
Perselisihan antara Wira Satya dan Kawirit berlangsung cukup lama, hingga menimbulkan pertarungan besar. Banyak korban yang berjatuhan dalam perselisihan tersebut. Wira Satya bersikeras untuk mempertahankan kelompok Satrio Luhur yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Dia tidak bisa menerima begitu saja kalau kelompok Satrio Luhur harus dibubarkan.
Kalau memang benar-benar harus dibubarkan, Wira Satya memilih untuk tetap melakukan perlawanan sebisa mungkin. Dukungan untuk Wira Satya semakin hari semakin bertambah banyak. Perlahan tapi pasti, banyak rakyat yang kembali percaya kepada kelompok Wira Satya. Kelompok Satrio Luhur semakin berkembang pesat. Dan anggotanya semakin banyak.
Belajar dari kejadian sebelumnya, Wira Satya tidak mau lagi kalau sampai kelompok Satrio Luhur disusupi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti Kawirit. Akhirnya, Wira Satya meminta bantuan kepada Eyang Badranaya. Eyang Badranaya berjanji akan membantu dan melindungi kelompok Satrio Luhur dari musuh-musuh mereka. Terutama dari Kawirit yang masih belum menyerah.
Eyang Badranaya memberikan sebuah ilmu kepada Wira Satya. Wira Satya merasa sangat senang dan berterima kasih kepada Eyang Badranaya, karena sudah mau menolongnya, yang sedang berada dalam kepayahan. Namun baru saja merasakan ketenangan, tiba-tiba saja ada penyerangan di padepokan milik kelompok Satrio Luhur. Yang sudah pasti pelakunya adalah Kawirit dan kelompoknya.
Dan di sinilah pertarungan terakhir antara Wira Satya dengan Kawirit. Kawirit benar-benar sangat ambisius dan tidak mau mendengarkan nasehat dari Wira Satya. Bahkan dia mencaci maki Wira Satya yang ia anggap lemah dan bodoh. Padahal apa yang dia dapatkan sebagian besar juga dari kelompok yang dipimpin oleh Wira Satya. Sedangkan ilmu hitam yang dipelajari oleh Kawirit hanyalah sebagian kecil saja.
Kawirit yang sudah dipenuhi iri dan dengki itu pun mencoba menyerang dan ingin membunuh Wira Satya. Pada saat itu, sudah banyak sekali anggota kelompok Satrio Luhur yang terluka karena serangan Kawirit dan kelompoknya. Kawirit memang pintar memilih orang-orang yang pilih tanding. Dia juga memiliki banyak sekali pengawal yang siap mati untuknya. Yang membuatnya selalu merasa aman, kemanapun ia pergi.
Ilmu kanuragan yang dimiliki Kawirit tidak seberapa sudah dibandingkan dengan Wira Satya. Apalagi Wira Satya mendapatkan ilmu kanuragan yang baru untuk menghadapi Kawirit. Bukan Kawirit saja yang harus dihadapi oleh Wira Satya, tetapi juga para pengikutnya. Banyak para pengikut Kawirit yang masih bertahan hidup, dan sanggup melakukan pertarungan.
__ADS_1
Wira Satya mendapatkan serangan secara membabi buta dari Kawirit dan para pengikutnya. Awalnya Wira Satya sempat terdesak karena dia hanya sendirian, tanpa dibantu oleh siapapun. Karena waktu itu Abdi Prawira juga sedang tidak ada di sana. Dia mendapatkan tugas dari Wira Satya untuk mengamankan Prabu Sura Kalana sementara waktu dari publik. Karena Prabu Sura Kalana adalah buronan Kerajaan Reksa Jaya.
"Seharusnya kamu setuju dengan pendapatku Wira Satya. Kamu Bisa Memiliki segalanya yang kamu mau. Apapun yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan." Kata Kawirit kepada Wira Satya.
"Saudaraku, aku sama sekali tidak menginginkan kekuasaan. Niatku membentuk kelompok Satrio Luhur adalah untuk memperjuangkan kedamaian dan keadilan rakyat yang menjadi korban peperangan. Kalau dirimu memiliki pendapat lain, silahkan."
"....Aku bisa menerimanya selama itu baik untukmu dan untuk semua orang. Tapi aku memohon kepadamu, untuk tidak memanfaatkan rakyat demi kepentingan dirimu sendiri."
