
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Di penjara pusat kota setempat, Pak Adi menunggu tahanan yang hendak dibesuknya keluar. Memilih tinggal dulu sebentar di Turki,rupanya ada yang ingin ditemui beliau.
Yusuf keluar dengan pakaian tahanannya dan tangan terborgol.
Sedih,,, Itulah yang dirasakan oleh pak Adi saat melihatnya. Namun apa mau dikata, pemuda itu memang pantas menjadi demikian setelah apa yang diperbuatnya.
"Om Adi,,, Terima kasih masih mau menemuiku." ucap Yusuf senang karena akhirnya masih ada yang peduli padanya.
"Terlepas dari apa yang sudah kamu lakukan, di satu sisi kamu tetap penolong kami. Om justru yang tetap harus berterima kasih padamu. Sekaligus minta maaf."
"Maaf untuk apa om? Om sama sekali tidak punya salah sama Yusuf."
"Bukan untuk om sendiri tapi untuk anak om, Karin. Maafkan dia kalau sikapnya sekarang seperti itu padamu. Dia bukan kacang lupa dengan kulitnya. Dia tentu tidak bermaksud melupakan semua jasa jasamu kepada kami. Dia hanya,,,,"
"Kecewa. Yusuf tau itu dan bisa mengerti om. Bagaimana pun dia sudah menaruh kepercayaan dan harapan pada Yusuf tapi malah Yusuf khianati. Sikapnya saat ini adalah hukuman bagi Yusuf. Tidak apa apa om. Om tidak usah minta maaf atau merasa tidak enak padaku."
Yusuf tersenyum dan meyakinkan bahwa ia bisa menerima semua itu dengan lapang dada. Ia bisa menerima semua bentuk hukuman yang memang sudah sepantasnya didapatkannya. Meski perih akibat luka menganga kehilangan sang bidadari tetap saja menyerangnya dalam diam.
"Kamu anak baik Yusuf. Kamu hanya sedang lalai. Om yakin,,, setelah habis masa tahananmu ini kamu akan kembali bersinar."
"Aamiin om. Doakan Yusuf ya. Kalau om ada waktu dan om bersedia,,, sering sering datang kesini." pinta Yusuf penuh harap.
"Maaf Yusuf. Bukan om tidak mau, tapi om tidak bisa. Setelah ini om akan menyusul Karin dan keluarga ke Indonesia."
"Indonesia?? Karin sudah pergi om???" Yusuf merasa nyawanya makin tinggal separuh mendengarnya.
"Iya. Dia sudah berangkat dan kemungkinan sudah sampai di sana. Dion membawanya pergi untuk memulai hidup baru lagi." pelan pelan pak Adi memberitahukannya pada Yusuf.
Yusuf tertunduk lesu.
__ADS_1
"Om tau kamu begitu mencintainya. Tapi om harap seiring dengan cinta yang terus tumbuh itu, kamu mengimbanginya dengan keikhlasan. Ikhlaskan dia bahagia bersama jodoh pilihan Rabbnya. Om tau ini berat bagimu,, tapi cinta tidak selalu memiliki. Cinta artinya merelakan yang terkasih bahagia dengan takdir Rabbnya."
"Setidaknya cinta itu sudah sempat terbalas meski dengan kebohongan." sahut Yusuf lirih.
Yusuf makin menunduk. Membiarkan airmata yang sempat menggenang kini tumpah dan terjun bebas membasahi celananya. Pak Adi diam memperhatikan. Dalam hati beliau sebagai sesama lelaki bisa merasakan kepedihan itu tapi di sudut hati lainnya,, beliau yakin Yusuf akan kembali bangkit.
Dia hanya butuh waktu.
"Kalau begitu om pamit dulu. Jaga dirimu baik baik. Buktikan pada dunia bahwa kamu bisa kembali ke jalan yang benar. Susah awalnya percaya orang sebaik kamu berakhir di tempat ini tapi ini kenyataannya. Perjuangkan sisi baik hatimu Yusuf. Om yakin,,,kelak kamu akan temukan bahagiamu."
Pak Adi menepuk nepuk bahu Yusuf lalu meninggalkannya tetap terpekur dalam diamnya. Sempat ditoleh kembali oleh pak Adi sebelum benar benar melangkahi pintu itu,,,Yusuf masih tertunduk.
"Berikan dia kekuatan ya Rabb." doa pak Adi dalam hati.
Yusuf perlahan mengangkat wajahnya. Tersenyum. Bukan sekali namun terus saja senyum senyum dengan kepala miring.
