
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Puas kamu??? Puas udah mempermalukan aku begitu?? Begini caramu membalas kebaikanku??" Hana berteriak teriak pada Dion.
"Aku merasa tidak ada hutang kebaikan apa apa padamu. Jadi kenapa juga aku harus membalas atau membayarmu dengan kebaikan juga? Lagipula,,,apa pun yang kamu lakukan selama ini juga bukan aku yang meminta kan? Bukannya itu kemauanmu sendiri?" Dion bertanya balik dengan santai.
"Oh ya,,, memang selama ini aku selalu bersikap di depanmu seakan aku yang mau dan bukan kamu yang memintaku. Tapi asal kamu tau,,, mama yang memohon dan memelas padaku agar aku mau melakukannya!!!" sengit Hana.
"Kalau begitu itu urusanmu dengan mama. Jangan meminta timbal balik dariku. Lagipula kamu juga sebenarnya sudah dapat banyak hal dari kami. Harta, tahta semua sudah atas namamu. Jadi apa pantas kalau kamu masih meminta lebih? Masih kurang puas??" Dion masih datar menjawab meski Hana sudah bicara lantang dengan muka merah padam menahan emosi.
"Dion!! Kamu,,,!!!"
"Aku apa?? Katakan saja. Tidak usah menahan nahan lagi. Ungkapkan saja apa yang jadi uneg unegmu. Aku sudah kebal dan tidak akan sakit hati."
Kesal diperlakukan begitu dan rasanya akan kalah,,, maka Pandangan Hana beralih ke arah mama Herna yang hanya duduk menangis di sudut ruangan itu. Hanya bisa menangis dan tak tau harus berbuat apa tepatnya. Didekatinya mama Herna lalu berkacak pinggang di depannya.
"Lihat itu anak mama." Hana menunjuk Dion membuat mama Herna mau tak mau mendongakkan wajahnya yang sedari tadi tertunduk dibasahi airmata.
"Dia lepas tangan sekarang.Mama harus tanggung jawab sekarang pada Hana. Mama sudah janji dan mama tidak bisa tepati janji mama itu. Mama yang buat Hana semakin jauh masuk dalam urusan keluarga ini dan sekarang hanya rasa malu yang Hana dapat. Hana gak terima ma!!!" sengit Hana.
"Han,, mama minta maaf." mama Herna kembali tersedu.
"Maaf?? Begitu saja?? Apa kata maaf itu bisa kembalikan nama baik Hana di depan para tamu yang menertawakan Hana kemarin?? Bisa???"
"Mama,,,,mama,,," mama Herna hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya masih dalam posisi duduknya.
__ADS_1
"Gak bisa kan?? Itu mama tau jawabannya!!!" Hana terus memojokkan mama Herna.
"Berhenti meminta maaf pada wanita yang sama sekali tidak bisa bersikap baik pada orang tua ma. Hana,,, Kamu maunya apa?? Memanggil kembali penghulu dan memaksaku menikahimu lagi?? Kamu tau selamanya aku tak akan melakukannya. Lagipula itu semua salah kamu. Aku sudah berkali kali bilang bahwa aku tidak bisa tapi kamu memaksa." Dion kembali bersuara datar.
"Dan aku juga sudah berkali kali memintamu bekerjasama. Kenapa susah sekali membantuku seperti aku membantu kalian selama ini??" tanya Hana masih dengan kemarahan terpendamnya.
"Membantu kami?? Yakin?? Yang kurasakan selama ini justru kamu itu hanya menumpang hidup pada kami. Kamu itu hanya gelandangan yang gak punya sanak keluarga yang kemudian bisa melanjutkan hidup tapi dengan uang kami. Tinggal di rumah kami,,,pakai uang kami,,, menguasai apa yang sebenarnya milik kami. Bukannya begitu?? Kamu tidak merasa begitu??" sindir Dion halus tapi mengena.
"Cukup!! Aku gelandangan juga karena kamu menabrak mobil kami!! Suamiku meninggal,, anakku meninggal,,, bahkan janinku juga meninggal!! Semua karenamu!!!Dan sekarang kamu menghinaku menumpang hidup padamu dan uangmu??? Tega kamu Dion!!!" jerit Hana.
"Nyatanya seperti itu kan??" tanya Dion sinis.
Hana mengepalkan jari jemarinya. Sangat marah dihina hina seperti itu. Rasa malu akibat gagal menikah belum juga hilang dan sekarang dituding menumpang hidup.
