DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 220


__ADS_3

"Kita semua harus berhati-hati kepada setiap orang yang ada di sini. Sedikit banyaknya mereka memiliki kemampuan bela diri karena di tempat ini banyak sekali padepokan." Ucap seorang pria di sebuah kamar penginapan.


"Ya! Kita tidak boleh gagal. Atau kita akan dipenggal."


"Kita harus mulai merencanakan sesuatu, untuk mencegah segala kemungkinan yang akan terjadi di tempat ini. Terutama dengan para pasukan Maha Patih Kumbandha. Kalau mereka datang, kita sudah harus memiliki kejutan untuk mereka."


"Apa rencanamu?"


Keempat orang diantaranya kemudian saling mendekatkan telinga mereka masing-masing. Mereka berbisik-bisik merencanakan sesuatu hal. Ternyata memang benar kalau mereka berasal dari Kerajaan Bala Bathara, yang diutus langsung oleh Prabu Barajang, untuk memesan kapal, yang akan digunakan sebagai pengangkut pasukan, persenjataan, dan juga bahan pangan.


Kelima orang tersebut sudah merencanakan sesuatu yang menurut mereka bisa digunakan sebagai antisipasi, kalau sampai rencana mereka gagal. Antara kelima orang dan juga semua prajurit di tempat ini, memanglah sama-sama kuatnya kalau berhadapan secara langsung. Jadi kedua belah pihak sama-sama berhati-hati dalam mengambil tindakan.


"Jadi, kapan kita akan mulai semuanya? Dam apa pelayan itu bisa menjamin kalau semuanya tidak akan bocor?"


"Gampang. Itu urusan gampang. Pelayan itu upahnya pasti kecil. Dia pasti akan tergiur kalau kita tunjukkan kepengan-kepengan koin ini." Orang itu menggenggam sebuah kantong yang berisi ratusan koin yang memang sudah ia siapkan.


Mereka semua tertawa di ruangan itu. Karena mereka menganggap kalau semuanya akan berjalan dengan sangat mudah. Tanpa mereka ketahui, kalau sekarang sudah ada ratusan orang di luar rumah penginapan itu, yang sudah siap dengan senjata di tangan mereka masing-masing. Siapa lagi kalau bukan Maha Patih Kumbandha dan pasukannya.


Maha Patih Kumbandha sudah tidak sabar ingin menghabisi mereka semua. Dia mau semuanya berjalan dengan cepat. Kelima orang itu harus ditangkap dan diinterogasi terlebih dahulu, sebelum akhirnya mereka dibunuh, saat dirasa sudah tidak dibutuhkan lagi. Walaupun mereka memiliki banyak sekali uang, tapi itu tidak menjamin kalau mereka semua akan selamat dari penyerangan yang akan dilakukan oleh Maha Patih Kumbandha dan pasukannya.


"Ingat. Jangan sampai mereka lolos. Tangkap. Lalu sikat." Perintah Maha Patih Kumbandha kepada para pasukannya.


"Baik Gusti Patih."


*

__ADS_1


*


*


Malam begitu ramai, kelima orang utusan Prabu Barajang yang ada di rumah penginapan itu sama sekali tidak menyangka kalau tugas mereka akan berakhir malam ini juga. Setelah malam mulai larut, setiap satu dari mereka langsung memesan kamar sendiri-sendiri. Untuk apa? Untuk apalagi kalau bukan untuk memuaskan birahi mereka sebagai laki-laki dewasa. Mereka menyewa beberapa perempuan untuk mereka ajak bersenang-senang sampai pagi menjelang.


Saat semua sudah mendapatkan kamar sekaligus para perempuan yang mereka inginkan, tanpa basa-basi lagi mereka langsung melakukan hubungan dewasa dengan para perempuan malam yang mereka sewa. Suara dari setiap kamar yang mereka huni begit ribut, hingga membuat beberapa tamu protes kepada para pelayan rumah penginapan, yang tidak lain adalah para anggota Pasukan Bara Jaya.


Namun para anggota Pasukan Bara Jaya yang sedang menyamar tidak menggubris keluhan dari para penghuni kamar lain. Mereka hanya fokus kepada tujuan mereka, yaitu menangkap kelima orang utusan Prabu Barajang, yang sekarang tengah bersenang-senang dengan para perempuan malam. Mereka larut dalam kesenangan itu, yang membuat mereka semua jatuh dalam situasi paling sial dalam hidup mereka.


Para anggota Pasukan Bara Jaya memasuki salah satu kamar yang dihuni oleh salah satu dari kelima orang itu. Si laki-laki yang bersenang-senang itu terkejut saat melihat kalau ada puluhan orang yang merangsak masuk dan menangkapnya.


