Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Berurusan Dengan Orang Yang Salah


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Yusuf terbangun. Ia melihat keadaan sekeliling yang bisa ia kenali sebagai ruangan rumah sakit. Ia sangat yakin karena ia melihat kantong infus yang tergantung. Dan lagipula,,, rumah sakit ini juga salah satu sumber uangnya karena ia adalah salah satu pemilik saham di sana.


"Apa apaan ini!!" sungutnya saat menyadari satu tangannya diborgol di tepian ranjang.


Berpikir keras kenapa bisa begitu, Yusuf diam sejenak dan mengingat semua yang terjadi. Seketika nyeri bekas pukulan keras dari Dion kembali terasa di rahangnya.


Ngilu yang tidak sekedar ngilu biasa karena hatinya jauh lebih ngilu membayangkan saat ini Karin tentu tengah bahagia mendapati suaminya bisa tegak berdiri begitu.


"Sial. Kenapa bisa sih?? Oh,,,atau jangan jangan selama ini dia memang sudah sembuh tapi masih pura pura sakit? Dasar,,, dia berusaha menarik simpatiku." tuduh Yusuf kesal.


Klotak klotak klotak,,,


Suara borgol itu beradu dengan besi ranjang saat Yusuf menggerak gerakkannya seraya memanggil suster atau dokter yang berjaga.


"Tuan Yusuf sudah sadar?" perawat yang mendengarnya masuk dan langsung memeriksanya.


"Buka borgol ini sus. Lagian siapa yang berani memborgolku di rumah sakit yang modalnya juga sebagian dariku?" sungut Yusuf kesal.


"Maaf tuan. Anda sebaiknya tenangkan diri dulu. Untuk urusan borgol ini saya tidak bisa bantu. Itu wewenang dari pihak kepolisian dan pelapor." terang suster itu takut takut.


Tentu takut dan segan sebenarnya karena selama ini para pekerja disana memang taunya Yusuf itu orang yang berpengaruh di rumah sakit itu dua tahun belakangan ini. Sejak pemilik dari rumah sakit swasta itu meninggal, kepengurusan dan manajemen rumah sakit memang agak kacau lalu Yusuf datang menawarkan modal dan beberapa inovasi.


"Pelapor katamu? Siapa memangnya yang berani melaporkanku?" tanya Yusuf.


"Aku."

__ADS_1


Seseorang masuk dan menjawab pertanyaan itu. Yusuf menoleh dan tak menyahut saat suster pilih undur diri dari ruangan itu. Yusuf lebih fokus memperhatikan pria berjas di ujung pintu itu.


"Siapa kamu? Aku tidak kenal dan kita tidak ada urusan apa apa. Sebaiknya kamu lepaskan borgol ini. Cabut apa pun laporanmu itu karena aku bisa menuntutmu balik." ancam Yusuf.


"Secara pribadi kita memang tidak ada urusan. Kita bahkan tidak saling kenal. Ini pertama kalinya kita bertemu. Tapi aku tetap tidak bisa mencabut laporanku atas dirimu. Jadi nikmati saja pemulihan kondisimu dengan borgol itu tetap mengikatmu." ucap pria itu santai.


"Heh,,, mana bisa begitu? Setidaknya aku berhak tau apa alasanmu melaporkanku!!" ketus Yusuf.


Orang itu masuk. Menuju ke sebuah sofa yang tersedia di sana. Melonggarkan tali dasinya dan menyamankan duduknya.


"Enak juga duduk di sini. Empuk." ucap pria itu membuat Yusuf makin kesal.


"Hei,,,jangan bahas yang lain lain!!" Yusuf benar benar kesal dibuatnya.


"Tuan Yusuf yang tidak lagi terhormat,,, Menurut wasiat mendiang ayah saya,,, Siapa pun yang berurusan dengan sahabat mendiang,, maka otomatis akan berurusan dengan saya selaku pewaris mendiang. Urusan apa pun yang menimpa sahabat mendiang ayah saya,,,"


"Diam!! Mendiang ayahmu siapa?? Sahabatnya siapa?? Aku bahkan tidak kenal. Jadi tidak ada alasan bagimu memperlakukanku seperti ini!!" bentak Yusuf memotong penjelasan lelaki muda yang tak lain adalah Levi, putra sulung dari mendiang Darren Narendra, sahabat sejati Dion.


