
Akhirnya sampailah Maha Patih Galangan dan Maha Patih Putra Candrasa di Kerajaan Wesi Kuning. Suasana di Kerajaan Wesi Kuning ternyata jauh lebih panas daripada tempat yang lainnya. Hal itu dipengaruhi karena banyak sekali pertambangan emas di wilayah Kerajaan Wesi Kuning.
Di Kerajaan Wesi Kuning terdapat banyak sekali pabrik-pabrik, dan juga rumah-rumah penduduk yang saling berhimpitan. Bahkan penataan setiap bangunan di istananya pun terkesan seperti asal-asalan. Dan entah kenapa, Maha Patih Putra Candrasa merasakan ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini.
Banyak sekali menara penjaga yang melindungi istana, tetapi Maha Patih Putra Candrasa hanya melihat beberapa penjaga saja yang berlalu lalang. Begitu juga dengan suasana di dalam istana, yang tidak seramai seperti kerajaan-kerajaan yang lainnya. Namun Maha Patih Putra Candrasa mencoba bersikap biasa saja.
Perlahan mereka berdua masuk ke dalam ruang singgasana Prabu Bawesi. Di sana sudah ada Prabu Bawesi beserta para abdinya. Prabu Bawesi langsung berdiri setelah melihat kedatangan Maha Patih Putra Candrasa, dan menyambutnya dengan sangat ramah.
"Aku ucapkan selamat datang di kerajaan besarku ini, Maha Patih Putra Candrasa. Aku senang karena Prabu Jabang Wiyagra juga mengirimkan utusan terbaiknya." Ucap Prabu Bawesi sembari menepuk-nepuk pundak kanan Maha Patih Putra Candrasa.
Telapak tangan Prabu Bawesi benar-benar besar dan kekar. Begitu juga dengan tubuhnya. Bahkan saat menepuk-nepuk pundak Maha Patih Putra Candrasa, Prabu Bawesi harus sedikit membungkukkan badannya. Karena tinggi badan Maha Patih Putra Candrasa hanya sampai ke perut Prabu Bawesi.
"Terima kasih sudah menerima hamba Gusti Prabu."
"Duduklah Maha Patih. Ada pesan apa dari Prabu Jabang Wiyagra?" Tanya Prabu Bawesi.
"Mohon maaf Gusti Prabu, sebelumnya hamba sampaikan dulu salam dan juga permintaan maaf dari Prabu Jabang Wiyagra, yang tidak bisa hadir secara langsung di tempat ini."
".....Hamba diutus untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Maha Patih Galangan adalah sebuah kebenaran yang bisa dibuktikan." Jawab Maha Patih Putra Candrasa.
__ADS_1
"Ya. Aku mengerti maksudmu Maha Patih. Nanti aku sendiri yang akan menjelaskan semuanya kepadamu, dengan segala bukti yang nyata. Tapi sekarang, nikmatilah terlebih dahulu hidangan yang sudah disediakan untukmu."
Di sini Maha Patih Putra Candrasa merasa semakin ada yang tidak beres di tempat ini. Dan di sinilah semua kekacauan akhirnya terjadi. Karena saat Maha Patih Putra Candrasa mengambil sebuah minuman disediakan pada sebuah Cawan, Maha Patih Putra Candrasa melihat seperti ada racun dalam minuman tersebut.
Dengan bahasa yang santun Maha Patih Putra Candrasa mencoba memberitahu Prabu Bawesi. Tetapi Prabu Bawesi justru marah-marah dan mengamuk kepada Maha Patih Putra Candrasa.
"Mohon maaf Gusti Prabu, hamba datang ke tempat ini dengan damai. Tidak ada sedikitpun niat dihati hamba untuk mencelakai Gusti Prabu Bawesi. Tetapi mengapa minuman ini diberi sebuah racun? Apakah hamba sehina itu? Gusti Prabu?" Tanya Maha Patih Putra Candrasa dengan masih memegang cawannya.
Prabu Bawesi segitiga langsung naik pitam dan memarahi Maha Patih Putra Candrasa, karena dianggap mempermalukan Prabu Bawesi di hadapan para abdinya. Padahal, Maha Patih Putra Candrasa pertanyaan cara baik-baik. Dan tidak ada maksud untuk merusak nama besar Prabu Bawesi.
"Apa maksudmu Maha Patih Putra Candrasa?! Apakah kamu ingin menghinaku di depan para adikku ini?! Lancang sekali perkataanmu itu!"
