Dia takut ma." Dion melerai.
"Oh jadi namanya Delvara? Bagus juga dan cocok jadi anggota keluarga kita. Tapi hanya setelah kita pastikan darah siapa yang mengalir dalam diri bayi itu." ucap mama Herna.
"Delvara anak Karin dan om papa ma. Darah kami dan darah mama juga yang mengalir dalam tubuh Del. Coba mama dekati dia,,, lihat matanya,,,hidungnya,,, hampir semua yang ada padanya mirip papanya. Mama gak mau gendong Del?"
Ucapan Karin itu tegas namun terdengar sangat kasihan. Dia harus memohon pada mama mertuanya agar mau menggendong anaknya. Mama Herna tampak penasaran dan mau mendekat. Melihat dengan sangat dekat wajah Delvara yang sebelumnya begitu dinantikannya kehadirannya di tengah tengah keluarga mereka.
Bahkan tangannya juga yang selalu mengaduk susu untuk diminum Karin demi kesehatannya dan Delvara. Kini Delvara sudah lahir dan berada nyata di depan matanya. Tapi bayangan kesedihan Hana dan semua foto foto masa lalu Karin membuat mama Herna menolak menerima Delvara begitu saja.
"Tidak!! Setidaknya sampai anak ini benar benar terbukti anak kalian. Kamu harus paham Rina,,, Dion ini pernah tertipu oleh mantan istrinya sendiri yang hamil dengan pria lain. Wajar saja kan kalau mama takut terulang lagi." ketus mama Herna.
"Apalagi setelah melihat foto foto masa lalumu yang semuanya vulgar,,, Belum lagi semua tentang masa lalumu. Buat mama pusing dan menyesal kenapa dulu main menyetujui pernikahan kalian. Jadi kamu harus tau,,, Bukan tanpa alasan kalau mama tambah meragukan kamu dan Delvara. Karenanya kamu suka gak suka ya harus turuti kemauan mama untuk melakukan tes DNA pada Delvara!!" lanjut mama Herna dengan tegas.
"Ma,,, Karin udah berubah!! Karin yang Dion cintai bukan Karin yang mama bilang vulgar itu!!" Dion membantah.
"Kalau begitu apa susahnya tes DNA?" cibir mama Herna.
...πΈπΈπΈπΈ...
...Yang mau hujat mama Herna,,, author persilahkan ya π...
Tapi jangan lupa sambil hujat sambil kirim vote, like, hadiah dan komen juga dong. Mumpung senin nih,,, π
__ADS_1