
"Siapa nama mu nak?", tanya mama El menatap Nara.
"Namanya Nara, dia temanku ma", jawab Sheira.
"Sheira mama tidak bertanya padamu", El melirik putrinya yang duduk di samping Nara.
Sheira hanya menyengir saja, membuat Alea membesarkan mata memberi isyarat agar adik gadisnya itu untuk diam dan tidak ikut campur.
Nara memberanikan diri menatap mata perempuan paruh baya yang masih terlihat muda dan cantik itu.
"Namaku Khinara nyonya", jawab Nara pelan.
Melihat ibunda dari Dannis bertanya dengan nada lembut membuat Nesya sedikit tidak nyaman berada di sana, gadis ini sudah tidak tahan dan berniat pergi dari sana.
"Maaf bibi, aku lupa jika ada urusan lain, aku akan pamit pulang duluan, ini masalah keluarga tidak baik pula aku ingin ikut campur", ucap Nesya pada mama El.
Eliana tentu mengangguk, namun ia merasa kasihan dan mengerti perasaan Nesya terlebih ia tahu gadis itu berharap banyak jika bisa membuka hati putranya, namun sekarang terasa sulit setelah melihat kenyataan bahwa Dannis telah memiliki wanita lain yang bahkan hampir melakukan hal yang terlalu jauh.
Dannis hanya diam menatap punggung gadis yang mirip dengan mendiang tunangannya.
Alea menggenggam tangan Nesya seakan memberi semangat.
"Kau bahkan tidak mengatakan apapun padaku Dannis, kenapa kau tidak menyusulku dan menjelaskan bahwa apa yang terlihat tadi itu bukan apa-apa, itu hanya nafsu belaka, aku harap kau tidak benar-benar menyukainya, bukankah tempo hari kau bilang gadis itu tidak penting, dia hanya bawahanmu saja bukan?", gumam Nesya dengan suara tangis yang ia tahan.
Gadis itu menghentikan langkah dan menoleh ke ruangan Dannis, namun tidak ada tanda-tanda bahwa pria itu akan menyusulnya.
Sungguh sakit perasaan perempuan yang telah menaruh hati pada Dannis sejak sekolah dulu, ia harus menerima ketika pria itu lebih memilih adiknya Naya, setelah Naya tiada ia berharap bisa menarik perhatian Dannis namun apa yang terjadi sungguh jauh dari akal sehatnya saat ini betapa tidak ternyata pria itu sedang bermesraan dengan gadis rendahan pada saat ingin memberi kejutan ulang tahunnya.
*****
Dannis menatap Nara kesal.
"Jangan panggil nyonya, aku bukan majikanmu.... kau bisa memanggil bibi saja Khinara".
Nara mengangguk polos namun segera ia menunduk ketika melirik Dannis yang duduk di hadapannya.
"Boleh bibi tahu kau berasal darimana? oh maksudku kau berasal dari daerah atau dalam kota?".
"Aku, aku berasal dari desa x. Aku merantau ke kota bibi untuk bekerja", jawab Nara polos.
__ADS_1
Membuat Dannis muak, namun ia tidak bisa berkutik jika berhadapan dengan mamanya.
"Oh benarkah? kau tahu nak bibi juga berasal dari daerah yang sama namun desa kita berbeda".
Nara hanya mengangguk saja dengan canggung.
"Jelaskan pada bibi nak, sejak kapan kau mengenal putraku? maksud bibi dari mana hubungan kalian bermula?".
"Mama ayolah, kami tidak memiliki hubungan apapun".
"Dannis, mama juga tidak sedang bertanya padamu jadi diamlah biarkan Khinara yang menjelaskan pada mama apa yang terjadi diantara kalian".
"Dasar lelaki, mau enaknya saja. Kau sudah tidak bisa mengelak sekarang saudara ku, aku rasa ini alasanmu tidak menerima Nesya yang berharap lebih pada mu rupanya kau sudah punya gadis lain yang bahkan menyaingi kecantikanku", sela Alea tersenyum sungging menggoda saudara kembarnya.
Sheira yang mendengarnya berlagak ingin muntah seraya mengejek kakak perempuannya yang tengah mengandung anak keempat itu.
"Diam kau, jangan ikut campur.....", bentak Dannis kesal.
"Kenapa marah padaku? salah kau juga kenapa ingin bercinta di kantor disiang bolong seperti ini, seperti tidak ada tempat lain saja, ketahuan jadi malu bukan?", celetuk Alea lagi, membuat Sheira menutup mulutnya ingin tertawa namun ia tahan ketika melirik mamanya.
Sedang Nara hanya diam kebingungan oleh pembicaraan adik beradik itu.
"Mama, aku mohon percaya padaku perempuan ini bukan siapa-siapa ku.... dia hanya.....", ucapan Dannis menggantung ketika mendapat tatapan tajam mamanya.