"Hey! Apa yang kalian lakukan?!" Orang itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri.


Tapi semuanya sia-sia saja. Kedua tangannya sudah dipegang dengan erat oleh para anggota Pasukan Bara Jaya. Tak hanya itu, dia juga dipukuli cara membabi buta. Hingga membuatnya tak sadarkan diri. Para anggota Pasukan Bara Jaya langsung membawanya kepada Maha Patih Kumbandha, untuk dibawa lagi ke markas yang sudah mereka persiapkan untuk menangkap kelima orang tersebut.


"Kenapa Kalian membunuh orang ini? Kalian hanya perlu menangkapnya saja!" Bentak Panglima Galang Tantra.


"Mohon maaf Panglima, dia mencoba melawan dan mengancam kami. Jadi kami melakukannya karena terpaksa."


Panglima Galang Tantra lalu memerintahkan kepada para pasukannya untuk membawa yang tewas, untuk dipertontonkan kepada keempat orang yang masih hidup.


"Ya sudah! Kalian bawa masuk!"


"Baik Panglima."

__ADS_1


Si laki-laki tewas dengan cara yang sangat mengenaskan, karena di sekujur tubuhnya terdapat luka tusukan dan robekan pisau. Sedangkan keempat orang lainnya sedang dihajar oleh Maha Patih Kumbandha, agar mereka semua mau memberikan informasi sebanyak mungkin kepadanya.


"Cepat katakan! Apa tujuan kalian datang ke tempat ini?! Bilang!" Teriak Maha Patih Kumbandha sembari memukuli mereka secara terus menerus.


"Bunuh saja kami! Bunuh! Kami tidak akan memberikan kalian keuntungan apapun! Kalian semua makan hancur! Sehancur-hancurnya." Ucap si laki-laki mengancam.


Maha Patih Kumbandha hanya menyayat-menyayat kaki si laki-laki itu. Laki-laki itu hanya bisa berteriak dan menahan sakit yang luar biasa di kaki kanan dan kirinya. Kedua tangan dan kakinya terikat di sebuah dinding, sehingga dia tidak bisa lagi melakukan perlawanan apapun. Begitu juga dengan ketiga orang lainnya yang sudah dalam kondisi lemah tak berdaya.


"Cepat katakan sekarang! Atau aku akan menyiksa kalian dengan cara yang jauh lebih pedih! Cepat!" Bentak Maha Patih Kumbandha.


"Aku sudah bilang.. Aku tidak akan pernah memberikan keuntungan apapun kepada kalian..." Jawab si laki-laki yang mulai lemas karena kehilangan banyak darah.


"Oh.. Begitu ya?"


"Baiklah. Au akan membiarkan kalian semua mati kelaparan dan kehausan di tempat ini. Aku dan pasukanku akan memukuli kalian setiap hari secara bergantian."


"....Dan setiap ada yang mati, maka yang mati akan menjadi santapan yang masih hidup." Ancam Maha Patih Kumbandha.


Maha Patih Kumbandha juga melepaskan ikatan mereka semua setelah kedua tulang lutut dari keempat orang itu dipatahkan. Tempat orang itu hanya menjerit-jerit kesakitan. Tidak ada hal yang bisa mereka lakukan, selain pasrah dengan keadaan. dengan situasi yang sudah serumit ini, mereka tidak akan bisa lari dari tempat ini. Salah satu dari mereka, dengan nada lirih kemudian mengatakan kepada temannya yang lain untuk mengatakan semua yang terjadi.


"Aku benar-benar sudah tidak sanggup dengan penyiksaan yang amat sangat menyakitkan ini. Aku tidak mau kalau sampai tubuhku menjadi santapan kalian. Aku ingin pulang ke keluargaku, dalam keadaan hidup ataupun mati."


"Diamlah bodoh! Jangan banyak mengoceh! Kalau semakin banyak kamu ngoceh, maka semakin besar kemungkinanmu untuk mati." Ucap si laki-laki yang tadi dipukuli oleh Maha Patih Kumbandha.


"Aku menjadi prajurit Kerajaan Bala Bathara bukan untuk mati dengan cara menjijikkan seperti ini. Aku ingin mati di medan perang karena membela negaraku. Bukan nanti untuk para baji-ngan itu."

__ADS_1


Si laki-laki yang tadi dipukuli oleh Maha Patih Kumbandha menjadi sangat kesal, karena melihat temannya yang begitu lemah dan cengeng. Walaupun dia sendiri pun sekarang sudah tidak berdaya dan tak bisa melakukan apa-apa. Tetapi si laki-laki ini adalah orang yang sangat loyal kepada Prabu Barajang. Bahkan dia rela mati demi menjaga kerahasiaan informasi yang saat ini ia miliki.


__ADS_2