DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 161


__ADS_3

Keberhasilan Maha Patih Kumbandha dan Maha Patih Putra Candrasa dalam penyerangan itu, dirayakan dengan mengadakan doa bersama. Sebagai rasa syukur atas keberhasilan yang mereka raih, sekaligus untuk mendoakan para korban yang gugur dalam tugas tersebut.


Maha Patih Putra Candrasa merasa sangat bersalah kepada keluarga para prajurit yang gugur. Dia meminta maaf kepada mereka semua, karena tidak bisa membawa pulang jasad para prajuritan gugur ini. Tetapi para keluarga korban sudah mengikhlaskan kepergian anggota keluarga mereka.


Mereka disuruh merasa bangga, karena anggota keluarga mereka mati sebagai seorang pejuang, bukan seorang pecundang. Kebanyakan prajurit yang ikut dalam tugas tersebut adalah, orang-orang asli dari Kerajaan Wesi Kuning. Yang kebanyakan juga masih muda, dan tidak pernah ikut dalam kemiliteran.


Para keluarga korban sudah pasti merasakan kesedihan, karena mereka sudah kehilangan salah satu anggota keluarga mereka. Namun hal itu mereka anggap jauh lebih baik, daripada harus menjadi budak dari Prabu Bawesi, yang memiliki sifat serakah dan sang kejam kepada rakyatnya sendiri.


Pada keluarga korban yang ditinggalkan, sama sekali tidak menyalahkan apa yang sudah terjadi. Mereka juga merasa sedikit lega karena keberhasilan dirayakan dengan acara doa bersama, dan juga melibatkan para keluarga yang ditinggalkan. Sehingga mereka yang ditinggalkan merasa sangat dihargai.


"Tidak apa-apa Maha Patih. Kami justru merasa bangga, karena mereka mati seperti seorang pejuang, bukan seorang pecundang. lebih baik mereka mati karena memperjuangkan keadilan, daripada harus hidup menjadi budak selama-lamanya." Ucap salah seorang keluarga korban kepada Maha Patih Putra Candrasa.


"Terima kasih atas pengertian kalian. Kami para abdi Kerajaan Wiyagra Malela, tidak akan pernah lupa dengan jasa-jasa keluarga kalian yang gugur dalam tugasnya. Aku akan mengingat mereka semua, dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan mereka. Karena mereka adalah saudara-saudaraku."

__ADS_1


Maha Patih Putra Candrasa lalu memberikan sebuah tanda pengenal, atau sebuah lencana, yang memang dimiliki oleh setiap prajurit di Kerajaan Wiyagra Malela. Walaupun para prajurit yang gugur ini belum pernah sekalipun datang ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, tetapi mereka tetaplah prajurit kerajaan, yang pantas mendapatkan kehormatan. Dan lencana inilah tanda kehormatan itu.


"Aku sangat berterima kasih kepada kalian semua yang sudah berusaha dengan baik. Aku juga turut berduka atas gugurnya para prajurit kita. Kamu Sekarang bukan waktunya untuk bersedih, karena peperangan masih terus berlanjut. Dan aku berharap kalian bisa memahaminya." Ucap Lare Damar.


Selepas acara doa bersama, semua para petinggi, baik pimpinan prajurit, ataupun para Patih, berkumpul dalam satu ruangan, untuk menikmati jamuan makanan dan minuman. Sekaligus untuk membahas kembali rencana mereka selanjutnya. Di sana juga ada Pangeran Rawaja Pati, Patih Kinjiri, Patih Daraka, Patih Kayat, dan juga Maha Patih Galangan.


Lare Damar memberikan kesempatan kepada Maha Patih Galangan, untuk meminta maaf kepada mereka semua yang ada di sana. Terutama kepada Maha Patih Putra Candrasa yang sudah ia khianati. Namun Maha Patih Putra Candrasa menolak untuk memberikan permintaan maaf, sebelum Maha Patih Galangan meminta maaf terlebih dahulu kepada Prabu Jabang Wiyagra.


"Aku tidak akan memaafkanmu, sekalipun kau menjilat kakiku. Kecuali kau mau meminta maaf terlebih dahulu kepada Prabu Jabang Wiyagra, secara langsung." Ucap Maha Patih Putra Candrasa.


