Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 61


__ADS_3

Nara menjadi canggung setelah adegan kissing yang baru saja Dannis dilakukan padanya, ia menjadi luluh seketika hingga tidak menolak saat pria itu kembali menarik tangannya pelan menuju mobil.


Sungguh merah pipi gadis yang sedang menahan malu tersebut, ia terus mengulum senyum saat kembali terbayang bagaimana Dannis mengecup bibirnya dengan lembut.


Segera Nara merutuki perasaannya yang kian jatuh terhadap suaminya ini.


Dalam perjalanan pulang, mereka kembali larut dalam keheningan, Dannis fokus mengemudi namun sesekali ia melirik Nara sekilas.


Nara masih betah menatap keluar jendela mobil menikmati perjalanan dimana jalan masih padat oleh pengendara lain, ia bersyukur bisa terlepas dari pertemuannya dengan bibi Atikah yang menakutkan.


Sungguh Nara takut jika bibi Atikah berbuat lebih jauh jika Dannis tidak menjemputnya tadi.


Nara menoleh pada pria yang memasang wajah datar itu.


"Terimakasih sudah menyelamatkan ku dari bibi Atikah".


Dannis mengangguk saja tanpa jawaban kata-kata.


"Kenapa kau tidak bilang jika kau ingin ikut ke reuni, kenapa bisa pergi tanpa sepengetahuanku?", mata Dannis tetap fokus mengemudi ke depan, ia bertanya tanpa menoleh.


Nara terdiam, ia bingung ingin menjawab apa karena pada kenyataannya memang gadis ini tidak berniat untuk datang ke sana.


"Memangnya jika aku ingin ikut apa kau boleh?", tanya Nara berbalik pada Dannis.


"Ya boleh saja asal jangan berpakaian luar dari tema seperti itu", jawab Dannis kesal.


Nara tidak menyangka jawaban tersebut keluar dari mulut pria itu, ia mengira Dannis akan marah saat memergokinya datang ke acara yang tentu membuat lelaki ini sudah dipermalukan.


"Ini semua karena pacarmu yang menyebalkan itu, dia bilang aku pantas memakainya agar tidak malu di sana aku rasa dia sengaja dia bahkan meninggalkan ku sendiri", Nara memajukan bibirnya ke depan ketika mengingat wajah Nesya.


"Pacar? apa maksud?".


"Nona Nesya, memangnya siapa lagi", jawab Nara polos.


"Enak saja, dia bukan pacarku. Aku tidak memiliki kekasih lain selain Naya".


Deg. Dada Nara merasa lain mendengar kata kekasih yang diucapkan Dannis, gadis ini menelan ludah mengingat kembali posisinya dalam hidup pria itu.

__ADS_1


Nara terdiam, begitu pun Dannis yang menyadari ucapannya, lelaki itu melirik raut wajah Nara yang terlihat murung kembali.


"Kau pantas memakai baju itu ketika di rumah saja", ucap Dannis terkekeh mencairkan suasana.


"Memangnya kau pikir aku akan konser di rumah? oh aku menyesal, ini benar-benar membuatku malu entah apa yang mereka katakan tentangmu setelah kejadian tadi", Nara mengusap wajahnya pelan.


"Bukankah kau suka konser bersama Aira, jadi kau bisa memakai pakaian ini ketika bersamanya saja, ayo lupakan tentang tadi, aku juga tidak peduli apa kata mereka", jawab Dannis enteng.


"Kau tidak malu?", tanya Nara penasaran.


Dannis hanya menggeleng pelan.


"Kita sudah sampai", ucap Dannis menghentikan mobilnya di halaman rumah mereka.


Nara melihat sekeliling, waktu terasa cepat berlalu tanpa ia sadari mereka sudah sampai rumah kembali.


Dannis berjalan lebih dulu meninggalkan Nara di belakangnya, tanpa ia sadari Nara menatap punggung Dannis dengan sendu.


