DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 146


__ADS_3

Prabu Jabang Wiyagra hanya bisa memberikan bantuan tenaga dan pikiran kepada Mbah Kangkas dan pasukannya. Karena dia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Semua yang diceritakan oleh Mbah Kangkas kepadanya, membuatnya sangat sedih dengan penderitaan yang sekarang sedang dilalui oleh rakyat Kerajaan Bala Bathara.


Prabu Barajang selalu memeras rakyatnya dengan cara yang kejam. Dan semua itu dilakukan hanya untuk kepentingannya sendiri. Istananya mewah megah, pilar-pilar di istana itu bahkan terbuat dari emas, karena hasil pertukaran keuntungan dengan Kerajaan Wesi Kuning. Kekayaan di Kerajaan Bala Bathara melimpah ruah seperti di kerajaan-kerajaan lainnya.


Prabu Barajang yang merupakan adik dari Prabu Gala Ganda sangat berambisi untuk mengembalikan kejayaan ayahandanya. Namun caranya salah. Karena yang dia lakukan justru membuat rakyatnya menderita. Pada masa pemerintahan Prabu Agung Bara Ganda, kerajaan ini sangat-sangat maju di segala bidang.


Prabu Agung Bara Ganda memimpin Kerajaan Bathara Tunggal, yang sekarang dipecah menjadi dua kerajaan besar, karena perebutan kekuasaan. Prabu Agung Bara Ganda memimpin Kerajaan Bathara Tunggal selama seratus dua puluh lima tahun, sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya, setelah pembagian tahta Kerajaan Bathara Tunggal.


Dulu, saat Prabu Agung Bara Ganda masih hidup, beliau menyerahkan tahta Kerajaan Bathara Tunggal kepada Gala Ganda. Namun adik Gala Ganda, yaitu Barajang, yang sekarang sudah menjadi raja, selalu berusaha menggulingkan kekuasaan kakaknya. Begitu juga dengan Gala Ganda yang selalu ingin membunuh adik kandungnya sendiri karena selalu merasa tersaingi dalam masalah percintaan.


Hal-hal konyol itu kemudian memancing perang saudara. Banyak sekali korban berjatuhan dari rakyat Kerajaan Bathara Tunggal. Baik dari pendukung Gala Ganda maupun pendukung Barajang. Melihat perseteruan kedua putranya yang seakan tidak ada habisnya, Prabu Bara Ganda mengutuk kedua putranya itu.


Jika mereka saling menyakiti satu sama lain, apalagi sampai ada yang mati, maka yang satunya lagi akan ikut mati. Kalau Gala Ganda membunuh Barajang, maka dia juga akan mati. Begitu juga sebaliknya. Hal itu dibuktikan dengan pertarungan terakhir mereka di salah satu hutan larangan. Mereka berdua mendapatkan luka yang sama di titik yang sama, di tubuh mereka.


Karena hal itu, mereka akhirnya sepakat untuk tidak lagi saling menyerang satu sama lain. Walau pun sebenarnya, sampai sekarang pun mereka masih saling mendendam. Namun karena takut mati, mereka sudah tidak lagi melanjutkan pertikaian mereka. Dan berakhirlah perang saudara itu dengan terbaginya Kerajaan Bathara Tunggal.

__ADS_1


Mereka berdua dinobatkan sebagai raja di tempat yang sama, dan di waktu yang sama. Sekarang, istana Kerajaan Bathara Tunggal sudah tidak ada. Tanah yang dulunya menjadi tempat berdirinya istana Kerajaan Bathara Tunggal dijadikan wilayah perbatasan antar dua kerajaan. Dan dua-duanya membuat kerajaan mereka kembali dari awal.


Supaya terasa adil, mereka berdua sama-sama mendapatkan dua buah pedang kesayangan mendiang Prabu Agung Bara Ganda. Semua pusaka kerajaan dikelompokkan menjadi dua bagian. Prabu Gala Ganda dan Prabu Barajang juga diberi bendera ciri khas Kerjaan Bathara Tunggal, agar mereka selalu ingat, dari mana mereka berasal.


Sekaligus supaya mereka tetap menjaga perdamaian dan persahabatan. Tapi karena sudah tidak memiliki lawan untuk mereka lawan, mereka beralih ke kerajaan yang lain. Memprovokasi semua kerajaan untuk saling hantam, antara yang satu dengan yang lainnya. Dan mereka sangat menikmati kekacauan yang sudah mereka buat.


Selama ini mereka berdua-lah yang suka memanas-manasi kerajaan-kerajaan lain untuk saling membunuh. Terutama dengan Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka ingin melihat kehancuran Kerajaan Wiyagra Malela di depan mata mereka, dengan memanfaatkan Kerajaan Wesi Kuning yang dipimpin oleh Prabu Bawesi.


