
Secara perlahan Patih Kinjiri mulai sembuh dari sakitnya. Patih Kinjiri mulai berlatih kembali untuk meningkatkan kemampuan bela diri dan juga ilmu kanuragannya. Patih Kinjiri juga melatih ketepatan dan kecepatan dalam serangan. Bahkan dia juga berlatih bersama dengan Ki Singo Rogo.
Hingga Patih Kinjiri diberi sebuah ilmu bernama Ajian Lampah Lumpuh. Ki Singo Rogo memberikan ajian tersebut karena sudah mengetahui siapa lawan yang akan mereka hadapi. Dengan Ajian Lampah Lumpuh, Patih Kinjiri bisa berhadapan dengan musuhnya yang memiliki Ajian Waringin Sungsang.
Dan dari Prabu Jabang Wiyagra, Patih Kinjiri mendapatkan Ajian Suket Kalanjana. Dengan kedua ajian tersebut, Patih Kinjiri dapat mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah. Sekaligus bisa membantu Prabu Jabang Wiyagra mengalahkan musuh-musuhnya di masa lalu, yang sekarang sedang berusaha mendekat kepadanya.
"Gusti Patih, aku telah berusaha melupakan semua masa lalumu, saat dimana dirimu membunuh muridku dahulu. Tapi aku benar-benar tidak bisa melupakannya."
".....Namun aku sudah memaafkanmu. Karena aku yakin kalau muridku pun, tidak akan rela guru kesayangannya ini melakukan balas dendam." Ucap Ki Singo Rogo.
Patih Kinjiri langsung memeluk Ki Singo Rogo. Dia benar-benar telah menyesali semua perbuatannya. Terutama saat dia membunuh murid dari Ki Singo Rogo. Kala itu dia melakukannya karena sebuah keterpaksaan. Dia sama sekali tidak ingin membunuh temannya sendiri.
Patih Kinjiri juga sangat tidak menyangka, kalau waktu itu yang dia bunuh adalah seorang pendekar yang masih satu jalur keilmuan dengan dirinya. Patih Kinjiri juga masih mengingat wajah orang yang ia bunuh itu. Patih Kinjiri selalu ingat dengan wajah-wajah setiap korbannya.
Hal itu menimbulkan satu luka yang sangat mendalam bagi Patih Kinjiri. Dia juga merasa sangat tidak enak hati kepada Ki Singo Rogo. Yang secara tidak resmi sudah menjadi gurunya sendiri. Padahal Patih Kinjiri belum pernah meminta maaf sekalipun kepada Ki Singo Rogo.
Dia selalu merasa malu setiap kali menatap wajah Ki Singo Rogo. Setiap kali dia menatap wajah Ki Singo Rogo, dia akan selalu ingat dengan kenangan buruknya di masa lalu. Entah sampai kapan trauma berat itu akan hilang dari dirinya.
__ADS_1
Namun Ki Singo Rogo sendiri selalu mengingatkan Patih Kinjiri, agar tidak terlalu lama larut dalam kesedihan. Karena masih banyak hal yang harus ia pikirkan. Semua orang yang ada di benteng Ini menaruh harapan besar kepada Patih Kinjiri.
Begitu juga dengan Prabu Jabang Wiyagra, yang sudah mempercayakan semuanya kepada Patih Kinjiri, untuk kembali menyusun kekuatan yang ada di benteng ini. Sebelum kembali ke Kerajaan Wiyagra Malela, Prabu Jabang Wiyagra juga menugaskan Lare Damar dan beberapa pasukan lembutnya untuk membantu Patih Kinjiri.
Sedangkan Prabu Jabang Wiyagra akan kembali ke Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Jabang Wiyagra juga harus menyusun semua kekuatannya yang sudah terpecah. Dia juga harus membentuk kembali pasukan-pasukan khusus, guna mencegah gelombang pasukan selanjutnya yang akan datang.
Walau pun Kerajaan Wiyagra Malela sudah memenangkan pertempuran besar yang terakhir, tetapi mereka masih harus mempersiapkan semuanya lagi dari awal. Karena jika mereka mengandalkan strategi sebelumnya, makam susu udah memiliki cara untuk memecahkan strategi tersebut.
