Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 7


__ADS_3

Semua terjadi begitu cepat bagi seorang gadis cantik namun ceroboh akibat ulahnya sendiri, Alea terjebak akan suatu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Kedua keluarga sepakat ingin menikahkan putri sulung Kemal dan Eliana itu secepat mungkin mengingat Alea akan memulai koas dua minggu kedepan.


Betapa pun Alea mencoba ingin menjelaskan pada orangtuanya perihal sandiwara yang ia mainkan, namun terasa sia-sia saja terlebih ia melihat bagaimana raut bahagia sang mama yang menyambut baik rencana pernikahan itu.


Eliana senang bukan main, bagaimana selama ini ia terus mendoakan sang putri agar mendapat jodoh yang baik, perempuan yang sudah mulai berumur ini namun tetap memancarkan kecantikannya terus saja bersyukur ia merasa betapa takdir begitu baik terhadap putrinya yang akan menikah dengan pria santun seperti Abrar.


Alea tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, pun Abrar lelaki ini tidak tahu harus menampakkan ekspresi bahagia seperti apa yang ia rasakan saat ini, bagaimana takdir begitu manis menghampiri untuk menikahi gadis yang menjadi cinta terbesar dalam hidupnya.


Namun ia juga merasa sungkan, ia takut Alea tidak menerimanya setelah pernikahan, maka dari itu Abrar akan menyiapkan hati dan perasaannya jika gadis tersebut akan menolaknya setelah menikah nanti.


******


"Apa???" ucap kedua sahabat Alea yang terkejut mendengar penjelasan dari gadis itu tentang pernikahan dadakan yang ia terjebak didalamnya.


Alea hanya mengangguk polos.


"Astaga Alea....jika seperti ini kenapa kau repot-repot mencari suami diluar sana, kau sungguh beruntung lepas dari pria brengsek seperti Deni sekarang kau malah dapat bang Abrar yang tampan dan baiknya bukan main, 10 Deni mah lewaaaat" jawab Keysa.


"Judulnya jodoh bukan kaleng-kaleng" Nazli menimpali setuju akan perkataan Keysa.


"Kalian kenapa.....aku ini lagi bingung, aku memang menyayangi bang Abrar namun sudah seperti saudara bukan untuk jadi suami juga.....apa yang harus aku lakukaaaaaann" Alea membuat ekspresi wajah yang benar-benar kalut.


"Tidak ada yang harus kau lakukan sayang, kau hanya tinggal menikah dan memakai lingerie seksi dan menari-nari dihadapan suami tampan mu nanti ketika malam pertama" jawab Nazli menggoda Alea dengan mempraktekkan tarian eksotis.


Keysa dan Nazli kompak tertawa sampai terpingkal-pingkal.

__ADS_1


"Kalian benar-benar jahat, mana bisa aku melakukannya, aku tidak mencintainya....aku menganggap bang Abrar kakakku" cebik Alea.


"Tidak ada istilah kakak beradik jika bukan sedarah sayangku.....saudara lelakimu itu hanya Dannis dan Baim, kau ini sungguh bodoh" Keysa mencubit gemas pipi Alea.


"Bukankah kau memang sedang mencari suami yang katamu di atas standar Deni, kau bahkan masuk akun biro jodoh, namun ternyata jodohmu hanya berjarak sejengkal saja...Alea Alea kau sungguh beruntung" kembali Keysa salut akan takdir gadis itu.


"Apa yang harus ku lakukaaaaaaan" pekik Alea frustasi.


"Kau ini bodoh atau apa, kau memang lagi cari suami bukan? karena tidak mau kalah dari kami, sekarang kau mendapatkannya Alea"


Kesal Nazli.


"Iya....maksudku bukan bang Abrar juga" Alea masih saja ingin menyangkal.


"Ikuti saja alur takdirmu" jawab Keysa.


Nazli mengangguk setuju.


"Ha ha....kalian pintar juga, baiklah.....terserah apa yang terjadi nanti setelah menikah, yang pasti sekarang aku akan terbebas dari rasa malu ditinggalkan lelaki jahat itu" Alea dengan cepat pula melupakan kegalauannya hanya karena kembali menggebu untuk memanasi mantan kekasihnya itu.


Kedua sahabat Alea hanya bisa geleng kepala, bagaimana Alea yang awalnya galau namun berujung tetap pada obsesi pertamanya yaitu tidak mau kalah dalam menikah dan sekarang siap untuk memanasi Deni.


Sungguh kekanakkan Alea, ia sama sekali tidak bisa dewasa dalam menyikapi sesuatu. Ia hanya mengikuti pikiran konyol dan obsesi sesaatnya saja.


*****


Alea datang ke kantor Abrar, masuk tanpa permisi dan langsung memeluk lelaki itu, iya meski tidak menginginkan pernikahan itu namun sikap Alea masih tidak berubah pada Abrar, ia masih manja seperti biasa tidak canggung sama sekali.

__ADS_1


Alea masih menganggap Abrar seperti biasanya bukan sebagai calon suami, gadis ini tidak berubah namun tentu akan berbeda yang dirasakan oleh Abrar, yang dulunya ia menerima perlakuan Alea semanja itu karena terbiasa sejak kecil, namun sekarang tentu itu akan berbeda dengan status mereka sebagai calon pengantin.


Abrar tidak terkejut lagi dengan Alea yang sering datang mendadak tanpa permisi langsung berhambur memeluknya meski ia sedang ada tamu sekalipun.


Seperti sekarang, Alea masuk ke ruangan Abrar dan memeluknya di hadapan klien yang masih menjadi tamu disana.


Abrar berusaha menetralisir perasaannya ketika Alea terus saja bersikap seenaknya saja seperti ini.


"Bang....ayo hentikan pekerjaanmu, aku ingin bicara sesuatu" tatap Alea dengan wajah imut nan manja menggoda perasaan lelaki yang kian berdegup kencang itu.


"Alea kau tidak lihat abang masih ada tamu"


Alea melirik dua tamu perempuan dan lelaki disana, Alea melepas pelukan dan beralih pada kedua orang tersebut.


"Selamat siang paman dan bibi, maaf aku mengganggu" ucap Alea sopan, ia malu sendiri.


Kedua orang tersebut hanya bisa tersenyum.


"Tuan Abrar siapa gadis cantik ini?" tanya nonya muda itu.


"Kenalkan aku adiknya Abrar" jawab Alea.


Abrar melirik Alea dengan perasaan kecewa, Alea mengaku adiknya bukan sebagai calon istri.


"O.....aku kira dia kekasihmu tuan Abrar, maaf aku salah sangka kalian lebih mirip sepasang kekasih daripada kakak beradik" jawab nonya itu lagi.


Alea mengusap lehernya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Bang....aku menunggu disana saja" Alea menunjuk sofa tamu yang berada di ruangan Abrar.


Lelaki itu mengangguk lagi.


__ADS_2