
Panglima Galang Tantra dan yang lainnya berusaha menggiring Ratna Malangi untuk menjauh dari tempat itu, menuju ke tempat yang lebih luas, agar semakin leluasa untuk menghadapi Ratna Malangi. Seluruh pasukan Ratna Malangi masih tertahan di depan pintu gerbang. Mereka tidak bisa mendobrak masuk, karena ribuan pasukan Prabu Jabang Wiyagra terus menghalangi mereka dengan panah dan juga meriam. Sehingga banyak sekali mayat tertumpuk di depan pintu gerbang benteng pertahanan yang melindungi Ibu Kota Wiratirta.
Patih Dawala dan Patih Kepila yang sebelumnya diperintahkan untuk memberitahukan penyerangan tersebut kepada Prabu Jabang Wiyagra, sekarang sudah berangkat bersama dengan Prabu Jabang Wiyagra menuju ke benteng pertahanan itu. Prabu Jabang Wiyagra beserta seluruh pasukannya yang ada di istana, sedang berusaha untuk sampai secepat mungkin menuju ke benteng pertahanan. Prabu Jabang Wiyagra sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi di tempat itu. Dan tidak menutup kemungkinan, kalau sebentar lagi Ibu Kota Wiratirta bisa dimasuki oleh pasukan Ratna Malangi.
Prabu Jabang Wiyagra juga tahu, kalau tidak akan ada satupun orang yang sanggup melawan Ratna Malangi, selain menghabisi para pasukannya yang ada di luar pintu gerbang. Karena Ratna Malangi memiliki kesaktian sepuluh kali lipat jauh lebih tinggi daripada para pasukannya, dan juga para Panglima yang ada di sana. Karena itulah Prabu Jabang Wiyagra langsung bersiap untuk melakukan penyergapan. Prabu Jabang Wiyagra ingin mengejutkan seluruh pasukan Ratna Malangi masih berada di luar gerbang Ibu Kota Wiratirta. Dan menghabisi semua pasukan Ratna Malangi yang ada di sana.
Dengan menghabisi seluruh pasukannya, maka seluruh kekuatan pasukan Prabu Jabang Wiyagra hanya akan berfokus kepada Ratna Malangi saja. Walaupun hal itu tidak bisa menjamin kemenangan, tetapi setidaknya dapat mengurangi jumlah korban pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Setelah Prabu Jabang Wiyagra sampai di sana dan menghabisi seluruh pasukan Ratna Malangi, Prabu Jabang Wiyagra bisa membubarkan seluruh pasukannya. Karena sekuat apapun seorang Ratna Malangi, dia tetap akan mengalami kelelahan, kalau terus menerus mendapatkan serangan demi serangan.
Prabu Jabang Wiyagra akan membiarkan para Panglima dan para Patih menyerang Ratna Malangi terlebih dahulu. Setelah dirasa sudah tidak lagi sanggup, barulah Prabu Jabang Wiyagra akan turun tangan untuk menghadapi Ratna Malangi. Hal pasti yang akan dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra adalah menghabisi seluruh pasukan Ratna Malangi yang masih berada di luar pintu gerbang benteng pertahanan Ibu Kota Wiratirta. Dan tanpa sepengetahuan Ratna Malangi, Prabu Jabang Wiyagra sudah mengirimkan Pangeran Rajawa Pati dan seluruh pasukannya untuk menghabisi seluruh pasukan Ratna Malangi yang belum sampai di Ibu Kota, atau pasukan kelompok kedua.
__ADS_1
Dengan habisnya seluruh pasukan Ratna Malangi, maka akan mempermudah Prabu Jabang Wiyagra dan para pendukungnya untuk mengalahkannya. Para raja yang ada di bawah kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra, belum muncul ke permukaan. Mereka akan dibiarkan terlebih dahulu untuk bersembunyi sementara waktu. Sampai waktunya tiba nanti, Prabu Jabang Wiyagra akan memanggil mereka semua untuk terlibat dalam pertempuran tersebut. Karena jika Prabu Jabang Wiyagra menggunakan mereka sekarang, maka tidak akan ada lagi kejutan untuk Ratna Malangi. Dan akan semakin banyak pula orang yang mati.