Dengan berat hati, Prabu Jabang Wiyagra harus meninggalkan benteng itu. Dan juga memerintahkan semua pasukannya yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela, untuk kembali mempersiapkan diri mereka menyambut kedatangan musuh yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Karena sebelum pertempuran dimulai, seluruh keluarga istana akan diasingkan ke tempat yang jauh lebih aman. Agar mereka tidak menjadi sasaran musuh. Kalau mereka tetap berada di sini, itu bisa membahayakan nyawa Prabu Jabang Wiyagra. Musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra akan menggunakan keluarganya untuk mengancam Prabu Jabang Wiyagra.
Jadi, dari jauh hari Maha Patih Putra Candrasa sudah mendapatkan perintah untuk membangun sebuah ruang bawah tanah. Khusus untuk keluarga Prabu Jabang Wiyagra. Sekaligus juga untuk para pelayan istana, yang tidak memiliki kemampuan untuk bertarung.
Dengan terpaksa, Ratu Ayu Anindya juga pergi dari istana untuk menuju ruang bawah tanah tersebut, bersama dengan semua pengikutnya. Walaupun awalnya Ratu Ayu Anindya tempat menolak dan tetap kekeh ingin tinggal di istana.
Tapi demi keselamatannya, dan juga bayi yang dikandungnya, Ratu Ayu Anindya akhirnya terpaksa harus berpisah dari Prabu Jabang Wiyagra untuk sementara waktu. Karena diketahui Ratu Ayu Anindya, sudah mengandung selama empat bulan.
__ADS_1
"Kanda berjanji kepada Dinda, akan menjemput Dinda setelah semuanya selesai. Semuanya akan baik-baik saja Dinda."
Itulah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra sebelum Ratu Ayu Anindya pergi dari istana. Ratu Ayu Anindya terus menerus menangis di sepanjang jalan. Para pedagang dan pelayan berusaha menenangkannya dengan sangat lembut, supaya Ratu Ayu Anindya ingat dengan bayi yang ada dikandungannya.
"Jangan menangis terus Gusti Ratu. Kasihanilah bayi yang ada di dalam kandungan Gusti Ratu sekarang. Dia pun pastinya merasakan apa yang dirasakan oleh Gusti Ratu dan juga Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Namun inilah yang terbaik untuk semuanya, Gusti Ratu." Ucap salah seorang pelayan perempuan kepada Ratu Ayu Anindya.
Semua orang yang menjadi pengikut Ratu Ayu Anindya pun, sama sekali tidak mengharapkan semua ini terjadi. Namun mereka semua bisa memahami, kalau keadaanlah yang memaksa Prabu Jabang Wiyagra untuk memberikan keputusan yang sangat berat ini.
Sebelum melepaskan para pelayan, dan juga Ratu Ayu Anindya, Prabu Jabang Wiyagra sudah berpesan kepada semua abdi Ratu Ayu Anindya. Kalau mereka semua harus menjaga baik-baik Ratu Ayu Anindya dan juga bayi yang dikandungnya.
Karena jika sampai terjadi sesuatu kepada Prabu Jabang Wiyagra, hanya bayi yang dikandung oleh Ratu Anindya lah yang akan menjadi harapan satu-satunya bagi Kerajaan Wiyagra Malela. Walaupun Prabu Jabang Wiyagra yakin bisa memenangkan perang ini, tapi dia tetap harus melakukan segala antisipasi.
Semua musuh Prabu Jabang Wiyagra sudah berkumpul dan bergabung menjadi satu, di bawah kepemimpinan satu orang, yaitu Ditya Kalana. Dibawah kepemimpinan Ditya Kalana, semua musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra akan memiliki peluang besar, untuk memenangkan peperangan ini.
Kabar tentang bergabungnya musuh-musuh dari Prabu Jabang Wiyagra, sudah sampai kepada Prabu Sura Kalana. Prabu Sura Kalana sudah mempersiapkan segalanya untuk menghadapi adiknya sendiri, yang berbeda haluan dengan dirinya itu.
Perjuangan Prabu Jabang Wiyagra dalam menghadapi musuh-musuhnya ini didukung penuh oleh rakyatnya sendiri. Dan juga semua orang yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka tidak meminta Prabu Jabang Wiyagra untuk menang, tapi mereka meminta Prabu Jabang Wiyagra untuk tetap berjuang.
__ADS_1