
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Hana tampak semrawut pagi itu. Berkali kali ia tampak mengacak acak rambut yang biasanya selalu ia jaga kerapiannya. Sekretarisnya berdiri di depannya dengan wajah takut takut. Takut salah jawab dan salah bicara.
Braakkk,,,
Berkas berkas itu pun kembali dibanting oleh Hana dengan keras. Ia tampak kesal. Sekretarisnya makin gemetar dibuatnya.
"Ini sebenarnya kenapa sih orang orang ini?? Kenapa tiba tiba banget memutus kerjasama?? Dan kenapa bisa bersamaan begini? Apa mereka janjian?? Berapa tahun mereka jadi partner perusahaan ini terus sekarang tiba tiba dengan alasan sepihak membatalkan semua kontrak. Berani benar mereka!! Mereka tidak baca apa itu surat perjanjian kontrak?? Mereka bisa kena penalty besar."
Hana mengomel panjang kali lebar pada sekretarisnya yang juga tidak tau ada apa sebenarnya. Ia juga heran kenapa para klien tetap yang sudah selalu jadi partner setia perusahaan ini tiba tiba memutus kontrak secara massal.
"Kamu gak becus kali ya handle mereka?? Presentasi yang kamu buat kali yang kurang menarik!!" Hana menyalahkan sekretarisnya.
"Maaf nyonya. Tapi semua sudah sesuai permintaan nyonya. Dan juga selama ini juga selalu nyonya approve. Kalau nyonya tidak approve saya juga tidak berani bertindak." sekretaris itu coba membela diri meski ia tau kini ia akan kena omelan.
"Oh jadi kamu nyalahin aku gitu??" bentak Hana makin kesal.
"Bukan begitu maksudnya nyonya. Saya,,,"
"Ah kamu aku pecat!!! Keluar kamu!!" tanpa mau dengan penjelasan, Hana langsung mengusirnya.
Sekretaris yang merupakan sekretaris kesekian orang yang sudah dipecat Hana hanya bisa menelan ludah. Sejak kepemimpinan di tangan Hana memang banyak karyawan yang setia jadi out. Kebanyakan mereka kurang suka dengan bos barunya yang sok kaya itu.
Dengan langkah gontai sekretaris itu meninggalkan ruangan bos galaknya.
"Ini juga dari tadi cerewet banget!!! Gak tau aku lagi pusing apa kok pada telpon telpon terus. Lagian ngapain sih??" sungut Hana kesal karena ponselnya berdering untuk kesekian kalinya.
Sedari tadi ponsel itu tidak diam diam. Terus saja ada yang menelponnya meski sama sekali tak dihiraukannya. Hana bahkan tak tau siapa saja yang begitu sibuk menelponnya hari itu.
Kejutan dari para klien yang memutuskan kerjasama bersamaan hari ini cukup membuatnya kesal. Dan semakin kesal karena itu akhirnya perusahaannya akan mengalami masalah. Keuangannya akan terpengaruh juga.
Ponsel itu berdering sekali lagi. Hana yang tengah memijat kepalanya yang makin berdenyut, dengan kasar mengeluarkan ponsel itu dari tasnya. Matanya berbinar melihat siapa yang menelponnya.
__ADS_1
"Hmm setidaknya yang bening satu ini gak akan membuatku makin pusing." gumamnya sembari mengingat malam panjangnya bersama sang penelpon.
"Hai sayang. Tumben telpon duluan. Kangen ya? Mau lagi?" godanya saat menjawab telpon dari Yusuf.
"Bantu aku." Yusuf langsung saja tanpa mengindahkan godaan Hana tadi.
"Kenapa ini? Sepertinya kamu sedang tidak baik baik saja." Hana menebak.
"Carikan aku pengacara terbaik di sini. Kirim ke rumah sakit tempat kita pertama bertemu. Aku sedang butuh pengacara." ucap Yusuf.
"Hmmm tapi apa dulu imbalannya bagiku? Aku gak mau lho kalau melakukan apa apa tanpa dapat sesuatu. Kamu tau itu kan?" Hana mencoba negosiasi.
"Apa pun yang kamu minta. Yang jelas aku harus bisa keluar dari kasus yang menjeratku." Yusuf makin tidak sabar.
"Asyiik. Baiklah. Aku akan bawa pengacara terbaikku. Tunggu aku di sana ya sayangku." Hana makin genit.
