
"Kalian tidak akan pernah mampu menghadapi aku. Aku abadi dan tidak akan pernah bisa mati. Kalian hanyalah manusia-manusia lama yang tidak punya kekuatan apa-apa." Ucap Buta Karang kepada Prabu Jabang Wiyagra dan yang lainnya.
"Kami mungkin tidak sehebat dan sekuat dirimu, Buta Karang. Tapi kami semua sudah siap mati, untuk membela kebenaran. Apapun yang kamu pikirkan saat ini tentang kami, kamu sudah salah. Kamu memang besar dan perkasa. Tapi kami memiliki Yang Maha Kuasa. Sang Hyang Tunggal. Dia jauh lebih besar dan lebih hebat dibandingkan dirimu." Jawab Prabu Jabang Wiyagra dengan nada bicara yang sangat santun.
Buta Karang yang mendengar itu menjadi sangat murka. Dia memiliki dendam kepada Yang Maha Kuasa. Karena semasa hidupnya, dia bergelimangan harta. Namun pada akhir hayatnya, dia hanyalah makhluk yang hina. Namun Buta Karang tidak mau menyadari, kalau semua itu terjadi atas kesalahannya sendiri. Kalau dulu dia tidak rakus, serta menggunakan kekuasaannya dengan benar, maka dia pun akan berakhir menjadi makhluk yang mulia. Dia tak harus menerima kutukan dan hinaan yang tidak ada akhirnya. Karena hidup dalam keabadian bukanlah hal yang menyenangkan. Yang ada hanyalah penderitaan dan kesengsaraan. Itulah yang selama ini dirasakan oleh Buta Karang.
Dia harus menunggu selama ratusan tahun, agar bisa kembali lagi ke dunia ini. Itupun jika ada keturunannya yang masih mengingatnya. Kebanyakan dari mereka lupa dengan urusan dunia. Dan hanya menganggap Buta Karang sebagai cerita legenda biasa. Entah sudah berapa ratus tahun Buta Karang terkurung di antara langit dan bumi. Yang pasti, selama itu Buta Karang terus bersabar menunggu kedatangan keturunannya. Yang tidak tahu pasti kapan datangnya. Walaupun banyak sekali titisan Buta Karang yang muncul, tapi tidak ada satupun yang sama dengan Patri Asih. Patri Asih mau melakukan apa saja demi membangkitkan nenek moyangnya. Sangat berbeda dengan keturunan-keturunan Buta Karang sebelumnya, yang hanya memikirkan diri mereka sendiri.
Kalau Buta Karang kalah dalam pertarungan ini, maka dia pun akan kembali terpenjara. Dan harus menunggu selama ratusan tahun lagi, agar bisa benar-benar menginjakkan kaki di tanah, yang ada di bumi ini. Buta Karang mulai menggunakan ilmu kesaktiannya untuk menyerang Prabu Jabang Wiyagra dan para abdinya. Hanya dengan satu kali hentakan kaki, Buta Karang sudah mampu membuat tanah di sekitarnya menjadi retak. Tak hanya itu saja. Buta Karang juga telah membuat Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya mundur sampai beberapa langkah, karena kekuatan besar yang ia keluarkan. Prabu Jabang Wiyagra lalu membalas serangan tersebut, dengan berusaha memukul kepala Buta Karang, yang sekarang berada di dalam tubuh Patri Asih. Tapi hal itu tidaklah berhasil.
Prabu Jabang Wiyagra justru terpelanting jauh. Beliau sampai merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Para pasukannya pun terkejut dengan hal tersebut. Karena baru kali ini mereka melihat Prabu Jabang Wiyagra bisa diserang dengan begitu mudahnya. Apalagi serangan yang diberikan Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak memberikan efek apapun kepada Buta Karang. Buta Karang masih berdiri tegak di posisinya. Dia tertawa bangga melihat Prabu Jabang Wiyagra yang jatuh ke tanah. Buta Karang benar-benar sakti mandraguna. Bahkan seorang Prabu Jabang Wiyagra saja bisa dengan mudah dikalahkan. Menyadari kalau dirinya tidak mampu menghadapi Buta Karang sendirian, Prabu Jabang Wiyagra kalau memerintahkan para pasukannya untuk maju, melakukan penyerangan.
"Pasukan! Serang Buta Karang!" Perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada para pasukannya.
__ADS_1
Para anggota Pasukan Maha Wira dan Pasukan Bara Jaya pun langsung melakukan serangan kepada Buta Karang, dengan menggabungkan seluruh ilmu kesaktian yang mereka miliki. Mereka menggunakan Ajian Brajamusti, yang sudah diajarkan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepada mereka. Sekuat tenaga mereka mendorong tangan mereka untuk melesatkan Ajian Brajamusti, kepada Buta Karang.
"Hyaaaatttttt!"
Blaaaaarrrrr!
