
Mengetahui kalau akan ada penyerangan besar-besaran yang dilakukan oleh Panggul dan kelompoknya, Mangku Cendrasih yang kala itu berada tidak jauh dari sana, pun langsung mendatangi desa yang menjadi titik berkumpulnya para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Mangku Cendrasih menghentikan pencariannya terhadap para pendekar yang hilang. Karena para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela yang ada di desa tersebut saat ini lebih membutuhkan bantuannya.
Mangku Cendrasih juga menghubungi beberapa orang murid kepercayaannya, untuk membantu para prajurit.
"Kalian cepat temui para prajurit yang berjaga di desa, mereka membutuhkan bantuan kalian untuk menghadapi para kelompok bandit." Perintah Mangku Cendrasih kepada murid kepercayaannya, melalui mata batin.
Murid-murid kepercayaannya itu pun langsung berangkat ke desa yang dimaksud oleh Mangku Cendrasih. Para pendekar murid Mangku Cendrasih ini ternyata juga memiliki beberapa orang murid, yang sekaligus juga mereka bawa untuk membantu prajurit Kerajaan Wiyagra Malela yang ada di sana. Para murid Mangku Cendrasih dan para pendekar yang membantu mereka berjumlah kisaran tiga puluh orang lebih. Dengan keahlian yang juga berbeda-beda.
*
*
Panggul dan seluruh anak buahnya telah sampai di perbatasan desa, yang menjadi tempat berkumpulnya para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Setelah sampai di sana, Panggul memerintahkan seluruh anak buahnya untuk langsung melakukan penyerangan. Untungnya para prajurit dan para pendekar sudah bersiap terlebih dahulu, sehingga mereka sudah siap untuk menghadapi segala situasi yang akan terjadi.
"Hey prajurit-prajurit Kerajaan Wiyagra Malela! Aku datang untuk membalas kekalahanku beberapa hari yang lalu! Aku tidak akan menahan diri lagi untuk menghabisi kalian semua!" Ucap Panggul kepada para prajurit.
__ADS_1
Sang pimpinan prajurit memerintahkan pasukannya untuk tetap berada di dalam area desa. Karena jika sampai mereka keluar perbatasan desa, maka mereka akan masuk ke dalam perangkap yang sudah Panggul buat. Jadi, Panggul ingin mengalahkan para prajurit di tempat terbuka agar bisa dengan leluasa menghindari serangan dari para prajurit. Dengan begitu Panggul bisa mengalahkan para prajurit dengan mudah.
Panggul hanya perlu satu kesempatan saja agar bisa mengalahkan mereka semua. Karena jika Panggul menghadapi mereka dengan kekuatan seadanya, bisa-bisa semua anak buahnya habis tanpa sisa. Panggul jelas tidak mau hal itu terjadi. Karena jika semua anak buahnya habis, maka Panggul tidak lagi memiliki kelompok yang bisa ia ajak kerjasama dalam menjalankan aksinya. Apalagi sekarang sudah banyak orang yang meragukan kepemimpinannya.
Tetapi semua strategi yang Panggul lakukan sudah bisa terbaca dengan baik oleh para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Para pendekar yang ada di sana juga sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Panggul. Meskipun para pendekar yang ada di sana belum benar-benar berpengalaman dalam pertempuran, tapi sedikit banyaknya mereka sudah tahu tentang strategi dalam menghadapi kekuatan dan kecerdasan lawan.
Ratusan anak buah panggul bertarung dengan puluhan prajurit dan juga pendekar yang ada di sana. Walaupun para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela kalah jumlah, tetapi mereka bisa mengimbangi kekuatan musuh dengan sangat baik. Sedangkan sang pimpinan prajurit sendiri harus berhadapan langsung satu lawan satu dengan Panggul. Sang pimpinan prajurit yang memiliki perawakan tinggi besar itu bisa dengan mudah menghindari setiap serangan yang Panggul berikan.
Panggul menjadi sangat kesal karena tidak ada satupun serangannya yang berhasil mengenai tubuh sang pimpinan prajurit tersebut. Panggul berusaha mengeluarkan semua kemampuan dan ilmu kesaktian yang ia miliki untuk mengalahkan lawannya. Tetapi kemampuan yang ia miliki sama sekali tidak bisa menyaingi kesaktian lawannya. Panggul justru dibuat kelelahan secara perlahan. Sedangkan serangannya tidak berefek apapun kepada sang pimpinan prajurit.
"Kurang ajar! Kau mau mempermainkanku?! Hah?!" Kata Panggul yang sudah kelewat marah.
"Apa?! Tikus?! Kalian yang tikus! Kalian merampas hak kami! Kalian yang membuat hidup kami sengsara! Dan memaksa kami untuk memilih jalan yang kotor ini!" Ucap Panggul yang tidak terima.