"Ya! Karena seharusnya kamu tidak perlu mempertanyakan hal itu! Kalau kamu tidak suka kepada minumannya, kamu bisa meminta kepada pelayan yang ada di belakangmu itu! Tabiatmu benar-benar sangat buruk Maha Patih! Aku tidak bisa menerimanya!" Ucap Prabu Bawesi dengan nada marah.
Maha Patih Putra Candrasa kembali menjelaskan maksud dari ucapannya tersebut. Sedangkan Maha Patih Galangan bursa untuk menengahi mereka berdua. Karena keributan mereka sudah membuat semua orang yang ada di tempat ini menjadi ketakutan. Terutama kepada Prabu Bawesi.
Maha Patih Galangan menawarkan untuk mencari siapa pelakunya bersama-sama. Tetapi hal itu justru memancing emosi Prabu Bawesi semakin meledak-ledak. Karena dia menganggap Maha Patih Galangan sudah dengan lancang memberikan perintah kepada rajanya sendiri. Padahal niat Maha Patih Galangan sangatlah baik.
"Ayo kita bertarung di luar! Dan buktikan siapa yang benar!" Ucap Prabu Bawesi.
__ADS_1
Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Galangan, serta semua orang yang ada di sana, hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka benar-benar heran dengan sikap Prabu Bawesi yang selalu saja mudah tersinggung dengan ucapan orang lain.
Padahal apa yang dikatakan oleh Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Galangan sama sekali tidak salah. Maha Patih Putra Candrasa menyampaikan keluhannya dengan sangat santun. Begitu juga dengan Maha Patih Galangan yang berusaha mengingatkan Prabu Bawesi.
Yang dikhawatirkan oleh Maha Patih Galangan adalah ancaman yang diberikan Prabu Jabang Wiyagra. Karena kalau sampai terjadi sesuatu kepada Maha Patih Putra Candrasa, maka Prabu Jabang Wiyagra tidak akan segan untuk memporak-porandakan seluruh wilayah Kerajaan Wesi Kuning.
Ancaman Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah main-main, apalagi kalau sudah menyangkut keluarga istana. Sudah pasti Prabu Jabang Wiyagra akan sangat murka kalau sampai terjadi sesuatu kepada abdi kesayangannya itu. Kemarahan dan tindakan Prabu Bawesi bisa memancing pertikaian yang besar.
Walaupun sudah dibentak oleh Prabu Bawesi, Maha Patih Galangan tetap menasehati Prabu Bawesi dengan sabar. Maha Patih Galangan hanya tidak mau ada pertumpahan darah istana ini. Apalagi Maha Patih Putra Candrasa juga bukan orang sembarangan. Maha Patih Putra Candrasa memiliki banyak sekali pengalaman bertarung.
Walaupun Prabu Bawesi juga memiliki kesaktian yang tinggi, tetapi bukan berarti Maha Patih Putra Candrasa bisa dikalahkan dengan mudah. Maha Patih Putra Candrasa jelas memiliki ilmu-ilmu pamungkas yang tidak diketahui oleh Prabu Bawesi. Dan Prabu Bawesi juga belum tahu seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh Maha Patih Putra Candrasa.
Namun karena Prabu Bawesi tetap ngotot, dan ingin menyelesaikan semuanya dengan otot, maka mau tidak mau, Maha Patih Putra Candrasa harus menghadapi Prabu Bawesi yang terkenal sangat sadis itu. Maha Patih Putra Candrasa berusaha meyakinkan dirinya untuk menghadapi Prabu Bawesi.
Dengan ukuran fisik yang jauh lebih besar, sudah pasti Maha Patih Putra Candrasa akan kerepotan melawan Prabu Bawesi. Apalagi Prabu Bawesi adalah raja yang juga sama-sama saktinya seperti Prabu Jabang Wiyagra. Hal yang pertama kali Maha Patih Putra Candrasa adalah, bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri.
Maha Patih Putra Candrasa tahu, kalau kekuatan dan kemampuan yang dimiliki oleh Prabu Bawesi jauh melampaui dirinya. Kalau dia terus menerus menghadapai Prabu Bawesi, bisa-bisa dia kalah, atau bahkan mati dalam pertarungan. Saat sudah sampai di halaman istana pun, Maha Patih Putra Candrasa sama sekali tidak memulai serangan.
Maha Patih Putra Candrasa hanya diam dan menunggu Prabu Bawesi untuk menyerangnya terlebih dahulu. Dia akan membiarkan Prabu Bawesi kehilangan banyak tenaga, dan barulah dia memiliki kesempatan yang bagus untuk menyelamatkan diri dari tempat ini.
__ADS_1