
"Hei.... ayo lah Nara berhenti menangis, aku benar-benar minta maaf atas perbuatan Gia tadi, dia sungguh keterlaluan", ucap Aldo mengusap lengan Nara pelan hingga gadis yang tengah menangis tersedu itu menatapnya sendu.
"Kau tahu Aldo? kejadian tadi benar-benar membuatku malu, kantin sedang ramai dan semua pasti mendengar dan menyaksikan kekasihmu menjatuhkan ku, aku sama sekali tidak seperti yang dia tuduhkan", jawab Nara tersedu menutup wajahnya kembali dengan punggung yang bergetar.
"Aku mengerti Nara, maafkan aku..... tapi aku percaya padamu, jangan malu pada hal yang tidak pernah kau lakukan, biarkan saja mereka mau bilang apa tentang kejadian tadi, bersemangat lah, kau bekerja dengan baik di sini tidak ada yang perlu kau takutkan", Aldo memberi semangat pada gadis yang masih sesegukan.
Nara hanya diam, gadis itu masih mengingat jelas bagaimana kekasih Aldo mengatakan dengan lantang bahwa ia pernah berada di hotel tempat Gia bekerja.
******
Sudah beberapa hari setelah kejadian memalukan di kantin, Nara masih berusaha untuk menutup telinga dan fokus pada pekerjaan nya, namun ia tetaplah seorang perempuan berhati lembut dan polos.
Gosip yang memalukan tersebut tidak berhenti hanya dari mulut ke mulut saja, namun juga rekaman ketika Gia melabrak Nara di kantin pun mulai menyebar dan menjadi bahan tertawaan para pegawai yang bekerja di sana.
Nara hanya bisa pasrah dan menutup telinga rapat ketika ada yang menyindirnya saat bekerja, namun hatinya masih menangis sampai pada beberapa hinaan yang ia terima.
"Ternyata gadis yang menjadi bahan gosip beberapa hari ini masih bertahan bekerja di sini disaat semua orang sedang membicarakannya", celetuk seorang wanita ketika Nara berada di dalam lift yang sama.
Nara hanya diam dan memejamkan mata saat mendapat sindiran.
"Kau tahu itu apa artinya? itu karena dia tidak tahu dengan rasa malu", jawab salah satu pegawai lain dengan lantang yang juga berada di lift tersebut.
Nara sudah tidak bisa menahan air matanya.
"Nona, aku bekerja di sini tidak menganggu siapapun, seharusnya anda juga tidak mengangguku dengan hal belum kau ketahui secara pasti, aku tidak melarang pendapat kalian tentangku namun setidaknya jangan bergosip ketika di hadapan orang yang bersangkutan, aku tidak malu atas apa yang kalian tuduhkan karena aku sama sekali tidak melakukannya, aku bekerja tidak memberatkan siapapun, aku mohon biarkan hal itu menjadi urusan pribadiku", jawab Nara menatap perempuan itu dengan kesal.
"Oh God..... apa ini? kau berani membela diri? huh dasar tidak tahu malu, sudah menjual diri pada tuan Dannis dan juga melayani lelaki lain setelah itu, aku rasa kau benar-benar tebal muka, bekerja di sini dan berlagak polos, hanya Aldo yang tertipu pada wajah manis berduri mu itu", jawab wanita itu tanpa takut.
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu nona", jawab Nara tajam dengan airmata jatuh di sudut matanya.
Denting lift pun berbunyi tanda mereka telah sampai pada tujuan ketika wanita itu hendak menjawab kembali perkataan Nara yang membuatnya kesal, betapa mereka terkejut ketika berhadapan dengan seorang lelaki tampan yang baru saja mereka bicarakan.
Dannis menatap heran pada wajah-wajah pias yang berdiri di hadapannya masih belum keluar dari lift.
Seketika Nara keluar dari lift dan melewati Dannis begitu saja, gadis itu benar-benar merasa kesal dengan kejadian yang baru saja ia alami, itu baru beberapa pegawai yang berani menyindirnya secara langsung bagaimana dengan pegawai yang lain sedang menertawakannya yang seakan tidak tahu malu masih bisa menampakkan wajah setelah kejadian di kantin tempo hari.
Nara kembali menangis.
"Bagaimana jika tuan Dannis mengetahui hal ini? aku telah membuatnya malu, membuat nama baiknya tercemar oleh kejadian hotel yang tidak seperti mereka kira, tuan Dannis orang yang baik dia tidak pantas di gosipkan dengan wanita rendahan seperti ku", gumam Nara menyeka airmatanya ketika menghadap cermin di toilet.
