
Setelah kepergian Prabu Garan Darang, Kerajaan Mangkon Rogo menjadi kosong. Istana itu sudah tidak lagi berpenghuni. Semua pejabat dan orang-orang istana sudah pergi. Bahkan Prabu Garan Darang juga tidak diketahui lagi keberadaannya.
Pada situasi seperti inilah, Prabu Bambang Pura tiba-tiba datang ke Kerajaan Mangkon Rogo bersama ribuan pasukannya. Dia juga membawa banyak sekali logistik pangan untuk semua orang yang ada di wilayah Kerajaan Mangkon Rogo.
Dia menemui beberapa desa yang masih belum ditaklukkan oleh Patih Kinjiri. Dia membagikan banyak sekali logistik kepada warga desa. Sehingga orang-orang di desa pun senang. Mereka bahkan meminta Prabu Bambang Pura untuk menjadi raja mereka.
Berita tersebut pun sampai ke Patih Kinjiri dan semua pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Begitu juga dengan para warga desa yang menghuni benteng ini. Mereka semua yang ada di tempat ini tidak bisa percaya begitu saja.
Semua warga desa tahu betul bagaimana sifat Prabu Bambang Pura, yang sifatnya mirip dengan Prabu Garan Darang. Mereka berdua tidak berbeda jauh. Sama-sama licik dan sama-sama tidak memiliki perasaan.
Sudah pasti apa yang dilakukan Prabu Bambang Pura hanyalah untuk menarik simpati semua orang. Disini semua orang sudah bisa menebak, siapa dalang dibalik penyerangan tikus-tikus itu.
Sudah pasti pelakunya adalah Prabu Bambang Pura itu sendiri. Sejak awal Prabu Bambang Pura memang ingin menguasai Kerajaan Mangkon Rogo beserta seluruh isinya. Karena dia ingin memperluas kekuasaannya.
Namun Prabu Garan Darang selalu berusaha keras agar kerajaannya tidak direbut. Kedua raja besar itu ternyata diam-diam sudah melakukan perang secara ghaib. Mereka menggunakan ilmu yang mereka miliki untuk saling serang.
Wabah yang datang di Kerajaan Mangkon Rogo bukanlah wabah yang pertama kali. Beberapa kali Prabu Garan Darang mendapati kalau banyak pejabat kerajaan yang tewas secara misterius. Mereka mati dengan cara yang tidak biasa.
Begitu juga dengan Prabu Bambang Pura, dia juga pernah kehilangan istrinya sendiri, karena teluh yang dikirim oleh ahli teluh Prabu Garan Darang. Tapi ahli teluh kemudian tewas ditangan Prabu Garan Darang sendiri.
__ADS_1
Padahal sasaran utama saat itu adalah Prabu Bambang Pura. Tapi meleset kepada istrinya. Akhirnya Prabu Garan Darang pun murka dan membunuh si ahli teluh. Dia kehancurannya ini juga tidak lepas dari ulah persekutuan para ahli teluh yang dendam kepada Prabu Garan Darang.
Mereka ternyata bekerja sama dengan Prabu Bambang Pura untuk menggabungkan kekuatan, guna memanggil para tikus itu untuk keluar dari dalam tanah dan menyerang semua persediaan pangan Kerajaan Mangkon Rogo.
Tak hanya itu saja, mereka juga menggunakan tikus-tikus itu untuk membunuh semua orang yang ada disana. Beruntunglah Prabu Garan Darang masih bisa selamat dari serangan tersebut.
Dan semenjak serangan itu, Prabu Garan Darang tidak pernah muncul lagi. Dia menghilang entah kemana. Semua pasukannya juga kebanyakan memilih bergabung dengan Kerajaan Gelap Ngampar.
Dan sekarang Kerajaan Mangkon Rogo sudah masuk ke dalam wilayah Kerajaan Gelap Ngampar. Prabu Bambang Pura juga menginginkan semua pasukannya menggempur benteng pertahanan pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela.
Dia tidak mau ada kerajaan lain yang ikut campur dalam urusan politiknya. Sedangkan raja-raja yang sebelumnya mendukung Kerajaan Mangkon Rogo, sekarang sedang berusaha untuk melakukan negosiasi dengan Prabu Bambang Pura.