"Maafkan aku Maha Patih. Jujur saja, kala itu aku sedang dibutakan oleh kekuasaan yang dijanjikan oleh Prabu Bawesi. Namun akhirnya aku sadar, setelah aku kalah di tangan Pangeran Rawaja Pati. Aku tahu aku sudah salah, dan aku tidak akan menutupinya. Aku memang sudah berniat meminta maaf secara langsung kepada Prabu Jabang Wiyagra." Ujar Maha Patih Galangan.


Tetapi ekspresi wajah Maha Patih Putra Candrasa sama sekali tidak berubah. Wajahnya dipenuhi dan amarah dan kebencian kepada Maha Patih Galangan, yang sudah mengkhianati Prabu Jabang Wiyagra. Andaikan saja waktu itu yang datang ke istana Kerajaan Wesi Kuning adalah Prabu Jabang Wiyagra, sudah bisa dipastikan akan terjadi kekacauan besar-besaran.

__ADS_1


Dan mungkin saja, perang yang sekarang terjadi masih kalah besarnya dengan apa yang akan terjadi, kalau Prabu Jabang Wiyagra yang datang ke istana Kerajaan Wesi Kuning pada waktu itu. Bisa dipastikan, pada waktu itu akan terjadi pertarungan besar antara Prabu Jabang Wiyagra dan Prabu Bawesi. Yang akan menimbulkan bencana alam. Karena mereka berdua sama-sama sakti.


Maha Patih Putra Candrasa ruang tersebut karena sangat tidak suka kepada Maha Patih Galangan. Menurutnya, seharusnya Maha Patih Galangan tidak ada di sini, tetapi di dalam penjara bawah tanah. Karena orang seperti dirinya pantas mendapatkan hukuman yang berat. Maha Patih Putra Candrasa belum bisa mempercayai Maha Patih Galangan. Karena rasa bencinya terlalu besar.


Lare Damar berusaha menenangkan Maha Patih Galangan, yang mulai merasa tidak nyaman berada di tempat ini. Dia khawatir, kalau sampai Maha Patih Putra Candrasa mencari kesempatan untuk menghabisinya. Karena kesalahannya yang begitu besar kepada Maha Patih Putra Candrasa dan Prabu Jabang Wiyagra.


"Tenang saja Maha Patih, semuanya akan baik-baik saja setelah kamu bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra. Karena hanya Prabu Jabang Wiyagra yang bisa menundukkan hati Maha Patih Putra Candrasa. Lakukanlah janjimu itu. Minta maaflah kepada Kakang Prabu Jabang Wiyagra, dia pasti akan memaafkanmu dengan senang hati." Ucap Lare Damar kepada Maha Patih Galangan.


"Iya Lare Damar. Terima kasih karena kalian semua juga sudah mau menerima kehadiranku di tempat ini. Sekali lagi aku katakan, aku memang salah. Aku meminta maaf kepada kalian semua yang ada di sini. Dan aku berjanji akan menemui Prabu Jabang Wiyagra, untuk meminta maaf secara langsung kepada beliau."


Semua orang yang ada di sana mendukung niat baik Maha Patih Galangan, yang ingin meminta maaf secara langsung kepada Prabu Jabang Wiyagra. Hanya di tempat inilah, Maha Patih Galangan merasakan apa itu arti sebuah kekeluargaan. Memang semua orang memiliki kepentingan, tetapi berbeda dengan mereka yang ada di sini. Karena mereka semua memegang erat persaudaraan.


Sangat berbeda jauh dengan Prabu Bawesi yang selalu mengutamakan kekuasaan dan kedudukan. Siapa yang kedudukannya tinggi, akan dia jadikan saudara. Dan siapa yang kedudukannya rendah, akan dijadikan budak. Sehingga kebanyakan orang akan merasa tertekan berada di bawah kepemimpinan Prabu Bawesi. Hal itu sudah dirasakan sendiri oleh Maha Patih Galangan.

__ADS_1


Selama masa pemerintahan Prabu Bawesi, dia tidak pernah sekalipun mendapatkan ucapan selamat ataupun terima kasih dari Prabu Bawesi. Yang ia dapatkan hanyalah perintah, perintah, dan perintah. Bertahun-tahun Maha Patih Galangan bertahan dengan sikap Prabu Bawesi yang selalu ingin menang sendiri. Dan sangat jarang memperhatikan bawahannya.


__ADS_2