DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 326


__ADS_3

Setelah dua hari dua malam, akhirnya datanglah seorang utusan dari Patih Lanja Arang. Utusan itu memberikan sebuah penawaran untuk Ratu Mekar Senggani dan juga Panglima Lara Kencana. Yaitu tiga peti emas dan berlian murni. Yang tidak semua orang bisa memilikinya. Namun Ratu Mekar Senggani menolak pemberian tersebut. Dia tidak mau terikat dengan Patih Lanja Arang. Apalagi bongkahan emas dan berlian itu hanyalah sebuah tipuan. Setelah Ratu Mekar Senggani mendapatkan semuanya, Patih Lanja Arang akan kembali mengirimkan pasukannya, untuk merampas emas dan berlian yang ia kirimkan ke tempat ini.


"Apa Gusti Ratu yakin tidak mau menerima penawaran dari Patih Lanja Arang?" Tanya si utusan itu.


Dengan tegas Ratu Mekar Senggani menolak hal itu dengan kalimat 'Tidak'. Dan dengan cepat, Ratu Mekar Senggani melompat untuk menebas kepala orang itu. Hal itu membuat semua orang yang ada di sana kaget. Karena yang baru saja dipenggal kepalanya oleh Ratu Mekar Senggani, adalah seorang utusan penting. Dia bukanlah pejabat biasa. Apalagi beberapa orang pengawalnya juga berada di luar rumah tersebut. Yang membuat mereka akhirnya menerobos masuk ke dalam rumah. Dan berusaha untuk menyerang Ratu Mekar Senggani dengan pedang yang ada di tangan mereka. Tapi semua usaha mereka sia-sia saja. Karena Ratu Mekar Senggani sudah mulai menggunakan ilmu kesaktiannya.


Lima orang pengawal si utusan tersebut terlempar hanya dengan satu kali pukulan tangan. Bahkan mereka sampai terlempar keluar dari rumah itu. Hingga seluruh badan mereka gosong, seperti terbakar. Itu ada efek dari Ajian Brajamusti yang disalurkan pada pukulan tangan kanan. Yang membuat kekuatan Ajian Brajamusti semakin bertambah hebat. Kelima orang pengawal itu seketika tewas di tempat, dalam keadaan tubuh yang kosong dan susah untuk dikenali. Tubuh mereka benar-benar menghitam secara keseluruhan. Ratu Mekar Senggani merasa sangat puas dengan apa yang baru saja lakukan kepada musuh-musuhnya itu.


Ratu Mekar Senggani kemudian memerintahkan beberapa orang prajuritnya, untuk mengirim balik kuda milik di utusan itu, bersama dengan kepala tuannya sendiri. Kuda tersebut pasti tahu jalan pulang. Karena dilihat dari penampilannya kuda itu sudah terbiasa berada di salah satu wilayah Kerajaan Panca Warna, ya sekarang menjadi tempat persembunyian Patih Lanja Arang dan seluruh pasukannya yang masih tersisa. Karena Patih Lanja Arang juga sama-sama membuat sebuah istana kecil di wilayah perbukitan, yang sangat jauh dari pemukiman warga. Supaya keberadaannya tidak diketahui oleh pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Yang hingga kini masih melakukan pembersihan.


"Kirimkan kepala baji-ngan ini kepada Patih Lanja Arang. Dia sudah mengibarkan bendera perang kepada kita. Maka sudah sepantasnya kita juga mengibarkan bendera yang sama." Perintah Ratu Mekar Senggani kepada seluruh pasukannya.

__ADS_1


"Baik Gusti Ratu."


Ratu Mekar Senggani sudah membulatkan tekad untuk melawan balik Patih Lanja Arang. Dia tidak mau terus-menerus dihina dan dihantui oleh Patih Lanja Arang. Dia juga ingin membalas kematian kekasihnya, Maha Patih Baruncing. Untuk itu, Ratu Mekar Senggani langsung meminta kepada Panglima Lara Kencana untuk mempersiapkan seluruh pasukannya. Panglima Lara Kencana merasa sangat kegirangan mendengar hal itu. Untuk kesekian kalinya, dia akan kembali melihat, bagaimana pedang kesayangannya itu menebas ratusan batang leher manusia. Karena pedang yang digunakan oleh Panglima Lara Kencana memiliki tingkatan ketajaman yang sangat-sangat luar biasa.