Mereka ingin kembali membangun jalur ekonomi. Karena pada dasarnya, kerajaan-kerajaan besar itu tidak sanggup jika harus berdiri sendiri. Mereka sangat bergantung kepada kerajaan lain. Sehingga dengan terpaksa mereka memilih untuk bergabung dengan Prabu Bambang Pura.
"Maha Patih, aku ingin kamu menyerang wilayah perairan yang dikuasai oleh pasukan Prabu Bambang Pura. Aku tidak mau kalau sampai Patih Kinjiri dan yang lainnya sampai digempur di benteng mereka sendiri."
"....Kirim bantuan pasukan kesana." Perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada Maha Patih Putra Candrasa.
"Baik Gusti Prabu. Berapa pasukan yang harus hamba kirimkan kesana?"
__ADS_1
"Kirimkan lima ribu pasukan. Aku ingin Mangku Cendrasih juga ikut dalam pasukan itu. Setelah semua pasukan menyebrangi perairan, Mangku Cendrasih yang akan memimpin mereka semua. Dan kamu kembalilah ke istana."
"Baik Gusti Prabu. Hamba laksanakan sekarang."
Maha Patih Putra Candrasa langsung mengumpulkan seluruh pasukan terbaik yang ia miliki. Dia juga menyampaikan perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada Mangku Cendrasih. Mangku Cendrasih juga langsung memanggil semua muridnya yang jumlahnya dua ratus orang.
Dia juga mengambil pasukan dari Padepokan Ageng Reksa Pati tiga ribu pasukan. Karena Mangku Cendrasih yakin, kalau akan terjadi penyerangan besar-besaran di wilayah yang dikuasai oleh Patih Kinjiri dan pasukannya. Karena Prabu Bambang Pura sudah mempersiapkan semua pasukannya.
Di daerah kekuasaannya, Patih Kinjiri bersama pasukannya juga sedang bersiap untuk menyambut kedatangan pasukan Prabu Bambang Pura. Karena beberapa hari sebelumnya, Prabu Bambang Pura telah mengirimkan utusan untuk menemui Patih Kinjiri.
Utusan itu menyampaikan, kalau Patih Kinjiri dan pasukannya tidak meninggalkan wilayah itu, maka Prabu Bambang Pura akan mengerahkan pasukan-pasukan terbaik yang ia miliki untuk menggempur benteng itu sampai benar-benar hancur.
Sehingga sekarang, situasi sudah sangat genting. Prabu Bambang Pura juga menyiapkan semua pendekar dan pasukan terbaik yang ia miliki. Dia juga menyiapkan senjata-senjata berat untuk menghancurkan tembok pertahanan yang dibuat oleh Singo Rogo.
Namun, Prabu Bambang Pura sama sekali tidak tahu berapa jumlah pasukan yang dimiliki oleh Patih Kinjiri. Dia sama sekali tidak peduli. Yang dia mau hanyalah, benteng tersebut hancur. Dan mengusir semua pasukan Patih Kinjiri dari wilayah Kerajaan Mangkon Rogo yang sekarang sudah ia kuasai.
Sepuluh ribu pasukan terbaiknya sudah bersiap untuk berangkat. Sedangkan lima puluh ribu pasukannya sedang bersiap-siap dengan alat berat yang akan mereka gunakan. Lima puluh ribu pasukan itu akan dipimpin langsung oleh Prabu Bambang Pura. Karena dia sendiri ingin sekali berhadapan dengan Patih Kinjiri.
Sedangkan Kerajaan Gelap Ngampar, sekarang dijaga oleh Maha Patih-nya. Karena sekarang istana Kerajaan Gelap Ngampar akan sangat rentan terhadap penyerangan. Banyak pasukan yang berangkat ke medan perang hanya untuk menaklukkan benteng kecil itu.
__ADS_1
Prabu Bambang Pura benar-benar ingin membersihkan semuanya, sampai ke akar-akarnya. Dia juga mengerahkan pasukan yang ada di wilayah perairan untuk membuat penjagaan ketat. Untuk mencegah kedatangan pasukan bantuan dari Kerajaan Wiyagra Malela.
Untuk sampai ke wilayah yang dikuasai oleh Patih Kinjiri, Maha Patih Putra Candrasa dan Mangku Cendrasih beserta prajurit Kerajaan Wiyagra Malela harus melewati jalur perairan dan jalur darat. Supaya mereka bisa menghimpit dan mematahkan pasukan Kerajaan Gelap Ngampar yang menghadang mereka di perairan.