
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Suasana hening sejenak setelah Yusuf menyebut nama anak wanita idaman hatinya.Lelehan bening pun mulai mengalir membasahi wajah Dion. Nama anak itu seketika mengingatkannya pada putra yang sekian lama dinanti nantikan kehadirannya namun malah kini berada entah di mana.
"Papa kangen Delvara,,, Maafkan papa ya nak. Papa tidak berguna. Papa tidak bisa melindungimu dan mama. Semoga di mana pun kalian berada,,, kalian selalu dilindungi olehNYA." lirihnya.
"Bukan kamu yang harus meminta maaf Dion tapi mama. Semua ini salah mama. Mama selalu berdoa pada Tuhan semoga mama diberi kesempatan untuk bertemu dengan bidadari tak bersayapmu itu. Mama ingin minta maaf padanya dan pada cucu mama juga. Mama ingin menjelaskan semuanya kepadanya. Mama ingin ia tidak salah paham padamu. Bukan kamu tak berusaha namun kamu tidak berdaya."
Mama Herna memeluk Dion yang tak henti meneteskan airmata kepedihannya. Seribu rasa tak terima dalam dada akan nasib dan takdirnya ini sempat menguasai namun Dion beristighfar.
Yusuf yang bisa mendengarnya sebenarnya hatinya merasa miris. Sebagian hatinya tak tega melihat semua penderitaan kedua insan yang saling merindu itu namun sebagian dirinya juga membenarkan tindakannya merahasiakan semuanya.
"Kamu memang gak berguna bang,,, Lihat dirimu,,,kamu bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri,,,bagaimana bisa melindungi Karin dan Delvara. Sudahlah bang,,, relakan saja mereka untukku. Aku lebih layak bang,,, aku yang masih normal tanpa cacat ini lebih layak menjadi pendamping Karin."
"Dan mama,,, segampang itukah ingin meminta maaf? Segampang itukah mengakui kembali cucu yang kamu buang sendiri?? Semua tidak adil bagi Karin dan Delvara. Dan aku tidak terima begitu saja orang yang kusayangi diperlakukan begitu."
Sisi lain hati Yusuf yang dipenuhi kegelapan itu terus mendominasi sehingga pria baik itu berubah menjadi tak berhati lagi. Cinta butanya kepada Karin menutup mata hatinya.
...🌸🌸🌸🌸...
"Pasti rumah sakit yang itu sih. Baiklah aku langsung kesana saja. Kasihan Yusuf. Ini sudah jam makan siang. Dia pasti lapar. Sekalian saja kubawakan makan siang untuk bang D dan ibunya. Siapa tau kan masakanku ini kembali bisa menghidupkan semangat hidupnya."
Karin dengan semangat dan penuh perasaan menata lauk demi lauk yang dimasaknya ke dalam wadahnya. Ia berniat membuat kejutan untuk Yusuf dengan datang membawakannya makan siang.
"Mungkin aku memang harus mulai belajar menyenangkannya. Selama ini dia saja yang sibuk menghapus duka laraku." gumamnya sambil menghentikan gerakan jemarinya.
Dipandanginya kotak nasi milik Yusuf itu.
"Tapi apa tidak terkesan terlalu gatal ya kalau begini? Aku kan istri orang." pikirnya.
__ADS_1
"Ah tapi tidak juga sih kan aku memang penjual catering yang memang punya tugas menyiapkan makanan untuk para pelangganku. Jadi wajar wajar saja." lanjutnya lagi sambil kembali menyelesaikan kegiatannya.
"Papapa,,,papapa,,," Delvara sudah tampil kece menunggu untuk dibawa jalan jalan.
"Iya sayang tunggu ya. Mama lagi siapkan makan siang buat papa." ucap Karin namun kemudian ia berhenti lagi setelah sadar dengan ucapannya itu.
"Ya Tuhan,,, salahkah hamba bicara begitu? Kenapa berat sekali mengucapkan kata papa kalau bukan untuk papanya sendiri. Benarkah hamba harus mengalah demi Delvara??"
Karin memandang sedih ke arah Delvara. Anak itu makin kesini makin mirip papanya. Wajah Delvara bak cerminan masa kecil Dion di usia itu. Karin tau dari foto yang ada di kamar Dion.
