Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Benalu


__ADS_3

...Halo semua,,, Maafkan author yang menghilang sekian lamanya 🀭 author sibuk urus persiapan dan acara 40 harinya almarhumah ibunya author. Tapi sekarang sudah selesai dan author coba kembali ke jalan cerita novel ini ya πŸ€—...


...Terima kasih buat yang masih selalu setia nungguin kelanjutan ceritanya dan hello to para readers baru yang udah mau naruh novel ini di deretan rak favoritnya 😘😘...


...Ok,,, Here we go,,,...


...🌸🌸🌸...


...Selamat membaca πŸ€—...


"Papaaa!!! Apa apaan sih? Kasar banget sama Hana! Apa masih belum puas udah tampar mama semalam? Kenapa masih nyakitin Hana juga sih??" teriak mama Herna yang baru keluar dari kamarnya karena mendengar suara ribut ribut di ruang makan.


"Papa gak ngapa-ngapain Hana kok. Hanya menegaskan posisi Hana di rumah ini. Hanya ingin dia sadar diri." jawab papa Hengki santai.


Mama Herna kesal dengan jawaban itu ditambah saat melihat Hana berlinangan airmata karenanya. Dihampirinya Hana lalu memeluknya sejenak sebelum matanya menangkap gerakan papa Hengki.


"Papa mau kemana?? Minta maaf dulu sama Hana." mama Herna kembali setengah berteriak saat papa Hengki terlihat berjalan meninggalkan mereka begitu saja.


"Gak apa apa ma. Biarkan saja. Hana gak marah kok." Hana coba menenangkan mama Herna.


"Mana bisa begitu Han,,," bantah mama Herna.


"Itu kamu sudah paham. Memang seharusnya kamu tidak perlu marah dengan sikapku karena kamu pantas mendapatkannya." sinis papa Hengki.


"Eh Papa,,,,papa harus ingat bahwa Bagaimana pun dia ini titipan dari tuhan untuk kita. Kita punya tanggung jawab untuk mengurusnya, memperlakukannya dengan baik. Papa juga harus ingat ini semua semestinya juga jadi tanggung jawab Dion. Anak kesayangan papa itu." mama Herna mengingatkan.


"Titipan apanya? Dia gak lebih hanya sebagai benalu dalam kehidupan anakku dan menantuku. Dan Dion,,, Bukan dia tidak mau tanggung jawab. Dion masih sanggup membiayai dia dan anaknya tapi dianya saja yang banyak maunya. Seenaknya saja minta Dion menikahinya lagi. Gak malu apa?? Gak ingat apa siapa yang dulu minta pisah??" papa Hengki tetap sinis.


"Cukup pa,,, cukup!! Jangan siksa Hana seperti ini." isak Hana.

__ADS_1


"Kamu yang cukup!! Sudah kubilang kan jangan pernah panggil aku papa lagi. Aku tidak sudi dipanggil papa oleh wanita tak punya adab sepertimu. Dulu aku memang pernah punya menantu yang ku anggap anak sendiri karena dia pandai menjaga nama baiknya dan suaminya. Wanita yang sama itu sudah tidak ada. Lenyap dibutakan keegoisan dan ambisi. Dan aku tak mau wanita seperti itu terus menerus tinggal di rumahku."


Hana makin terisak dengan bentakan dari papa Hengki. Tidak hanya Hana bahkan mama Herna juga ikut menangis mendengarnya. Hatinya sakit ketika mantan menantu kesayangannya dijelek jelekkan seperti itu.


"Papa tega!! Papa jahat,,, Apa salah kami?? Kamu padahal hanya ingin,,,,"


"Stop ma!!Jangan bertindak seolah papa lah penjahatnya di sini. Ini semua berawal dari kalian dan sekarang papa tegaskan,,,sikap papa selanjutnya adalah tergantung pada sikap kalian. Mama masih mau bersama papa atau mama pilih Hana?? Kalau mama pilih papa,,, Usir benalu ini dari kehidupan kita dan Dion!! Kalau mama pilih dia,,, dengan tegas walau berat papa harus putuskan mama dan benalu ini harus keluar dari rumah ini."


"Papaaa!!! Papa sadar apa yang papa katakan??" mama Herna membulatkan matanya.


