
"Sampaikan kepada semua orang. Tidak lama lagi, semuanya akan dimulai. Prabu Jabang Wiyagra ingin memulai peradaban baru. Baik di wilayah asli Kerajaan Wiyagra Malela, maupun di daerah-daerah penaklukkan. Prabu Jabang Wiyagra berharap, kita semua bisa mengemban tugas ini dengan baik."
".....Saat ini, kita belum benar-benar aman. Mata elang para musuh masih dengan setia mengintai kita. Setiap pergerakan harus sesuai dengan aturan dan arahan dari setiap pimpinan. Jangan lakukan tindakan sendiri-sendiri. Semuanya paham?"
"Siap! Paham!"
Lare Damar mengumpulkan semua para pimpinan prajurit si sebuah lapangan, yang berada dekat dengan markas utama. Lare Damar membangun sebuah markas kemiliteran untuk mengatur semua pasukannya. Jumlah pasukan terus menerus bertambah setiap harinya.
Karena banyak sekali masyarakat yang ingin bergabung menjadi pasukan Prabu Jabang Wiyagra, Lare Damar terpaksa membatasi jumlah mereka. Sedangkan sisanya akan dikirimkan untuk bekerja di pertambangan, pabrik-pabrik, dan juga di bidang pertahanan pangan.
Dengan peperangan yang masih terus berlanjut dan jumlah pasukan yang terus bertambah banyak, tentunya Lare Damar dan pasukannya membutuhkan stok pangan yang jauh lebih banyak dari pada sebelumnya. Sekaligus dengan masyarakat yang juga sama-sama membutuhkan bahan pangan.
Akses keluar masuk masyarakat diawasi dengan sangat ketat. Tidak sembarangan orang boleh masuk ke daerah penaklukkan. Begitu juga dengan orang asli daerah tersebut, mereka diizinkan keluar kalau ada hal yang benar-benar penting saja. Kalau hanya sekedar bermain, mereka hanya diperbolehkan bermain di daerah penaklukkan saja.
Lama kelamaan semua orang pun pasti bosan dengan suasana yang biasa saja. Akhirnya Lare Damar meminta bantuan orang-orang yang berpengalaman dalam membuat taman. Lare Damar juga mengajak masyarakat untuk bergotong royong membangun berbagai tempat hiburan seperti yang mereka semua inginkan.
Hal itu dimaksudkan agar tidak ada masyarakat yang keluar dari wilayah penaklukkan. Apalagi sekarang pihak Kerajaan Wesi Kuning sudah mulai mengirimkan mata-mata mereka ke wilayah ini. Meskipun sudah banyak yang tertangkap, tapi belum tentu mereka semua menyerah begitu saja.
__ADS_1
Mereka akan tetap menggunakan berbagai cara untuk mengetahui setiap detail yang terjadi di daerah penaklukkan. Ada beberapa serangan-serangan kecil yang mereka lakukan kepada Lare Damar dan pasukannya. Tapi itu hanya serangan untuk menguji kekuatan, bukan untuk mengalahkan.
Walau pun mereka sudah bersatu, tapi tetap saja kekuatan mereka belum cukup kalau harus melakukan serangan secara terbuka. Mereka juga lebih sering hanya mengganggu, dan dengan sengaja memancing keributan, supaya para pasukan Lare Damar terpancing emosinya.
Tapi semua itu tidak berhasil. Pasukan Lare Damar sudah terbiasa menghadapi jebakan semacam itu. Jadi mereka tidak mau menggubrisnya. Kecuali mereka berhadap-hadapan secara langsung. Perintah mereka juga jelas, tidak boleh keluar wilayah tanpa ada perintah.
Para pendekar yang membuat kerusuhan itu, hanya ingin membuat pasukan Lare Damar mengikuti mereka keluar dari perbatasan. Setelah itu, para prajurit Kerajaan Wesi Kuning akan langsung menyergap para pasukan Lare Damar yang berhasil terpancing. Tapi hal itu masih menjadi rencana.
Para pasukan Lare Damar benar-benar patuh di bawah perintah. Sekalipun ada salah satu dari mereka yang terbunuh karena diserang oleh para pendekar itu, mereka tidak akan meninggalkan tempat mereka saat ini. Karena selalu ada saja yang mati atau pun terluka saat ada penyerangan.