"Kenapa kau suka sekali berubah-ubah tuan Dannis, aku kian salah paham terlebih aku mulai mengharapkanmu sekarang", gumam Nara pelan sebelum ia menuju kamarnya.


Nara mengerjapkan mata, ia menyadari hari sudah pagi kembali.


"Huh... selain melanjutkan hidup, tidak ada yang bisa ku lakukan", gumam Nara pelan seraya bangun dari ranjang menuju jendela dan membuka nya, matanya tertuju langsung pada seorang pria yang tengah berolahraga di halaman.


Senyumnya mengembang, gadis ini menggigit bibir bawahnya mulai terpesona dengan pemandangan itu.


"Andai kau melirik ku layak perempuan sesungguhnya tuan Dannis, aku akan sangat bahagia bisa memilikimu, kau lelaki pekerja keras dan setia pada cintamu", ucap Nara pelan mulai mengagumi suaminya dalam diam.


"Beruntungnya nona Naya, meski telah tiada sekalipun namun tuan Dannis tidak menciptakan peluang untuk wanita lain mengisi hatinya termasuk aku istrinya", gumam Nara lagi setelah menyadari ia tengah berada di mana sekarang.


"Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk tidur dengannya layak suami istri", mata gadis ini berpendar ke segala sisi kamar sederhana yang ia tempati saat ini.


"Ternyata menyiapkan hati untuk terluka sebagai istri yang tak dianggap rupanya lebih sulit daripada terbiasa menjadi anak tiri yang menyedihkan".


Nara menyudahi ratapannya pagi itu, ia mulai bekerja seperti biasa, mengerjakan segala pekerjaan rumah dan memasak, namun baru juga akan mulai ia dikejutkan oleh suaminya yang datang tiba-tiba di hadapannya.


"Oh tuan, kau membuatku terkejut", Nara mengusap dadanya seraya mengatur napas.

__ADS_1


"Tidak perlu memasak, ayo segera bersiap kita ditunggu untuk makan siang di rumah mama".


"Apa? hmmm baiklah, tapi tuan apa kau tidak ke kantor?".


"Apa kau tidak mengingat hari? ini hari sabtu bodoh".


"Ohhhh begitukah, huh aku bahkan sampai lupa hari. Aku rasa aku butuh piknik", gumam Nara pelan namun masih bisa di dengar oleh Dannis.


"Jangan terlalu lama berpikir, Alea dan keluarganya sudah lebih dulu ke sana, hari ini kita fitting seragam untuk pernikahan Sheira".


Nara mengangguk.


Namun ketika ia hendak berlalu ke kamar, Dannis menahan lengannya.


"Ada yang lain tuan?", tanya Nara heran.


Dannis tidak menjawab, ia menatap Nara dengan lama lalu tanpa basa basi Dannis menarik tengkuk Nara seperti ingin mencium gadis itu, namun urung saat ponselnya berdering.


Disadari atau tidak pria itu mulai candu pada bibir istrinya.


Demi apa jantung Nara terasa ingin lepas dari tempatnya. Gadis ini masih terdiam berupaya menetralisir perasaannya yang mendapat perlakuan Dannis yang tiba-tiba itu.


Dannis menggenggam tangan cantik istrinya yang belum ia lepaskan, meski ia tengah mendengus kesal pada ponsel itu.


"Kenapa kau tidak sabaran, kami tengah bersiap sebentar lagi juga akan ke sana", jawab Dannis kesal pada telepon yang menampilkan nama Alea di sana, lalu pria itu mematikan ponselnya.


"Bersiaplah, aku akan menunggu di depan", ucap Dannis membelai pipi Nara dengan lembut sebelum ia meninggalkan Nara dalam keadaan sesak napas seperti kekurangan oksigen.


#####


ayo yang kangen mama El siapa?


anda satu frekuensi sama saya.


kangen mama El.


__ADS_1


__ADS_2