
Para pasukan yang berjaga di halaman istana sama sekali tidak menyadari kalau akan ada penyerangan pada malam itu. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima sudah mengelilingi setiap jengkal dari benteng pertahanan yang mengelilingi bangunan besar istana Kerajaan Panca Warna. Semua penjaga yang ada di benteng itu sudah berhasil dilumpuhkan sepenuhnya. Tidak akan ada lagi orang yang bisa mengawasi keadaan di luar benteng istana.
Enam orang penjaga pintu gerbang utama juga sudah dilumpuhkan. Para prajurit yang ada di sana sama sekali tidak menyadari, kalau para penjaga pintu gerbang sudah tidak ada lagi di tempat mereka. Karena setelah dibunuh, mayat mereka langsung disingkirkan dari sana. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima melakukan serangan tersebut secara teratur, dan sangat terencana. Dan Panglima Bayu Kusuma-lah yang sudah mengatur semuanya sejak mereka masuk.
Setiap kali melihat ada pergerakan dari para pasukan Kerajaan Panca Warna, Panglima Bayu Kusuma selalu berhasil menangani mereka dengan baik. Sehingga tidak ada satupun kesalahan yang ia lakukan. Panglima Dala Bima juga menyerahkan semua perencanaan kepada Panglima Bayu Kusuma. Karena dia yang memang paling ahli dalam melakukan penyerangan secara diam-diam. Walaupun terkadang rencana Panglima Bayu Kusuma terkesan sangat gila dan beresiko.
Setelah berhasil melumpuhkan penjagaan utama istana. Panglima Bayu Kusuma memerintahkan sepuluh orang pendekar untuk melakukan penyerangan kepada para prajurit yang ada di sana, secara terbuka. Panglima Bayu Kusuma ingin mengetahui terlebih dahulu, bagaimana kemampuan dan juga kekuatan yang dimiliki oleh para prajurit Kerajaan Panca Warna, sebelum melakukan penyerangan yang sesungguhnya.
"Aku ingin sepuluh orang dari kalian melakukan serangan terlebih dahulu. Aku ingin tahu seberapa besar kekuatan musuh kita. Yang lain tetap berada di sini dan jangan melakukan pergerakan apapun, tanpa adanya perintah dariku." Perintah Panglima Bayu Kusuma.
"Baik Panglima."
Sepuluh orang pendekar yang dibawa oleh Panglima Bayu Kusuma, langsung menyerang para prajurit secara tiba-tiba. Para prajurit yang ada di halaman istana pun sangat terkejut dengan kedatangan para pendekar tersebut. Walaupun jumlah mereka lebih banyak daripada para pendekar itu, tapi mereka nampak kewalahan menghadapinya. Karena para prajurit diserang dalam situasi dan kondisi yang tidak siap. Bahkan mereka sudah kelelahan, karena berjaga seharian.
Mereka menyerang para pendekar itu dengan ilmu beladiri yang mereka miliki. Meskipun mereka nampak hebat di awal, tetapi di tengah-tengah pertarungan, beberapa orang prajurit terlihat sudah mati di tangan kesepuluh pendekar tersebut. Para prajurit istana yang lain, yang mendengar adanya keributan di halaman istana, langsung saja mengambil senjata mereka masing-masing. Kemudian dengan cepat keluar dari dalam istana untuk membantu teman-temannya.
Di saat itulah Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima langsung memerintahkan para pasukan mereka untuk bergabung dalam pertarungan.
"Serang!!!" Teriak Panglima Bayu Kusuma.
__ADS_1
Semua prajurit yang ada di sana menjadi semakin terkejut, setelah mereka tahu kalau para pendekar itu ternyata datang bersama dengan teman-teman mereka yang lainnya. Beberapa orang prajurit langsung masuk ke dalam ruang singgasana Ratu Intan Senggani, dan melaporkan semua yang sudah terjadi di istana ini. Ratu Intan Senggani sangat marah mendengar kalau ada penyerangan di istananya. Padahal dia sudah memerintahkan para pasukannya untuk berjaga dengan ketat.
"Bodoh kalian semua! Kenapa istanaku bisa dimasuki oleh para pendekar itu?! Cepat habisi mereka semua sekarang! Panggil semua pasukan yang ada!" Perintah Ratu Intan Senggani.
"Baik Gusti Ratu!"
Para prajurit itu langsung melaporkannya kepada para Patih kerajaan, dan juga para pasukan yang lainnya, yang kala itu sebagian besar pasukan Kerajaan Panca Warna sedang berada di luar istana. Karena Ratu Intan Senggani memerintahkan para pasukannya untuk menjaga wilayah di sekitar istana Kerajaan Panca Warna. Sehingga banyak sekali pasukan yang berada di luar istana Kerajaan Panca Warna. Dan para pasukan itu sama sekali tidak mengetahui tentang penyerangan yang datang secara tiba-tiba ini.