"Sadar bahkan sangat sadar. Logika papa masih memegang kendali atas semuanya. Membiarkan mama seperti ini sama saja papa gagal menjadi suami. Dan kalau sudah gagal,,, mau apa lagi??"


Mama Herna terdiam dibuatnya. Beliau masih tidak menyangka bahwa omongan papa Hengki itu mengarah ke sebuah kata perpisahan. Setelah bertahun tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama,,, sekarang tiba tiba papa Hengki mengisyaratkan perpisahan.


"Pikirkan saja baik baik." cetus papa Hengki lagi kemudian berlalu meninggalkan keduanya.


"Ma,,," sekali lagi Hana mengguncangnya karena mama Herna masih tak merespon.


"Han,,, Mama pusing nih. Mama ke kamar saja dulu ya." akhirnya mama Herna malah hanya pamit ke kamar.


Hana merengut dibuatnya tanpa bisa mencegahnya. Hana kecewa karena mama Herna ternyata lemah juga di depan papa Hengki.


"Tau gitu kan mending papa yang ku manfaatkan. Bukan nenek lemah ini,,," sungut Hana.


Hana dengan malas beringsut hendak menutup pintu depan yang dibiarkan terbuka oleh papa Hengki tadi. Entah papa Hengki pergi kemana yang jelas sopir dan mobilnya sudah tidak ada di garasi.


Matanya membulat melihat sebuah mobil mewah yang ia tau siapa pemiliknya itu memasuki halaman rumah itu. Dengan cepat dirapikannya dirinya sendiri setelah yakin yang datang itu hanya satu orang tanpa membawa siapa siapa bersamanya.


"Pagi Dion. Sini aku bantu bawakan tasmu." Hana menyapa Dion dengan senyum manisnya lalu menarik tas kerja yang ditenteng Dion.

__ADS_1


"Tidak Han. Ini bukan tugas kamu. Ini tugas Karin dan aku tidak mau tugasnya diwakilkan oleh siapa pun." Dion mencegah.


"Karin kan lagi gak bisa mengurusmu. Dan aku bisa.Apa salahnya sih cuma bawain tas saja. Tidak berlebihan juga kan." Hana masih mengulas senyumnya.


"Itu bagimu,, tapi tidak bagiku. Istriku cuma satu, Karin. Dan saat istriku tidak bisa,,, bukan berarti aku boleh meminta atau membiarkan wanita lain mengambil alih semuanya. Aku lebih memilih melakukannya sendiri. Kamu tentu tidak lupa kan kalau aku cukup lama sendiri? Jadi aku sudah terbiasa mandiri." Dion menarik tas itu kembali.


Dengan langkah santainya ia kemudian masuk dan melewati Hana begitu saja.


"Dion tunggu!!" Hana mengejar dan langsung memeluknya dari belakang.


"Hana lepaskan!!"


"Tidak. Aku gak mau. Cukup sekali aku tau bagaimana rasanya berpisah denganmu. Aku gak mau terulang lagi. Dion,,, aku minta kamu pikirkan lagi semuanya baik baik. Pakai hatimu agar kamu tau siapa yang sebenarnya kamu cintai. Karin hanya pelarianmu,,, aku tau itu!!" Hana tetap memeluk erat pinggang Dion meski Dion terus meronta.


"Aku bilang lepaskan!! Jangan paksa aku kasar sama kamu Han!!"


"Sekasar apa pun kamu,,,Aku tetap gak mau lepaskan." Hana bersikukuh.


Dugh,,, Siku Dion yang meronta ronta menyenggol keras perut Hana. Hana langsung mengaduh kesakitan dan seketika pelukannya pun terlepas karena kini tangannya sibuk meremasi perutnya yang sakit. Darah segar terlihat mengalir di antara sela kakinya.


"Dion,,, Tolong aku. Anakku,,," rintih Hana.


Dion kesal namun tidak bisa berdiam diri saja. Dion menyalahkan Hana atas semua ini tapi ia juga tak bisa membiarkan saja wanita itu kesakitan. Dengan sigap dibopongnya tubuh Hana dan dibawanya ke mobilnya.


...🌸🌸🌸🌸...


...Pasti sampai sini ada yang emosi nih sama author kalau ending ceritanya begitu 🀭 Mengaduk aduk emosi kalian itu kan tugas author πŸ˜€...


Author kangen loh sama like, komen, hadiah dan vote dari kalian 🌸❀️

__ADS_1


__ADS_2