Sebuah ledakan pun terjadi. Membuat semua jenis tanaman yang ada di tempat itu seketika terbakar habis. Tanah di sekitar mereka juga menghitam. Tapi lagi-lagi, Buta Karang masih bisa bertahan. Hanya saja serangan gabungan itu sudah mampu membuat Buta Karang sedikit bergeser dari tempatnya. Itupun hanya bergeser. Buta Karang tidak terluka, ataupun merasakan rasa sakit sedikitpun. Dia masih berdiri dengan gagahnya di tempat itu. Bahkan Buta Karang menantang mereka untuk kembali menyerangnya, dengan ilmu yang sama. Tapi dengan cepat Prabu Jabang Wiyagra mencegah hal tersebut. Dan kembali mengingatkan mereka, soal apa yang sudah ia katakan sebelum pertarungan ini dimulai.
"Serang lagi! Serang!" Teriak Buta Karang kepada pasukan Prabu Jabang Wiyagra.
"Jangan!" Prabu Jabang Wiyagra berusaha menghentikan hal yang akan dilakukan oleh para pasukannya.
"Kenapa Gusti Prabu?" Tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Ingat apa yang sudah aku katakan kepada kalian!"
Semua pasukannya pun terdiam. Mereka tidak tahu lagi harus berbuat. Kalau mereka dilarang menggunakan ilmu kesaktian, maka mereka harus menghadapi Buta Karang dengan hanya mengandalkan kekuatan fisik mereka.
"Buta Karang akan memakan jiwa kalian semua. Karena itulah dia ingin kalian menyerangnya lagi." Ucap Prabu Putra Candrasa.
"Lalu apa yang kita lakukan Prabu Putra Candrasa? Romo? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Prabu Sura Kalana yang mulai panik.
"Tenang Nanda Prabu. Kita tidak akan bisa melawan Buta Karang. Siapapun yang ada di tempat ini, tidak ada satupun yang bisa mengalahkannya. Sekarang, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah bertahan. Kita harus mengulur waktu, sampai Eyang Badranaya tiba." Perintah Prabu Jabang Wiyagra.
Akhirnya, semua raja yang ikut dalam pertarungan itupun langsung membuat sebuah pertahanan, berupa pagar ghaib. Bersama dengan para Pasukan Maha Wira dan Pasukan Bara Jaya. Mereka menggunakan kekuatan mereka agar bisa saling melindungi satu sama lainnya. Terutama dengan Prabu Jabang Wiyagra. Karena kalau sampai terjadi sesuatu kepada Prabu Jabang Wiyagra, maka semua orang yang memusuhi Kerajaan Wiyagra Malela, akan mengambil kesempatan untuk menyerang, dan mengambil tahta secara paksa. Apalagi mereka semua melihat dengan jelas, kalau Intan Senggani masih ada di sana, mengawasi hasil pertarungan tersebut. Entah kenapa, Buta Karang seperti mengabaikan keberadaan Intan Senggani.
Buta Karang seperti tidak peduli dengan keberadaan Intan Senggani, yang berada tidak jauh dari dirinya. Kalau Buta Karang mau, dia pasti bisa saja menghisap jiwa Intan Senggani, untuk menambah kekuatannya menjadi lebih besar lagi. Tetapi Buta Karang sama sekali tidak melirik ke arah Intan Senggani. Bahkan saat Intan Senggani menjauh dari tempat itu, Buta Karang tetap tidak melihat ke arahnya. Intan Senggani bisa dengan bebas beristirahat, sembari menikmati pertarungan tersebut. Sedangkan Buta Karang sendiri masih berusaha untuk menghancurkan pagar ghaib yang dibuat oleh para pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Karena pagar ghaib tersebut sangatlah kuat.
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra juga tidak ada henti-hentinya membaca doa. Beliau terus berdoa untuk keselamatan semua orang yang sekarang ada bersama dengan dirinya. Prabu Jabang Wiyagra juga memanggil-manggil nama Eyang Badranaya. Beliau berharap, Eyang Badranaya bisa datang lebih cepat. Karena para pasukannya sudah terlihat sangat kelelahan, akibat mereka terus-menerus mengeluarkan tenaga dalam mereka, tanpa henti. Dan Buta Karang masih terus berusaha untuk menjebol pertahanan mereka dengan segala ilmu kesaktiannya. Buta Karang juga menjadi cemas, setelah dia mendengar nama Eyang Badranaya. Karena setiap kali ada Eyang Badranaya, pasti apapun yang ia lakukan tidak akan ada artinya apa-apa. Apalagi Buta Karang masih ingat dengan kekalahannya di masa lalu.
Eyang Badranaya sudah berkali-kali mengalahkannya. Dan selama itu juga, Eyang Badranaya-lah yang selalu berusaha untuk menghentikan pengaruh yang diberikan oleh Buta Karang, kepada para keturunannya. Entah bagaimana caranya Buta Karang bisa memiliki keturunan dari bangsa manusia. Tidak ada yang tahu pasti mengenai hal itu. Yang jelas, adanya Buta Karang di tempat ini, menandakan kalau keturunannya memang bisa membebaskannya dari belenggu yang sudah sangat lama mengikatnya. Dan orang yang memberikan belenggu itu adalah Eyang Badranaya. Eyang Badranaya pernah melakukan doa selama empat puluh satu hari tanpa henti. Dia berdoa kepada Yang Maha Kuasa, untuk memberikan hukuman kepada jiwa para raja-raja besar yang serakah. Sehingga terbentuklah sosok Buta Karang ini. Sosok perwujudan dari jiwa-jiwa orang-orang yang serakah dengan dunia dan segala isinya.