Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 47


__ADS_3

Setelah mama Eliana pulang, Alea segera mengurus dan memindahkan ayah mertuanya ke ruang yang lebih baik lagi, di ruang vip hingga mama Clara dan Naura lebih nyaman menjaga pria itu dari ruang sebelumnya, semua Alea yang menanggung sebab sejak ia mengetahui kebenarannya beberapa saat lalu membuat Alea bahagia betapa tidak ia memang tidak pernah mengetahui siapa ayah kandung dari suaminya karena Abrar maupun Arkan seakan memang telah melupakan ayah dan masa lalu orangtuanya sejak mama Bella dan papa Agung berpisah.


Alea tidak peduli dengan masa lalu pahit mertuanya, bukankah sebagai anak harus tetap menghormati ayah yang telah menjadi alasan suaminya bisa hadir di dunia ini, Alea memang sedikit berpikir keras untuk mengatakan kebenaran ini pada suaminya karena ia tahu ini tentu tidak akan mudah terlebih Abrar memang membenci pria yang terbaring sakit itu bahkan Abrar maupun Arkan enggan untuk mengingatnya.


Mama Clara begitu sungkan atas perlakuan Alea, ia malu sekaligus merasa tidak pantas untuk dihormati selaku orang yang pernah menyakiti mama Eliana ketika mereka muda, namun ia dan Naura tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mengetahui bahwa Alea adalah istri Abrar putra sulung dari papa Agung yang bahkan telah berbuat baik pada mereka jauh sebelum hal ini terungkap.


Naura tidak mengharapkan apa-apa dari kebenaran itu terlebih ia menyadari dan cukup berkecil hati mengingat tidak akan mudah bagi kakak satu ayahnya bisa menerima kehadiran gadis itu, namun dengan Alea tentu berbeda Naura sangat menyukai Alea yang memang tulus menerimanya.


"Kalian bisa nyaman menjaga papa jika disini, kita hanya bisa berdoa agar papa bisa kembali lagi ke rumah, aku memang tidak bisa menjanjikan apapun pada mama dan juga Naura, tapi aku akan berusaha untuk memberitahu suamiku tentang ini, aku harap kalian bersabar karena kita sama-sama tahu ini tidak akan mudah" ucap Alea pada mama Clara dan juga Naura sebelum pamit dari sana.


"Terimakasih banyak Alea, kau mau menerima kami saja sudah merupakan kebahagiaan terbesar bagi kami, sungguh mama berharap kau akan bahagia terus bersama suamimu, tidak apa-apa jika Abrar tidak mengakuinya, kami pantas menerima itu" jawab mama Clara kembali menangis.


"Tidak....percayalah meski lambat, aku yakin bang Abrar akan mengerti hal ini bagiku tidak ada anak yang benar-benar membenci orangtuanya aku rasa dia hanya kecewa saja, tapi semua itu kan sudah berlalu....aku akan membujuknya ma, aku tidak janji tapi aku akan terus berusaha"


Naura hanya diam namun tidak bisa menyembunyikan kekaguman pada kakak iparnya itu, memang Alea membawa hal yang positif dalam hidupnya.


"Mama harap juga begitu Alea, kau benar-benar menuruni sifat mama mu" Jawab mama Clara membelai pipi Alea.


"Oke baiklah, aku akan pamit, besok aku akan kemari lagi.....beritahu aku jika membutuhkan sesuatu" pamit Alea setelah memastikan papa mertuanya beristirahat dengan baik.


Mereka berpisah, Alea kembali pulang ke rumah dengan pikirannya yang tertuju pada sang suami.


*****


Pada malam harinya Alea berguling-guling seorang diri, ia baru saja mengakhiri panggilan video bersama suaminya namun tentu ia belum mengatakan apa-apa, karena ia pikir bukan waktu yang tepat memberitahu Abrar tentang ayah kandungnya dalam keadaan berjauhan, Alea memutuskan akan mengatakan kebenaran ketika pria itu telah kembali ke kota ini.


"Huh....kenapa aku gugup sendiri, ini memang tidak mudah bagi bang Abrar tapi aku tidak bisa melihat papa terbaring sakit seperti itu pasti papa merindukan juga kedua putranya, aku harus bisa membujuk suamiku tentang hal ini, apalagi kondisi kesehatan papa Agung tidak semakin membaik, aku tidak ingin mereka berakhir dalam keadaan bang Abrar dan bang Arkan masih membencinya"


Gumam Alea pada dirinya sendiri, pada kenyataannya memang kondisi papa Agung tidak semakin membaik, karena kesadaran pria itu mulai menurun sejak kedatangan mama Eliana dan memberi tahu bahwa Alea adalah istri dari putranya Abrar. Entah terlalu bahagia atau terlalu takut akan kenyataan bahwa putranya masih membencinya sampai akhir hayat. Psikologis orang yang sedang sakit tentu saja berbeda dengan orang sehat, terlebih papa Agung sudah mengalami sakit ini sejak satu tahun terakhir itu artinya pria itu telah banyak mengalami perubahan fisik maupun mental dalam menerima sakit itu sendiri terlebih keadaan ekonomi keluarganya yang sedang tidak baik.


******


Keesokan harinya dimana Alea masih mendapat jadwal pagi, perempuan itu pergi pagi-pagi sekali karena akan sarapan bersama di ruang rawat papa mertuanya.


Alea senang sore nanti suaminya pulang dari luar kota, tidak terhitung rindu yang ia siapkan untuk menyambut Abrar dari lelahnya.

