Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 38


__ADS_3

Abrar menarik tubuh istrinya sebelum menaiki taksi yang sudah berada di hadapan Alea, Abrar memeluknya erat setelah membatalkan taksi tersebut.


"Sayang....." ucap Abrar pelan.


"Aku ingin pulang" jawab Alea masih dengan tangisnya.


Abrar tidak menjawab lagi, ia menggendong istrinya menuju mobil, ia tidak peduli banyak mata yang melihat ke arah mereka, Alea hanya diam meringkuk di leher Abrar, lelaki ini mendudukkan Alea di mobil dan memasangkan sabuk pengaman, Alea hanya diam dan menurut saja.


Dalam perjalanan mereka larut dalam keheningan, baik Alea maupun Abrar tidak ada yang bersuara namun Abrar tetap menggenggam satu tangan istrinya sambil terus mengemudi menuju pulang.


Setelah sampai di perkarangan rumah, kembali Abrar menggendong istrinya dengan sayang menuju kamar mereka, Alea melihat wajah suaminya lekat-lekat dari jarak yang tidak terbatas dimana Abrar dengan telaten membuka sepatu yang dikenakan Alea dan melepas tasnya lalu menaruh pada tempat penyimpanan.


Abrar juga membuka outer yang dipakai sang istri dengan pelan, hingga Alea hanya tersisa tanktop saja perempuan itu hanya menurut tanpa banyak tingkah, Abrar pun berdiri ia membuka kemejanya sampai ia hanya bertelanjang dada, Alea mengulurkan tangan agar suaminya mendekat.


Abrar menerima uluran tangan Alea dengan senyum, ia mendekat dan memeluk istrinya erat.


"Maaf....apa aku berlebihan?" tanya Alea sendu.


"Tidak.....lupakan tentang tadi, aku hanya heran kenapa kau tidak seperti biasanya, bukankah kau pandai berkilah jika bertemu wanita itu" bahkan Abrar tidak menyebut Yura dengan nama.


"Dia benar.....aku memang berbohong dan lagi juga benar aku belum hamil hingga sekarang" jawab Alea menyembunyikan wajahnya di dada Abrar.


"Apa karena itu kau terlihat murung akhir-akhir ini? sayang lihat aku....apa kau melihatku kecewa hanya karena kau belum hamil? hei....kita masih pengantin baru, aku bahkan belum memikirkan ke arah sana, aku menikmati hubungan kita yang baru terjalin seumur jagung ini, Alea....aku mencintaimu, bukankah kau sendiri yang bilang kita bisa pacaran dulu setelah benar-benar saling membuka diri?"


"Maafkan aku....tapi memang aku iri melihat temanku sudah hamil terlebih bang Arkan bahkan menghamili dua sekaligus, astaga....maksudku Vina juga hamil sekarang" Alea merasa gugup hampir saja ia terlepas ucapan tentang Arkan berhasil menghamili dua wanita sekaligus.


"Hei jangan samakan kita dengan mereka, tingkat keintiman setiap pasangan berbeda, mungkin Tuhan akan memberikan pada waktu yang tepat, seharusnya bersyukur kita diberi waktu untuk mengenal lebih jauh satu sama lain, kenapa tidak kita nikmati saja dulu cinta yang baru hadir dihatimu tiga bulan ini?"


"Iya....kau benar, aku bahkan baru mencintaimu selama tiga bulan, oh...apa aku terlihat bodoh"


"Tidak sayang....aku menyukai istriku yang cerewet dan apa adanya bahkan kau tidak takut menghadapi siapapun, jangan seperti ini lagi aku merasa kau berbeda....."

__ADS_1


Alea menghapus airmatanya, lalu menatap Abrar penuh cinta.


"Huh....kau benar sayang, maafkan aku....aku juga lelah menangis, tapi aku masih kesal berani-beraninya wanita itu bilang mencintaimu dengan jelas di depan mataku" pukul Alea pelan pada dada suaminya, membuat senyum Abrar mengembang.


"Kenapa kau tidak memukulnya saja tadi?" canda Abrar.


"Apa? itu tidak mungkin, aku memang tidak menyukainya tapi tidak akan membunuhnya juga bang Abrar" kesal Alea.


Abrar mengecup bibir istrinya gemas.


"Aku mencintaimu sayang, jangan hiraukan perkataan perempuan tadi, aku milikmu...menikahimu adalah hal yang paling ku inginkan dalam hidupku aku akan terus bersyukur bahwa kau memang ditakdirkan untukku, kau pikir enak memendam cinta selama delapan tahun? itu menyiksa sayang....aku bahkan rela tidak pacaran sekalipun karena tidak ingin perasaanku berubah padamu, aku menjaganya sampai kau sendiri yang jatuh kepelukanku...bukankah itu penantian yang berbuah manis? sama halnya dengan pernikahan kita sekarang, kau akan hamil jika sudah waktunya....percaya itu" tatap Abrar serius lalu ia mendekap kembali istrinya.


