Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Ceroboh


__ADS_3

...Selamat membaca 🌸...


...🌸🌸🌸...


"Coba tebak,,,," pinta Dion.


"Mmm pasti kliennya klepek klepek kan?? Proyeknya pasti om papa dapatkan kan??" tebak Karin.


"Mamanya baby D emang paling pinter nebak." Dion mengiyakan tebakan istrinya.


Mereka tengah membahas hasil dari meeting dengan klien baru Dion di Singapura. Dion tidak sabar ingin berbagi kesenangan itu dengan Karin. Seperti yang selalu dilakukannya tiap kali menang tender.


"Ok tapi kali ini jangan ngobrol lama lama. Ingat om papa lagi nyetir sendiri loh. Matikan saja video callnya ya. Nanti kan bisa sampai hotel kita lanjut lagi." kata Karin.


"Baiklah nyonya. Hambamu ini menurut saja. Sampaikan salamku pada baby D. Katakan padanya,,, Papa akan segera pulang."


"Hati hati papa,,," Karin membuat suaranya seakan seperti anak kecil yang mengiyakan perkataanya ayahnya.


Dion tertawa lalu menutup sambungan teleponnya. Niat hati meletakkan ponsel itu di kursi sampingnya batal karena tiba tiba mobil di depannya mengerem mendadak.


Ckkiiitttt,,,,


"Huh,,, hampir saja." gumamnya sambil elus dada karena gerakan refleknya mengerem lumayan bagus hingga ia tak sampai menabrak mobil di depannya.


Sepertinya mobil itu mengalami kerusakan hingga membuat pengemudinya terpaksa menghentikan mobilnya. Dion tak ambil pusing dan keluar dari jalurnya kembali ke jalanan negara bagian Asia tenggara itu.


Kota itu tak banyak perubahan. Dion masih mengenali beberapa gedung pencakar langitnya. Masih sama persis dengan terakhir kali ia mengunjungi negara itu.


Dion menambah kecepatannya. Mobil yang disediakan oleh orang orangnya ini terbilang baru. Mesin masih halus dan kecepatannya juga mumpuni. Ditambah lagi jalanan halus yang hampir tidak pernah dilanda kemacetan membuat mobil itu bergerak mulus tanpa hambatan.


Drrreeettt,,,, Dreeeetttt,,, getaran ponselnya mengganggu konsentrasinya. Tangan Dion menggapai gapai ponselnya tapi sialnya begitu ia memegangnya malah ponselnya terjatuh ke bawah,,, di dekat kakinya.


Dion sempat melihat nama penelponnya. Itu adalah telepon dari salah satu klien pentingnya. Klien yang satu ini paling jarang cerewet dan merepotkannya. Kalau sampai ia menelpon itu berarti ada yang sangat penting.


Dion menunduk untuk memastikan letak ponselnya agar ia lebih bisa mengarahkan tangannya. Tapi sayangnya gerakannya itu membuat mobilnya keluar dari jalur yang semestinya dan malah masuk ke jalur lawan.

__ADS_1


Ttttiiiiiinnnnnnnnn,,,,,,,Brrrruuuaaakkkkk,,,,


Tabrakan pun tak terhindarkan. Mobil Dion beradu jangkrik dengan mobil lain yang berlawanan arah dengannya. Mobil itu terlalu kencang dan terkejut begitu mobil Dion keluar jalur. Jarak yang terlalu dekat dan kecepatan yang tinggi tak memungkinkan bagi pengemudinya menghindar.


Dion melihat samar samar pengguna jalan lainnya menghampiri untuk memberikan pertolongan pada korban kecelakaan termasuk dirinya. Dion merasakan tubuhnya menjadi ringan saat pintu mobilnya berhasil dibuka.


Dion pasrah saat orang orang menggotongnya keluar dari mobil. Ia hanya sempat melihat seorang wanita yang tampaknya adalah penumpang mobil lawan tabrakannya itu menangisi seorang anak yang sudah berlumuran darah di bagian kepala dan wajahnya.


Mungkinkah anak itu juga penumpang mobil itu?? Mungkinkah tubuh terkapar satunya di samping wanita itu adalah suami dari wanita itu?? Ia juga tampak luka parah dan tak bergerak.


Meninggalkah ia??