Dan kini menatap Delvara bagai terkena cambuk panas yang mengingatkan anak itu akan makin tumbuh dan akan terus bertanya. Dia juga butuh kejelasan status.
"Sanggupkah aku membiarkan dia tumbuh tanpa sentuhan papa? Sanggupkah dia melewati hari hari bersama teman temannya yang punya papa??" Karin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Membayangkan itu membuatnya sedih luar biasa. Kasihan sang putra namun juga belum bisa sepenuhnya membuka hatinya untuk pria lain.
Sebagai istri,,,Hati dan cintanya senantiasa terpaku dan teruntuk Dion tapi posisinya sebagai ibu menuntutnya memberikan yang terbaik untuk Delvara.
Jika boleh memilih tentu ia memilih nasib yang dijauhkan dari hal hal rumit seperti ini. Tapi ia kembali tersenyum kala ia mengingat satu hal,,,
"Aku yang diuji karena Tuhan tau aku yang paling kuat di antara wanita wanita lainnya." batinnya.
Karin menyelesaikan semua pekerjaannya. Semua kotak nasi itu dimasukkan sebuah tas besar yang ditentengnya dengan penuh semangat. Dengan Delvara yang didudukkan di kereta dorongnya,,, Karin berjalan menelusuri blok demi blok apartemen hingga sampai di tempat khusus pemberhentian taksi.
Setelah mendapatkan taksinya Karin pun meminta sang sopir membawanya ke rumah sakit elite yang biasa dibicarakan oleh Yusuf. Sebelumnya juga pernah saat Delvara demam, Yusuf juga membawanya kesana jadi Karin tau persis harus ke mana.
Delvara tampak riang diajak jalan jalan. Ini memang kali pertama Karin membawanya keluar berdua saja dan untuk sekedar belanja atau jalan jalan saja.
"Wah anak mama senang ya diajak jalan jalan." ucap Karin sambil menyomot pipi gembul Delvara.
"Pappapaa,,, Pappaaa,,," tangan mungil Delvara menunjuk nunjuk ke arah depan seolah mengatakan ada papa di depan sana.
__ADS_1
"Iya sayang iyaaa,,, kita akan temui papa. Del sayang ya sama papa?" tanya Karin.
Delvara tersenyum dengan deretan gigi putihnya yang membuatnya makin terlihat menggemaskan.
"Yakin Del sayang sama papa Yusuf?" Karin meyakinkan.
Namun bersamaan dengan itu taksi yang ditumpanginya mengerem mendadak hingga membuat Delvara menangis karena mungkin terkejut.
"Sorry miss. Someone just crossing." kata sopir taksi.
"Its ok. Just please be really carefull." pinta Karin sopan.
"Ok miss."
Karin meminta sopir itu pelan pelan karena takut nanti membuat Delvara shock lagi. Saat ini saja Karin masih sibuk membuatnya berhenti menangis. Untungnya rumah sakit tujuan mereka sudah dekat.
"Del,,, stop nangisnya ya sayang. Kita mau ketemu papa nih." rayu Karin.
"Papapapapa,,," Delvara berhenti menangis seketika melihat gedung mewah nan tinggi menjulang itu.
Anak itu juga menunjuk nunjuk ke atas seperti tau sang papa memang berada di salah satu kamar di atas sana.
"Iya sekarang kita telpon papa dulu." ucap Karin namun Delvara malah menangis lagi.
Ia menangis sambil terus meminta diajak naik ke atas. Ia seperti tak mau menunggu sang mama menelpon.
"Del sayang,,, kok malah rewel begini. Tadi katanya mau ketemu papa. Kan ini mama telpon dulu. Mama gak tau sayang papa ada di ruangan mana." ucap Karin yang jadi bingung dengan tingkah Delvara.
Karin mana paham kalau sang buah hati merasakan kehadiran sosok papa sebenarnya di atas sana. Terbaring lemah tak berdaya menunggu belas kasih orang yang malah diam diam mengkhianatinya.
"Papapappapa,,,," Delvara makin kencang menangis.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...