Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Penyesalan


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Kenapa diam disitu saja Dion." tegur Hana yang melihat Dion hanya berdiri termenung di ambang pintu.


Kelumpuhan Hana memang bersifat permanen menurut dokter. Tapi beruntungnya ia tidak mengalami kelumpuhan total melainkan hanya kedua kakinya saja. Karenanya ia masih bisa melihat ke arah pintu.


"Sini. Mendekatlah. Ada yang mau aku bicarakan. Itu pun kalau kamu masih bersedia menganggapku ini manusia juga." lanjutnya.


"Mbak,, kok gitu sih ngomongnya?" protes Karin lembut.


"Aku merasa aku sudah banyak mengecewakan Dion Rin,,, siapa tau kan dia sudah gak anggap aku ini manusia lagi saking jahatnya sama dia." Hana tersenyum lemah.


"Aku memang marah dan kecewa padamu Han. Tapi aku sama sekali tak pernah berpikir demikian. Katakan,,, apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Mumpung ada Karin juga, biar dia juga dengar semuanya." kata Dion sambil berjalan mendekat lalu sesampainya di sebelah kursi tempat Karin duduk, ia mengusap puncak kepala Karin dengan lembut.


"Maafkan aku Dion. Untuk semuanya. Yang sudah gak terhitung lagi saking banyaknya. Semua kekecewaanmu,,,kemarahanmu padaku,,, pokoknya semuanya. Aku minta maaf,,, Aku khilaf. Aku baru sadar bahwa aku ini hanya tidak bisa menerima takdir yang sudah ditetapkan untukku hingga akhirnya teguran dari Tuhan pun datang. Semoga kelumpuhanku ini menjadi pengurang dosa dosaku."


Hana mengucapkannya dengan sangat tulus dan baik Dion maupun Karin pun bisa merasakannya.


"Aku sudah memaafkanmu begitu bidadariku ini juga memaafkanmu. Tapi meski begitu, kamu tau bagaimana aku. Aku tetap tidak bisa membiarkanmu lepas begitu saja. Itu bukan jiwaku. Kamu harus tetap bertanggung jawab untuk semua yang sudah kamu lakukan dalam bisnisku." ucap Dion tegas.


Namun meski tegas, tidak ada nada kemarahan didalamnya karena memang ia sudah memaafkan Hana hanya saja tidak bisa mengingkari apa yang sudah jadi prinsipnya dalam berbisnis.


"Apa tidak bisa ditawar lagi om papa? Bebaskan saja mbak Hana dari semua tuntutan om papa. Demi Karin. Please,,," Karin menangkupkan sepuluh jarinya di depan Dion.


Dion tersenyum menatap sang bidadari tak bersayap. Sekali lagi ia kagum terbuat dari apa hati wanitanya itu. Ia juga bersyukur dan bangga karena ia yang dipilih oleh Rabbnya sebagai suami bidadari itu.

__ADS_1


"Sayangnya om papa,,, Manjanya om papa,,, Kamu dan bisnis itu adalah dua hal berbeda yang tidak bisa om papa campur adukkan urusannya. Bisnis ya bisnis,,, kamu ya kamu. Demi kamu, om papa rela daj ikhlas memaafkan Hana meski secara tidak langsung ia sudah andil membuat kita terpisah selama ini.Tapi dalam urusan bisnis,,, om papa tidak bisa mengabulkan permintaanmu itu karena mengertilah,,, ini adalah prinsip kerja."


Dion mengatakannya sembari mengusap kepala sang istri yang tatapan matanya begitu penuh harap. Sungguh Dion gemas sebenarnya melihatnya. Ingin rasanya segera ia terkam wanita itu dan melahapnya sampai habis namun masih banyak urusan yang harus diselesaikannya terlebih dulu.


"Tidak apa apa Rin. Apa yang dikatakan Dion itu benar. Aku memang harus bertanggung jawab." kata Hana kemudian.


"Tapi mbak,,," Karin menggenggam tangan Hana dengan perasaan tidak tega.


"Tidak apa apa. Aku yakin di sana ada yang mengurus untuk narapidana cacat sepertiku ini." Hana tersenyum getir.


