DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 206


__ADS_3

Prabu Jabang Wiyagra dan Mbah Kangkas masih duduk di taman, sembari berbincang-bincang hal lainnya. Mbah Kangkas memberikan berbagai nasehat untuk Prabu Jabang Wiyagra yang suasana hatinya sedang kurang baik. Prabu Jabang Wiyagra merasa sangat berterima kasih kepada Mbah Kangkas, karena sudah mau menemaninya seharian ini.


Semua orang di istana sibuk dengan urusan mereka masing-masing, terutama Maha Patih Lare Damar. Dia belum tahu kalau Mbah Kangkas ada di sana. Karena dia masih sibuk dengan Zafir, yang sedang melatih para prajurit istana di padepokannya. Maha Patih Lare Damar mengadakan banyak sekali pelatihan di padepokan itu.


Maha Patih Lare Damar hanya mengantisipasi kalau sampai ada penyerangan lagi dari musuh mereka. Kalau ada penyerangan setidaknya para prajurit sudah siap dengan apa yang akan mereka hadapi di depan. Apalagi prajurit yang menjaga istana dalam prajurit-prajurit penting. Dan setiap dari mereka diwajibkan untuk kebal terhadap senjata apa saja.


*


*


"Jadi apa yang membawamu ke tempat ini Mbah Kangkas?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.


"Hamba beserta para pendekar yang Gusti Prabu kirimkan, mengalami banyak sekali kesulitan, karena kami kekurangan tenaga untuk menjaga para warga yang ada di wilayah padepokan hama, Gusti Prabu. Hamba ingin meminta bantuan persenjataan dan juga pasukan."


"Aku pasti akan mengirimkan bantuan ke sana, tapi membutuhkan waktu. Terutama untuk persenjataan. Para pasukan ku pasti akan lamban dalam mengirimkan persenjataan berat. Karena perjalanan menuju padepokanmu juga belum aman sepenuhnya, Mbah Kangkas."


"Kalau masalah itu biar hamba yang urus, Gusti Prabu. Hamba sanggup memindahkan senjata-senjata berat dari istana ini ke padepokan hamba."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Benar Gusti Prabu. Jika Gusti Prabu mengizinkannya."


Prabu Jabang Wiyagra menatap heran kepada Mbah Kangkas, padahal Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah melarang Mbah Kangkas menggunakan kemampuannya. Mbah Kangkas hanya tersenyum kepada Prabu Jabang Wiyagra yang masih menatapnya dengan tatapan heran penuh pertanyaan.


"Kenapa Mbah Kangkas memerlukan izin dariku? Mbah Kangkas hanya perlu menggunakannya saja."


Mbah Kangkas tertawa kecil,


"Mohon maaf Gusti Prabu. Walaupun hamba bukanlah abdi Gusti Prabu secara resmi, tapi hamba sudah menganggap Gusti Prabu Jabang Wiyagra adalah raja hamba. Hamba sudah lama ingin mengabdikan diri hamba kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra."


"....Maka dari itu, hamba selalu meminta izin kepada Gusti Prabu, kalau setiap kali hamba meminta sesuatu yang berhubungan dengan Kerajaan Wiyagra Malela."


"Hoo...."


"Baiklah. Baiklah. Begini Mbah Kangkas, bukannya aku menolak Mbah Kangkas menjadi abdiku. Tapi, Mbah Kangkas ini sudah setingkat dengan guruku. Bagaimana bisa? Aku tidak boleh melakukannya. Itu akan dianggap penghinaan kepada seorang guru."


"Tentu saja tidak Gusti. Hamba yang mencalonkan diri untuk mengabdi. Bukan Gusti yang meminta kepada hamba."


Jawaban Mbah Kangkas membuat Prabu Jabang Wiyagra semakin bingung. Dia tidak sampai hati kalau harus menolak Mbah Kangkas. Tapi di sisi lain, dia juga sangat senang kalau Mbah Kangkas mau mengabdi kepadanya, walaupun sekarang raja yang berkuasa di tempat tinggalnya adalah Prabu Barajang. Yang artinya, Mbah Kangkas benar-benar membutuhkan sosok pemimpin yang bisa mengayomi semua orang.

__ADS_1


Dan itu ada dalam diri Prabu Jabang Wiyagra. Bahkan mungkin, Prabu Jabang Wiyagra bisa mengangkat Mbah Kangkas menjadi penasehatnya. Tapi Prabu Jabang Wiyagra benar-benar tidak enak hati kalau mengangkat Mbah Kangkas menjadi abdinya. Karena Mbah Kangkas termasuk golongan orang yang setingkat dengan Sang Maha Guru. Bagi Prabu Jabang Wiyagra itu terlihat tidak sopan. Karena mengangkat seorang guru menjadi seorang abdi.