Yusuf terkejut mendengarnya. Ya,, dia tau nama itu. Nama itu adalah nama teratas di deretan managemen rumah sakit elite ini. Yusuf juga tau pemilik nama itu tengah berjuang antara hidup dan mati melawan takdir hidupnya. Melihat celah yang menguntungkan memang membuat pebisnis seperti dirinya bisa langsung mengambil langkah.


Sedikit curang tapi tetap saja walau sedikit juga tetap disebut curang. Curang bagaimana? Yah hanya otak pebisnis yang paham. Tidak perlu dijelaskan di sini, yang jelas saat ini ia harus berhadapan dengan pewaris asli rumah sakit yang tidak terima asetnya telah dicurangi selama ini.


"Tidak hanya itu,,, Di sini saya juga mewakili om Dion,sahabat dari mendiang ayah yang ibunya sudah anda celakai. Sebaiknya anda berdoa agar nyawa nyonya Herna tertolong. Dengan begitu mungkin tuduhan yang ditudingkan kepada anda tidak perlu naik menjadi pembunuh."


Yusuf merasa nyalinya ciut kali ini. Meski pemuda itu bahkan belum menyebutkan namanya dan sangat santai berbicara, namun bisa dirasakannya tiap ucapan pemuda itu tidak main main.


Yusuf baru menyadari selama ini rupanya ia berurusan dengan orang yang salah. Ia hanya paham siapa Karin namun ia sama sekali tak mencari tau siapa Dion.


"Bodohnya aku." runtuknya dalam hati.

__ADS_1


"Saya permisi. Sebaiknya anda beristirahat yang cukup. Makan yang cukup. Jaga stamina anda karena proses selanjutnya masih akan sangat panjang."


"Siapa namamu?" lirih Yusuf.


"Nama saya tidak penting. Anda cukup mengingat nama Dion saja. Orang yang sangat marah dengan tindakan anda. Saya bukan siapa siapa. Saya hanya orang yang bertindak mewakili beliau." Orang itu menoleh dengan senyum penuh wibawanya lalu meninggalkannya sendirian di ruangan itu.


Nyali Yusuf makin ciut. Sepintas ia mengingat satu nama yang mungkin hanya nama itulah yang bisa membantunya saat ini.


"Hana pasti bisa membantuku. Apalagi kelihatannya dia memang menginginkanku. Janda gatal itu pasti mau membebaskanku. Lagipula dia cukup beruang. Melepaskanku dari tuntutan ini pasti tidak akan membuatnya berpikir dua kali." gumamnya yakin.


Yusuf lupa siapa Hana dan apa hubungannya dengan Dion. Yusuf juga lupa bahwa Hana telah melakukan hal sangat buruk pada Dion.


Dengan satu tangan yang tidak terborgol, Yusuf berusaha menggapai ponselnya di atas nakas samping ranjang pasien. Dengan susah payah ia menggapainya tapi benda itu malah jatuh ke lantai.


"Sial!!!" gerutunya.


"Mau kuambilkan?" Tanya seseorang yang masuk ke ruangannya.


"Bang D?" seru Yusuf.


"Terlepas dari semua kebaikanmu yang awalnya mungkin tulus tapi jadinya berubah modus, aku ucapkan terima kasih. Tapi aku tetap ingin kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan pada mama." ucap Dion.


"Hhhh,,, lakukan saja sebisamu. Aku juga tidak akan tinggal diam kamu perlakukan begini. Aku punya hak mencari pengacara yang akan membelaku." sombong Yusuf.


"Ya ya silahkan cari. Aku juga jadi ingin tau apa masih ada pengacara yang mau membelamu setelah tau dengan siapa kamu berhadapan." ucap Dion santai namun cukup membuat Yusuf makin ciut nyali mengingat ia tak tau banyak siapa Dion.


Bisa saja ia akan mendapati kejutan kejutan besar lainnya yang sama sekali tak diperhitungkannya bukan?


"Nih ponselmu. Hubungi saja siapa pun yang mau kamu hubungi." tukasnya kemudian setelah membantu mengambilkan ponsel Yusuf yang terjatuh tadi.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2