
"Sheira.... aku, aku aku", jawab Nara terbata, ia menatap Iqbal yang berdiri di hadapannya.
"Ceritanya panjang, kau akan terkejut jika mendengarnya", jawab Iqbal santai, ia mengulurkan tangan pada calon istrinya itu.
Sheira menerima uluran tangan Iqbal seraya mendekat.
"Sebaiknya cuci dulu wajah mu Nara, kita bisa bicara lagi lain waktu, tenanglah jika aku atau orangtuaku bertemu paman Harun akan ku beritahu segera, kita saudara ipar mulai lusa, tentu aku akan membantu mu kita akan menjadi keluarga jangan lupakan itu", ucap Iqbal pada Nara.
Gadis itu hanya mengangguk saja, namun Sheira masih menatap keduanya dengan raut bingung.
"Berhenti menatapku seperti itu, nanti ku beritahu, ayo masuk aku belum mencicipi kue buatan calon istriku ini", ajak Iqbal yang mencubit hidung mancung Sheira dengan terkekeh.
"Huh kalian membuatku bingung", ucap Sheira heran, gadis itu cukup penasaran dengan apa yang terjadi antara calon suami dan iparnya itu terlebih saat melihat Nara menangis.
Iqbal tertawa pelan seraya merangkul pundak Sheira untuk masuk kembali ke dalam.
Nara kembali ke dalam berniat bergabung bersama anggota keluarga yang lain setelah mencuci wajahnya meski matanya masih menyisakan bengkak walau sedikit.
Tiba-tiba Reno menghalangi jalannya, membuat gadis itu memutar bola matanya dengan malas.
"Reno berhenti menggangguku".
__ADS_1
"Aku bukan sedang mengganggu mu tapi mencintai mu", jawab Reno terkekeh.
"Jangan bercanda, minggirlah aku ingin lewat".
"Nara, ini waktu yang tepat untuk membongkar semua apa yang telah Dannis lakukan padamu, tinggalkan pria itu kembali pada ku".
"Berhenti bercanda, aku malas Reno bisakah kau tidak mencampuri urusan rumah tanggaku, kita sudah berakhir kau tidak lihat orangtua mu tidak menyukaiku, bahkan mereka masih percaya aku telah menjual diri, aku bisa terlepas dari tuan Dannis namun aku masuk ke dalam keluarga mu itu akan sama saja", ucap Nara kesal.
"Kemana kau waktu aku dibawa ke kota oleh ibu dan Ranti? kenapa kau tidak menyusulku waktu itu, jika saja kau menjemputku mungkin ini tidak akan terjadi padaku Reno, aku dijual lalu terjebak menikah dengan pria yang masih mencintai orang yang sudah mati, kenapa kalian sama-sama menyebalkan, aku muak Reno, aku muak, kau sama saja dengan Dannis gila itu", Entah kenapa Nara sungguh mengeluarkan isi hatinya.
Reno terdiam.
"Kenapa kau diam? ayo beritahu semua orang disini bahwa aku adalah istri yang tidak dianggap, beritahu mereka Dannis memperlakukan ku seperti pelayan, beritahu semua bahwa Dannis mencintai Naya saja sampai saat ini biar semua menertawakan ku yang malang ini, begitu inginmu?", ucap Nara berapi-api.
"Nara", ucap Reno pelan sambil meraih tangan gadis itu.
Namun segera ditepis oleh perempuan yang hampir menjadi istrinya itu.
"Aku lelah Reno, aku mohon jangan mengganggu ku", ucap Nara pelan.
Pria itu terdiam, tetap tidak bergeming dari tempatnya meski Nara telah menjauh.
__ADS_1
Nara hampir menabrak Dannis yang menghalangi jalannya bersama Aira.
"Bibi menangis?", tanya Aira polos.
Dannis menatap lama wajah yang masih menampakkan sisa-sisa airmata.
"Apa paman Reno menyakiti bibi?", desak Aira lagi.
Nara menggeleng pelan, "Tidak sayang, bibi sepertinya akan terserang flu, jadi mata bibi ikut berair".
"Ayo masuk, bibi ingin makan kue buatanmu, mommy mu bilang kau membuat kue bersama bibi Sheira", ajak Nara seraya menarik tangan bocah kecil itu meninggalkan Dannis tanpa basa basi.
Dannis melihat ke arah Nara dan Aira yang menjauh, lalu ia berbalik menatap Reno.
Dannis mendekati sepupunya itu.
Mereka berdiri berhadapan.
"Apa?", tantang Reno tajam.
"Apa kau sudah tidak tahu malu, berani mendekati istri orang bahkan terkesan memaksa", ucap Dannis dingin.
__ADS_1
"Aku rasa mencintai istri orang akan lebih baik daripada mencintai orang yang sudah mati karena itu akan membuang waktu sia-sia, orang mati tidak akan hidup lagi bukan? sedang istrimu aku masih bisa menunggu jandanya", jawab Reno tanpa takut.