"Alasan saja! Kalian semua memang sama saja! Kalian menyalahkan penderitaan kalian kepada orang lain. Padahal kalian sendiri yang memang pemalas, dan hanya mengharapkan kekayaan tanpa bekerja keras. Kalian yang justru merampas hak orang-orang yang tidak bersalah. Dan membuat mereka semua mati kelaparan!"
__ADS_1
"Persetan dengan mereka! Dalam hidup, harus selalu ada yang dikorbankan. Kita akan selalu dihadapkan dengan rantai makanan kehidupan. Siapa yang kuat, dia yang akan bertahan. Dan sekarang, akulah yang pantas untuk berkuasa di tempat ini. Bukan kalian! Kalian hanyalah para pendatang! Kalian hanyalah orang asing!"
"Kyaaaattt!"
Panggul kembali menyerang sang pimpinan prajurit. Panggul melampiaskan segala amarahnya kepada lawannya tersebut. Entah mengapa, dalam pertarungan tersebut, Panggul kembali mengingat masa lalunya. Yang dimana dia memiliki kehidupan yang sangat-sangat sengsara. Panggul hidup di dalam garis keras kemiskinan. Dia sering merasakan kelaparan. Apalagi masa itu banyak sekali peperangan yang terjadi.
Panggul dan keluarganya sering berpindah-pindah tempat. Dari satu wilayah ke wilayah yang lain, untuk bertahan hidup. Tiba pada suatu masanya, dimana Panggul dan keluarganya tidak lagi memiliki tempat untuk mereka berteduh. Ditambah lagi dengan makanan yang sangat sulit didapatkan. Bersama dengan saudara-saudaranya, Panggul memutuskan untuk mencari makanan dengan cara mencuri dari warga desa dan orang yang ia temui.
Kenakalan Panggul dan saudara-saudaranya itu didasari dengan kelaparan yang menyerang hebat. Sehingga terpaksa mereka sering melakukan kejahatan. Namun semua kenakalannya itu tidak berlangsung lama. Karena setelah banyak orang yang tahu, kalau para pencuri yang sering mengambil makanan dari warga desa adalah Panggul dan keluarganya, warga desa menjadi sangat murka dan mengamuk. Mereka menyerang Panggul dan keluarganya secara brutal.
Panggul masih ingat dengan jelas bagaimana keluarganya dibantai secara kejam oleh para warga desa yang murka, karena makanannya sering sekali dicuri. Kemarahan warga desa juga dipicu oleh rasa lapar yang sama-sama mereka rasakan. Karena selama peperangan antar kerajaan berlangsung, jarang sekali rakyat yang berada di wilayah terpencil mendapatkan jatah makanan dari pemerintah mereka. Sehingga mereka melakukan segala hal agar bisa mendapatkan makanan.
Mereka sudah tidak peduli lagi dengan bagaimana caranya mereka mendapatkan makanan itu. Termasuk membunuh orang sekalipun. Yang terpenting bagi mereka, perut mereka terisi. Tidak jarang juga pada masa itu banyak sekali anak-anak yang ditelantarkan. Dari sekian banyak keluarga, mungkin hanya Panggul dan keluarganya yang masih mempertahankan anak-anaknya dengan baik. Sedangkan keluarga lain sudah saling terpecah satu sama lainnya.
Kematian seluruh anggota keluarganya membuat Panggul menjadi anak yang terlantar dan tidak memiliki siapa-siapa. Dia hidup sebatang kara, tanpa perlindungan dan bantuan dari siapapun. Panggul sering dijadikan sasaran empuk oleh orang-orang yang sudah sangat-sangat kelaparan, untuk dijadikan makanan. Namun Panggul selalu berhasil menyelamatkan diri. Sehingga dia bisa bertahan hidup sampai sekarang. Semenjak itu, Panggul memutuskan untuk tetap menjadi seorang bandit.
__ADS_1
Panggul sudah tidak mengenal lagi apa itu kebaikan. Selama ada yang memberinya makan, maka Panggul tidak akan segan untuk mengabdikan dirinya. Siapa saja bisa menyewa jasanya. Karena yang terpenting bagi Panggul, dia bisa makan sebanyak yang ia mau. Hal itu ia yakini sebagai sebuah bentuk protesnya kepada Yang Maha Kuasa. Karena sampai saat ini, Panggul masih belum bisa menerima kematian keluarganya.
Meskipun terkenal sebagai ketua bandit yang kejam, pada dasarnya hatinya sangatlah rapuh. Terkadang Panggul merindukan masa-masa bersama keluarganya, yang ia sendiri pun tahu, kalau masa-masa itu tidak akan pernah kembali lagi. Semuanya telah berubah, dan tidak akan sama lagi seperti dulu. Sekalipun Panggul memiliki ratusan anak buah, dia tetap merasakan kesepian.