Tanpa menyahut Yusuf mengakhiri panggilan. Sesungguhnya ia juga muak dengan Hana tapi mau apalagi. Hanya wanita itu satu satunya yang bisa diharapkannya saat ini. Dan saat Hana menyanggupi membantunya, maka itu cukup membuatnya senang.
Entah apa yang membuat Yusuf merasa Hana adalah jalan keluar baginya. Yusuf benar benar lupa siapa Hana.
Sementara itu,Hana langsung menghubungi pengacara terbaik yang selalu mendampingi perusahaan perusahaannya selama ini. Ia yakin pengacara yang sudah dibayarnya mahal selama ini tentu bisa menyelesaikan semua masalah Yusuf dan masalahnya juga seperti biasanya.
"Halo."
"Kemana saja sih tuan? Tumben slow respon begini!! Sudah bosan saya gaji??" sungut Hana.
"Kebetulan nyonya telpon. Saya ingin menyampaikan bahwa saya ingin berhenti menjadi pengacara nyonya." ucap pengacara itu membuat Hana yang tadinya duduk santai bersandar langsung duduk tegap.
"Maksudnya apa ini?? Saya sedang butuh anda malah anda berhenti. Rugi dong bulan ini saya sudah gaji anda." ketusnya.
"Kalau nyonya mempermasalahkannya, saya bisa kembalikan sekarang juga. Saya transfer ya." jawab pengacara itu dengan santainya.
"Heh,,, gak bisa begitu juga dong tuan.Setidaknya anda harus selesaikan sebulan ini dulu. Lagipula anda juga tau kan kalau hanya saya yang bisa membayar anda mahal. Anda pertimbangkan lagi." ucap Hana.
"Saya sudah sangat yakin nyonya. Lagipula saya ada pekerjaan baru."
__ADS_1
"Pengacara sialan!! Giliran dibutuhin malah ngilang." Hana mengakhir panggilannya dan sangat sangat kesal.
Entah kenapa dengan hari ini. Semua membuatnya kesal. Semua mengacaukan perasaannya. Gak klien,,, gak pengacara,,,Semua memancing emosinya.
Emosinya juga makin meningkat saat ponselnya kembali menyuarakan sebuah pesan notif.
"Sombong sekali dia. Dia benar benar mentransfer semua gajinya. Bahkan bukan sebulan saja tapi tiga bulan terakhir. Siapa memangnya yang sekarang membayarnya?? Sok kaya saja itu pengacara. Dipikirnya hanya dia saja apa yang handal??" sungut Hana.
Tengah memikirkan siapa pengacara selanjutnya yang bisa diandalkannya, Pintu ruangannya diketuk secara keras.
"Masuk!!" ketusnya kesal karena ada yang begitu tidak sopan padanya.
"Ada apa?? Gak bisa ketuk pintu pelan pelan??" bentaknya pada staff kepala yang baru diangkatnya sebulan lalu masuk dengan wajah panik itu.
"Gawat nyonya. Gawat." ucapnya panik.
"Apa sih??!! Ngomong yang benar!!"
"Semua nyonya. Semua pulang dan meninggalkan pekerjaannya." masih dengan panik, kepala staff itu menyampaikan.
"Semua apa?? Siapa??" tanya Hana.
"Semua karyawan nyonya. Semua divisi. Mereka berhenti bekerja."
"Apa??!!!! Kenapa bisa begitu??!!" Hana langsung berdiri dan menggebrak meja.
"Saya juga tidak tau nyonya. Saya hanya sempat dengar mereka mau pindah kerja semua ke perusahaan baru."
"Semua mau kesana?? Perusahaan baru mana memangnya yang begitu hebat bisa merebut hati para bawahanku? Memangnya dia bisa menggaji mereka seperti aku??" Hana menyombong.
"Sebaiknya nyonya keluar dan lihat sendiri."
Hana menuruti perkataan kepala staff itu. Dia keluar dan menyaksikan sendiri para karyawannya berbondong bondong meninggalkan meja masing masing dan membawa barang masing masing.
"Hey,,,mau kemana kalian??!!" teriak Hana tapi tak ada satu pun menyahut.
__ADS_1
Jangankan menyahut, melirik pun tidak. Baru kali ini bos galak itu merasa begitu direndahkan.
...❤️❤️❤️❤️...