Membayangkan harus menjalani hukuman dibalik jeruji besi dan dengan kelumpuhannya ini membuat ia gentar namun ia sudah bertekad untuk bertanggung jawab apa pun resikonya. Ia hanya berpasrah diri kepada Rabb nya. Ia yakin,,, Rabbnya pasti tidak akan memberinya cobaan yang diluar kemampuannya.


"Maafkan Karin ya mbak. Karin tidak bisa menolong mbak." ucap Karin lesu.


"Kamu cukup memaafkan aku saja Rin. Hiduplah dengan bahagia bersama Dion. Jika kalian bahagia maka aku akan merasa senang dan lega." ucap Hana.


Tuntutan dalam jumlah besar baik dari pihak Dion maupun Levi tidak bisa Hana bayar semua karenanya mau tidak mau ia harus mendekam di penjara.


"Sayang,,, kita keluar yuk. Biarkan Hana istirahat dulu. Kita juga harus jaga mama kan?" ajak Dion demi kenyamanan Hana juga yang masih dalam masa recovery.


"Iya om papa." Karin mengangguk lalu menghapus sisa lelehan airmata yang sedari tadi tumpah untuk Hana.


"Mbak,, aku tinggal dulu ya. Mbak Hana cepat sembuh. Kalau butuh apa apa, jangan sungkan sungkan bilang sama Karin ya mbak."


"Jangan terlalu baik padaku Rin. Kamu membuatku malu." Kata Hana.


"Tidak perlu merasa begitu."

__ADS_1


Karin tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan merapikan selimut Hana. Memastikan tidak ada celah dinginnya ruangan ini bisa menusuk tulang tulang Hana sebelum meninggalkannya sendirian di ruangan ini.


Begitu tulus dan hangat,,,


Namun senyuman hangat dan semua ketulusan Karin itu justru melukis sedikit imbas nyeri di hati Hana yang makin merasa malu akibat perbuatannya sendiri selama ini. Ia malu telah menganggap wanita kecil itulah yang jahat padahal dirinya sendiri yang hatinya gelap. Hana malu pada diri sendiri yang tidak merelakan bahkan malah sudah berusaha jadi duri dalam rumah tangga wanita kecil itu.


Lalu yang terakhir,,, ia bahkan telah merenggut keperjakaan dari pria yang berusaha keras mendapatkan wanita kecil itu. Itu pun ia lakukan karena ia tak rela wanita kecil itu mendapatkan pria seperti Yusuf. Ia ingin menjebak pria yang begitu semangat ingin menikahi Karin dengan dalih kehamilan rencananya.


Tapi teguran Tuhan sudah menghampirinya terlebih dulu.


"Ya Tuhan,,, Jahatnya aku. Hinanya aku. Bahkan aku sampai tidak bisa jaga kehormatanku sendiri akibat rasa iri dan dengkiku pada wanita yang bahkan secuil pun tak punya dendam atau kemarahan pada hamba." batinnya pun menangis.


Dalam dekapan malam dan selimut itu ia menangisi dan menyesali semua perbuatannya. Dalam pelukan dosa yang mungkinkah masih akan bisa diringankan?


Kebekuan dan perasaan yang sama pun tengah dirasakan pria yang terbaring dengan tangan terborgol.


"Rin,,, maafkan aku."


Hanya bisa bicara lirih sendiri begitu menyesali semua pengkhianatannya terhadap pertemanan yang ia bangun sendiri sedari dulu. Kini persahabatan itu telah cacat.


Kehilangan Karin pun sudah pasti. Yusuf tak akan pernah bisa melihat wajah ramah nan selalu membuat pucuk pucuk cinta di hatinya bermekaran. Kini cinta itu pun dipastikan bertepuk sebelah tangan. Tidak akan ada yang namanya pernikahan.


Tidak akan ada yang bisa mengubah nama Karin menjadi nyonya Yusuf.


"Bang D,,, maafkan aku. Aku tidak pernah berniat begini awalnya. Aku tulus membantumu tapi rupanya hatiku kalah dengan obsesiku pada istrimu."


Yusuf makin tenggelam dalam penyesalannya.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2