__ADS_1


Setelah lama berada di dekat mertuannya, Alea kembali pamit ke ruangan dimana ia bertugas, sungguh menyebalkan bagi perempuan cantik itu jika harus bertemu dengan dokter Bayu, pria itu semakin berani mendekatinya kendati telah mengetahui status Alea yang telah bersuami, entah apa yang ada di pikiran dokter itu hingga tetap tampak santai mendekati Alea, tidak jarang pula Alea bersikap cuek bahkan terkesan ketus jika menghadapi rayuan dokter Bayu.


Keysa dan Nazli sering memperingati Alea untuk tidak terlalu bersikap ketus terhadap dokter yang menjadi mentor mereka di ruangan itu.


"Bagaimana aku tidak kesal, dokter Bayu secara terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukaiku karena aku cantik mirip mantan kekasihnya, apa itu tidak gila....enak saja aku sudah punya suami" umpat Alea kesal pada teman-temannya.


"Iya....aku mengerti, namanya juga cinta buta, jadi dia tidak melihat kau sebagai istri orang namun kau adalah bidadari yang mirip dengan mantan kekasihnya hingga menimbulkan obsesi gila seperti sekarang" jawab Nazli mendramatisasi keadaan.


"Aku juga tidak percaya dokter setampan dia terobsesi dengan istri orang, tapi Alea kau harus berhati-hati....bagaimana jika dia terus mendekatimu dan bang Abrar mengetahuinya" Keysa ikut menimpali.


"Biar saja dia akan dibunuh suamiku jika berani....aku heran apa wajahku ini begitu pasaran hingga dia pikir aku mirip mantannya"


"Hati-hati dengan ucapanmu, bagaimana jika kau di pelet nantinya, ha ha ha, Alea Alea....makanya segera hamil agar dokter itu tidak berani lagi mendekatimu, gila kali kalau dia masih berani mendekati istri orang yang sedang hamil" canda Nazli begitu saja.


Alea terdiam, melihat raut wajah temannya yang berubah Keysa menyadari dan segera membungkam mulut Nazli yang masih terkekeh geli itu dengan tangannya.


"Astaga....maafkan aku sayang, jangan tersinggung....aku tidak bermaksud begitu" sesal Nazli.


"Huh....begitu berat beban hidupku, di taksir dokter gila dan belum juga hamil hingga sekarang, kalian memang menyebalkan" gumam Alea dengan wajah sedih.


*****


Alea terus tersenyum sambil berjalan ke arah gerbang rumah sakit, dimana sang suami sudah berada di jalan untuk menjemputnya dari sana.


Menunggu di tempat biasa, kembali Alea menghembus napas kasar ketika dokter Bayu yang ternyata belum pulang juga dari rumah sakit, pria itu menawari Alea tumpangan.


"Maaf dokter, suamiku sudah menjemput dan sebentar lagi akan sampai" jawab Ales ketus dengan menekankan kata suami.


Dokter Bayu terkekeh mendengarnya.


"Kau sungguh menarik Alea, apa kau mencintai suamimu?"


"Kenapa dokter bertanya seperti itu, tentu saja aku mencintainya"


"Apa kau yakin suamimu bisa setia? Kau tahu sendiri perangai pengusaha-pengusaha muda jaman sekarang bukan?" ucap pria itu tersenyum pada Alea.

__ADS_1


"Apa maksudmu dokter? Maaf aku tidak ada waktu untuk menjawab apalagi memikirkannya, bisakah dokter berhenti mendekati ku, aku ini perempuan bersuami apa kau tidak malu?" tanya balik Alea pada dokter tersebut.


"Entahlah Alea....aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menyukaimu, selain kau cantik kau juga sangat menarik perhatianku. Aku begitu penasaran dengan mu" jawab dokter Bayu dengan entengnya.


"Oh astaga aku bisa gila...." kesal Alea.


"Kau bahkan tetap cantik ketika marah sekalipun" jawab dokter Bayu dengan senyum manisnya.


Alea bergidik mendengarnya, beruntung Alea melihat mobil suaminya telah sampai.


Abrar menepikan mobilnya di samping mobil dokter Bayu, pria itu keluar dan menghampiri istrinya yang masih berdiri bersama seorang pria asing baginya.


"Sayang" panggil Alea tersenyum dan segera berhambur memeluk sang suami, Alea sengaja memamerkan kemesraan itu di hadapan dokter Bayu.


Abrar menyambutnya dengan tak kalah rindu.


"Pulang sekarang?"


Alea mengangguk, namun langkah Abrar terhenti dan menatap pria yang belum juga beranjak dari sana.


"Siapa dia?" tanya Abrar.


"Ini dokter Bayu, dia mentorku di stase ini....ayo pulang, aku merindukanmu" jawab Alea manja sambil melirik dokter Bayu.


"Baiklah.....kami permisi dokter" ucap Abrar pada pria yang mematung itu.


Alea segera menarik Abrar menuju mobil tidak menunggu jawaban dari dokter Bayu lagi, membuat dokter itu terkekeh pelan dengan raut sulit diartikan sambil terus memperhatikan punggung Alea yang menjauh.


Baru saja masuk mobil Alea dibuat terkejut dengan buket bunga besar di tempat duduknya.



"Itu untuk istriku tercinta" ucap Abrar sambil duduk di bagian kemudi.


"Sayang.....aku mencintaimu, terimakasih" tatap Alea manja pada suaminya segera ia memeluk buket bunga itu dan mencium pipi suaminya.

__ADS_1


__ADS_2