
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Kehidupan pun terus berjalan. Ada yang pergi dari kehidupan namun ada yang datang memberi warna. Kehadiran Zoya membuat Karin dan Dion makin menikmati indahnya menjadi orang tua.
"Pakai sepatunya Del." titah Karin untuk kesekian kalinya dengan suaranya yang tak selembut sebelumnya atau biasanya.
"Uuuhhh,,,," Sungut Delvara yang saat ini sudah berusia 6 tahun.
Ini adalah hari pertamanya masuk sekolah dasar. Di usia yang terbilang paling muda di antara teman temannya yang memasuki usia 7 tahun baru mulai masuk sekolah dasar, Delvara adalah anak yang cerdas dan cepat menangkap apa pun yang diajarkan padanya.
Dengan wajah yang dominan menirukan Dion masa kecil, Delvara tumbuh menjadi bibit unggul yang kelak pasti akan jadi idola kaum hawa. Belum lagi dengan limpahan materi yang seakan tak akan pernah ada habisnya, pasti akan makin menjadikan dirinya layaknya magnet yang siap menarik siapa pun.
Sayangnya meski secara fisik ia nyaris sempurna, namun secara sifat dan sikap ia tumbuh tak seperti yang diharapkan oleh Karin dan Dion. Delvara agak susah kalau diatur. Ia suka menjawab dengan nada protes tak peduli apa yang dikatakan mama atau papanya adalah benar.
"Uh uh apa Del? Jangan ah uh ah uh tiap mama minta kamu melakukan sesuatu. Mama kan cuma minta kamu cepat pakai sepatumu Del. Apa permintaan mama berlebihan? Lagipula ini juga untuk kepentingan dan kebaikanmu sayang. Apa kamu mau telat masuk sekolah? Apa tidak malu sama teman teman kalau hari pertama saja sudah telat?"
Karin mendekati Delvara yang masih bersungut sungut dan dengan malasnya dan asal saja mengikat tali sepatunya.
"Mama jahat. Pagi pagi sudah marah marah. Coba Zoya yang malas malasan dan gak bisa cuci botol susu sendiri, Mama gak pernah marah. Sedangkan Del??? Habis minum susu gelas cuci sendiri." Delvara malah menuduh Karin yang tidak tidak.
"Del,,, Mama gak pernah ya ajarin Del bicara begitu. Mama juga tidak pernah ajarkan Del untuk punya sifat iri begini. Lagipula adikmu itu bukan malas malasan. Zoya belum bisa dan belum mengerti. Zoya masih 3 tahun, Del sudah 6 tahun. Itu artinya Del memang harus lebih bisa melakukan semuanya sendiri." Karin berdiri di depan Delvara yang menghentak hentakkan kakinya dengan sebal.
Mendengar mamanya bicara demikian, Delvara mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya ia tau apa dan paham apa yang dikatakan oleh mamanya itu. Dan ia juga membenarkannya dalam hati. Del pun memilih Melanjutkan aktifitasnya mengikat tali sepatunya.
Kali ini dengan benar. Karin pun tersenyum melihatnya.
"Begitu kan manis kelihatannya. Ini baru namanya anak mama dan papa. Baik papa maupun Mama itu tidak pernah ingin bicara keras atau pun bersikap jahat sama Del. Bagaimana pun, Del itu anak mama, belahan jiwa mama. Mama menyayangi Del sama seperti menyayangi papa dan Zoya."
__ADS_1
Dengan nada halusnya Karin menjelaskan pada Delvara sembari mengusap usap puncak kepala putranya itu.
"Iya mama." jawab Del datar dengan wajah tertunduk.
"Del marah sama mama?" tanya Karin sambil mengangkat dagu putranya.
Delvara menggeleng perlahan. Mata mirip mata Dion itu memilih untuk tidak memandang mata sang ibu. Pandangannya turun ke bawah meski dagunya terangkat.
"Mama minta maaf ya kalau ada perkataan mama yang tidak Del suka. Percayalah sayang,,, Mama cinta dan sayang sama Del. Sangaaaaat sayang." Karin menegaskan.