Belum ada satupun pedang yang mampu menandingi kehebatan dari pedang yang dimiliki oleh Panglima Lara Kencana. Pedang itu adalah hasil tempaan Prabu Jabang Wiyagra. Sebagai hadiah, karena Panglima Lara Kencana memiliki jasa yang besar kepada Kerajaan Wiyagra Malela. Meskipun pedang itu tidak memiliki nama, tetapi pedang itu sudah terkenal di mana-mana. Karena kekuatannya yang luar biasa. Dan tidak semua Panglima mendapatkan pedang seperti itu. Satu-satunya orang yang bisa membuat pedang itu hanyalah Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Hingga saat ini, belum ada satupun empu yang mampu membuat pedang yang ditempa Prabu Jabang Wiyagra.


Entah pedang itu terbuat dari apa. Namun yang pasti, Prabu Jabang Wiyagra tidak membuat pedang itu secara sembarangan. Selama proses pembuatan pedang itu berlangsung, Prabu Jabang Wiyagra banyak melakukan tirakat dan meditasi. Beliau benar-benar menginginkan sebuah pedang dengan hasil yang terbaik, dari yang terbaik. Apalagi pedang tersebut akan digunakan oleh seorang perempuan. Tujuannya agar tidak ada satupun laki-laki yang berani berbuat macam-macam dengan Panglima Lara Kencana. Karena kemanapun Panglima Lara Kencana pergi, pedang sakti itu akan selalu menjadi teman setia dalam hidupnya. Kecuali jika Panglima Lara Kencana sudah mati.


*


*

__ADS_1


"Seharusnya dia meminta persetujuan dariku dulu. Bukan bertindak secara sepihak seperti ini. Karena sudah pasti sebagian pasukanku yang ada di sanakan mengikuti perintah dari Ratu Mekar Senggani. Terutama dengan Panglima Lara Kencana. Dia haus akan darah musuh-musuhku." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Mbah Kangkas.


"Tidak bisa dipungkiri, Gusti Prabu. Meskipun Ratu Mekar Senggani berada dalam kendali Gusti Prabu Jabang Wiyagra, tetapi dia tetap tidak bisa melawan hati nuraninya sendiri. Kebenciannya terhadap Patih Lanja Arang sangatlah besar. Mungkin itulah sebabnya mengapa Ratu Mekar Senggani sampai mengambil keputusan secara sepihak." Jawab Mbah Kangkas.


"Iya Mbah Kangkas. Tapi aku tetap tidak setuju dengan rencana penyerangan ini. Aku harus cepat bertindak sebelum semuanya terjadi. Aku minta kepadamu, Mbah Kangkas. Selama aku pergi ke perbatasan Kerajaan Panca Warna, jaga istana ini dengan baik. Mungkin aku akan pergi selama beberapa hari. Karena aku harus memastikan, kalau Ratu Mekar Senggani tidak akan melakukan penyerangan."


"Kalau itu sudah menjadi keputusan Gusti Prabu, tentu hamba tidak bisa menolaknya. Hamba akan menjaga istana ini sebaik mungkin, Gusti Prabu."


"Terima kasih Mbah. Aku pergi sekarang."


"Nggih Gusti Prabu."

__ADS_1


Dengan sangat terpaksa, Prabu Jabang Wiyagra akhirnya pergi menuju tempat Ratu Mekar Senggani saat itu juga. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau kalau sampai penyerangan itu terjadi. Karena bisa saja itu hanyalah pancingan untuk Ratu Mekar Senggani. Patih Lanja Arang tidak mungkin sebodoh itu untuk menantang Ratu Mekar Senggani, tanpa sebab persiapan yang matang. Apalagi Ratu Mekar Senggani jauh lebih sakti daripada dirinya. Pastilah Patih Lanja Arang sudah mempersiapkan segalanya sejak awal, sebelum penyerangan ke wilayah perbatasan Kerajaan Panca Warna dilakukan. Patih Lanja Arang tentunya lebih menguasai medan perang, dibandingkan dengan Ratu Mekar Senggani sendiri. Karena dia adalah seorang Patih kerajaan, yang sudah memiliki banyak pengalaman di medan peperangan.


Tidak seperti Ratu Mekar Senggani yang lebih banyak menghabiskan waktunya di istana, daripada berjuang bersama dengan pasukannya. Belum lagi dengan Panglima Lara Kencana yang suka bertindak kejam. Tentu itu akan menjadi sebuah masalah besar bagi mereka berdua. Sekalipun mereka berdua menang dalam pertarungan, pasti akan banyak pasukan mereka yang mati di tangan Patih Lanja Arang. Yang akan membuat Ratu Mekar Senggani kehilangan banyak sekali orang-orang yang setia kepadanya. Dan itulah tujuan utama dari Patih Lanja Arang. Dia ingin mengurangi sebanyak mungkin jumlah orang yang memberikan dukungan kepada Ratu Mekar Senggani.


__ADS_2