Gadis itu menatap bayangan sembab wajahnya yang hampir setiap hari menangis sejak Gia melabraknya di kantin.
"Jika aku keluar dari perusahaan ini, aku akan bekerja dimana? aku bahkan hanya mengenal tuan Dannis dan Aldo serta nona Mery saja selama di sini", gumam Nara lagi.
Gadis ini menghapus airmatanya dan kembali tersenyum, ia mengingat jelas wajah Sheira yang begitu baik padanya, Nara pikir Sheira bisa memberinya pekerjaan lain.
"Bukankah nona Sheira punya dua kakak yang dia bicarakan tempo hari, jika aku meminta pekerjaan mungkin saja perusahaan kakak atau restoran sepupunya membutuhkan jasa ku", Nara mengangguk pelan, wajahnya kembali cerah.
*****
"Mama rasa kita perlu memberikan saudara kembar mu kejutan Alea, pria itu bahkan tidak mengingat ulang tahunnya lagi, dia hanya sibuk pada pekerjaan saja tanpa menghiraukan apapun, mama sedih jika Dannis terus terpuruk, ayo beri dia dukungan, peran kita sebagai keluarga tentu akan sangat membantu".
Perempuan dengan perut membuncit itu hanya tertawa pelan.
"Bukankah kita sudah melakukan yang terbaik, bahkan mama mengawasi dan bertanya keberadaannya setiap saat, Dannis itu lelaki ma... nanti juga akan lupa sendiri pada Naya, lagi pula tidak akan hidup lagi jika dia terus meratapi orang yang sudah meninggal, mama tidak perlu berlebihan".
__ADS_1
Jawab Alea santai sambil terus mengunyah karena mereka tengah berada di dapur mama El sedang membuat kue untuk memenuhi rasa mengidam Alea yang sedang mengandung anak ketiga.
"Apa kau tidak khawatir jika putramu seperti orang apatis ketika kehilangan sesuatu? kau terlalu santai Alea, Dannis itu saudara kembar mu tidakkah kau merasa kasihan padanya?".
"Mama.... kenapa jadi melibatkan putraku, lihat mereka bermain seakan dunia ini miliknya saja, nakal dan membuatku pusing", tunjuk Alea dengan ekor matanya mengarah pada dua bocah lelaki yang tengah bermain dengan adik perempuan mereka.
"Ayolah, mama percaya padaku Dannis itu dewasa dan seorang pria sejati dia tidak akan ikut mati hanya karena meratapi tunangannya, memang tidak mudah berada di posisi nya saat ini, terlebih kehilangan saat akan menikah itu sama sekali sangat menyedihkan", Alea bergidik ngeri.
"Alea...", mama El menatap wajah Alea kesal.
"Iya iya baiklah..... besok kita beri dia kejutan, kita beli kue yang besar yang di dalamnya wanita cantik yang akan menjadi hadiahnya, ha ha ha pasti itu sangat mengesankan", Alea berkata santai sambil tertawa geli.
"Kau ini membuat mama bertambah pusing, ayo pikirkan bagaimana jika Nesya menjadi pengganti Naya, bukankah mereka sangat cocok? mama lihat mereka sering bersama akhir-akhir ini".
"Itu maksudku ma, jadi mama tidak perlu khawatir Dannis akan membujang seumur hidup, Nesya terus mendekatinya lama-lama juga luluh, lelaki itu sama saja.... mudah tergoda", ucap Alea membesarkan suaranya di akhir kalimat ketika mendapati suaminya datang mendekat.
"Hei.... kenapa menatapku seperti itu?", tanya Abrar heran.
"Apa kau merasa tersindir sayang? aku benar bukan? lelaki memang mudah tergoda".
"Aku tidak merasa seperti itu, memang nya aku tergoda siapa?".
"Memangnya kau tergoda siapa lagi selain istrimu yang seksi ini?", goda Alea.
"Apa kau masih merasa seksi dengan badan sebesar ini?".
"Bang Abrar, apa kau mau mengatakan aku gendut sekarang? semua ini ulahmu", ucap Alea menatap tajam suaminya dan memukul lengan Abrar dengan kesal, membuat lelaki itu hanya terkekeh dan terus menghindar.
__ADS_1
Membuat mama El memutar bola mata malas namun tersenyum bahagia melihat anak menantunya bergurau.