Namun hal tersebut sepertinya tidak berguna untuk Prabu Jabang Wiyagra. Karena saat mereka berusaha mengirimkan pasukan mereka ke wilayah Kerajaan Wesi Kuning, Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan prajurit-prajurit pilihan yang ia miliki untuk menyergap mereka semua tanpa sisa.


Bantuan pasukan dan juga bantuan pangan yang mereka kirimkan kepada Prabu Bawesi hanyalah sebagai formalitas saja. Prabu Gala Ganda dan Prabu Barajang sama sekali tidak peduli dengan nasib Prabu Bawesi dan juga Kerajaan Wesi Kuning. Mereka berdua hanya membutuhkan sumber daya, bukan saudara.


Hanya saja mereka tidak menyangka kalau semua rencana mereka, yang diam-diam ingin menguasai Kerajaan Wesi Kuning, ternyata harus rusak karena terlukanya Prabu Bawesi. Dalam hal ini, Prabu Barajang dan Prabu Gala Ganda jelas tahu, karena mereka memang harus selalu tahu tentang Prabu Bawesi.


Sampai saat ini, Prabu Barajang masih belum tahu mengenai penyerangan yang terjadi di wilayah kerajaannya sendiri. Dia mengira kalau keadaan di tempatnya masih aman-aman saja. Sehingga dia juga berniat untuk melakukan serangan kepada Kerajaan Wesi Kuning, dengan bantuan Prabu Gala Ganda.

__ADS_1


Kalau serangan itu berhasil, maka mereka akan menguasai sebagian besar wilayah Kerajaan Wesi Kuning. Dan mereka juga akan mencari keberadaan Prabu Bawesi, untuk sekaligus membunuhnya, yang masih dalam keadaan terluka. Jika Prabu Bawesi mati, maka matilah semuanya. Para pasukannya pasti tidak akan berani melakukan perlawanan.


Sedangkan Prabu Jabang Wiyagra sudah mewanti-wanti kepada Lare Damar dan pasukannya, untuk waspada kepada semua orang yang sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Prabu Jabang Wiyagra juga sudah menguasai sebagian besar tambang emas yang ada di Kerajaan Wesi Kuning. Tapi belum sepenuhnya.


Selain itu, penjagaan di beberapa tambang emas masih sangat rawan dengan penyerangan. Bahkan ada beberapa pendekar kiriman dari para abdi setia Prabu Bawesi yang kadang kala datang untuk sekedar berbuat keonaran. Mereka ingin merebut kembali tambang emas itu sedikit demi sedikit. Agar kembali ke tangan Prabu Bawesi.


Prabu Bawesi sendiri dikabarkan masih belum sadarkan diri. Dari kabar terakhir yang Prabu Jabang Wiyagra dengar, Prabu Bawesi masih dalam keadaan kritis dan masih terus mendapatkan penanganan dari para tabib-tabib terbaik di istananya. Sedangkan Maha Patih Galangan, dia secara perlahan sudah mulai sembuh dari luka-lukanya.


Kekalahannya di tangan Pangeran Rawaja Pati membuatnya sedikit tersadar dari pandangannya yang keras terhadap segala hal. Dia mulai menyadari kalau semua yang dilakukannya bersama dengan Prabu Bawesi sudah salah kaprah. Mereka melakukan penindasan demi sebuah kejayaan.


Memang diperlukan pengorbanan dalam sebuah pemerintahan. Tapi bukan berarti harus mengorbankan rakyat secara cuma-cuma, dengan memaksa mereka untuk menjadi budak. Rakyat yang bekerja susah payah, seharusnya mendapatkan keadilan sesuai dengan apa yang sudah mereka korbankan selama ini.


Kemungkinan, Yang Maha Kuasa memberikannya kesadaran melalui pertarungannya dengan Pangeran Rawaja Pati. Sehingga membuka lebar-lebar pemikirannya yang sempit dan seenaknya sendiri. Dia begitu merindukan suasana indah di kerajaan ini seperti dulu, saat kerajaan ini masih menjadi kerajaan kecil.


Hari-hari indah, udara yang segar, suasana yang tenang, membuatnya rindu dengan masa-masa itu. Dulu istana Kerajaan Wesi Kuning hanyalah hutan-hutan tak bertuan yang jarang didatangi orang. Sekarang, hutan-hutan sudah tidak ada, karena istana Kerajaan Wesi Kuning selalu mengalami perluasan setiap tahunnya.

__ADS_1


__ADS_2