Alea mengangguk dengan senyum kembali terukir di bibir manisnya, sungguh ia merasa beruntung mendapatkan suami seperti Abrar.


"Aku juga mencintaimu bang Abrar, jangan lelah dengan sikapku yang sering merepotkanmu, aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi"


Abrar tidak menjawab lagi, ia meraih bibir istrinya berciuman dengan dalam hingga keduanya sama-sama merasakan gairah yang meningkat.


"Apa kau ingin bercinta?" tanya Abrar menggoda.


"Aku menyukai istriku yang seperti ini" jawab Abrar terkekeh.


Alea tidak menjawab lagi langsung saja perempuan itu menautkan lagi bibirnya pada sang suami dengan gerakan menggoda, tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka menyatu kembali dalam keheningan kamar pertanda menikmati malam panjang di ranjang besar nan nyaman.


******


Alea seperti kembali pada jiwanya yang sedia kala, ia tidak memungkiri memiliki Abrar adalah hal yang patut ia syukuri dimana suaminya benar-benar dewasa dalam menyikapi sesuatu, kadang ia merasa malu sendiri bahwa sikapnya sama sekali tidak seimbang dengan Abrar, namun bukankah jodoh adalah saling melengkapi bukan.


Alea dan Abrar kembali ke rutinitas seperti sebelumnya, dimana sang suami masih menyempatkan diri mengantar dan menjemput sang istri di rumah sakit meski kesibukan tetap mengelilingi lelaki ini sebagai pebisnis muda yang sedang berada dipuncaknya.


Alea masih berada di ruangan tempatnya bertugas, ia belum bisa keluar karena masih mendapat pengarahan dari dokter Bayu yang kebetulan datang lebih pagi. Alea sungguh lelah dan mengantuk karena berjaga semalam, ia tidak tahu bahwa suaminya sudah datang menjemput.

__ADS_1


Abrar tengah berbicara di telepon sambil menunggu istrinya keluar dari rumah sakit.



Di lain sisi, Naura dan ibunya baru saja sampai di rumah sakit sambil mendorong kursi roda sang ayah menuju pintu gedung poli klinik rawat jalan bagi para pasien yang datang untuk berobat maupun teraphy.


Naura hendak membeli minuman diseberang jalan, hingga ibu dan ayahnya memilih menunggu gadis itu kembali di depan gedung, di luar dugaan mata pria paruh baya yang tengah terduduk lemah di kursi rodanya tidak sengaja melihat ke arah pria tampan yang masih sibuk berbicara di telepon disamping mobil mewahnya.


Lelaki tua itu seakan ingin mengeluarkan suara namun terasa sulit dan kaku, bahasa tubuhnya pun menegang dan tanpa ia sadari airmatanya mengalir melihat Abrar diseberang sana. Istrinya merasa heran dengan sikap suaminya yang tampak tidak nyaman.


"Mas....kenapa? astaga....kau kenapa? jangan membuatku takut" ucap istrinya cemas ketika menyadari perubahan suaminya.


"Ab...Ab..." hanya itu yang keluar dari bibirnya namun terasa samar di pendengaran istrinya.


Lelaki itu hanya terus menegang dan kian kaku seakan ingin mengatakan sesuatu, ia mulai berkeringat dingin dengan airmata terus mengalir hingga tanpa diduga ia seperti mendapat serangan pada dadanya hingga tubuhnya tersungkur kedepan dan jatuh dari kursi rodanya sebelum tidak sadarkan diri.


Istrinya menangis, ia meminta pertolongan hingga banyak orang yang berada disana mengerumuni kedua orangtua tersebut, Naura kembali dan merasa cemas ketika ayah ibunya di tolong banyak orang, minuman ditangannya terlepas dan segera ia berlari menuju ayahnya.


"Ma....kenapa papa seperti ini?" tanya Naura pada ibunya yang masih menangis.


"Tidak tahu nak...papamu tiba-tiba saja seperti ini dan terjatuh"


Beruntung petugas medis yang berada disana cepat membawa ayah Naura ke ruang IGD yang tidak jauh dari sana.


Abrar melihat sekilas kegaduhan tadi, ia tidak menghiraukan karena itu biasa terjadi di rumah sakit, ia mematikan ponsel ketika melihat istrinya berjalan ke arahnya dari pintu gedung yang berbeda.


"Sayang" panggil Alea yang segera berhambur memeluk suaminya disana.


"Apa kau lapar? aku bisa menemanimu sarapan sebelum pulang"


"Iya...aku lapar dan mengantuk, huh....menyebalkan dokter Bayu datang pagi-pagi sekali jadi tidak bisa menghindarinya" kesal Alea.

__ADS_1


"Sabarlah sayang....." ucap Abrar mengusap rambut istrinya dengan lembut


Mereka pun berlalu dari sana.


__ADS_2