Hati Dion terasa pilu melihat wanita itu mengguncang guncang tubuh anak dan pria itu. Tangisannya begitu menyedihkan dan menyayat hati dan itu membuat Dion yakin anak itu adalah putra wanita itu dan pria itu adalah suaminya.


"Ya tuhan,,,ini semua salahku. Aku yang tidak berhati hati mengendarai mobilku." batin Dion mulai merasa bersalah.


Perasaan bersalah itu makin besar kala wanita itu menoleh padanya. Ia kenal dengan baik wajah cantik dipenuhi airmata itu. Meski pandangannya mulai kabur tapi ia masih ingat jelas wajah itu.


Wajah yang hampir tak pernah ia lupakan dan masih tetap membuatnya mendoakan agar pemilik wajah itu senantiasa dilimpahi kebahagiaan.


...🌹🌹🌹...


"Hana,,, Hana,,,," Dion memanggil manggil nama itu.


"Om papa,,,,Om papa sudah sadar?? Karin panggilkan dokter dulu ya.


"Hana,,,,!! Mana Hana?? Bagaimana keadaannya??" Dion terus saja memanggil nama itu.


Sepertinya rasa bersalahnya sangat tinggi pada wanita itu meski ia belum tau persis apa hubungannya Hana dengan para korban kecelakaan yang menimpa mereka. Dion hanya bisa merasakan bahwa yang ditangisi oleh Hana kala itu tentu orang orang terdekatnya.


"Bawa aku menemui Hana!!!" teriak Dion pada Karin.


Karin tersentak. Ini pertama kalinya Dion meneriakinya apalagi kali ini karena wanita lain. Hati Karin sakit tapi ia mencoba bersabar.


"Sabar om papa. Om papa masih lemah."

__ADS_1


"Lepaskan!! Antar aku menemui Hana. Aku ingin tau keadaannya." Dion menepis tangan Karin.


"Dion!!! Jangan keterlaluan!! Sadar,,,, Ini istri kamu." papa Hengki muncul dari balik pintu dan langsung membentak putranya saat melihat ia sempat bertindak kasar pada istrinya.


Dion tersentak dengan ucapan itu. Dilihatnya baik baik wanita hamil yang tengah mengusap usap tangannya yang tadi sempat membentur dinding ketika dihempaskan oleh Dion.


"Sayang,,, Maafin om papa. Kamu terluka??" Dion baru menyadari semuanya.


Karin menggeleng tapi airmatanya tak bisa dibendung lagi. Terus bercucuran mewakili kesedihan hatinya mendapati suami yang sudah tak sadarkan diri berharo hari tapi begitu sadar malah nama wanita lain yang disebutnya.


Dion merasa bersalah melihat airmata itu. Ia telah menyakiti wanita yang sudah membuatnya berjanji tak akan membuatnya menangis. Hari ini tangis itu membuktikan bahwa janjinya itu hanya sekedar kata saja.


"Maafkan om papa sayang. Om papa gak sengaja. Om papa hanya cemas dengan keadaan Hana karena kecelakaan itu murni akibat kesalahan dan kelalaian om papa. Apa kamu tau bagaimana keadaannya saat ini?? Apa ia ada di rumah sakit ini juga??"


Dion terus memberi pertanyaan bertubi tubi tanpa mencoba memahami apa yang dirasakan oleh istrinya saat ini.


"Dia sudah diperbolehkan pulang hari itu juga." bidadari kecil itu menjawab dengan lembut meski merasakan sayapnya tengah terluka dengan pertanyaan bernada cemas suaminya untuk wanita lain.


"Apa dia terluka??"


"Hanya luka gores saja karenanya dokter tidak memintanya menginap."


"Lalu suaminya?? Anaknya?? Bagaimana keadaan mereka?? Apa sudah boleh pulang juga??"


Karin tertunduk. Begitu pula papa Hengki dan mama Herna yang diam membisu. Dion penasaran.


"Ma,,, Jawab Dion ma!! Pa,,,!! Bryan dan anak Hana bagaimana pa???"


"Meninggal. Mereka semua meninggal Dion." papa Hengki terpaksa mengatakan semuanya.


Dion merasakan tubuhnya kembali terasa ringan dan pandangannya gelap. Dion tak sadarkan diri lagi.


...🌸🌸🌸...


Dukung author dengan vote, like dan komen ya 🌹🌸❤️

__ADS_1


__ADS_2