Para prajurit jelas bukan tandingan para pendekar sakti kiriman abdi Prabu Bawesi. Dan para pendekar kiriman itu bukan tandingan para pendekar yang ada di wilayah penaklukkan. Karena para pendekar yang menjaga daerah penaklukkan rata-rata di isi oleh murid-murid dari Mangku Cendrasih. Yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi.
"Para pendekar itu benar-benar sangat menjengkelkan. Mereka menyerang orang-orang yang kemampuannya sangat jauh di bawah mereka." Ucap Lare Damar.
Pagi itu Lare Damar berjalan-jalan mengelilingi wilayah-wilayah yang sudah ia taklukkan, menemani Prabu Sura Kalana yang saat itu sedang berkunjung, karena penasaran dengan perkembangan yang ada di tempat ini. Apalagi banyak juga pasukan Prabu Sura Kalana yang ditugaskan di tempat ini.
"Bukankah kamu dulu sangat penyabar? Lare Damar? Apa yang merubahmu?" Tanya Prabu Sura Kalana.
__ADS_1
"Tidak ada yang merubah saya Gusti Prabu. Saya pun masih orang yang sama. Tapi kalau mendengar ada orang lemah yang ditindas, saya tidak bisa diam saja." Ucap Lare Damar.
"Ya. Aku juga sama seperti dirimu. Tapi kamu harus lebih berhati-hati Lare Damar. Semua orang sudah melihatmu sekarang. Tidak seperti dulu. Semakin banyak orang yang melihatmu, maka akan semakin banyak orang yang ingin membunuhmu."
"Benar Gusti Prabu. Saya sudah merasakannya sendiri. Tapi saya sudah bersumpah, apapun yang terjadi, saya akan tetap berusaha semampu saya untuk menjalankan titah dari Gusti Prabu Jabang Wiyagra."
"Ya. Begitu juga dengan diriku." Ucap Prabu Sura Kalana sembari memacu kudanya dengan cepat.
Lare Damar langsung menyusul Prabu Sura Kalana dengan sama-sama memacu kudanya. Prabu Sura Kalana dan Lare Damar kembali ke markas utama. Singkatnya, Prabu Sura Kalana kembali ke istana Kerajaan Batih Reksa, dengan meninggalkan Maha Patih Kumbandha untuk membantu Lare Damar.
Maha Patih Kumbandha ditugaskan untuk membantu mengamankan wilayah kekuasaan pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Maha Patih Kumbandha membawa ribuan pasukan ke wilayah tersebut. Karena pasukan yang dikirimkan oleh Prabu Sura Kalana masih belum cukup untuk membantu keamanan di wilayah penaklukkan.
Dengan adanya Maha Patih Kumbandha dan pasukannya di wilayah ini, maka keamanan akan jauh lebih terjamin. Maha Patih Kumbandha sangat berpengalaman dalam menjaga wilayahnya. Karena selama ini, wilayah kekuasaan Kerajaan Batih Reksa selalu dalam keadaan aman, dan sulit untuk dibobol oleh musuh.
Seperti halnya pada peristiwa pertempuran Ditya Kalana yang dihadang oleh Patih Rogo Geni. Semua itu adalah strategi dari Maha Patih Kumbandha. Strategi jitu tersebut akhirnya mampu mematahkan barisan pasukan Ditya Kalana dan Patih Kinjiri, yang saat itu masih mengabdi di Kerajaan Reksa Pati.
Kecerdasan Maha Patih Kumbandha akan sangat berguna di tempat ini. Karena pertahanan Kerajaan Wesi Kuning masih sangat kuat untuk ditembus sampai ke istana. Jadi Lare Damar dan seluruh pasukannya juga harus membangun pertahanan mereka terlebih dahulu, sebelum menaklukkan istana besarnya.
__ADS_1
Karena semua para pendukung Prabu Bawesi sudah menghimpun kekuatan besar-besaran. Mereka mulai membuat benteng-benteng pertahanan berukuran raksasa, untuk mempertahankan istana Kerajaan Wesi Kuning. Entah sampai kapan mereka akan melakukan hal itu. Sampai saat ini, kabar mengenai keadaan Prabu Bawesi tidak diketahui. Bahkan sekalipun oleh Maha Patih Galangan sendiri.