
...Hai,,, Selamat membaca ya π€ Maafkan typo yang bertebaran π€π...
...πΈπΈπΈ...
"Are you ok??" Dion memegang kedua bahu Karin yang tengah duduk membersihkan sisa make up di depan meja riasnya.
"Yah,," Karin tersenyum tipis dan mengangguk. Matanya hanya menatap wajah suaminya lewat pantulan cermin.
"Jangan diambil hati ya ucapan mama tadi sayang. Mama gak bermaksud apa apa."
"I know. Mama hanya khawatir dengan keadaanku dan bayi kita. Karin paham itu. Karin gak apa apa om papa,,, Beneran." Karin mengusap usap punggung tangan Dion yang masih melekat di bahunya.
"Jangan khawatir. Selama masih ada om papa,,, Apa pun keinginanmu akan om papa penuhi. Kamu ingin ketemu papa Adi kan?? Kita akan kesana. Don't worry about mama."
"Tapi om papa,,, Mama,,," sela Karin.
"Mama akan mengerti nantinya. Karena buat om papa,,, Saat ini kebahagiaanmu yang paling penting. Bumil cantikku ini gak boleh sampai ada satu pun keinginannya yang gak terpenuhi. Om papa gak mau nanti anak kita jadi suka ngiler loh,,," Dion menjentik hidung Karin.
Mau tidak mau ucapan Dion itu pun membuat Karin tertawa. Membayangkan jika benar nanti anak mereka jadi suka ngiler karena keinginannya tidak terpenuhi itu saja cukup membuatnya tertawa dan lupa sesaat akan ucapan mama Herna tadi.
"Terima kasih om papa." ucap Karin kemudian dengan pandangan penuh cintanya meski tetap hanya tersalurkan lewat pantulan cermin.
"Jangan bilang terima kasih karena semua ucapan terima kasih itu hanya milikmu sayang. Om papa,,, Mama,,, dan papa lah yang harus sering mengucapkan kata itu padamu. Bidadari kecilku,,, bidadari surgaku,,,"
Sebuah kecupan lembut dirasakan Karin di puncak kepalanya. Kecupan itu perlahan turun ke telinga. Kecupan yang semula terasa hangat itu kini makin membakar gelora dan gairah karena tangan Dion yang lihai itu tau tau sudah membuka kerudungnya dan bibirnya sudah bergerilya menuruni leher jenjang Karin.
Dion memutar tubuh Karin agar menghadap dirinya. Lalu Mengecupi setiap inci kelembutan kulit Karin,,, makin turun dan turun hingga kini berada di perut datar Karin.
"Halo my baby D,,," bisik Dion lembut.
"Halo papa D,,," jawab Karin seakan mewakili bayinya.
Dion tersenyum lalu melanjutkan aktifitas liarnya tadi hingga keduanya sama sama mencapai puncak kenikmatan. Karin segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aaawww" Karin meringis saat merasakan nyeri kram di perut bawahnya.
Makin dibawa bergerak perutnya pun semakin terasa kram. Karin tidak bisa memaksakan diri untuk segera keluar karena perutnya makin sakit setiap ia berusaha makin keras melawan nyerinya.
Akhirnya Karin menyerah,, Memilih duduk di tepi bath up dan mengambil nafas. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Serasa mau pingsan.
__ADS_1
"Om,,,Pa,,,Pa,,," lirihnya memanggil Dion dan berharap suaminya itu bisa mendengarnya.
Tak ada jawaban. Karena Dion yang sudah terlebih dulu membersihkan diri nyatanya telah berpindah ke kamar sebelah yang merupakan ruang kerjanya.
Karin meringis sekali lagi. Sakit,,, sakit sekali perut bawahnya. Karin mencoba berpikir apakah itu karena kegiatan intimnya barusan?? Tapi ia yakin Dion melakukannya dengan sangat hati hati tadi. Tidak seganas biasanya karena Dion juga gak mau menyakiti baby D.
Tapi kenapa ini sakit sekali??
Karin mencoba berdiri lagi saat nyeri itu perlahan berkurang. Selangkah,,, dua langkah menuju ke pintu,,, Karin kembali merasakan nyeri yang lebih hebat lagi dan Karin tak sanggup lagi menahannya.