"Jangan munafik Wira Satya. Kita semua di tempat ini butuh makan. Aku tidak mau kelaparan hanya karena mengikuti keyakinanmu yang tidak berguna itu."
"Ya! Aku sudah belajar! Kalau hidup perlu pengorbanan! Dan memang harus ada yang dikorbankan!" Jawab Kawirit yang langsung menyerang kembali Wira Satya.
Wira Satya terpaksa melakukan perlawanan untuk mengakhiri semua kekacauan ini. Karena sudah tidak ada jalan lagi untuk menyadarkan Kawirit yang sudah gelap mata. Satu persatu para pengikut Kawirit pun tumbang. Dan hanya menyisakan Kawirit seorang. Hanya dalam beberapa kali serangan, Kawirit sudah terkapar tak berdaya. Dengan mudahnya dia kalah di tangan Wira Satya.
__ADS_1
Wira Satya sudah sangat keram dengan perilaku Kawirit yang sudah merugikan orang banyak. Dia tidak bisa lagi diberi Kesempatan Kedua. Wira Satya mengambil pedangnya dan langsung memenggal kepala Kawirit pada saat itu juga, dan membungkus kepala itu dengan sebuah kain berwarna putih. Tubuh Kawirit juga dipotong menjadi dua bagian. Leher sampai perut dikuburkan di ujung selatan. Sedangkan bagian bawahnya dikubur di ujung utara Pulau Jawa.
Selepas itu, keadaan mulai membaik dan tidak ada lagi pertempuran antara para pengikut Kawirit dan Wira Satya. Namun beberapa orang pengikut Kawirit kalau itu dikabarkan masih hidup. Dan sebagian besar dari mereka terus berpindah-pindah tempat. Karena semakin lama mereka semakin menua, saat ini hanya tinggal tersisa satu orang saja. Yaitu seorang murid kesayangan Kawirit yang sudah mewarisi semua ilmu hitam yang Kawirit miliki.
Dan orang-orang yang menyerang Padepokan Mbah Kangkas adalah murid dari orang yang mewarisi ilmu hitam milik Kawirit. Prabu Jabang Wiyagra tidak menyebutkan nama orang tersebut. Tetapi Prabu Jabang Wiyagra memperingati semua orang yang hadir di ruangan Singgasana tersebut, untuk berhati-hati dengan orang-orang yang telah menyerang Padepokan Mbah Kangkas. Karena mereka semua adalah orang-orang yang sakti mandraguna.
"Mohon maaf Kakang Prabu, lalu bagaimana dengan Wira Satya sendiri?" Tanya Maha Patih Lare Damar yang penasaran.
Tetapi Prabu Jabang Wiyagra menjawab,
"Tanyakan saja pada Panglima Galang Tantra."
Semua orang yang ada di sana pun kebingungan, termasuk Maha Patih Lare Damar. Saat ini Panglima Galang Tantra masih berada di wilayah Kerajaan Bala Bathara. Karena masih harus membersihkan tempat itu. Panglima Galang Tantra sendiri dulunya adalah anggota dari kelompok Satrio Luhur, yang masih hidup sampai saat ini. Yang artinya, umur Panglima Galang Tantra setara dengan Sang Maha Guru. Karena dua orang tersebut berasal dari kelompok yang sama.
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra kalau mau memerintahkan Maha Patih Lare Damar untuk menarik Panglima Galang Tantra dan yang lainnya dari wilayah Kerajaan Bala Bathara. Wilayah Kerajaan Bala Bathara bukanlah tempat yang baik untuk ditinggali terlalu lama. Masih banyak misteri yang tidak diceritakan oleh Prabu Jabang Wiyagra di Kerajaan Bala Bathara. Maha Patih Lare Damar juga tidak berani bertanya apapun soal Wira Satya.
Bagi dirinya, semua yang diceritakan oleh Prabu Jabang Wiyagra sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tetap waspada dan berhati-hati. Maha Patih Lare Damar tidak pernah menyangka kalau semua ini masih akan berlanjut. Padahal sudah banyak sekali musuh Kerajaan Wiyagra Malela yang dihukum mati. Namun entah kenapa masih saja ada yang hidup hingga saat ini, dan sedang berusaha merusak kedamaian di Kerajaan Wiyagra Malela.