Pria itu hanya bisa menghembus napas kasar.
"Ayo Khinara jawab pertanyaan bibi, sejak kapan kalian mulai berhubungan?", tanya El tanpa basa basi lagi.
"Di hotel bi", jawab Nara polos.
Jawaban itu membuat El kembali terbatuk-batuk dibuatnya, sungguh perempuan yang mempunyai enam orang anak itu tidak menyangka putranya melakukan hal sejauh itu sejak kehilangan Naya. Ia takut bahwa gadis itu hanya pelampiasan putranya saja sebagai permainan agar bisa melupakan Naya, sungguh Eliana tidak ingin itu terjadi.
Dannis menepuk keningnya sendiri, Alea pun hanya bisa ternganga menatap Dannis dan Nara secara bergantian, tidak berbeda dengan Sheira gadis ini sungguh tidak menyangka bahwa teman barunya itu adalah kekasih kakaknya sendiri.
"Nara? apa benar yang kau katakan ini? kau dan kak Dannis di hotel?", tanya Sheira pada Nara.
Nara hanya mengangguk saja.
"Kalian salah paham, bukan itu maksudnya ma, hei ayo jelaskan bahwa kau yang masuk....", tunjuk pria itu pada Nara, namum kembali Dannis terdiam saat mamanya menyela.
__ADS_1
"Kenapa Dannis? kenapa kau terkesan menghindar dan tidak mengakui? aku tidak pernah mengajarkanmu untuk tidak bertanggung jawab, tidak melulu wanita yang harus kau salahkan dalam hal ini, bukankah hubungan itu terjadi diantara kalian berdua?", bentak mama El dengan mata mulai berair.
Nara hanya diam, ia kembali bingung dibuat keadaan di hadapannya.
"Hubungan apa? aku tidak punya hubungan dengan siapapun ma, ayolah beri kesempatan aku menjelaskannya, kalian sudah salah paham".
"Kau menyakiti mama Dannis, apa kau ingin bilang bahwa gadis ini hanya mainan mu saja?", ucap mama El dengan berurai airmata.
"Maafkan aku ma, bukan itu maksudku..... ayolah percaya padaku", Dannis bicara pelan menggenggam tangan mamanya.
Alea dan Sheira hanya bisa diam dengan suasana yang semakin tegang. Pun Khinara gadis ini benar-benar bingung atas apa yang terjadi.
"Mama tidak akan memaafkanmu, tidak sampai kau menikahi gadis ini, ayo bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan, kau tahu entah ini takdir atau karma, kau sama persis seperti papamu. Mama tidak ingin kau menyesal nanti, kau masih punya dua adik perempuan Dannis".
Ucap mama El panjang lebar.
"Apa? menikah?", Dannis tersentak akan kalimat itu.
Nara mengerjapkan mata, menajamkan pendengaran atas apa yang baru saja dikatakan oleh perempuan paruh baya itu.
"Ayo Khinara, pulang bersama bibi.... kita atur waktu untuk bertemu orang tuamu, maaf hanya ini yang bisa bibi lakukan untuk menyelamatkan harga dirimu, maafkan putraku", ajak Eliana pada Nara yang diam mematung.
"Mama....", Dannis masih tidak percaya atas apa yang mamanya katakan.
"Fokus lah bekerja, biar mama yang urus semuanya", jawab mama El singkat, segera ia menarik tangan gadis yang ia anggap sebagai calon menantunya itu.
Sheira hanya geleng kepala terheran sendiri.
"Apa ini yang dinamakan jodoh di tangan Tuhan, baru tiga bulan kehilangan kak Naya sekarang sudah dapat ganti secepat ini, kakakku memang hebat", gumam Sheira tersenyum sendiri menatap Dannis penuh arti.
Nara hanya menurut saja, ia mengikuti langkah mama Eliana keluar ruangan.
"Aku turut bahagia Dannis, akhirnya kau akan menikah juga meski dengan wanita yang berbeda, aku tidak akan berkomentar banyak tentang apa yang kau lakukan di hotel dengan gadis itu"
"Padahal aku mengira kau akan membujang dalam waktu yang lama tapi apa? ini baru juga tiga bulan, huh..... lelaki ya tetap lelaki bukan? aku mengerti Dannis, kau butuh kasih sayang aku rasa gadis itu tepat untukmu, dia cantik dan lembut kau sangat pandai memilih wanita saudara kembarku", goda Alea menepuk pundak Dannis tiga kali sebelum meninggalkan pria itu.
Dannis hanya mengusap wajahnya kasar, karena kesal ia menendang meja di hadapannya.
"Menikah? dengan gadis bodoh itu?huh.... apa dosa ku Tuhan...."
__ADS_1