Pintu terbuka namun Karin ambruk.
Hampir 40 menit berlalu,,,
"Kok Karin gak nyusul ya?? Lagi apa bumilku itu??" batin Dion curiga karena tidak biasanya Karin membiarkannya sendirian berlama lama di ruang kerjanya.
"Rinaaaa,,, Dion,,, Ayo makan siang bareng bareng. Mumpung Dion libur kan,,," suara mama Herna terdengar memanggil dari bawah.
"Iya maaaa,,," teriak Dion langsung meninggalkan kursi kerjanya dan hendak turun.
Tapi langkahnya terhenti saat baru setengah menuruni tangga.
"Sayang,,," Dion heran saat membuka pintu kamar karena tak melihat keberadaan Karin.
"Kamu di mana sayang??" Dion terus mengedarkan pandangan menyapu kamar luasnya itu.
"Di toilet kali ya." pikirnya.
Dion menuju ke toilet yang memang pintunya tidak terlihat jika dia berdiri di pintu kamar.
"Astaga,,,Sayang,,," pekik Dion melihat Karin sudah telungkup di lantai kamar mandi.
"Sayang,,, Karin,,, buka mata sayang,,," Dion panik sambil menepuk nepuk pipi istrinya.
Karin masih terpejam dan lemas. Dengan sigapnya Dion langsung menggendong istrinya dan turun tangga.
"Loh loh,,Ada apa ini??? Rina kenapa Dion???" mama Herna yang sedang menata piring tergopoh gopoh dan panik melihat Dion dengan panik menggendong Karin.
"Ke rumah sakit ma."
__ADS_1
"Hah,,, ini kenapa lagi sih?? Baru juga datang dari dokter." mama Herna bingung.
"Papaaaaa,,, Buruan ke rumah sakit. Rina pingsan nih,,," teriak mama Herna.
"Yaaaa,,,," papa Hengki gak banyak tanya dan segera menyusul keluar.
Dion mengemudi dengan kecepatan di atas rata rata saking gak ingin terlambat dan terjadi hal buruk pada istri dan calon anaknya. Untungnya jalanan sepi siang itu.
"Ini kenapa sih Dion kok bisa begini?? Tadi baik baik aja." mama Herna penasaran.
Dion tidak menjawab dan hanya tetap bergantian menginjak gas dan rem.
"Udah ma tanyanya nanti aja. Jangan ganggu konsentrasi Dion nyetir dulu." papa Hengki menyarankan.
Mama Herna mengangguk dan mengelap keringat dingin di dahi Karin. Dion memang meletakkan Karin di kursi belakang agar mama dan papanya bisa terus memantau keadaannya selama ia menyetir.
Sampai di rumah sakit,, petugas IGD dengan sigap menyambut dan mengambil tindakan yang diperlukan. Dion mondar mandir di depan pintu IGD.
"Dion,,, duduk nak. Berdoa,,," panggil papa Hengki.
Dion mengangguk dan menurut. Dion duduk dan tarik nafas. Mulai menenangkan diri dan berdoa untuk keselamatan istri dan bayinya. Benar juga kata papanya karena mondar mandir begitu tidak membuatnya merasa tenang dan yang ada makin panik dan gelisah.
Ada rasa bersalah terselip dalam dadanya.
"Sejak kapan kamu pingsan sayang?? Terlambatkah aku menyelamatkanmu?? Bodoh,,, bodoh kamu Dion!! Kenapa sih musti ngurusin kerjaan?? Kenapa sih gak diam di kamar saja tadi??? Ngurus istri aja kamu gak becus Dion!! Gak belajar belajar juga kamu dari pernikahanmu terdahulu???"
Dion mengutuki dirinya sendiri. Dion kecewa pada dirinya sendiri dan merasa gagal menjaga istrinya.
"Suami nyonya Karin???"
Akhirnya suara yang dinantikan terdengar juga. Setelah hampir sejam menunggu.
"Saya dok,,," dengan sigap Dion maju.
...πΈπΈπΈ...
...Tim Karin mana nih?? π€· Sudah pada ikutan Dion berdoa belum?? π§...
Dukung author dengan vote, like dan komen ya πΈπΉβ€οΈ
__ADS_1