"Ah.. Begini saja Mbah Kangkas, bagaimana kalau kita selesaikan dulu urusan kita dengan Prabu Barajang? Setelah itu baru aku akan memutuskan ke depannya seperti apa. Karena aku juga harus meminta nasehat dari Romo Guru terlebih dahulu. Bagaimana Mbah Kangkas?"


"Hmmmm.... Baiklah Gusti Prabu. Hamba setuju dengan itu. Memang benar Gusti, sudah sepantasnya Gusti Prabu Jabang Wiyagra meminta nasehat kepada Sang Maha Guru."


Akhirnya Prabu Jabang Wiyagra dan Mbah Kangkas sepakat untuk membahasnya di lain waktu. Mereka berdua lalu kembali membahas soal rencana Mbah Kangkas dengan Utari Gita dan kawan-kawannya, untuk melakukan penyerangan kepada Prabu Barajang, sekaligus untuk memperkokoh pertahanan di Padepokan Mbah Kangkas.


Sekarang, Padepokan Mbah Kangkas menjadi sasaran utama Prabu Barajang dan pasukannya, yang ternyata sudah kembali bangkit dari keterpurukan mereka. Kabarnya Prabu Barajang terindikasi melakukan kerja sama dengan Mbah Gagang dan juga Nyi Dwi Sangkar. Dan kemungkinan besar, Maha Patih Kana Raga juga ada di sana.


Atau bahkan, sekarang Maha Patih Kana Raga sudah menggantikan posisi Maha Patih Salara yang tidak lagi terdengar kabarnya. Bisa dibilang, Maha Patih Salara sudah 'dihapuskan' dari kepemerintahan Prabu Barajang. Karena dia sudah macam-macam dengan Prabu Barajang, dengan berusaha mengambil alih kekuasaan Kerajaan Bala Bathara.


Kecurigaan Mbah Kangkas dan Prabu Jabang Wiyagra juga diperkuat dengan kekuatan Prabu Gala Ganda yang semakin hari katanya semakin melemah. Padahal, sebelumnya Maha Patih Rangkat Sena sudah merekrut dan melatih banyak sekali pasukan-pasukan terbaik yang ada di Kerajaan Putra Bathara.


Terlebih, Kerajaan Putra Bathara juga sama sekali tidak mendapatkan serangan dari pihak manapun. Sangat aneh kalau tiba-tiba pasukannya menjadi lemah dalam waktu sekejap. Mata-mata yang dikirimkan oleh Panglima Galang Tantra juga sudah lama tidak memberikan laporan kepada Panglima Galang Tantra, ataupun para anggota Pasukan Bara Jaya yang lainnya.


Tidak menutup kemungkinan kalau mata-mata itu tertangkap. Atau kemungkinan yang paling kuat adalah, sang mata-mata tidak memiliki akses yang leluasa untuk melaporkan apa yang terjadi di Kerajaan Putra Bathara. Karena sudah bisa ditebak, dengan kembalinya kekuatan Prabu Barajang sebagai seorang raja, Prabu Barajang pasti menuntut balas atas perbuatan kakaknya, yang tidak membantunya dikala ia sedang kesulitan.


Walaupun ada sebuah kutukan yang menghalangi Prabu Barajang untuk tidak membunuh kakaknya, pasti Prabu Barajang mencari cara lain untuk bisa melampiaskan kebenciannya itu. Dengan cara apa? Dengan cara apalagi kalau bukan dengan melemahkan dan menghancurkan kekuatan Prabu Gala Ganda. Sehingga kakaknya tidak harus terbunuh di tangannya.

__ADS_1


Apalagi sekarang Prabu Barajang dicurigai bekerja sama dengan para pendekar sakti yang sudah lama menjadi musuh bebuyutan Prabu Jabang Wiyagra dan Kerajaan Wiyagra Malela. Pasti kekuatannya akan bertambah besar. Dan Prabu Barajang akan semakin berani untuk menindas siapa saja yang ia anggap sudah merugikan kekuasaannya.


Tapi seperti yang semua orang tahu, kalau Prabu Barajang dan Prabu Gala Ganda selalu pandai menutupi borok yang ada di kerajaan mereka masing-masing. Mereka pasti sudah menutup-nutupi pertikaian mereka dari publik. Agar tidak ada kerajaan lain yang ikut campur, ataupun memanfaatkan kesempatan untuk menghancurkan mereka berdua. Terutama dengan Prabu Jabang Wiyagra.


__ADS_2