
Nara mengulum senyum setelah berada di kamarnya, ia memegang dadanya yang seakan sulit untuk bernapas akibat sikap Dannis yang hampir kembali menciumnya jika tidak diganggu oleh sebuah panggilqn ponsel pria itu.
Iya Nara merasakan hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini, sebab Dannis terlihat jauh berbeda pria itu tidak berkata kasar seperti diawal pernikahan, namun Nara merasa sikap Dannis masih berubah-ubah terkadang manis meski menyebalkan seperti yang baru saja terjadi diantara mereka yang hampir kembali berciuman namun bukan ciuman paksaan seperti biasa.
Nara memilih untuk menetralkan perasaannya dengan berbaring di kasur menatap langit-langit kamar seraya berhayal jauh akan nasib pernikahan yang baru satu bulan terjalin.
"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang tuan Dannis, tapi sungguh aku berharap nona Sheira benar bahwa cinta akan hadir dalam pernikahan ini meski aku sedikit meragukannya".
Gumam Nara berbicara sendiri sebagai pengantar tidurnya siang itu.
*****
"Baiklah.... ceritanya panjang, nanti ku beritahu", ucap Dannis pada ponsel yang masih menyala namun segera ia matikan setelah menyelesaikan pembicaraannys dengan sang sahabat yaitu Alan.
Pria itu melihat kalender dalam ponselnya, ia memejamkan matanya sejenak menerawang jauh pada masa lalu yang mengawali hubungan cinta antara Dannis dan Khanaya.
Iya, pria itu melihat tanggal yang menjadi penentu bahwa akan kembali diadakannya reuni akbar beberapa angkatan alumni SMA nya dulu.
Alan menghubungi terkait niat mereka akan tetap menghadiri acara tersebut seperti biasa meski tentu akan terasa berbeda bagi Dannis yang baru saja kehilangan calon istrinya yang juga merupakan bagian dari keluarga besar alumni SMA mereka.
Dannis menghela napas kasar, ia mencoba menetralisir perasaan sedihnya ketika mengingat bahwa Naya telah tiada itu artinya pria ini tentu tidak punya pendamping untuk acara itu.
*****
Lama Dannis menatap Nara yang sibuk di dapur, gadis yang pandai mengurus rumah itu sedang mempersiakan sarapan, penampilan Nara yang semula memakai seragam pun tidak terlihat lagi hari ini melainkan penampilan seorang wanita cantik meski memakai pakaian sederhana.
Ketika Nara membalikkan badan, mata mereka bertemu dengan canggung Nara segera menunduk.
"Tuan kau sudah bangun? ayo sarapannya telah siap".
"Ayo sarapan bersama", ucap Dannis seraya mendudukkan dirinya di kursi.
Nara menajamkan pendengaran, ia biasa menemani Dannis sarapan namun tidak untuk ikut makan juga, hingga kata-kata Dannis sekarang membuatnya terperangah.
__ADS_1
"Apa?".
"Ayo sarapan bersama", kembali Dannis bicara seraya menarik tangan Nara dengan pelan.
Demi apa sungguh gadis itu senang meski terlihat canggung.
"Baik".
Mereka sarapan dalam keheningan, sampai pada Nara tersedak yang membuat wajahnya merah karena terbatuk-batuk.
"Makanlah dengan pelan, kenapa buru-buru tidak ada yang mengejarmu", ucap Dannis terkekeh sambil mengusap kepala Nara dengan gemas.
Kembali Nara merasa sulit bernapas ketika diperlakukan berbeda dari biasa, Dannis seperti sedang membuka harapan baru bagi pernikahan yang mereka jalani saat ini.
"Nanti sore kau tidak perlu memasak aku akan pergi ke acara reuni akbar sekolah ku", ucap Dannis memberitahu niatnya.
"Baik", jawab Nara singkat.
"Jika kau bosan kau bisa ku antar ke rumah mama".
"Benarkah? apa aku boleh ke sana?", tanya Nara semangat.
"Kenapa kau begitu girang?".
"Tentu saja aku senang, kau berubah banyak tuan.... kau sungguh baik padaku sekarang, aku mau ke rumah mama", rengek Nara dengan nada manja.
Dannis tersenyum dan mengangguk, sejak mereka pindah belum sekalipun Dannis membawa Nara keluar dari rumah itu.
"Ku jemput kau siang nanti", ucap Dannis seraya menyudahi sarapannya dan berniat ke kantor seperti biasa.
Setelah memastikan Dannis telah berangkat kerja, Nara pun dengan semangat dan wajah berbinar memberitahu pada adik iparnya Sheira yang tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya tidak lama lagi.
Terasa lama bagi Nara menunggu Dannis menjemputnya, ia sudah tidak sabar ingin menghirup udara luar dari komplek perumahan elit yang tengah mereka tinggali sekarang, ia juga merindukan mertuanya yang selalu baik dan bersikap manis padanya.
__ADS_1
Dannis benar-benar pulang, pria itu mandi dan bersiap untuk mengantarkan Nara ke rumah orangtua nya.
"Apa kau sudah siap?", tanya Dannis seraya memasang kancing kemejanya menuruni anak tangga yang mana Nara pun telah bersiap untuk pergi.
"Bahkan sejak tadi", jawab Nara senang.
"Ayo".
Nara mengangguk.
Tidak ada percakapan yang berarti selama perjalanan, namun gadis yang tengah berbunga itu mengernyit heran saat Dannis berhenti di depan toko bunga.
Pria itu keluar begitu saja meninggalkan Nara yang mengulum senyum.
"Apa dia membeli bunga? untuk siapa? untuk mama atau.... atau untukku?", Nara bertanya-tanya sendiri di dalam mobil dengan raut bahagia, entah kenapa ia berharap pria itu memberi bunga padanya.
Senyumnya terus mengembang saat seikat bunga mawar merah menyala di tangan Dannis menuju mobil yang mana gadis itu berada.
Namun senyumnya pudar saat Dannis bukan memberikan padanya seperti dalam hayalan, malah pria itu menaruhnya di bangku penumpang.
Nara tidak berani bertanya untuk siapa bunga itu, sampai mobil mereka kembali berhenti di sebuah area pemakaman.
Dannis tidak berkata apa-apa selain, "Tunggulah di mobil, aku mengunjungi kekasihku sebentar".
Kata yang mampu membuat sudut mata gadis itu menjadi basah karena ia baru tersadar akan niat suaminya yang ia yakini mengunjungi makam tunangan pria itu.
Nara mengangguk saja tanpa banyak berkata-kata lagi.
Dannis berjalan menuju sebuah makam dengan membawa seikat bunga mawar yang Nara harap berada dalam genggamannya sekarang namun sungguh kenyataannya jauh dari hayalan.
"Maaf, apa kau cemburu aku membawanya?", Dannis berbicara sendiri pada sebuah nisan bertuliskan nama perempuan yang ia cintai.
"Dia istriku Nay..... aku tidak tahu apa yang ku rasakan pada gadis itu, namun sungguh aku masih saja mencintaimu hingga saat ini".
__ADS_1
Nara melihat jelas Dannis lama terpaku pada gundukan tanah yang tertanam raga dari gadis yang ia gantikan posisinya sebagai istri pria itu sekarang, Nara menyeka airmatanya.
"Oh apa aku mulai cemburu pada sebuah makam?", gumam Nara yang menahan sesak di dadanya.