"Kamu itu hanya benalu dalam hidupku. Kehilangan keluargamu bukannya membuatmu jadi manusia yang baik dan menghargai sesama yang hidup tapi malah membuatmu menyiksa yang hidup. Kamu menyalahkanku karena kecelakaan itu?? Apa kamu tidak baca dengan baik keterangan dari polisi bahwa hasil penyelidikan menunjukkan suamimu lah yang mengebut dan tidak berusaha mengerem sama sekali?? Jadi disini kasusnya bukan aku yang menabrak melainkan ditabrak."kata Dion.
"Kamu gak tau?? Tentu saja kamu gak tau karena kamu selalu sibuk main drama. Kamu hanya fokus menyalahkanku tanpa mencari tahu kebenarannya. Aku juga sudah sangat baik hati menerima semua cercaan dan kebencianmu padaku. Aku juga selalu berusaha meminta maaf padamu. Tapi apa balasanmu?? Kamu menghancurkan rumah tanggaku. Kehadiranmu menjadi racun dalam pernikahanku." tegas Dion.
"Oh ya lagi satu,,, janinmu meninggal?? Kasihannya,,, tapi karena aku ini masih punya jiwa kemanusiaan maka aku turut berduka cita. Tapi ingat,,, Itu bukan salahku melainkan kamu yang menggangguku menyetir mobil. Masih ingat kan?? Otakmu belum lepas bautnya kan? Dan dalam hal ini kalau ada yang boleh menyalahkan salah satu pihak maka itu aku,,,aku yang paling boleh menyalahkanmu atas kecelakaan itu. Tapi apa aku melakukannya?? Tidak kan?? Aku masih baik kan padamu sampai kamu malah lupa diri dan makin menjadi jadi begini." Dion mengingatkan awal mula kecelakaan yang mengakibatkan dirinya lumpuh begini.
"Cukup!! Aku tidak mau dengar apa apa lagi." Kepalang malu, Hana menepis dan menutup mata dan telinga atas semua kebenaran yang dikatakan Dion.
"Sekarang kalianlah yang harus dengar aku baik baik!!" tegasnya kemudian.
"Apa?" tanya Dion.
"Aku mau kalian berdua pergi dari sini. Kamu dan mama." tegas Hana.
__ADS_1
"Han,,, Tunggu tunggu. Ini apa maksudmu sayang?? Kamu mengusir kami??" mama Herna langsung berdiri menghampiri wanita kesayangannya itu.
"Sudah jelas kan bicaraku??!!" sengit Hana.
"Tapi mana bisa begitu Han? Ini rumah kami." tolak mama Herna.
"Hhh,,, hahaha,, rumah kami?? Lupa kalau mama sendiri yang menandatangani semua berkas pengalihan kuasa dan atas nama atas semua yang kalian miliki kepadaku??" sinis Hana menang.
"Han,,,, kamu kok,,," mama Herna tak sanggup meneruskan bicaranya karena sangat tak menyangka wanita yang disangkanya baik dan terhormat serta bermartabat itu nyatanya ular berbisa yang kini memangsanya sendiri meski selama ini telah dirawatnya baik baik.
"Apa?? Hana tega?? Tegaan mana Hana sama anak mama yang lumpuh itu?? Mama mau menyalahkan siapa kalau begini?? Hana?? Ya gak lah,,,salahkan saja putra mahkota yang kini juga tak punya apa apa itu!!!" Hana menunjuk Dion yang kini mukanya juga merah padam dipenuhi kebencian pada Hana.
"Wah wah wah,,,Lihat!! Marah ya?? Gak terima ya??Mau pukul ya?? Mau balas dendam?? Silahkaaaan,,,,Bisa memangnya??? masih punya uang buat bayar orang??" tantang Hana.
Dion kesal bukan main namun detik kemudian ia pun beristighfar.
"Astaghfirullah,,, Ma,,, kita pergi sekarang. Lebih baik hidup di luar tapi tak dikuasai wanita licik ini." ucapnya kemudian.
"Tapi Dion,,,kita mau tinggal di mana?? Hidup kita bagaimana??" mama Herna berlinang airmata penyesalan.
"Jangan takut ma,,, Ada Allah bersama kita." sahut Dion tegas.
Mama Herna pun mengangguk lantas membantu mendorong kursi roda Dion yang untungnya masih diperbolehkan Hana untuk dibawa mereka. Hanya kursi roda dan baju yang melekat di badan saja yang boleh dibawa.
"Suatu hari kamu akan dapat karmanya Han." ujar mama Herna.
"Gak usah sok nyumpahin aku. Mending pikirkan saja malam ini kalian mau jadi apa!!!" Hana mengucapkannya dengan membanting daun pintu dengan keras di depan wajah mama Herna.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️...