*
*
*
Para pasukan Ratna Malangi yang berada di Kota Maja Lingga, masih terus berusaha untuk menyelamatkan teman-teman mereka yang masuk ke dalam lubang jebakan di sekitaran Keraton tempat tinggal Panglima Bayu Kusuma. Mereka tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Pangeran Rawaja Pati, beserta seluruh bala tentaranya. Mereka jelas saja panik, karena mereka tidak lagi memiliki perintah apapun dari Ratna Malangi. Ratna Malangi sudah sampai terlebih dahulu di Ibu Kota Wiratirta. Dan tidak akan kembali lagi ke tempat ini. Justru pasukan-pasukan inilah yang harus menyusul ke Ibu Kota Wiratirta.
__ADS_1
Mereka semua bersiap dengan semua senjata di tangan mereka masing-masing, dan mencoba untuk melakukan perlawanan terhadap bala tentara Pangeran Rawaja Pati. Pangeran Rawaja Pati dan para pasukannya sama sekali tidak merasa takut sedikitpun, kepada para pasukan Ratna Malangi yang ada di sini. Karena tanpa Ratna Malangi, mereka tidaklah memiliki kekuatan lebih untuk melakukan perlawanan kepada Pangeran Rawaja Pati dan para pasukannya. Dan mereka akan melakukan pergerakan tanpa arahan dari pemimpin mereka, singgah akan mudah untuk dikalahkan.
Pangeran Rawaja Pati yang dari tadi hanya melayang-layang bersama pasukannya di atas langit, secara perlahan sudah mulai turun dan mengepung para pasukan Ratna Malangi yang ada di sana. Pangeran Rawaja Pati mulai mengeluarkan buku-kuku tajam yang ada di kedua tangannya. Seperti biasa, Pangeran Rawaja Pati ingin melihat ketakutan yang ada di dalam musuhnya terlebih dahulu, sebelum membunuh mereka satu persatu. Itu suatu hal biasa yang dilakukan oleh para bangsa siluman. Ketakutan seseorang, akan berubah menjadi kekuatan untuk bangsa mereka. Seperti yang telah dilakukan oleh Pangeran Rawaja Pati kepada musuhnya.
Para pasukan Ratna Malangi ketakutan melihat rupa Pangeran Rawaja Pati yang memang menyeramkan, dengan kuku-kuku yang tajam, dan juga sisik-sisik yang menghiasi seluruh bagian tubuhnya. Namun mereka tidak akan kabur begitu saja dari tempat itu. Mereka sudah berjanji kepada Ratna Malangi untuk tidak lari dari pertempuran, apapun keadaannya. Walaupun di tempat ini bukanlah pertempuran yang sesungguhnya, tetapi perhitungannya sama saja. Karena Pangeran Rajawa Pati adalah abdi setia dari Prabu Jabang Wiyagra.
Begitu juga dengan ribuan pasukan siluman naga yang ia bawa ke tempat ini. Mereka semua adalah makhluk-makhluk yang haus dengan darah. Apalagi darah dari musuh-musuh raja mereka, Pangeran Rawaja Pati. Setelah puas melihat dan menikmati ketakutan yang ada di dalam diri musuh-musuhnya , Pangeran Rawaja Pati langsung memerintahkan seluruh pasukannya untuk menyerang pasukan Ratna Malangi. Tidak ada pilihan pilihan lain bagi pasukan Ratna Malangi, selain melakukan perlawanan semampu mereka.
Walaupun pada akhirnya nanti mereka pun akan kalah, setidaknya mereka sudah menepati janji kepada pemimpin mereka. Para pengikut setia Ratna Malangi ini memang sudah dilatih untuk berani mati. Sekalipun dalam diri mereka masih ada rasa takut, tetapi mengikuti perintah dari Ratna Malangi adalah hal yang paling utama bagi mereka. Seberapa takut dan seberapa Lemah pun mereka saat ini, mereka tetap akan menjalankan perintah dari Ratna Malangi dengan setia. Dan akan terus bertahan sampai tetes darah penghabisan.
__ADS_1
"Serang!!!" Perintah Pangeran Rawaja Pati.
Seluruh pasukan siluman naga pun langsung menyerang para pasukan Ratna Malangi. Mereka semua menyerang secara membabi buta. Para pengikut Ratna Malangi pun dibuat tak berdaya di hadapan pasukan Pangeran Rawaja Pati. Karena kekuatan mereka tidak ada apa-apanya di hadapan pasukan Pangeran Rawaja Pati. Jika dibandingkan, para pasukan Ratna Malangi sebenarnya mampu mengimbangi kekuatan pasukan Prabu Jabang Wiyagra, karena sama-sama berasal dari bangsa manusia. Sedangkan Pangeran Rawaja Pati dan pasukannya berasal dari bangsa siluman. Sehingga membuat pasukan Ratna Malangi tidak mampu untuk mengimbanginya.