"Hahahahhahahhaha,,,,"Sejurus kemudian ia tertawa.
Menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan akhir cerita cinta sendiri.
...🌸🌸🌸...
Pak Adi meninggalkan bandara setibanya di Indonesia. Ada satu tempat yang ingin segera dikunjunginya selain makam sang istri. Beliau bahkan menolak untuk dijemput karena ingin sendiri kesana dan sekaligus ingin memberi kebebasan dulu untuk Karin dan Dion memiliki waktu berdua.
Makam istri sudah dikunjungi. Sekarang berganti ke sebuah rumah asri nan cantik. Seorang anak kecil tengah berlarian di tamannya. Sesekali terdengar suara teriakan sang ibu yang berdiri tak jauh darinya. Meski sibuk dengan kereta bayi yang tengah didorongnya, sang ibu tetap mengingatkan kakak si bayi untuk berhati hati.
Pak Adi berdiri di depan pagarnya membuat sang pemilik rumah melihat kehadirannya. Wanita muda itu terdiam sekilas melihatnya. Memastikan penglihatannya tidak salah.
"Om Adi???" pekiknya senang begitu yakin yang dilihatnya tidak salah.
Segera didorongnya kereta bayinya dan mendekati pagar. Membukanya untuk menyambut sang paman. Mendekapnya dengan hangat bagai menyalurkan kerinduan yang teramat dalam pada sosok yang wujudnya hampir menyerupai mendiang abinya.
"Rayya." pak Adi membiarkan keponakan satu satunya itu mendekapnya erat.
__ADS_1
Dari dulu Rayya memang begitu menyayanginya tanpa peduli seperti apa sikap beliau dulunya. Meski dimusuhi, disakiti,,, anak manis itu tetap manis seperti Rayhan, mendiang abinya.
"Kamu benar benar seperti Ray. Pantas jika namamu pun Rayya. Kamu mewarisi semua kebaikannya yang nyaris tidak ada cela." puji pak Adi.
"Terima kasih om. Ayo om kita masuk dulu." Rayya mempersilahkan.
"Kamu baru melahirkan anak keduamu?"
"Iya om. Itu makanya Rayya gak bisa ikut kak Levi ke Turki kemarin." jelas Rayya.
Pak Adi menghentikan langkahnya. Itulah tujuannya mengunjungi Rayya. Membahas apa yang sudah dilakukan anak manis itu untuk Karin.
"Ada apa om? Kok berhenti?" tanya Rayya heran.
"Kamu yakin memberikan semuanya itu untuk Karin Rayya?"
Rayya tersenyum. Menggamit lengan sang paman dengan manjanya. Membimbingnya duduk di kursi teras lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang paman.
"Kalau abi masih hidup dan diberi kesempatan,,, abi akan melakukan hal yang sama. Rayya minta maaf kalau abi tidak punya waktu lebih lama untuk melakukannya dulu. Abi belum sempat memberikan apa yang jadi hak om tapi Tuhan sudah memanggilnya. Karenanya,,,Rayya yang meneruskannya sekarang. Rayya bagikan dan berikan apa yang jadi hak Karin sebagai sesama cucu dari kakek."
"Tapi kamu juga tau kan kecelakaan Ray adalah ulahku juga dulu. Kenapa kamu masih begitu baik?" tanya pak Adi.
Rayya mengangkat kepalanya dari bahu pak Adi.
"Karena tidak baik menyimpan dendam om. Tidak pernah ada yang bisa dibanggakan segala sesuatu yang terjadi akibat dendam. Merelakan,,Memaafkan jauh lebih indah. Setidaknya itu yang Rayya pelajari dari mendiang orang tua Rayya dan ayah Darren."
"Sungguh bahagia Ray memiliki putri sepertimu Rayya. Dia pasti tenang di sana."
"Dan makin tenang sekarang karena ada adik tersayangnya menjaga Rayya. Memberikan bahunya untuk Rayya sandari." Rayya kembali menyandarkan kepalanya di bahu hangat itu.
"Om tinggal sama Rayya saja ya. Biar Rayya merasa dekat abi." pinta Rayya tulus.
Pak Adi menitikkan airmata untuk cinta yang berlimpah itu. Tanpa banyak protes, beliau mengangguk.
__ADS_1
"Karin butuh waktu lebih bersama Dion, tidak ada salahnya aku bersama Rayya dulu." batin pak Adi.
...❤️❤️❤️❤️...