"Iya mama. Del gak marah kok." Delvara tetap dengan membuang tatapan matanya.
"Kalau begitu lihat mama dong."
Delvara perlahan mengarahkan pandangannya pada wanita yang selalu pertama hadir di setiap paginya dan menjadi wanita terakhir yang menemani malamnya. Wanita yang selalu membangunkannya tiap pagi dan yang akan mengantarnya tidur saat malam mulai merangkul.
"Coba mana senyum untuk mama? Del sama sekali belum tersenyum loh ke mama pagi ini. Del tau kan kalau senyum Del itu selalu jadi penyemangat mama?"
Melihat itu semangat Karin kembali.
Senyum itu selalu jadi pengobat lelahnya, pelipur laranya, dan senantiasa akan terus seperti itu. Suka tidak suka, kalau boleh jujur dan boleh memilih salah satu, Karin ingin mengatakan bahwa ia menyayangi Delvara lebih dari apa pun dan siapa pun tak terkecuali Dion dan Zoya.
Delvara yang menemaninya di saat kesendiriannya tanpa Dion dulunya. Delvara juga yang selalu menjadi sumber inspirasinya. Delvara adalah saksi dari perjuangannya namun bukan berarti semua itu harus diungkapkan.
Juga bukan berarti Zoya tak punya posisi sekuat itu di hati Karin.
Zoya juga belahan hatinya. Zoya juga menjadi salah satu penyemangatnya. Namun meski hari kelahiran Zoya sekaligus menjadi peringatan akan meninggalnya mama Herna, Zoya lebih banyak mendapat kemudahan dalam masa tumbuh kembangnya.
"Ada apa ini pangeran papa kok pagi pagi sudah peluk pelukan sama bidadari papa? Terus mana pelukan untuk papa?"
__ADS_1
Dion yang sebenarnya sedari tadi sudah mendengar dan melihat semuanya memilih menahan diri dan baru muncul saat putra dan istrinya sudah saling memeluk.
"Papaaaa." Teriak Delvara segera menghambur dalam pelukan sang papa.
Papa yang hampir tak pernah marah apalagi menegurnya. Papa yang lebih banyak meng"iya"kan semua maunya. Tidak seperti mama yang mungkin lebih sering banyak bicara dengan teori teorinya.
"Sudah siap berangkat sekolah belum pangeran papa ini?"
"Sudah dooong. Lihat ini seragam Del bagus kan?? Sepatunya juga bagus kan?" Delvara memamerkan apa yang dikenakannya.
"Siapa yang beliin sepatunya? Kok bagus banget." puji Dion.
Delvara langsung menunjuk ke arah Karin yang berdiri dengan senyuman manisnya melihat ke arah dua pria yang sangat ia cintai selain pak Adi.
"Ok kalau begitu kita turun ya. Zoya sudah menunggu tuh di meja makan." Dion menunjuk Zoya yang tengah ditemani oleh Mela yang masih setia menjadi asisten rumah tangga mereka.
Untungnya ia menikah dengan Darwin.Jadi keduanya bisa tinggal juga di rumah itu. Baik Dion dan Karin menyambut hangat pernikahan mereka yang sudah berjalan setahun.
"Del minta gendong papa."
Delvara tumben manja pagi itu. Tapi karena juga tidak setiap harinya begitu maka Dion tak tega jika tak mengiyakannya. Dion pun berjongkok di depan Delvara.
"Naik. Cusss."
Delvara bersorak dan dengan semangat melompat ke punggung Dion. Karin geleng geleng kepala melihat kedekatan putra dan sang papa.
"Hati hati om papa. Del pegangan di bahu papa ya biar gak jatuh." pesan Karin.
Dion sudah setengah berdiri namun tiba tiba ia terhuyung. Beruntung Karin dengan sigap menangkap tubuh Delvara hingga anak itu tidak sampai jatuh.
__ADS_1
"Om papa kenapa???"
...❤️❤️❤️❤️...