Para pasukan yang lainnya jelas tidak mengetahui hal itu, karena posisi mereka cukup jauh dari bangunan utama istana Kerajaan Panca Warna. Para prajurit yang melapor pun langsung bergegas menuju ke posisi para pasukan yang sedang berjaga di luar istana. Namun saat mereka akan melewati pintu gerbang, Panglima Dala Bima langsung menebas kepala mereka semua. Agar mereka tidak melaporkan hal itu kepada pasukan yang lain, yang ada di luar istana.
"Hufftt.... Hampir saja." Ucap Panglima Dala Bima.
"Hey! Cepat cari minyak! Dan bakar istana ini!" Perintah Panglima Bayu Kusuma kepada para pendekarnya.
Para prajurit istana pun seketika langsung panik, dan mereka berusaha melindungi sebuah ruangan yang terkunci rapat-rapat, yang kemungkinan besarnya adalah tempat untuk menyimpan persediaan minyak di istana ini. Minyak-minyak itu adalah jenis minyak yang sering digunakan untuk membuat penerangan. Dan setiap kerajaan besar pasti memiliki minyak-minyak khusus untuk menghidupkan api, yang digunakan dalam lampu, untuk penerangan di istana.
Para pendekar langsung membunuh para prajurit yang menjaga pintu ruangan tersebut. Dan dengan cepat mereka langsung membuka pintu ruangan itu. Benar saja, mereka menemukan banyak sekali minyak yang disimpan dalam gentong, kendi, dan ada juga yang disimpan pada sebuah tempat penyimpanan yang mirip dengan sebuah bak mandi. Para pendekar langsung memeriksa minyak-minyak tersebut. Ternyata, banyak sekali jenis minyak yang ada di ruangan itu.
Ada minyak kelapa, minyak jarak, dan bahkan ada juga minyak tanah. Dengan minyak sebanyak itu, mereka sudah mampu membuat kebakaran hebat di istana besar ini. Panglima Bayu Kusuma juga memasuki ruangan itu untuk memeriksa semua minyak yang ada.
__ADS_1
"Gila. Kita bisa membakar semua ruangan yang ada di istana ini. Sekarang, cepat tuangkan minyak-minyak ini di seluruh lorong yang ada di istana. Pastikan kalian semua juga membakar minyak minyak ini di halaman istana. Jangan lupa juga dengan menara penjaganya. Kalian paham?"
"Paham Panglima!"
"Aku dan Panglima Bima akan melawan para prajurit yang menyerang kalian."
"Baik Panglima!"
Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima lalu menyusuri lorong demi lorong yang ada di istana tersebut. Mereka menemukan banyak sekali prajurit yang berdatangan dari setiap ruangan yang ada di istana ini. Para Patih kerajaan juga mulai berdatangan untuk melawan Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima. Meskipun hanya berdua saja, tetapi Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima sama sekali tidak merasa kerepotan menghadapi setiap musuh yang menghalangi jalan mereka.
Bahkan Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima semakin gencar untuk melakukan penyerangan, karena pasukan mereka juga harus dengan cepat menyiram semua minyak-minyak itu ke setiap tempat yang ada di istana ini. Para pendekar saling bergotong-royong satu sama lain, untuk membawa minyak-minyak tersebut. Jumlah minyak yang ada di ruangan persediaan itu seakan tidak ada habisnya. Bahkan para pendekar sampai kelelahan, karena harus bolak-balik mengambil dan menuangkan semua minyak yang ada di sana.
"Maaf Panglima. Sepertinya semua minyak-minyak ini sudah lebih dari cukup, untuk membakar istana ini. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini Panglima. Sebelum para pasukan yang lainnya datang." Ucap salah seorang pendekar.
"Benar Panglima Bayu. Kalau kita berlama-lama di istana ini, maka kita bisa mendapati masalah yang jauh lebih besar lagi. Apalagi Ratu Intan Senggani juga belum keluar dari ruangan singgasananya. Sudah pasti sebentar lagi dia akan mendatangi kita." Ucap Panglima Dala Bima.
Melihat keadaan yang sudah sangat tidak memungkinkan, dengan terpaksa Panglima Bayu Kusuma langsung memerintahkan para pasukannya untuk pergi dari sana. Tidak lupa mereka juga mengambil setiap obor yang mereka temukan di istana tersebut, untuk membakar semua minyak yang sudah mereka tuangkan.
"Kita ambil obor sebanyak yang kita bisa. Lalu bakar istana ini. Sebelum Ratu Intan Senggani keluar dari sarangnya dan mendatangi kita." Perintah Panglima Bayu Kusuma.
__ADS_1
"Baik Panglima."